Loading...
Tampilkan postingan dengan label Artikel Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Motivasi. Tampilkan semua postingan
Bekal Jelang Ramadhan

Bekal Jelang Ramadhan

Sebagai orang beriman sudah sepatutnya kita berbahagia menyambut kehadiran Ramadhan dengan penuh kegembiraan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ketika bulan Ramadhan datang, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa, dibuka lebar pintu surga, ditutup rapat pintu neraka, dan dibelenggu tangan syetan. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan bulan puasa." (HR Ahmad)


 Hadits di atas memberikan penjelasan sekaligus kabar gembira tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Sehingga mendorong kita untuk menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Namun, di tengah kebahagiaan itu, kita perlu melakukan persapan sebagai bekal menghadapi Ramadhan dengan berbagai amalan shaleh.

Pertama, memperbanyak berdoa. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin usia kita sampai bulan Ramadhan, untuk itu teruslan berdoa kepada-Nya. "Allohumma bariklana fii rojaba wa sya'bana, wa balighna romadhona." (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).

Kedua, puasa sunah di bulan Sya'ban. Dikisahkan oleh Aisyah RA, Rasulullah banyak berpuasa (pada Sya'ban) sehingga mengatakan, "Beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasan sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya'ban." (Muttafaq 'alaih)

Ketiga, tadarus Alquran. Dengan memperbanyak tadarus Alquran di bulan Sya'ban, dapat mengantarkan kepada kebersihan jiwa, sehingga saat memasuki Ramadhan jiwa dalam keadaan bersih dan pada akhirnya mengantarkan kepada keikhlasan dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Keempat, menelaah buku-buku terkait ibadah puasa. Hal ini dilakukan untuk pemantapan dan penyempurnaan ibadah di bulan Ramdhan. Sebab, ibadah yang tidak disertai ilmu (pemahaman) hanya akan merusak kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Hasan al-Basri mengatakan, beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungih-sungguh, rapi jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, tapi jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin beribadah, tapi meninggalkan belajar. (lihat dalam Miftah Daris Sa'adah karya Ibnul Qayyim).

Kelima, silaturahim kepada keluarga, tetangga, teman, terutama kepada kedua orangtua untuk saling memaafkan dan mendoakan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghadirkan suasana kebersamaan dan saling memotivasi, guna memaksilmalkan ibadah Ramadhan.

Semoga Allah membimbing kita agar dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisaban, terampuni dosa-dosa kita dan meraih derajat taqwa. Aamiin.

Oleh Imam Nur Suharno dalam Buletin Masjid Agung Kota Tsm 242/VI/2016

Kejujuran dalam Usaha

Sejak usia muda, Rasulullah saw termasuk orang yang sudah belajar hidup mandiri. Tidak tergantung pada orang. Tidak menggantungkan nasib pada orang lain dan tidak menjadi beban orang lain. Hal ini terlihat dari ikhtiarnya untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam catatan sejarah nabi (Shirah Nabawi), ditemukan informasi, ada tiga kegiatan ekonomi yang dilakukan Rasulullah yaitu menjadi penggembala, berdagang dengan pamannya, dan menjalin mitra usaha dagang Siti Khadijah yang kemudian hari menjadi istrinya. Hal ini menggambarkan, sedari usia muda, Rasulullah ikut terbiasa dan sudah membiasakan diri meenjadi orang mandiri.


Khusus dalam kaitannya dengan bisnis (dagang), pada mulanya Rasulullah terlibat dengan usaha-usaha yang dikembangkan pamannya, Abu Thalih, yang mengembangkan sayap bisnisnya dengan menjalin usaha bersama dengan pengusaha besar yakni Siti Khadijah. Ia adalah seorang janda kaya di Mekah yang berakhlak mulia. Ia adalah wanita yang senantiasa menjaga kehormatan dirinya sehingga mendapat gelar At-Thahirah (Wanita Suci).

Menanggapi permohonan Muhammad untuk ikut berdagang, Siti Khadijah tanpa pikir panjang langsung menyambutnya dengan senang hati, karena ia telah cukup mengenal Muhammad sebagai pemuda yang ramah, jujur, dan sopan santun.

Berangkatlah Nabi Muhammad sae ke negeri Syam, ditemani oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Jalinan usaha antara Abu Thalib dan Siti Khadijah berjalan lancar, dan bahkan mampu membesarkan bisnisnya. Karena kemajuan dalam bisnisnya itulah Siti Khadijah melalui pembantunya, Maisarah kemudian mencari tahu, apa dan bagaimana cara berdagangnya partner usaha tersebut. Ternyata Muhammad dengan Abi Thalib mampu melakukan komunikasi usaha dengan ara yang sangat baik.

Mereka berdua mampu melakukan komunikasi usaha yang memegang prinsip kejujuran dalam usaha, sehingga bisa memberikan kenyamanan kepada pembeli. Nilai kejujurannya itulah, yang kemudian menyebabkan usaha-usaha Muhammad dan Abu Thalib bisa berkembang baik, dan itu semua sudah tentu menguntungkan usaha Siti Khadijah.

Dalam kaitan ini, ada beberapa nilai kejujuran yang memang penting dikembangkan dalam konteks usaha kerja sama sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Nilai kejujuran merupakan nilai-nilai penting dalam hal apa pun apalagi dalam bisnis. Pertama, jujur terhadap rekanan usaha kita. Jangan samapai, rekanan kita merasa dirugikan karena kita tidak pernah memberikan laporan keuntungan secara terbuka. Banyak pebisnis sekarang, kalau untuk dimakan sendiri, tetapi kalau rugi dilaporkan kepada mitra usaha kita.

Kedua, jujur kepada pembeli. Dimana pun kita berdagang, pembeli harus dihargai secara optimal. Kita tidak boleh berdusta atau mencederai konsumen kita. Ada sifat buruk, di sejumlah pedagang kita. Melihat calon pembeli bukan daerah asli tempat tinggal kita, misalnya pendatang, harga barang kemudian dinaikkan. Sikap seperti ini, sesungguhnya hanya merugikan diri sendiri. Memang, sekali waktu dia mendapatkan untung besar, tetapi citra usaha menjadi buruk. Pernahkah kita mendengar, ada saudara kita yang kapok jajang di suatu tempat wisata, karena barang-barangnya dimahalkan? Apakah dengan pengalaman itu, kelak kalau kita berkunjung lagi ke tempat wisata itu, kita berminat untuk belanja lagi?

Tingginya korupsi di negara kita ini, pada dasarnya karena telah kehilangan sikap kejujuran. Di negeri kita ini, sifat-sifat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah sekarang hampir sulit ditemukan. Ketidakjujuran merajalela sehingga korupsi pun marak.

Ketiga, setiap pengusaha atau pegawai pun harus jujur terhadap profesinya atau hasil usahanya. Di sini, sifat amin (jujur), bermakna pula amanah atau transparansi. Seorang yang jujur (al-amin) adalah orang yang mengembangkan sikap transparan, terbuka pada orang lain. Sikap ini penting, karena bila pengusaha, pedagang tidak mau bersikap transparan, dia akan terjerumus melakukan tindak pidana korupsi, manipulasi, atau penggelapan hasil usaha.

Ketidakjujuran bisa jadi menguntungkan, tetapi sifatnya hanya sesaat. Bahkan, ketidakjujuran bisa menghancurkan dalam jangka panjang. Apakah kita mementingkan keuntungan jangka panjang atau sekadar jangka pendek?

