Loading...
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Ngacir Saat Didemo Rakyat, Pengamat : Dimana Sosok Jokowi yang Merakyat ?

Ngacir Saat Didemo Rakyat, Pengamat : Mana yang katanya Jokowi merakyat ?

Media-Indo INFO - Sikap presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meninggalkan Istana Negara dan tak mau menemui demonstran disayangkan banyak pihak. Apalagi info soal demonstrasi 4 November ini sudah viral terdengar sampai istana negara. 

Meninggalkan istana dalam kondisi semacam itu bukan sikap negarawan yang baik. "Sosok Jokowi yang populis, merakyat, dan doyan blusukan nyaris tak menemukan relevansinya karena enggap menemui pada demonstran," kata pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, Sabtu (5/11/2016).

Menurutnya, keterangan pers yang disampaikan Presiden malah membuat situasi makan gaduh. Alih-alih membuat pernyataan yang meneduhkan, Jokowi kian memancing panas situasi dengan menuding ada aktor politik yang menunggangi demo tersebut. 

Seharusnya demo dimaknai sebagai aktivitas politik warga negara biasa secara suka rela untuk menyampaikan aspirasinya. Sebab itu, Jokowi tidak perlu paranoid ketakutan berkebihan. 

"Terbukti, saat wapres JK menemui para demonstran dialog yang terbangun konstruktif dan damai," tandasnya.

Sikap Jokowi yang meninggalkan istana itu memantik spekulasi publik. Pertama, Jokowi kebingungan jika bukan ketakutan, dengan jumlah massa yang cukup besar. Apalagi selama dua tahun menjadi Presiden nyaris tidak ada tekanan berarti dari gerakan ekstra parlementer. Semua aktivis bungkam seolah bangsa ini tak terjadi apa-apa. 

"Padahal dalam banyak hal, negara ini berada di tepi jurang. Jokowi bingung karena tak ada solusi untuk menghadapi tuntutan demonstran," katanya.

Kedua, Presiden sengaja menghindar karena menganggap demonstrasi sebagai sesuatu yang remeh temeh. Jokowi harus ingat Setya Novanto lengser di tengah dari posisi ketua DPR akibat tekanan publik yang deras.  

Begitupun penolakan terhadap BG sebagai calon tunggal Kapolri karena tekanan publik yang dahsyat. "Termasuk Soerharto tumbang pun akibat pressure publik yang massif," katanya. [sindo]

Ngacir Saat Didemo Rakyat, Pengamat : Dimana Sosok Jokowi yang Merakyat ?

Ngacir Saat Didemo Rakyat, Pengamat : Mana yang katanya Jokowi merakyat ?

POSMETRO INFO - Sikap presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meninggalkan Istana Negara dan tak mau menemui demonstran disayangkan banyak pihak. Apalagi info soal demonstrasi 4 November ini sudah viral terdengar sampai istana negara. 

Meninggalkan istana dalam kondisi semacam itu bukan sikap negarawan yang baik. "Sosok Jokowi yang populis, merakyat, dan doyan blusukan nyaris tak menemukan relevansinya karena enggap menemui pada demonstran," kata pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, Sabtu (5/11/2016).

Menurutnya, keterangan pers yang disampaikan Presiden malah membuat situasi makan gaduh. Alih-alih membuat pernyataan yang meneduhkan, Jokowi kian memancing panas situasi dengan menuding ada aktor politik yang menunggangi demo tersebut. 

Seharusnya demo dimaknai sebagai aktivitas politik warga negara biasa secara suka rela untuk menyampaikan aspirasinya. Sebab itu, Jokowi tidak perlu paranoid ketakutan berkebihan. 

"Terbukti, saat wapres JK menemui para demonstran dialog yang terbangun konstruktif dan damai," tandasnya.

Sikap Jokowi yang meninggalkan istana itu memantik spekulasi publik. Pertama, Jokowi kebingungan jika bukan ketakutan, dengan jumlah massa yang cukup besar. Apalagi selama dua tahun menjadi Presiden nyaris tidak ada tekanan berarti dari gerakan ekstra parlementer. Semua aktivis bungkam seolah bangsa ini tak terjadi apa-apa. 

"Padahal dalam banyak hal, negara ini berada di tepi jurang. Jokowi bingung karena tak ada solusi untuk menghadapi tuntutan demonstran," katanya.

Kedua, Presiden sengaja menghindar karena menganggap demonstrasi sebagai sesuatu yang remeh temeh. Jokowi harus ingat Setya Novanto lengser di tengah dari posisi ketua DPR akibat tekanan publik yang deras.  

Begitupun penolakan terhadap BG sebagai calon tunggal Kapolri karena tekanan publik yang dahsyat. "Termasuk Soerharto tumbang pun akibat pressure publik yang massif," katanya. [sindo]

Habib Rizieq : Jokowi Dalang Provokasi Demo 4 November.

Habib Rizieq : Jokowi Dalang Provokasi Demo 4 November.

Media-Indo INFO - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab merasa geram terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, sikap yang dipertontonkan Jokowi terhadap massa Aksi Bela Islam II, Jumat (4/11) membuat peserta unjuk rasa kecewa. Padahal, aksi yang diikuti ratusan ribu umat Islam itu berlangsung damai hingga magrib dan massa berangsur bubar.

