Blog Tausiah - Demonstrasi ormas Islam di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat akhirnya ricuh, dan bentrok dengan polisi. Seorang polisi terlihat dilarikan ke ambulans dan seorang yang diduga provokator ditangkap oleh aparat.
Kericuhan yang terjadi usai waktu maghrib itu, dipicu oleh massa HMI yang merangsek ingin masuk ke Istana. Usaha mereka dihadang oleh polisi dengan pukulan rotan yang dibalas oleh massa HMI dengan lemparan botol air mineral. Mereka kemudian terlibat saling lempar batu dan kayu.
Seorang pria diciduk oleh polisi dari kerumunan massa tapi belum diketahui identitas pria tersebut.
Tanda-tanda aksi massa HMI akan ricuh sudah terlihat beberapa jam sebelumnya ketika mereka memaksa ingin masuk ke Istana. Usaha mereka bisa dicegah oleh Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) yang meminta agar Satgas FPI turun tangan. "Satgas mana Satgas, turun," tegasnya.
Ketegangan sempat mereda ketika itu. Namun, bentrokan kembali pecah sekitar pukul 18.45 WIB. Hingga berita ini diturunkan, kericuhan masih terjadi.
Jokowi Pentingkan Proyek
Sementara itu, Presiden Joko Widodo dianggap tidak sensitif dan tidak mengerti politik, karena memilih meninjau proyek Kereta Bandara ketimbang menemui perwakilan demonstran Ormas Islam.
Presiden seperti memancing, apa enggak ada laporan dari intelijen bahwa ada orang datang dari semua daerah. Presiden amatir, enggak sensitif, enggak ngerti politik," kata Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah di Gedung DPR RI, Jakarta.
Fahri menyesalkan sikap Jokowi yang menghindari demonstran menuntut ketegasan pemerintah terhadap Ahok yang diduga menista agama Islam.
"Dia (Jokowi) cuma bilang kerja kerja kerja, emang kerja itu cuma meninjau rel dan kapal, kalau mengaspal jalan suruh mandor saja. Tapi kok Presiden ke situ, manajemen politik diabaikan," sesal Fahri.
Jokowi harusnya membuat situasi menjadi sejuk, aman dan bisa memberikan solusi kepada masyarakat.
Selain itu, Fahri menyesalkan para pembantu presiden. "Kayaknya penasehat keamanan presiden enggak pintar baca situasi. Enggak punya pertimbangan security. Gimana, ada massa sejuta, presiden enggak ada di dalam. Ngawur itu," pungksnya. [msc]