Banyak yang mengatakan apabila jujur, usaha akan hancur lebur. Jujur akan membuat kerugian. Sebagai kaum Muslimin yang meyakini janji-janji Allah, maka kalimat-kalimat seperti itu merupakan kalimat yang tidak dibenarkan. Kalau Allah SWT sudah menjamin seseorang yang jujur akan mujur, mengapa kita masih memercayai anggapan umum yang menyalahi prinsip ajaran Islam? Jujurlah, Insya Allah hidup akan mujur.


Penulis: H. HABIB SYARIEF MUHAMMAD ALAYDRUD
Ketua Yayasan Assalam Bandung, mantan anggota MPR dan mantan Ketua PW NU Jabar
Amalan-amalan Sunnah di Hari Raya

Amalan-amalan Sunnah di Hari Raya

Bismillahirrahmannirahim,

Anas bin Malik r.a berkata, “Tatkala Nabi s.a.w datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenang gembira sebagaimana di waktu jahiliyyah, lalu beliau bersabd
a,

‘Saya datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari raya untuk bersenang gembira sebagaimana di waktu jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik; yaitu Idul Adha dan Idul Fithri’.” (Shahih, riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i)

Berikut ini beberapa amalan-amalan sunnah dilakukan pada hari raya:
1. Mandi sunat hari raya sebelum keluar menunaikan solat sunat Idul Fitri .

Sebagaimana salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w, yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika ditanya tentang bilakah mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah s.a.w. Beliau menjawab: “(Mandi yang disunnahkan) pada hari Jumaat, hari ‘Arafah, hari raya Idul Fithri, dan Idul Adha.” (Lihat Al Wajiz, hal 47).

Ulama besar Tabien Said Bin Jubayr berkata : "Tiga perkara sunnah di hari raya iaitu antaranya : mandi sunat sebelum keluar solat hari raya".

2. Memakai pakaian yang paling bagus

Disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus, meski tidak harus baru. Rasul mempunyai pakaian khusus yang biasanya dikenakan di hari raya.

3. Memakai wewangian.

Memakai wangi-wangian termasuk perkara yang disunnahkan pada hari raya Idul Fitri. Diriwayatkan dari ‘Ali ra. bahwa beliau mandi di hari Id, demikian juga riwayat yang sama dari Ibn ‘Umar dan Salamah bin Akwa dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dimiliki serta memakai wewangian” (Syarhus Sunnah 4/303)

3. Memakan makanan sebelum keluar.

Ia berdasarkan hadith dari Anas Bin Malik yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang menyebut : "Nabi SAW tidak keluar di pagi hari raya Idul fitri sehinggalah Nabi SAW memakan beberapa biji kurma... "

Dari Buraidah berkata: “Nabi tidak keluar pada Idul Fitri sehingga makan terlebih dahulu. Adapun pada Idul Adha, maka beliau tidak makan sehingga pulang dan makan dari daging korban sembelihannya.” (Hasan, Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan Ahmad)

4. Berjalan Kaki Menuju Tanah Lapang

Dari ‘Ali berkata: “Termasuk sunnah yaitu engkau keluar solat hari raya dengan berjalan kaki.”
(Hasan. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahih Tirmidzi)

5. Menempuh Jalan Yang Berbeda ketika pergi dan pulang solat.

Dari Jabir bin Abdillah berkata: “Rasulullah s.a.w apabila (berangkat dan pulang) pada hari raya mengambil jalan yang berbeda.” (HR. Bukhari)

6. Memperbanyakkan Takbir sejak Maghrib 1 Syawal hingga Solat Ied

“Nabi s.a.w apabila pada hari raya Iedul Fithri, beliau bertakbir sehingga sampai lapangan (tempat didirikan solat hari raya) dan melaksanakan solat. Apabila selesai solat, beliau memutuskan takbirnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, lihat Ash Shahihah)

Dalam hadis ini terdapat dalil tentang disyari’atkan takbir secara kuat ketika berjalan menuju lapangan sebagaimana dikerjakan oleh kaum muslimin.

7. Shalat Idul Fitri

Perlaksanaan shalat Idul Fitri diperintahkan oleh Nabi agar diakhirkan, setelah terbitnya matahari, sementara shalat Idul Adha diperintahkan agar diawalkan. Shalat dilaksanakan tanpa adzan dan iqamat. Dengan 7 takbir di rakaat pertama, dan 5 takbir di rakaat kedua.

Tempat shalat Id: Shalat Id disunnahkan dilaksanakan di lapangan terbuka, kecuali kalau hujan.

Pelaksanaan Khutbah: Khutbah Id, baik Fitri maupun Adha dilaksanakan setelah shalat. Hukumnya tidak terpisahkan dari kesunnahan hukum shalat Id. Maka baiknya mendengarkan khutbah yang biasanya diakhiri dengan doa, baru bersiap-siap pulang.

Bagi kaum wanita , Rasulullah saw. memerintahkan kaum wanita keluar pada hari raya Idul Fitri . Adapun yang haid maka dia tetap dapat ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim.

8. Mengucapkan selamat dan mendoakan antara satu sama lain ;

Kalimah yang digunakan di zaman baginda SAW adalah "Taqabbalahhu minna wa minkum" artinya "Semoga Allah menerima amalan (amalan dan ibadat di Ramadhan) kami dan kamu".

Disebut dalam sebuah riwayat :

artinya : Berkata Wathilah, Aku bertemu Rasulullah s.a.w pada hari raya dan aku katakan pada baginda "taqabballahu minna wa minka", baginda menjawab : Ya, taqabballahu minna wa minka"
( Al-Baihaqi, rujuk perbincangan di Fath Al-Bari, 2/446 )

Semoga bermanfaat ..
Taqabbalahhu minna wa minkum sahabat BK ..
Semoga Allah menerima amalan (amalan dan ibadat di bulan Ramadhan) kami dan kamu ...

~ Salam santun ukhuwah ~





Berani Mencoba

Berani Mencoba

www.tausiahislam.co.cc |Berani Mencoba ~ Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarumyang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam, "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti.

Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan:
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita teryata mampu. Bahkan yang
semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Kata Bijak:
Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun, yang lain dengan denyut jantung, gairah, dan air mata.
Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

sumber: milis Cetivasi

Dialog Rasulullah SAW dengan Malaikat Jibril A.S

Dialog Rasulullah SAW dengan Malaikat Jibril A.S

www.tausiahislam.co.cc : Dialog Rasulullah SAW dengan Malaikat Jibril A.S -  Ketika Rasulullah SAW isra’ mi’raj bersaman malaikat Jibril a.s, untuk menerima perintah shalat. Beliau banyak melihat berbagai macam orang-orang yang mendapatkan balasan di akhirat…

Lantas pertanyaannya : Orang yang seperti apa dan balasan apa yang mereka terima? Ini dia jawabannya:


1. Rasulullah SAW melihat orang-orang yang sedang memukul kepalanya dengan batu hingga pecah sampai mengucur darah yang banyak dari kepalanya, namun kepalanya utuh kembali seperti semula dan orang itu memukulnya lagi hingga berulang kali. Rasulullah SAW bertanya : “Siapa mereka wahai Jibril? Jibril menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang bermalas-malasan dalam menunaikan shalat wajibnya”.

2. Rasulullah SAW melihat sekelompok kaum yang bercocok tanam dan panen pada hari itu juga. Ketika panen, anehnya tanaman itu tumbuh kembali hingga berulang kali panen. Rasulullah SAW bertanya : “Siapa mereka wahai Jibril? Jibril menjawab : “ Mereka kaum mujahidin, mereka mencurahkan harta, pikiran dan jiwa raganya hanya dijalan Allah SWT, untuk menyebarkan petunjuk kebaikan kepada orang banyak”.