"Kami melakukan hal ini dengan damai. Tolong ini dicatat. Tapi Presiden Jokowi malah tidak mau menemui perwakilan alim ulama," ujar Rizieq dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (5/11).

Rizieq pun menganggap Jokowi telah melakukan provokasi karena tak menemui para ulama perwakilan Aksi Bela Islam untuk bertemu di Istana Negara. Selain itu, kata Rizieq menegaskan, Jokowi malah memberi perlindungan ke Gubernur DKI Basuki T Purnama alias Ahok yang dianggap telah menghina umat Islam.

"Itu provokasi. Jelas memprovokasi umat yang secara tertib dan damai menyampaikan aspirasi," tegasnya.[jpnn]

Habib Rizieq : Jokowi Dalang Provokasi Demo 4 November.

Habib Rizieq : Jokowi Dalang Provokasi Demo 4 November.

POSMETRO INFO - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab merasa geram terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, sikap yang dipertontonkan Jokowi terhadap massa Aksi Bela Islam II, Jumat (4/11) membuat peserta unjuk rasa kecewa. Padahal, aksi yang diikuti ratusan ribu umat Islam itu berlangsung damai hingga magrib dan massa berangsur bubar.

"Kami melakukan hal ini dengan damai. Tolong ini dicatat. Tapi Presiden Jokowi malah tidak mau menemui perwakilan alim ulama," ujar Rizieq dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (5/11).

Rizieq pun menganggap Jokowi telah melakukan provokasi karena tak menemui para ulama perwakilan Aksi Bela Islam untuk bertemu di Istana Negara. Selain itu, kata Rizieq menegaskan, Jokowi malah memberi perlindungan ke Gubernur DKI Basuki T Purnama alias Ahok yang dianggap telah menghina umat Islam.

"Itu provokasi. Jelas memprovokasi umat yang secara tertib dan damai menyampaikan aspirasi," tegasnya.[jpnn]

Sentil Jokowi, Habib Rizieq : "Kalau gentleman, coba sebut parpol dan aktor politik yang mana?"

Sentil Jokowi, Habib Rizieq : "Kalau gentleman, coba sebut parpol dan aktor politik yang mana?"

Media-Indo INFO - Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) menegaskan biaya aksi unjuk rasa 4 November berasal dari sumbangan umat Islam.

Pembina Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Habib Rizieq Syihab membantah dana tersebut berasal dari partai politik.

"Bahkan ada yang transfer Rp10 ribu dari ATM. Ini dahsyat, bukan dana dari parpol. Kalau gentleman sebut saja parpol dan aktor politik yang mana? ini sumbangan umat," kata Rizieq dalam jumpa pers di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Sabtu (5/11/2016).

Bendahara GNPF MUI Lutfhi Hakim mengatakan dana yang diperoleh dalam lima hari sebanyak Rp 3,5miliar. Pada hari terakhir yakni 3 November 2016 memperoleh Rp 1 miliar.

"Jumlahnya bervariasi Rp 50 ribu, ada yang Rp 10 juta, Rp 100 juta. Ada dari London, Diaspora Qatar dan Kuwait," kata Lutfi.

Sementara, Koordinator Medis GNPF MUI, Salim Asegaf mengatakan pihaknya menerjunkan 100 tenaga medis serta 30 mobil ambulance. Mereka mengevakuasi korban ke RS Budi Kemuliaan. Salim mengaku menangani 165 peserta aksi yang menjadi korban dalam demonstrasi 4 November 2016.

Ia lalu mengingatkan bahaya terkena gas air mata. Sebab, reaksinya menimbulkan sumbatan.

"Gas itu sensitif bisa menyumbat saluran pernafasan," katanya.[tribun]

Sentil Jokowi, Habib Rizieq : "Kalau gentleman, coba sebut parpol dan aktor politik yang mana?"

Sentil Jokowi, Habib Rizieq : "Kalau gentleman, coba sebut parpol dan aktor politik yang mana?"

POSMETRO INFO - Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) menegaskan biaya aksi unjuk rasa 4 November berasal dari sumbangan umat Islam.

Pembina Gerakan Nasional Pembela Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Habib Rizieq Syihab membantah dana tersebut berasal dari partai politik.

"Bahkan ada yang transfer Rp10 ribu dari ATM. Ini dahsyat, bukan dana dari parpol. Kalau gentleman sebut saja parpol dan aktor politik yang mana? ini sumbangan umat," kata Rizieq dalam jumpa pers di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Sabtu (5/11/2016).

Bendahara GNPF MUI Lutfhi Hakim mengatakan dana yang diperoleh dalam lima hari sebanyak Rp 3,5miliar. Pada hari terakhir yakni 3 November 2016 memperoleh Rp 1 miliar.

"Jumlahnya bervariasi Rp 50 ribu, ada yang Rp 10 juta, Rp 100 juta. Ada dari London, Diaspora Qatar dan Kuwait," kata Lutfi.