3. Rasulullah SAW melihat seseorang wanita tua yang memanggil-manggilnya. Di tubuh wanita tua itu terdapat banyak perhiasan yang mempesona. Rasulullah SAW bertanya : “Siapa dia wahai Jibril? Jibril a.s menjawab : “Dia adalah dunia. Dunia semakin tua semakin menggoda keimanan umatmu dengan perhiasan yang dimilikinya. Banyak umatmu sibuk dengan hawa nafsu dan dunia hingga melupakan kewjibannya sebagai hamba Allah SWT.

4. Rasulullah SAW melihat suatu kaum yang memotong-motong lidah dan bibirnya, kemudian kembali kesemula dan dipotong lagi hingga berulang kali. Rasulullah SAW : “Siapa mereka? Jibril a.s menjawab : “Mereka adalah para penceramah dan ahli pidato yang suka memfitnah, merek menyuruh mengerjakan sesuatu tapi mereka sendiri tidak melakukannya.

5. Rasulullah SAW melihat seekor banteng besar keluar dari dalam perut batu besar. Ketika banteng itu ingin masuk kembali keperut batu besar tersebut, tetapi tidak bisa. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa Maksud dari ini wahai Jibril a.s? Jibril a.s : “Itu perumpamaan orang yang berjanji dan bersumpah, tapi kemudian ia tidak mampu untuk menepatinya. Ia juga tidak mampu untuk membatalkan janji dan sumpahnya”.

6. Rasulullah SAW melihat orang-orang yang berkuku runcing dari tembaga, kemudian mereka mencakari muka dan dada mereka sendiri. Rasulullah SAW : “Siapa mereka Jibril a.s? Jibril a.s : “Mereka orang yang suka menggujing, ngegosip, mengumpat (ghibah) kepada orang lain.

7. Rasulullah SAW melihat orang-orang yang meninggalkan daging segar, tetapi malah menggerumuti daging yang busuk kemudian memakannya. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Siapa mereka wahai Jibril a.s? Jibril a.s menjawab : “Mereka adalah pezinah.

8. Rasulullah melihat seorang sedang memikul barang yang tidak kuat dipikulnya. Namun ia menambahkan lagi barang-barang lain, sehingga bebannya makin bertambah. Rasulullah SAW : “Siapa dia wahai Jibril a.s? Jibril a.s menjawab : “Dia adalah orang yang senang membawa amanat, meskipun tidak sanggup melaksanakan amanat itu, tapi ia masih juga menambah dengan amanat-amanat yang baru.

Inilah dialog Rasulullah SAW dengan malaikat Jibril a.s. semoga kita bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi dihadapan Allah SWT..

” Wallahu a’lam''

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya.

Aamiin....

[sumber]

Hikmah Ramadhan: Keajaiban Sedekah yang Tersembunyi

keajaiban sedekah tausiahislam.co.cc
www.tausiahislam.co.cc | Hikmah Ramadhan: Keajaiban Sedekah yang Tersembunyi - Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa pada zaman dahulu bangsa Israil dilanda peceklik. Banyak orang yang menderita kelaparan. Tidak sedikit pula yang meninggal dunia akibat tidak makan. Namun masih ada orang kaya tapi tak merasa sama sekali terhadap adanya musibah itu. Orang kaya tersebut memiliki seorang anak gadis yang baik hati dan budi pekertinya. Suatu malam gadis itu sedang makan. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang berdiri di ambang pintu. Berikan aku sedekah semata-mata karena Allah meskipun hanya sepotong roti!. Ucap pengemis itu dengan wajah berseri-seri.


Gadis itu segera beranjak dan menghampirinya. Ia memberikan sepotong roti kepada pengemis itu dengan ikhlas. Senyumnya menandai betapa ia sangat senang memberikan sepotong roti kepada orang yang jauh lebih membutuhkan daripada dirinya. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang kikir baru saja datang dari bekerja. Rupanya sang ayah mengetahui perbuatan anaknya yang dianggap sangat keterlaluan. Ia melotot dan memarahi anak gadisnya.

Setelah memarahi habis-habisan, dengan emosi yang tak terkontrol, sang ayah kemudian bergegas pergi ke dapur dan mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja pisau itu sudah sampai di hadapan anaknya. Dipegangnya tangan kanan anak itu dan dengan serta merta pergelangannya dipotong. Sang ayah rupanya tak mau peduli apakah anaknya akan cacat atau tidak.

Tak lama kemudian usaha orang kaya itu bangkrut. Semakin lama semakin menurun dan akhirnya benar-benar menjadi orang miskin. Hutangnya menjadi banyak dan membebani pikirannya sepanjang hari dan malam. Bekas orang kaya itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun meninggal dunia pula.

Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian di negeri Israil kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin kini menjadi makmur. Dan gadis itu terpaksa menjadi pengemis demi menopang kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika ia berdiri di depan rumah bagus dan mewah. Ia berharap pemilik rumah kaya itu memberi sepotong roti atau apa saja yang dapat dimakan untuk mengganjal perutnya.

Sesaat kemudian keluarlah seorang wanita setengah baya dan menghampiri gadis tersebut. Ia memandangi gadis itu dengan penuh simpati. Akhirnya, gadis itu kemudian diambil anak angkat. Wanita pemilik rumah mewah itu diam-diam mempunyai rencana untuk menjodohkannya dengan anak lelakinya yang pergi merantau ke negeri orang dan tak kunjung mengirimkan kabar.

Setelah anaknya pulang, segeralah gadis itu dikawinkan dengannya. Mereka menggelar pesta meriah dan mengundang kenalannya yang rata-rata orang kaya dan pejabat di negeri itu.

Di tengah pesta perkawinan yang digelar, sang pengantin laki-laki merasa kurang senang melihat ulah istrinya yang dianggap kurang sopan, karena makan dengan tangan kiri. Pengantin laki-laki berusaha menegurnya. Tetapi pengantin wanita itu tetap merasa sulit karena selama ini ia menyembunyikan cacat tangannya sehingga tak seorang pun tahu.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, Keluarkanlah tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah sepotong roti dengan ikhlas karena Allah. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula!

Mendengar suara tersebut, terpaksa pengantin wanita mengeluarkan tangan kanannya. Terjadilah suatu keajaiban: telapak tangannya yang terputus itu berubah seperti sediakala. Pengantin wanita itu sangat heran melihat kejadian yang sangat menakjubkan itu.

Itulah keberuntungan orang yang ikhlas bersedekah, walau hanya sebatas roti. Sungguh balasan Allah jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan. Kedermawanan seorang gadis dalam kisah di atas menunjukkan bahwa sedekah merupakan wujud dari kepedulian sosial yang penting dikedepankan

Petikan didalam kitab Tanbihul Ghafilin dijelaskan juga bahwa sedekah itu tidak hanya membawa keberuntungan di akhirat saja sebentuk keyakinan yang dianggap abstrak oleh kebanyakan orang.

Akan tetapi di dunia pun banyak keberuntungan-keberuntungan yang luar biasa dahsyat.

Karena itu tak heran jika Imam Syafi dalam syairnya berucap:

"Kudermakan apa yang ada, walaupun sepanjang malam aku kelaparan dan dahaga"

Apalagi Ramadhan, didukung oleh energi shaum puasa, keihklasan dan keberkahannya membuat doa mustajab dan Insya Allah lebih naik-senaik2nya, tidak heran Abu Bakar Shiddiq Ra sebaik-baik manusia dari Umat Rosulullah SAW menginfakkan seluruh hartanya sampai Nol di bulan Ramadhan ia berInfaq dijalan Allah saat perang Tabuk

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....