Sementara, Koordinator Medis GNPF MUI, Salim Asegaf mengatakan pihaknya menerjunkan 100 tenaga medis serta 30 mobil ambulance. Mereka mengevakuasi korban ke RS Budi Kemuliaan. Salim mengaku menangani 165 peserta aksi yang menjadi korban dalam demonstrasi 4 November 2016.

Ia lalu mengingatkan bahaya terkena gas air mata. Sebab, reaksinya menimbulkan sumbatan.

"Gas itu sensitif bisa menyumbat saluran pernafasan," katanya.[tribun]

Dulu Soekarno Ada Demonstran Diajak Dialog, Jokowi Ada Demo Malah Pergi.

Dulu Soekarno Ada Demonstran Diajak Dialog, Jokowi Ada Demo Malah Pergi.

Media-Indo INFO - Sikap Presiden Joko Widodo yang enggan menemui para ulama perwakilan massa Aksi Bela Islam II di depan Istana Negara, Jumat (4/11) menjadi sorotan banyak kalangan.

Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago bahkan menyebut  presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi itu terkesan tidak berani bertemu dengan rakyatnya sendiri.

Pangi mengatakan, mestinya dalam demokrasi malah antara rakyat dan pemerintah yang berkuasa tidak berjarak. Sebab, demokrasi dari dua kata yakni kratos yang berarti kekuasaan (presiden) dan demos yang berarti rakyat.

"Rakyat dengan pemimpin itu ibarat air dengan ikan, nggak boleh ada jarak," ujar Pangi, Sabtu (5/11).

Menurutnya,‎ ada beberapa kesalahan Presiden Jokowi dalam menyikapi Aksi Bela Islam II yang patut disayangkan. Pertama, katanya, Jokowi gagal berdiri di atas semua kepentingan kelompok dan golongan.

Padahal, Proklamator RI Soekarno pernah menerima segelintir pendemo untuk diajak berdialog. Sedangkan Jokowi yang didemo ratusan ribu rakyatnya justru malah pergi.

"Kita masih ingat dengan istilah vox populi, vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Sepuluh orang saja yang menghadap menyampaikan aspirasi dan kehendaknya, Soekarno tetap menemui rakyatnya. Apalagi ini ratusan ribu rakyatnya yang ingin bertemu presiden," terangnya.

Menurut Pangi, yang penting adalah kehadiran presiden di tengah masyarakat dengan menemui aksi demontrasi itu. “Ini soal bagaimana fatsun politik tuan raja menemui dan memperlakukan warganya," ucapnya.‎

Kedua, Jokowi tidak memahami skala prioritas. Di saat rakyat mengunjungi Istana dan ingin bertemu Jokowi, mantan gubernur DKI itu malah memilih mengunjungi proyek pembangunan kereta api Bandara Soekarno Hatta.

Dalam pandangan Pangi, ternyata proyek kereta Soekarno Hatta jauh lebih penting bagi Jokowi ketimbang bertemu rakyatnya. Jikowi justru mengutus Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri untuk menemui pendemo.

Ketiga, presiden diduga melanggar sumpah jabatan dan janji konstitusi yang pernah diucapkan dulu. Sebab, presiden gagal berdiri secara adil di atas semua kelompok dan golongan.

Pangi menambahkan, ketika presiden sudah merasa paling kuat dan berkuasa, maka itulah titik kelemahannya. Belajar dari sejarah, katanya, Soeharto dengan latar belakang dari jenderal, punya loyalis siap mati, intelijen dan militernya kuat, ternyata tumbang setelah 32 tahun berkuasa katena mengabaikan suara dan kehendak rakyat.

"Presiden Jokowi gagal dalam mengurai silang sengkarut persoalan mendasar yang dihadapi rakyat. Kepemimpinan yang mengabaikan keresahan umat mayoritas.  Saya ingin memberi makna dan konteks soal kepemimpinan, pemimpin itu mutlak dicintai rakyatnya dan rakyat pun mencintainya," pungkas Pangi.[jpnn]

Dulu Soekarno Ada Demonstran Diajak Dialog, Jokowi Ada Demo Malah Pergi.

Dulu Soekarno Ada Demonstran Diajak Dialog, Jokowi Ada Demo Malah Pergi.

POSMETRO INFO - Sikap Presiden Joko Widodo yang enggan menemui para ulama perwakilan massa Aksi Bela Islam II di depan Istana Negara, Jumat (4/11) menjadi sorotan banyak kalangan.

Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago bahkan menyebut  presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi itu terkesan tidak berani bertemu dengan rakyatnya sendiri.

Pangi mengatakan, mestinya dalam demokrasi malah antara rakyat dan pemerintah yang berkuasa tidak berjarak. Sebab, demokrasi dari dua kata yakni kratos yang berarti kekuasaan (presiden) dan demos yang berarti rakyat.

"Rakyat dengan pemimpin itu ibarat air dengan ikan, nggak boleh ada jarak," ujar Pangi, Sabtu (5/11).

Menurutnya,‎ ada beberapa kesalahan Presiden Jokowi dalam menyikapi Aksi Bela Islam II yang patut disayangkan. Pertama, katanya, Jokowi gagal berdiri di atas semua kepentingan kelompok dan golongan.