[sumber]

Ustadz Yusuf Mansur: Ada Kekuatan dalam Niat

Ustadz Yusuf Mansur
Ustad Yusuf Mansur: Ada Kekuatan dalam Niat - Dahulu ada seseorang dari Bani Israil yang alim dan rajin beribadah kepada Allah SWT. Suatu ketika ia didatangi sekelompok orang. Mereka berkata, ”Di daerah ini ada suatu kaum yang tidak menyembah Allah, tapi menyembah pohon.” Mendengar hal itu ia segera mengambil kampak dan bergegas untuk menebang pohon itu. Melihat gelagat tersebut, iblis mulai beraksi dan berusaha menghalangi niat orang alim itu. Ia mengecohnya dengan menyamar sebagai orang tua renta yang tak berdaya. Didatanginya orang itu setelah ia tiba di lokasi pohon yang dimaksud.

”Apa yang hendak kau lakukan?” tanya iblis. Orang alim itu menjawab, ”Aku mau menebang pohon ini!”

“Apa salahnya pohon ini?” tanya iblis lagi.

“Ia menjadi sesembahan orang-orang selain Allah. Ketahuilah ini bukan termasuk ibadahku.” Jawab orang alim itu.

Tentu saja iblis tidak menginginkan niat orang itu terlaksana dan tetap berusaha untuk menggagalkannya.

Karena iblis berusaha menghalang-halanginya, orang alim itu membanting iblis dan menduduki dadanya. Di sinilah iblis yang licik mulai beraksi. ”Lepaskan aku supaya aku dapat menjelaskan maksudku yang sebenarnya,” kata iblis.

Orang alim itu kemudian berdiri meninggalkan iblis sendirian. Tapi ia tidak putus asa. ”Hai orang alim, sesungguhnya Allah telah menggugurkan kewajiban ini atas dirimu karena engkau tidak akan menyembah pohon ini. Apakah engkau tidak tahu bahwa Allah mempunyai Nabi dan Rasul yang harus melaksanakan tugas ini.”

Orang alim tersebut tak mempedulikannya dan tetap bersikeras untuk menebang pohon itu. Melihat hal itu, iblis kembali menyerang. Tapi orang alim itu dapat mengalahkanya kembali. Merasa jurus pertamanya gagal, iblis menggunakan jurus kedua. Ia meminta orang alim itu untuk melepaskan injakan di dadanya.

”Bukankah engkau seorang yang miskin. Engkau juga sering meminta-minta untuk kelangsungan hidupmu,” tanya iblis.

”Ya, memang kenapa,” jawab orang itu tegas, menunjukkan bahwa ia tak akan tergoda.

“Tinggalkan kebiasaan yang jelek dan memalukan itu. Aku akan memberimu dua dinar setiap malam untuk kebutuhanmu agar kamu tidak perlu lagi meminta-minta. Ini lebih bermanfaat untukmu dan untuk kaum muslimin yang lain daripada kamu menebang pohon ini,” kata Iblis merayu.

Orang itu terdiam sejenak. Terbayang berbagai kesulitan hidup seperti yang didramatisasi iblis.

Rupanya bujuk rayu iblis manjur. Ia pun mengurungkan niatnya. Akhirnya ia kembali ke tempatnya beribadah seperti biasa. Esok paginya ia mencoba membuktikan janji iblis. Ternyata benar. Diambilnya uang dua dinar itu dengan rasa gembira. Namun itu hanya berlangsung dua kali. Keesokan harinya ia tidak lagi menemukan uang. Begitu juga lusa dan hari-hari selanjutnya. Ia pun marah dan segera mengambil kapak dan pergi untuk menebang pohon yang tempo hari tidak jadi ditebangnya.

Lagi-lagi iblis menyambutnya dengan menyerupai orang tua yang tak berdaya.

”Mau ke mana engkau wahai orang alim?”

”Aku hendak menebang pohon sialan itu,” jawabnya emosi.

“Engkau tak akan mampu untuk menebang pohon itu lagi. Percayalah! Lebih baik engkau urungkan niatmu,” jawabnya melecehkan.

Orang alim itu berusaha melawan Iblis dan berupaya untuk membantingnya seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

”Engkau tak akan dapat mengalahkanku,” sergah iblis.

Kemudian iblis melawannya dan berhasil membantingnya.

Sambil menduduki dadanya, iblis berkata, ”Berhentilah kamu menebang pohon ini atau aku akan membunuhmu.”

Orang alim itu kelihatannya tidak punya tenaga untuk mengalahkan iblis seperti yang pernah dilakukannya sebelum itu.

”Engkau telah mengalahkan aku sekarang. Lepaskan dan beritahu aku, mengapa engkau dapat mengalahkanku,” tanya orang alim.

Iblis menjawab, ”Itu karena dulu engkau marah karena Allah dan berniat demi kehidupan akhirat. Tetapi kini engkau marah karena kepentingan dunia, yaitu karena aku tidak memberimu uang lagi.”

Kisah yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub itu memberi pelajaran bahwa betapa pentingnya nilai sebuah keikhlasan, yakni berbuat kebajikan tanpa pamrih kecuali hanya mencari ridho Allah SWT. Ikhlas ini merupakan ruh ibadah kepada Allah SWT. Karena itu untuk mewujudkan ibadah yang berkualitas kepada Allah SWT kita harus pandai-pandai menata niat. Niat inilah yang akan membawa konsekuensi pada diterima atau tidaknya suatu ibadah yang kita lakukan.

Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya, seseorang itu akan memperoleh apa yang telah diniatkannya. Barang siapa hijrahnya itu karena Allah dan rasulnya, maka ia akan memperoleh pahala dan barang siapa hijrahnya itu karena harta atau wanita, maka ia akan memperoleh apa yang telah diniatkanya itu.”

Asal muasal hadits ini adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah di negeri Mekah merasa sulit karena selalu mendapatkan perlawanan hebat dari kaum Quraisy. Beliau akhirnya mendapat perintah untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah). Beliau pun memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Tapi para sahabat ternyata punya motivasi yang berbeda-beda dalam melakukan hijrah. Mulai dari sahabat yang ikhlas mencari keridhoan Allah SWT hingga alasan wanita, harta, dan benda. Karena itu Rasulullah menginstruksikan kepada para sahabat untuk menata niat mereka melalui hadits itu.

Memang niat mudah diucapkan namun sukar untuk dipraktikkan. Saat kita punya niat baik, maka saat itu juga iblis telah bersiap siaga untuk menjerumuskan dan merusaknya. Padahal awalnya niat itu murni karena Allah. Itulah sebabnya, Ibnu Qoyim mengatakan bahwa ikhlas itu membutuhkan keikhlasan (al-ikhlashu yahtaju ilal ikhlash).

Niat itu bersarang dalam hati. Agar ia tetap terjaga utuh, seseorang harus menata niatnya sebelum melakukan amal, ketika melakukannya, dan sesudah selesai. Dan hal itu bisa dimiliki dengan melalui berbagai latihan (riyadhah) mental yang intensif, yakni berusaha menata niat, karena ia tidak akan serta merta bersih dengan sendirinya.

Yang perlu diwaspadai, iblis menggoda manusia sesuai dengan kualitas ketaatannya kepada Allah. Semakin berkualitas seseorang kepada Allah, maka akan digoda oleh iblis kelas berat. Di sinilah pentingnya kita selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT untuk menjaga niat.

Apalagi manusia memiliki nafsu yang cenderung mengarahkan kepada hal-hal yang buruk dan jahat. Bila ia tidak diarahkan sebagaimana mestinya, maka ia akan bekerja sama dengan iblis untuk merusak niat seseorang, baik itu lewat penyakit ujub, riya, dan sum’ah.