Padahal, Proklamator RI Soekarno pernah menerima segelintir pendemo untuk diajak berdialog. Sedangkan Jokowi yang didemo ratusan ribu rakyatnya justru malah pergi.

"Kita masih ingat dengan istilah vox populi, vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Sepuluh orang saja yang menghadap menyampaikan aspirasi dan kehendaknya, Soekarno tetap menemui rakyatnya. Apalagi ini ratusan ribu rakyatnya yang ingin bertemu presiden," terangnya.

Menurut Pangi, yang penting adalah kehadiran presiden di tengah masyarakat dengan menemui aksi demontrasi itu. “Ini soal bagaimana fatsun politik tuan raja menemui dan memperlakukan warganya," ucapnya.‎

Kedua, Jokowi tidak memahami skala prioritas. Di saat rakyat mengunjungi Istana dan ingin bertemu Jokowi, mantan gubernur DKI itu malah memilih mengunjungi proyek pembangunan kereta api Bandara Soekarno Hatta.

Dalam pandangan Pangi, ternyata proyek kereta Soekarno Hatta jauh lebih penting bagi Jokowi ketimbang bertemu rakyatnya. Jikowi justru mengutus Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri untuk menemui pendemo.

Ketiga, presiden diduga melanggar sumpah jabatan dan janji konstitusi yang pernah diucapkan dulu. Sebab, presiden gagal berdiri secara adil di atas semua kelompok dan golongan.

Pangi menambahkan, ketika presiden sudah merasa paling kuat dan berkuasa, maka itulah titik kelemahannya. Belajar dari sejarah, katanya, Soeharto dengan latar belakang dari jenderal, punya loyalis siap mati, intelijen dan militernya kuat, ternyata tumbang setelah 32 tahun berkuasa katena mengabaikan suara dan kehendak rakyat.

"Presiden Jokowi gagal dalam mengurai silang sengkarut persoalan mendasar yang dihadapi rakyat. Kepemimpinan yang mengabaikan keresahan umat mayoritas.  Saya ingin memberi makna dan konteks soal kepemimpinan, pemimpin itu mutlak dicintai rakyatnya dan rakyat pun mencintainya," pungkas Pangi.[jpnn]

Kronologi Kericuhan Versi GNPF-MUI, "Panglima dan Kapolri Perintahkan Berhenti Tapi tak Digubris Petugas"

Kronologi Kericuhan Versi GNPF-MUI, "Panglima dan Kapolri Perintahkan Berhenti Tapi tak Digubris Petugas"

Media-Indo INFO - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF) MUI menggelar jumpa pers untuk menjelaskan kronologi peristiwa kerusuhan di penghujung demo 4 November kemarin. GNPF menyatakan kericuhan tersebut awalnya disebabkan oleh tindakan penembakan secara tiba-tiba yang dilakukan polisi.

Koordinator GNPF Bachtiar Nasir menggambarkan bagaimana proses kericuhan terjadi jelang pukul 19.00 WIB, padahal sejak siang hari aksi berjalan damai dan tertib. Ia menjelaskan dalam jumpa pers siang ini di Restoran Pulau Dua, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (5/11/2016). 

Ia menjelaskan, awalnya kericuhan terjadi ketika petugas keamanan secara tiba-tiba menembakkan gas air mata sesaat setelah azan isya berkumandang.

"Tak lama setelah azan isya berkumandang petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik merangsek dan mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa dengan menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet. KH Arifin Ilham yang masih berada di Istana bersaksi bahwa, Wapres RI, Menko Polhukam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan tersebut," papar Bachtiar.

Ia menyesalkan provokasi dari petugas keamanan tersebut padahal Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Laksmana sudah memerintahkan agar tidak ada tembakan gas air mata ke massa aksi. Berikut kronologi lengkap dari awal demonstrasi dengan tujuan mendorong kepolisian mengusut kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) hingga akhirnya berujung rusuh karena provokasi:

1. Pukul 10.00 WIB pagi GNPF memberikan pengarahan terbatas kepada pengendali barisan aksi dan para orator dengan pesan yang kuat bahwa ini adalah AKSI DAMAI dan harus menunjukkan akhlaqul karimah. 

2. Pukul 11 pagi pimpinan GNPF bersama ulama menetapkan kesepakatan target aksi damai yang akan diperjuangkan kepada Presiden Jokowi. 

3. Usai shalat Jumat di Mesjid Istiqlal semua peserta barisan aksi melakukan longmarch menuju istana sesuai rute yang telah ditetapkan. Orasi di depan istana baru dimulai ba'da ashar. 

4. Pelaksanaan orasi berjalan lancar dengan orator bergantian dari berbagai elemen dipimpin langsung oleh Habib Rizieq Syihab (sebagai Pembina GNPF MUI). 

5. Perundingan pertama mengutus 2 orang Juru Runding GNPF MUI yaitu; KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Razmin untuk mendatangi istana. Hasilnya Juru Runding menolak melakukan perundingan karena hanya akan ditemui oleh Menko Polhukam dan beberapa menteri sebagai utusan resmi Presiden RI. 

6. Juru Runding mendatangi istana untuk kedua kalinya namun kemudian mereka tetap menolak untuk berunding karena istana tetap menawarkan Menko Polhukkam dan petinggi lainnya, sehingga kemudian Juru Runding kembali kepada barisan aksi. 