Kunci ibadah adalah ikhlas. Dan ikhlas itu ada di dalam hati orang yang melakukan amal tersebut. Maka sah atau tidaknya pahala amal itu, tergantung pada niat ikhlas atau tidak hati pelakunya. Jika dalam melakukan amal itu hatinya bertujuan untuk mendapat pujian dari manusia, maka hal itu berarti tidak ikhlas. Akibatnya amal ibadah yang diusahakannya tidak menerima pahala dari Allah.

Kita benar-benar diperintahkan oleh Allah untuk memasang niat dengan ikhlas dalam setiap ibadah kita. Jangan dicampuri niat itu dengan hal yang lain, yang nantinya akan merusak pahala amal ibadah tersebut. Allah berfirman:

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (Q.S Al-Bayyinah: 5)

Sebagai seorang muslim, kita harus bercermin dari kisah antara iblis dan orang alim dari Bani Israil di atas. Semoga Allah SWT melindungi kita dari iblis si perusak amal

Menghindari Ghibah

Ghibah merupakan sifat tercela, menyerupakan pelakunya dengan orang yang memakan daging mayat, dan sebagai perbuatan yang harus dijauhi. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 12: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan -janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bersaing, dan saling membuat makar. Janganlah sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. (HR Bukhari-Muslim). Anas r.a. berkata, Rasulullah saw bersabda, "Pada malam ketika aku melakukan perjalanan malam (isra dan mi'raj), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah mereka dengan kuku-kuku mereka sendiri." Aku bertanya, 'Wahai Jibril, siapakah mereka itu?' Jibril  menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang menggunjing dan mencela kehormatan orang lain." (HR Abu Dawud)

Al-Barra berkata, Rasulullah saw berkhutbah kepada kami hingga terdengar oleh kaum wanita di rumah-rumah mereka. Nabi saw bersabda, "Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya tetapi tidak beriman dengan hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan mereka, karena sesungguhnya orang-orang yang mencari kesalahan saudaranya maka Allah akan mencari-cari kesalahannya dan siapa kesalahannya dicari-cari oleh Allah maka pasti Allah akan membongkarnya di tengah rumahnya." (HR Ibnu Abu Dunya dan Abu Dawud)

Jabir r.a. berkata, Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan, kemudian Rasulullah saw melewati dua kuburan yang penghuninya tengah disiksa, lalu Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Yang satu disiksa karena dahulu menggunjing orang, sedangkan yang satu lagi disiksa karena dahulu tidak membersihkan dari kencingnya." Lalu Nabi saw meminta dua pelepah korma dan memerintahkan kepada kami agar setiap belahan pelepah korma itu ditanam di atas kuburan. Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya keduanya akan diperingan siksanya selagi kedua pelepah itu masih basah (atau belum kering)." (HR Bukhari Muslim)


Akhirnya marilah kita sadari bersama bahwa setiap orang mu'min itu adalah saudara (QS Al-Hujurat: 10). Sebagai sesama saudara, tidak etis dan tidak pantas jika kita menggunjingnya. Kita tidak ingin termasuk golongan orang yang muflis (bangkrut), yaitu orang yang rajin shalat, zakat, puasa, akan tetapi rajin juga menghina, menggunjing, dan memfitnah orang.

(Ilam Maolani dalam Suara Masjid Agung Tsm No. 100/V/12)
Perisai Sabar

Perisai Sabar

Perjuangan para Nabi adalah gerakan kesabaran, sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT dan sabar menghindari larangan-Nya. Sebelum diterpa cobaan, hatinya telah dibalut perisai sabar. Mereka menyiapkan perisai sabar terus-menerus. Ahmad bin Hanbal menuturkan, Alquran mengulang kata sabar sebanyak 90 kali.

Pengulangan kata sabar menandakan betapa pentingnya energi makna dibalik kata sabar itu. Kapan momentum yang tepat mengenakan perisai sabar? Apakah kita mengenakan perisai sabar hanya ketika terimpit cobaan atau ujian? Jamak dipahami, perisai sabar dikenakan saat menghadapi cobaan atau ujian yang tak diinginkan. Andai orang tidak mengenakan perisai kesabaran, niscaya akan limbung, terjatuh pada sikap kecewa, sedih, menderita, berujung pada frustasi.


Bagi orang yang mengenakan perisai sabar, niscaya akan jauh dari ancaman frustasi. Karena frustasi hanya patut mengena pada orang kafir. "Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf [12]:27). Orang bersabar niscaya akan terhindar dari putus asa, lantaran sabar adalah pintu awal yang dapat menyelamatkan manusia dari perasaan negatif. Rasulullah saw bersabda, "Kesabaran itu pada pukulan pertama."

Jika respons pertama disertai kesabaran, sontak kebahagiaan senantiasa terus menyusupi hati. Kesabaran berperan menghadirkan ketenangan hati. Bersabar dalam kemiskinan. Bersabar dari cercaan dan makian. Bersabar dengan ujian yang menerpa silih berganti. Kesabaran seperti itu akan meneguhkan jiwa meraih kemuliaan. Pun demikian, perisai sabar tak hanya dikenakan di saat terkena musibah. Perisai sabar juga semestinya dikenakan ketika berada dalam kelapangan. Betapa banyak orang yang mampu bersabar dalam kesulitan, akan tetapi tak bisa bersabar dalam kelapangan.

Model pribadi yang bersabar dalam kejayaan dan bisa dicontoh adalah pada diri Nabi Sulaiman. Dikisahkan, walau Nabi Sulaiman termasuk sosok kaya raya yang kekuasaannya memenuhi seluruh kerajaan, dari manusia, binatang, dan golongan jin, namun makanan sehari-hari beliau tidak berasal dari gajinya.

Beliau makan dari hasil jerih payahnya membuat anyaman. Dari kebiasaan itu, tidak hanya rakyat dari kalangan manusia yang kagum pada perilaku sabarnya Nabi Sulaiman, burung-burung bahkan bangsa jin menaruh kagum padanya. Ternyata bersabar dalam kelapangan tidak mengurangi sedikit pun kehormatan beliau. Bahkan, semakin meninggikan derajatnya di hadapan Allah SWT.

(Khalili Anwar dalam Suara Masjid Agung Tsm)
Bahaya Pujian

Bahaya Pujian

Mengapa orang memuji? Karena mereka tidak tahu siapa diri kita. Kalau mereka tahu siapa diri kita yang sebenarnya, pasti mereka tidak akan memuji. Celakanya kalau kita dipuji, kita akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada diri kita itu. Pujian dapat membuat kita jadi yakin seperti apa yang dikatakan orang, sampai kita tidak jujur kepada diri sendiri. Sebenarnya yang tahu seperti apa diri kita adalah kita sendiri. Orang yang memuji, hanya menyangka saja.

Seharusnya, pujian itu membuat kita malu. Karena apa yang mereka katakan, sebenarnya tidak ada pada diri kita. Tapi, bagi para pecinta dunia, mereka akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Artinya, dia berbohong pada dirinya sendiri.

Bahayanya pujian itu ada tiga. Yang pertama, kita jadi terpenjara oleh pujian orang. Kita takut kehilangan segala pujian pada diri kita. Akibatnha, kita akan melakukan apa saja supaya pujian itu tidak hilang. Orang yang dipuji dan mempercayai pujian itu, dia tidak akan menerima nasihat dari orang lain. Karena dia benar-benar termakan, terbelenggu dan terpenjara oleh pujian tersebut.