7. Selanjutnya Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya berinisiatif mendatangi mobil barisan aksi kemudian naik ke atas dan memberi salam hormat kepada peserta aksi. Kedatangan mereka untuk menemui Habib Rizieq Syihab dan menawarkan agar Juru Runding bisa diterima oleh Wapres RI. Habib Rizieq Syihab bersedia memenuhi penawaran tersebut dengan jaminan agar Wapres RI bersedia memerintahkan Kapolri untuk menangkap BTP hari itu juga. 

8. Kemudian Juru Runding mendatangi istana untuk ketigakalinya. Kali ini Juru Runding diikuti juga oleh KH Misbahul Anam. Juru Runding ditemui Wapres RI dan petinggi lainnya. Perundingan berjalan alot. Hasilnya Wapres RI memberikan jaminan akan memproses hukum BTP secara cepat, tegas dan transparan serta minta waktu selama 2 (dua) minggu untuk merealisasikannya. 

9. Juru Runding kembali ke barisan aksi untuk menyampaikan hasil perundingan. Perundingan terakhir ini baru selesai pukul 18.00 wib. Setelah disampaikan, reaksi para peserta aksi tidak bisa menerima hasil tersebut dan bersepakat untuk bermalam di depan Istana Negara. 

10. KH Arifin Ilham dengan inisiatif sendiri berusaha bernegosiasi langsung menemui Wapres RI. 

11. Kericuhan kecil sebenarnya sudah mulai terjadi sebelum rombongan mobil komando tiba, antara massa yang 'terprovokasi' dengan barikade polisi. Agar tidak terjadi bentrok maka Laskar FPI menjadi pagar pembatas antara massa tersebut dengan barikade polisi, tak lama setelah adzan isya berkumandang petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik merangsek dan mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa dengan menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet. KH Arifin Ilham yang masih berada di istana bersaksi bahwa, Wapres RI, Menko Polhukkam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan tersebut. 

12. Berkali-kali Kapolri dan Panglima TNI memerintahkan aparat untuk berhenti menembak massa lewat pengeras suara namun tak digubris oleh pasukan polisi, bahkan pasukan motor polisi berputar-putar di kerumunan massa sehingga ada yang tertabrak dan tergilas. 

13. Kejadian tersebut telah memakan 1 korban meninggal dunia atas nama Bapak Syahrie Oemar, 65 thn, warga Curug, Tangerang, Banten. Puluhan korban luka akibat tembakan peluru karet, tertabrak motor polisi dan gas air mata. 

14. Barisan Aksi Bela Islam II akhirnya bergerak menginap di pagar luar Gedung MPR/DPR, pada Pk 03.00 dinihari delegasi GNPF diterima oleh Ketua MPR RI, Ketua dan Anggota Komisi 3 DPR, dan Ketua MKD DPR RI, setelah beberapa kali berunding. Keamanan gedung MPR/DPR diambil alih oleh Panglima TNI dan Kapolri yang akan menggusur massa yang menginap di luar pagar Gedung MPR/DPR. 

15. Komisi 3 DPR kemudian memberikan jaminan akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa Aksi Damai. 

16. Pada pukul 04.05 tanggal 5 Nov 2016 secara resmi GNPF MUI membubarkan Aksi Bela Islam II yang ditutup oleh Ketua GNPF MUI damai yang akan diperjuangkan kepada Presiden Jokowi.[detik

Kronologi Kericuhan Versi GNPF-MUI, "Panglima dan Kapolri Perintahkan Berhenti Tapi tak Digubris Petugas"

Kronologi Kericuhan Versi GNPF-MUI, "Panglima dan Kapolri Perintahkan Berhenti Tapi tak Digubris Petugas"

POSMETRO INFO - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF) MUI menggelar jumpa pers untuk menjelaskan kronologi peristiwa kerusuhan di penghujung demo 4 November kemarin. GNPF menyatakan kericuhan tersebut awalnya disebabkan oleh tindakan penembakan secara tiba-tiba yang dilakukan polisi.

Koordinator GNPF Bachtiar Nasir menggambarkan bagaimana proses kericuhan terjadi jelang pukul 19.00 WIB, padahal sejak siang hari aksi berjalan damai dan tertib. Ia menjelaskan dalam jumpa pers siang ini di Restoran Pulau Dua, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (5/11/2016). 

Ia menjelaskan, awalnya kericuhan terjadi ketika petugas keamanan secara tiba-tiba menembakkan gas air mata sesaat setelah azan isya berkumandang.

"Tak lama setelah azan isya berkumandang petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik merangsek dan mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa dengan menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet. KH Arifin Ilham yang masih berada di Istana bersaksi bahwa, Wapres RI, Menko Polhukam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan tersebut," papar Bachtiar.

Ia menyesalkan provokasi dari petugas keamanan tersebut padahal Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Laksmana sudah memerintahkan agar tidak ada tembakan gas air mata ke massa aksi. Berikut kronologi lengkap dari awal demonstrasi dengan tujuan mendorong kepolisian mengusut kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) hingga akhirnya berujung rusuh karena provokasi:

1. Pukul 10.00 WIB pagi GNPF memberikan pengarahan terbatas kepada pengendali barisan aksi dan para orator dengan pesan yang kuat bahwa ini adalah AKSI DAMAI dan harus menunjukkan akhlaqul karimah. 

2. Pukul 11 pagi pimpinan GNPF bersama ulama menetapkan kesepakatan target aksi damai yang akan diperjuangkan kepada Presiden Jokowi. 

3. Usai shalat Jumat di Mesjid Istiqlal semua peserta barisan aksi melakukan longmarch menuju istana sesuai rute yang telah ditetapkan. Orasi di depan istana baru dimulai ba'da ashar. 

4. Pelaksanaan orasi berjalan lancar dengan orator bergantian dari berbagai elemen dipimpin langsung oleh Habib Rizieq Syihab (sebagai Pembina GNPF MUI). 

5. Perundingan pertama mengutus 2 orang Juru Runding GNPF MUI yaitu; KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Razmin untuk mendatangi istana. Hasilnya Juru Runding menolak melakukan perundingan karena hanya akan ditemui oleh Menko Polhukam dan beberapa menteri sebagai utusan resmi Presiden RI. 

6. Juru Runding mendatangi istana untuk kedua kalinya namun kemudian mereka tetap menolak untuk berunding karena istana tetap menawarkan Menko Polhukkam dan petinggi lainnya, sehingga kemudian Juru Runding kembali kepada barisan aksi. 

7. Selanjutnya Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya berinisiatif mendatangi mobil barisan aksi kemudian naik ke atas dan memberi salam hormat kepada peserta aksi. Kedatangan mereka untuk menemui Habib Rizieq Syihab dan menawarkan agar Juru Runding bisa diterima oleh Wapres RI. Habib Rizieq Syihab bersedia memenuhi penawaran tersebut dengan jaminan agar Wapres RI bersedia memerintahkan Kapolri untuk menangkap BTP hari itu juga. 

8. Kemudian Juru Runding mendatangi istana untuk ketigakalinya. Kali ini Juru Runding diikuti juga oleh KH Misbahul Anam. Juru Runding ditemui Wapres RI dan petinggi lainnya. Perundingan berjalan alot. Hasilnya Wapres RI memberikan jaminan akan memproses hukum BTP secara cepat, tegas dan transparan serta minta waktu selama 2 (dua) minggu untuk merealisasikannya. 

9. Juru Runding kembali ke barisan aksi untuk menyampaikan hasil perundingan. Perundingan terakhir ini baru selesai pukul 18.00 wib. Setelah disampaikan, reaksi para peserta aksi tidak bisa menerima hasil tersebut dan bersepakat untuk bermalam di depan Istana Negara. 

10. KH Arifin Ilham dengan inisiatif sendiri berusaha bernegosiasi langsung menemui Wapres RI. 

11. Kericuhan kecil sebenarnya sudah mulai terjadi sebelum rombongan mobil komando tiba, antara massa yang 'terprovokasi' dengan barikade polisi. Agar tidak terjadi bentrok maka Laskar FPI menjadi pagar pembatas antara massa tersebut dengan barikade polisi, tak lama setelah adzan isya berkumandang petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik merangsek dan mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa dengan menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet. KH Arifin Ilham yang masih berada di istana bersaksi bahwa, Wapres RI, Menko Polhukkam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan tersebut. 

12. Berkali-kali Kapolri dan Panglima TNI memerintahkan aparat untuk berhenti menembak massa lewat pengeras suara namun tak digubris oleh pasukan polisi, bahkan pasukan motor polisi berputar-putar di kerumunan massa sehingga ada yang tertabrak dan tergilas. 

13. Kejadian tersebut telah memakan 1 korban meninggal dunia atas nama Bapak Syahrie Oemar, 65 thn, warga Curug, Tangerang, Banten. Puluhan korban luka akibat tembakan peluru karet, tertabrak motor polisi dan gas air mata. 

14. Barisan Aksi Bela Islam II akhirnya bergerak menginap di pagar luar Gedung MPR/DPR, pada Pk 03.00 dinihari delegasi GNPF diterima oleh Ketua MPR RI, Ketua dan Anggota Komisi 3 DPR, dan Ketua MKD DPR RI, setelah beberapa kali berunding. Keamanan gedung MPR/DPR diambil alih oleh Panglima TNI dan Kapolri yang akan menggusur massa yang menginap di luar pagar Gedung MPR/DPR. 

15. Komisi 3 DPR kemudian memberikan jaminan akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa Aksi Damai. 

16. Pada pukul 04.05 tanggal 5 Nov 2016 secara resmi GNPF MUI membubarkan Aksi Bela Islam II yang ditutup oleh Ketua GNPF MUI damai yang akan diperjuangkan kepada Presiden Jokowi.[detik

Lautan Umat Islam Tergerak Menuntut Ahok, AA Gym : Bukti Kekuasaan Allah

 Lautan Umat Islam Tergerak Menuntut Ahok, AA Gym : Bukti Kekuasaan Allah

Media-Indo INFO - Pimpinan Daarut Tauhid Aa Gym mengunggah foto banyaknya massa saat demonstrasi, kemarin. Menurutnya, bukan partai atau tokoh tertentu yang menyatukan mereka, melainkan Allah. 