Kedua, dia akan sangat sulit sekali mengakui kekurangannya. Ini adalah malapetaka. Orang yang tidak bertaubat, dialah orang yang dzalim. Jadi, kalau kita telah menyakiti orang, tetapi tidak mengakui, berbarti kita sudah dzalim. Dzalim pada orang dan pada diri sendiri.

Ketiga, kalau orang sudah senang dipuji, maka tidak ada ikhlas dalam dirinya. Karena segala perbuatan yang dilakukannya hanya untuk mempertahankan pujian itu. Dia akan mengatur penampilan dan sikapnya agar terlihat baik bagi orang. Apakah mungkin orang seperti ini akan ikhlas? Jawabannya tidak! Karena dia melakukan apa pun bukan untuk Allah lagi, tapi karena untuk kemasannya. Tiap hari pekerjaannya hanya berpikir bagaimana agar tetap dianggap teladan. Seorang anak yang sudah terbiasa dipuji, berarti kita merusak dia. Dia akan merasa dirinya istimewa. Dia merasa dirinya khusus dan merasa dirinya lebih dari orang lain. Maka tunggulah ketika dia dewasa, dia tidak akan memandang orang tuanya. Karena dia dibesarkan untuk tidak jujur melihat dirinya. Dia dibesarkan untuk melihat dan membangun topengnya. Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang yang asli. Murni tanpa rekayasa dan kepura-puraan. Apa yang kita perbuat, tujuannya cuma satu, agar Allah menerima. Tidak ada masalah dengan penerimaan dan penghargaan dari orang lain. Yang penting apa yang kita lakukan benar, tidak menyakiti dan melanggar hak orang lain. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepalsuan. Antara perbuatan dan perkataan sama, maka akan tercipta rasa nyaman. Nyaman untuk kita, nyaman untuk orang di sekitar kita. Kalau kita berpura-pura, kita tidak akan merasa nyaman. Orang lain pun juga merasa sama, tidak nyaman.

Islam itu nyaman di hati betapa pun badai harus dihadapi. Kenapa? Karena tidak ada kepura-puraan.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang penuh kepura-puraan dan selalu mengharapkan pujian orang lain. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

(Sakinah No. 324, Oktober 2011)

Kuasailah Dunia, Tapi Jangan Mencintai Dunia

“MENCINTAI dunia saja akan menyebabkan orang tak bisa hidup zuhud, dan akan membuat mereka jauh dari semua tuntunan agama, apalagi bila sampai menguasai dunia. Bukankah negara-negara besar yang merasa sudah menguasai dunia, lalu jadi sewenang-wenang?” kata seorang murid Abu Qubaisy mengomentari ucapan mahaguru yang sebetulnya belum selesai itu.

Ketika menyampaikan kata pengantar pembuka majelis taklimnya sore itu beliau memang menganjurkan para muridnya belajar menguasai dunia. Namun sebelum usai beliau berbicara, salah seorang muridnya tidak tahan untuk memberikan komentar.

Mendengar ucapan murid yang satu itu Abu Qubaisy tersenyum, sementara beberapa murid yang lain merasa terganggu oleh komentar yang keluar terlalu dini.

“Sebelum menjawab langsung komentar teman kalian itu, marilah kita segarkan ingatan pada kiprah hidup dan kepemimpinan Khalifah Umar ibnu Khatab,” ujar sang mahaguru masih dengan senyum yang mengembang. Sementara murid-muridnya, baik yang tadi bertanya maupun yang hanya mendengarkan saja, kini jadi sama-sama bertanya-tanya.

“Pada zamannya, hampir dua per tiga dunia berada di bawah kekuasaan Khalifah Umar. Namun beliau tetap hidup sesederhana ketika masih belum menjadi khalifah. Jauh lebih sederhana dibandingkan ketika beliau belum menjadi muslim. Bahkan ketika tahu ada rakyatnya yang memasak batu karena tak punya gandum, tengah malam beliau memanggul sendiri sekarung gandum dari gudang kekhalifahan ke rumah si papa tersebut. Itu artinya Umar menguasai dunia, tetapi tidak mencintai dunia. Doa beliau yang terkenal berbunyi “YA ALLAH, JADIKANLAH DUNIA INI BERADA DI BAWAH KEKUASAAN TANGANKU, TAPI JANGAN BIARKAN DUNIA BERSEMAYAM DI DALAM KALBUKU.” Karena cinta dunia, seperti dikatakan teman kalian tadi, buruk akibatnya.

Yang terlihat sekarang orang-orang mencintai dunia, bukan sekedar menguasainya. Sehingga sebelum atau sesudah dia merasa menguasai dunia, dunialah yang lebih dulu menguasainya,” kata Abu Qubaisy mengakhiri tuturnya karena adzan Maghrib telah dikumandangkan orang.

sumber: lupa. ^_^
Kisah Tiga Orang Riya

Kisah Tiga Orang Riya

ORANG PERTAMA;  yang diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid. Ia dipanggil di hadapan Tuhan dan diperlihatkan kepadanya amal perbuatannya dan ia pun mengenalinya.
Tuhan bertanya, " Apa yang telah kamu perbuat untuk mendapatkannya (mati syahid)?"  Lelaki itu menjawab, " Aku berperang demi (mendapat) ridla-Mu hingga aku gugur di medan laga.

Tuhan berkata, "Kamu berdusta! Kamu berperang supaya dibilang orang pemberani dan sungguh kamu telah mendapatkan keinginan itu." Kemudian Tuhan memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka."

ORANG KEDUA; seorang 1elaki yang tekun menuntut ilmu, mengajarkan ilmunya dan membaca Al-Qur'an. Ia dipanggil di hadapan Tuhan dan diperlihatkan kepadanya amal perbuatannya dan ia pun mengenalinya.
Tuhan bertanya: " Apa yang telah kamu perbuat dengannya (menuntut ilmu)? Lelaki itu menjawab, Hamba menuntut ilmu, mengajarkannya kepada orang lain dan membaca al-Qur  an demi Engkau, Tuhan.
Tuhan berkata, 'Kamu telah berdusta! Kamu menuntut ilmu supaya dibilang orang pintar dan kamu membaca al-Qur'an supaya dibilang qari' yang bagus dan sungguh kamu telah mendapatkan semua itu. Kemudian Tuhan memerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka."

ORANG KETIGA; yaitu seorang lelaki yang dilapangkan dan dikaruniai Allah segala macam harta benda dipanggil di hadapan Tuhan, diperlihatkan kepadanya amal perbuatannya dan ia pun mengenalinya.
Tuhan bertanya: " Apa yang telah kamu perbuat terhadap (harta bendamu)?" Lelaki itu menjawab, "Aku tak pemah melewatkan kesempatan menafkahkan harta bendaku di jalan-'Mu dan itu derni Engkau Tuhanku".
Tuhan berkata, "Kamu telah berdusta! Kamu tidak melakukan semua itu kecuali dengan pamrih supaya dibilang sebagai orang yang dermawan clan sungguh kamu telah mendapatkan semua ihi. Kemudian Tuhan mernerintahkan agar orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka." (Hadits riwayat Muslim)
Sahabat, kita tergolong yang mana? Apakah mati sahit, tekun menuntut ilmu, atau berkelimpahan harta tapi masih tetap tertipu dengan riya?
Atau kita lebih parah dari itu? Yaitu, tidak mati sahit, tidak berilmu, dan tidak berharta tapi riya. Bagaimana pendapat anda?