"Tak Ada yang mempersatukan dan menggerakan hati selain Hanya Allah, bukan partai atau tokoh atau apapun," ujar Aa Gym lewat kicauan di laman Twitter-nya, Sabtu (5/11). 

Ratusan ribu orang mengikuti demonstrasi yang meminta agar Gubernur DKI pejawat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses terkait dugaan kasus penistaan agama. Demonstrasi berjalan dengan damai, kendati sempat diwarnai kericuhan.

Namun Aa Gym menyayangkan sikap Presiden Jokowi yang tak mau menemui demonstran. Seharusnya, Jokowi mau menerima perwakilan pengunjuk rasa. [republika]

Lautan Umat Islam Tergerak Menuntut Ahok, AA Gym : Bukti Kekuasaan Allah

 Lautan Umat Islam Tergerak Menuntut Ahok, AA Gym : Bukti Kekuasaan Allah

POSMETRO INFO - Pimpinan Daarut Tauhid Aa Gym mengunggah foto banyaknya massa saat demonstrasi, kemarin. Menurutnya, bukan partai atau tokoh tertentu yang menyatukan mereka, melainkan Allah. 

"Tak Ada yang mempersatukan dan menggerakan hati selain Hanya Allah, bukan partai atau tokoh atau apapun," ujar Aa Gym lewat kicauan di laman Twitter-nya, Sabtu (5/11). 

Ratusan ribu orang mengikuti demonstrasi yang meminta agar Gubernur DKI pejawat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses terkait dugaan kasus penistaan agama. Demonstrasi berjalan dengan damai, kendati sempat diwarnai kericuhan.

Namun Aa Gym menyayangkan sikap Presiden Jokowi yang tak mau menemui demonstran. Seharusnya, Jokowi mau menerima perwakilan pengunjuk rasa. [republika]

Polda Metro: Seorang Pendemo Meninggal karena Asma


Media Indo - Kepolisian Daerah Metro Jaya menginformasikan seorang pendemo M Syachrie Oy Bcan (55 tahun) meninggal dunia diduga akibat mengidap penyakit asma.

"Korban meninggal dunia dikarenakan sakit asma," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu dini hari (5/11).

Awi menuturkan korban meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta usai berunjuk rasa pada Jumat (4/11). Awi menegaskan tidak ditemukan tanda kekerasan atau luka pada tubuh korban.

Pihak keluarga korban M Fajri (20) telah membawa pulang jasad korban ke Tangerang Banten pada Jumat sekitar pukul 22.00 WIB. Diketahui korban merupakan guru mengaji beralamat di Perumahan Binong Permai F-14/24 RT07/07 Kelurahan Binong Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang Banten. [rol]

Polda Metro: Seorang Pendemo Meninggal karena Asma


Blog Tausiah - Kepolisian Daerah Metro Jaya menginformasikan seorang pendemo M Syachrie Oy Bcan (55 tahun) meninggal dunia diduga akibat mengidap penyakit asma.

"Korban meninggal dunia dikarenakan sakit asma," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu dini hari (5/11).

Awi menuturkan korban meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta usai berunjuk rasa pada Jumat (4/11). Awi menegaskan tidak ditemukan tanda kekerasan atau luka pada tubuh korban.

Pihak keluarga korban M Fajri (20) telah membawa pulang jasad korban ke Tangerang Banten pada Jumat sekitar pukul 22.00 WIB. Diketahui korban merupakan guru mengaji beralamat di Perumahan Binong Permai F-14/24 RT07/07 Kelurahan Binong Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang Banten. [rol]

Lakukan Negosiasi dengan DPR/MPR, GNPF-MUI: Target Tidak Bergeser, Tangkap Ahok!


Media Indo -  Pimpinan MPR dan anggota DPR RI menemui demonstran yang masih melakukan aksi di depan gedung DPR/MPR RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (5/11). Ketua MPR Zulkifli Hasan bersedia melakukan negosiasi dengan perwakilan ormas Islam di ruangannya.

Setidaknya, ada ribuan massa yang menginap didepan “Rumah Rakyat itu usai melakukan aksi di Istana Negara.

“Kita sudah melakukan upaya-upaya yang terbaik dan anda sudah datang dari seluruh Indonesia. Allah pasti membalas dan Allah punya cara untuk memenangkan kita semua,” ujar Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), KH. Bachtiar Nasir, didepan demonstran usai ditemui Ketua MPR.

Ia menegaskan, kedatangannya ke gedung DPR/MPR untuk melakukan aksi damai. “Kami akan berupaya yang terbaik dan kami tidak ingin ada korban. Ini semua seperti ditunggangi,” katanya.

Bachtiar membenarkan, bahwa ada 8 orang perwakilan yang akan diterima sebagai delegasi untuk melakukan negosiasi-negoisasi. Diantaranya, terkait tuntutan proses hukum penista agama serta permohonan untuk bermalam di parlemen.

“Yang jelas target enggak bergeser, tangkap AHOK !,” tegas dia.

“Delapan delegasi itu, temasuk saya dan ketua pembina akan ambil keputusan yang terbaik buat umat,” tambahnya.