Sebagian kita, berpendapat, bahwa menabung itu adalah sisa kebutuhan sehari-hari atau sisa kebutuhan satu bulan, sehingga nominal tabungan kita relative kecil atau tidak tersisa sedikitpun untuk menabung. Dan banyak dari kita yang bekerja untuk uang (mencari uang), sehingga wajar jika awal bulan kita basah (punya uang) dan di akhir bulan nyaris pailit, dan persediaan sudah menipis.
Dalam istilah Robert Kiyosaki itulah salah satu dari ciri empployee (pegawai) atau dalam istilah Aa Gym merupakan salah satu ciri dari tipe “Manusia pekerja”.

Paragdigma ini masih berkembang di sebagian besar kita, atau boleh jadi mungkin kita sendiri termasuk orang yang masih menganut paradigma itu...apalagi kita yang notabene (wanita) muslimah yang konon tidak punya kewajiban paten dalam mencari nafkah... tak jarang berfikir bahwa hanya sebagai sampingan atau “Daripada nganggur” padahal energi yang dikeluarkan sama besar atau bahkan lebih...

Nah saudariku... agar kita tidak terjebak pada “Zona aman” yang melenakan dan membuat kita tidak kreatif, mari kita dobrak wacana dan paradigma kita...
Jadilah Muslimah Yang Bermental Entrepreneur, seperti yang dicontohkan Rasul Kita Muhammad. Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur sejati yang diusianya yang ke-25 meminang khodijah dengan 40 unta.
Jika dirupiahkan berapa puluh juta mahar Nabi Muhammad kepada khodijah...? sungguh jumlah mahar yang luar biasa jika dibandingkan dengan mahar-mahar yang diberikan pemuda saat ini.

Teringat sebuah sabda Rasul dalam haditsnya  “ carilah ilmu walaupun ke Negeri China” kenapa china, kenapa bukan indonesia atau belanda... hal itu sudah diisyarahatkan oleh Rasul berapa ratus sebelum china mengalami kejayaan dibidang ekonomi, lihat sekarang... produk yang membanjiri negara kita, lebih banyak didominasi oleh produk china...sampai jilbab dan peci sekalipun...produk china...di negara kita ini siapa yang menguasai perusahaan-perusahaan rasaksa..? Siapa yang punya toko-toko, swalayan besar bahkan pusat-pusat elektonik dan konveksi..?

Siapa lagi kalau bukan makhluk Allah yang berciri khas mata segaris ini... etos mereka luar biasa, mereka gigih ulet dan pantang bermewah-mewah, walau sudah kaya sekalipun...Subhanallah tidak mungkin Rasul serta merta mengeluarkan hadits berkenaan dengan kaum ini, jika tidak ada kandungan makna yang luar biasa dan petunjuk bagi kita untuk dijadikan ibrah...

Seorang China berkata, sangat lucu jika orang Islam tak mampu maju di bidang perekonomian, apa alasan mereka untuk tidak maju... sementara Rasul mereka seorang entrepreneur ulung, ajaran mereka banyak mengisyaratkan akan pentingnya kekuatan ekonomi, seperti haji..shadaqah...zakat, bahkan anjuran ibadahnyapun sangat mendukung untuk menjadi seorang yang sukses, seperti contoh Islam menganjurkan untuk shalat tahajud di sepertiga malam, dianjurkan terjaga sampai subuh, bahkan setelah subuh dianjurkan tidak tidur lagi, sedangkan kami pada waktu-waktu itu masih tertidur lelap, dan pagi hari baru bagun... jadi sebenarnya peluang orang Islam untuk menjadi kaya raya itu banyak saudariku...

Tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah kata perbaikan... untuk bangkit menjadi seorang entrepreneur, pertama, rubahlah paradigma kita tetang upaya “Keduniawian” kita, milikilah paradigma entrepreneur atau semangat berentrepreneur, apapun profesi kita... entrepreneur tidak identik dengan berdagang, walaupun berdagang bagian dari aktifitas entrepreneur... mulailah berfikir bagaimana memanfaatkan uang bukan sekedar mencari uang... buatlah bagaimana uang bekerja untuk kita bukan kita yang bekerja untuk uang... rubahlah pola hidup kita, jadikan pemenuhan kebutuhan sisa dari aktifitas menabung kita, bukan sebaliknya...stop pengeluaran untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, jangan beli buku dan perlu, luangkan waktu, tenaga, dan dana untuk pembelajaran hal yang satu ini... dalam dunia entrepreneur tak pernah ada kerugian yang ada adalah ‘Cost Of Learning’, termasuk ketika kita gagal, bersiaplah untuk mengambil peluang dan resiko sekalipun, karena resiko selalu berbanding lurus dengan keuntungan atau rizki yang didapat.

Ada sebuah trik sederhana dalam berentrepreneur Jika kita punya keahlian, tapi punya semangat entrepreneur dan punya modal pakai rumus BOTOL (Berani, Optimis, pakai Tenaga Orang Lain) tetapi kita punya keahlian tapi tidak punya modal, gunakan rumus BODOL (Berani, Optimis, pakai Duit Orang Lain). Dan jika kita tidak punya keduanya... berusahalah...! kita punya otak...Yakinlah... Allah Bersama Orang Yang Berusaha...

Akhirnya apa pun usaha kita, luruskan selalu niat kita, sempurnakan ikhtiar kita dan memaksimalkan tawakkal kita, tatkala kegagalan menghampiri kita, yakinlah itu bentuk ujian semesteran kita... yang akan menentukan kita menjadi orang yang tangguh... atau sebaliknya..Wallahu alam bis showab...

Sumber: Amri Knowledge Entrepreneur
Bertindak Stratejik

Bertindak Stratejik

Hasan dan Husein putra Ali bin Abi Thalib ra, suatu saat pergi ke masjid dan menjumpai seorang tua yang sedang berwudhu lalu shalat. Ternyata, wudhu dan shalatnya kurang sempurna. Hasan dan Husein ingin memperbaiki dan meluruskannya, tetapi ada kekhawatiran akan menyinggung perasaan orang tua tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk memakai pendekatan stratejik. Di hadapan orang tua itu mereka berpura-pura berdebat. Masing-masing mengatakan bahwa dirinyalah yang lebih benar cara wudhu dan shalatnya. Kemudian mereka meminta orang tua tersebut untuk menilainya.

Setelah melihat cara berwudhu dan shalat Hasan dan Husein, akhirnya orang tua itu mengoreksi dirinya dan mendapati bahwa wudhu dan shalatnya ternyata tidak sesempurna kedua pemuda yang meminta penilaiannya itu. Maka dia berkata pada keduanya, "Alangkah sempurnanya wudhu dan shalat kalian, serta alangkah baiknya tuntunan dan bimbingan kalian kepadaku.

Kisah diatas mengandung hikmah sangat luar biasa; Pertama, ada sekelompok orang yang punya kesadaran ingin meluruskan perbuatan yang diketahuinya salah dan tidak sesuai dengan ajaran agama. Kedua, kesadarannya itu diikuti dengan metode hikmah stratejik untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi sasaran perubahan, yakni seorang yang lebih tua. Ketiga, metode stratejik yang sudah disusunnya, sesegera mungkin dilaksanakan sebelum kesalahan berlalu dan berlarut-larut.

Ada hikmah lain bagi orang tua tadi yaitu; Pertama, orang tua ini adalah tipe manusia tercerahkan yang mau menerima kebenaran, walaupun berasal dari orang yang lebih muda. Kedua, karena tercerahkan, ia juga merupakan sosok yang dengan lapang dada mengakui dirinya belum tahu dan berterima kasih pada orang yang mau memberi tahu. Ketiga, punya kesadaran optimal untuk menjadi manusia yang tidak apriori terhadap hal-hal baru yang memang benar secara agama

Semoga kita termasuk generasi muda yang sanggup dengan bijak memperbaiiki kesalahan generasi. Disamping itu semoga kita yang kebetulan berposisi lebih tua tidak terjebak dengan pengalaman sehingga susah dinasehati dan tidak mau berubah. Berani hadapi tantangan. Bagaimana pendapat anda???