Ia menghimbau kepada para demonstran untuk bersabar menunggu hasil musyawarah.

“Untuk itu doakan kami dan Allah putuskan yang terbaik untuk kita semua,” pungkasnya.

Video:



Adapun delegasi dari perwakilan massa aksi tersebut, yakni :

1. Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.
2. Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), KH. Bachtiar Nasir
3. Dua wakil KH. Bachtiar Nasir, Misbahul Anam dan Muhammad Zaitun
5. Ketua FPI Jakarta Habib Muhsin bin Ahmad
6. Imam FPI Jakarta Muhsin bin Zed
7. Panglima FPI Munarman [akt]

Lakukan Negosiasi dengan DPR/MPR, GNPF-MUI: Target Tidak Bergeser, Tangkap Ahok!


Blog Tausiah -  Pimpinan MPR dan anggota DPR RI menemui demonstran yang masih melakukan aksi di depan gedung DPR/MPR RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (5/11). Ketua MPR Zulkifli Hasan bersedia melakukan negosiasi dengan perwakilan ormas Islam di ruangannya.

Setidaknya, ada ribuan massa yang menginap didepan “Rumah Rakyat itu usai melakukan aksi di Istana Negara.

“Kita sudah melakukan upaya-upaya yang terbaik dan anda sudah datang dari seluruh Indonesia. Allah pasti membalas dan Allah punya cara untuk memenangkan kita semua,” ujar Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), KH. Bachtiar Nasir, didepan demonstran usai ditemui Ketua MPR.

Ia menegaskan, kedatangannya ke gedung DPR/MPR untuk melakukan aksi damai. “Kami akan berupaya yang terbaik dan kami tidak ingin ada korban. Ini semua seperti ditunggangi,” katanya.

Bachtiar membenarkan, bahwa ada 8 orang perwakilan yang akan diterima sebagai delegasi untuk melakukan negosiasi-negoisasi. Diantaranya, terkait tuntutan proses hukum penista agama serta permohonan untuk bermalam di parlemen.

“Yang jelas target enggak bergeser, tangkap AHOK !,” tegas dia.

“Delapan delegasi itu, temasuk saya dan ketua pembina akan ambil keputusan yang terbaik buat umat,” tambahnya.

Ia menghimbau kepada para demonstran untuk bersabar menunggu hasil musyawarah.

“Untuk itu doakan kami dan Allah putuskan yang terbaik untuk kita semua,” pungkasnya.

Video:



Adapun delegasi dari perwakilan massa aksi tersebut, yakni :

1. Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.
2. Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), KH. Bachtiar Nasir
3. Dua wakil KH. Bachtiar Nasir, Misbahul Anam dan Muhammad Zaitun
5. Ketua FPI Jakarta Habib Muhsin bin Ahmad
6. Imam FPI Jakarta Muhsin bin Zed
7. Panglima FPI Munarman [akt]

Kapolda Larang Massa Menginap di DPR, "Silahkan Kita Kuat-kuatan!"


Media Indo - Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan melarang massa aksi Bela Islam II yang ada di Gedung DPR tidak boleh masuk ke dalam Gedung Parlemen.

“Kan batas orasi sudah ada, di depan pager itu batas mereka melakukan orasi dan tidak boleh di dalam (Gedung Parlemen),” katanya saat meninjau keamanan di Gedung MPR/DPR/DPD, Sabtu (5/11) dini hari.

Tujuan massa aksi bela Islam yang baru saja menyampaikan aspirasinya di Istana Presiden, ingin beristirahat. Namun Iriawan tetap melarang.

“Kami biarkan saja, silahkan kita kuat-kuatan.”

Dia mengatakan, kalau situasi dinilai perlu ada penambahan maka akan dilakukan penambahan personel pengamanan Gedung Parlemen. Namun dia menjelaskan, belum ada arahan untuk peningkatan status Jakarta dari Siaga 1.

“Status Siaga 1 memang sudah dari beberapa hari lalu, tidak ada peningkatan status,” katanya. [akt]

Kapolda Larang Massa Menginap di DPR, "Silahkan Kita Kuat-kuatan!"


Blog Tausiah - Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan melarang massa aksi Bela Islam II yang ada di Gedung DPR tidak boleh masuk ke dalam Gedung Parlemen.

“Kan batas orasi sudah ada, di depan pager itu batas mereka melakukan orasi dan tidak boleh di dalam (Gedung Parlemen),” katanya saat meninjau keamanan di Gedung MPR/DPR/DPD, Sabtu (5/11) dini hari.

Tujuan massa aksi bela Islam yang baru saja menyampaikan aspirasinya di Istana Presiden, ingin beristirahat. Namun Iriawan tetap melarang.

“Kami biarkan saja, silahkan kita kuat-kuatan.”

Dia mengatakan, kalau situasi dinilai perlu ada penambahan maka akan dilakukan penambahan personel pengamanan Gedung Parlemen. Namun dia menjelaskan, belum ada arahan untuk peningkatan status Jakarta dari Siaga 1.

“Status Siaga 1 memang sudah dari beberapa hari lalu, tidak ada peningkatan status,” katanya. [akt]