Sumber: Amri Knowledge Entrepreneur

Bulan Penuh Pencuri

Rasulullah saw bersabda:"Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya. Para sahabat nabi bertanya, " Wahai Rasulullah bagaimana ia mencuri dari shalatnya?"Beliau menjawab, ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya."(HR. Ahmad)

Kisah ini terjadi ketika setelah selesai sholat berjamaah, Rasulullah duduk bersama para sahabatnya di salah satu sudut masjid. Kemudian datang seorang laki-laki ke sebuah sudut lain dan langsung mengerjakan shalat sendirian. Dalam shalatnya orang itu rukuk dan sujud dengan cara sebentar-sebentar karena terburu-buru.
Melihat hal ini, kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, "Apakah kalian menyaksikan orang ini? Barang siapa meninggal dalam keadaan shalatnya seperti ini, maka ia meninggal diluar agama Muhammad".

Jadi, apabila kita tidak memenuhi thuma'minah, shalat bukan sekedar tidak sah, tetapi shalat itu dianggap tidak ada. Allah bahkan mengancam orang-orang yang shalatnya seperti itu dengan ancaman bahwa mereka akan celaka. Sebab, dengan meninggalkan thuma' ninah (tenang sejenak) berarti kita sudah lalai dalam shalat. (QS Al-Ma'un: 4)

Sahabat, sekarang kita memasuki bulan suci Ramadhan, yaitu bulan penuh berkah. Kalau bulan-bulan dan hari-hari lain, kita sering shalat tidak thuma'ninah, makan di bulan Ramadhan ada sebuah tantangan besar bagi kita untuk shalat lebih tidak thuma'ninah. Yaitu ketika, shalat tharawih.

Kalau ini yang terjadi, maka ramadhan bulan penuh berkah., sekaligus penuh pencuri. Yaitu pencuri shalat. Berani hadapi tantangan untuk tidak jadi pencuri? Bagaimana pendapat anda???

Sumber: Amri Knowledge Entrepreneur
Kreatif Dong

Kreatif Dong

Karena itu amat wajarlah jika keberkahan lelaki agung itu terasa betul, baik secara individu maupun sosial. Gara-gara Muhammad menjadi seorang pedagang, pekerjaan tersebut kemudian bernilai sangat suci -- berbeda dengan penilaian sebelumnya. Gara-gara seorang budak hitam Bilal ibn Rabah berislam dan menjadi sahabat terdekat Nabi, semua kaum hitam terangkat derajatnya. Begitulah Sang Nabi Terakhir Muhammad. Sehingga dalam suatu hikayat dikabarkan bahwa menjelang Nabi wafat, berkumpullah semua keluarga, sahabat, para tetangga dan orang-orang yang mengenalnya.

Di saat itulah Muhammad meminta kepada semua yang hadir, terutama mereka yang pernah bergaul dengannya, untuk secara jujur mengemukakan tentang berbagai hal yang membuat mereka tidak suka kepada Nabi. Atau, siapa tahu kepada mereka Nabi pernah berutang. Atau, kepada mereka Nabi pernah menyakiti.

Suasana sangat hening. Bisa kita bayangkan, orang yang selama ini menjadi panutan dan pemimpin kharismatik mereka, terbaring sakit tak berdaya. Maka pada saat itulah berdiri seorang sahabat Nabi bernama Sawwad dan berbicara bahwa dirinya pernah mengalami perlakuan Nabi yang membuatnya kesal dan marah. Kini ia akan membalas perbuatan Nabi tersebut. "Apa perbuatan saya yang kamu anggap menjengkelkan kamu ya Sawwad?" tanya Nabi.  "Dulu ketika saya menjadi tentara perang, Nabi pernah memukul perut saya dengan tongkat, karena waktu itu saya berposisi kurang lurus. Saat itu Nabi memukul saya sambil mengatakan 'istaqim ya Sawwad!" jelas Sawwad di hadapan para hadirin yang sedang berduka itu.

Semua sahabat Nabi, terutama Umar ibn Khattab, berang kepada Sawwad dan menyilakan Sawwad untuk membalas kepada dirinya, bukan kepada Nabi. Tapi Muhammad kemudian menyilakan Sawwad untuk memukul perut Nabi persis seperti Nabi memukul perutnya. Tapi Sawwad ingin memukul perut Nabi tanpa terhalangi baju, sebab waktu Nabi memukulnya dulu juga tanpa terhalang baju. Langsung saja Nabi membuka baju dan menyilakan Sawwad memukul perut Nabi. Kemudian apa yang dilakukan Sawwad? Ketika perut Nabi sudah dalam keadaan terbuka, Sawwad dengan sangat kreatif malah bukan memukulnya, melainkan menciumi perut Nabi sambil menangis.

Kemudian Sawwad meminta maaf kepada Nabi dan menjelaskan mengapa ia melakukan hal ini. Sawwad pernah mendengar bahwa siapa-siapa yang pernah menyentuh kulit Nabi, ia akan dekat dengan Nabi di akhirat kelak. Atas dasar itulah Sawwad melakukan kreatifitas untuk mencapai tujuannya, dengan harapan ia akan bisa dekat dengan Nabi di akhirat nanti.

Sahabat, berani hadapi tantangan hidup kreatif, selamat mencoba. Bagaimana pendapat anda?

Sumber: Amri Knowledge Entrepreneur
Gaung Kemudahan

Gaung Kemudahan

Suatu ketika, Rasulullah saw kedatangan seorang tamu ibnu sabil yang kehabisan bekal. Karena di rumahnya tidak ada sesuatu yang layak untuk diberikan, maka nabi meminta tolong sahabat Bilal agar mengantar tamu itu ke rumah Fatimah.

Di rumah putri kesayangan nabi itu, rupanya juga tidak ada sesuatu yang layak dimakan. Maka dengan hati tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. ''Ambillah kalung ini dan juallah! Mudah-mudahan harganya cukup memenuhi keperluanmu!'' kata Fatimah.

''Berapa hendak kamu jual kalung itu?'' tanya Ammar bin Yasir.

''Aku akan menjualnya dengan tukaran roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku,'' kata si tamu.

Ammar berkata, ''Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar kamu dapat menemui istrimu.''

Setelah itu Ammar berkata kepada budaknya, Asham. ''Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. Katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga kamu kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi, tetapi budak Rasulullah.'' Ternyata Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah.

Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekadar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari Allah swt, yaitu dengan ditambah seorang budak.

Lalu Fatimah berkata kepada Asham, ''Wahai Asham, kamu sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena Allah swt semata.''
''Mengapa kamu tertawa seperti itu,'' tanya Fatimah yang merasa heran melihat Asham tertawa terbahak-bahak.
''Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung yang beriwayat ini. Ia telah mengeyangkan orang yang lapar. Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang. Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak,'' jawab Asham.

Rasulullah bersabda, ''Siapa saja yang ingin doanya dikabulkan dan kesusahannya dihilangkan, maka bantulah orang yang sedang kesulitan.'' (HR Ibnu Abi ad-Dunya)

Sahabat, mari kita membuat gaung kemudahan sebanyak-banyaknya, agar kita banyak mendapatkan kemudahan untuk hidup semakin prestatif dan bermanfaat bagi banyak ummat. Berani hadapi tantangan? Bagaimana pendapat anda!!!

Sumber: Amri Knowledge Entrepreneur