Loading...
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Kisah Al-Imam Al-Bukhori

Kisah Al-Imam Al-Bukhori

Kisah Al-Imam Al-Bukhori
Turkistan-Rusia (atau Transoksus) merupakan daerah yang sangat luas di wilayah Asia Tengah. Wilayahnya meliputi daerah antara Sungai Jaihun (kini: Sungai Amu Darya) dan Sungai Saihun (kini: Sungai Syra Darya) serta daerah-daerah yang berada di sekitarnya. Kedua sungai itulah yang menyuplai persediaan air di Danau Aral (bagian negara Uzbekistan dan Kazakhstan). Dalam sejarah, Turkistan-Rusia telah dikenal oleh bangsa Arab dahulu dengan sebutan daerah belakang (sebelah timur) Sungai Jaihun. Disebut dengan Turkistan-Rusia untuk membedakan dengan Turkistan-Cina yang kini bernama Sinkiang. Turkistan-Rusia kini terbagi menjadi 5 negara yaitu: Kazakhstan, Kisgirtan, Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenistan. Dan Bukhara merupakan salah satu kota terpenting di negara Uzbekistan.
Bukhara adalah sebuah kota tua yang dikenal sebagai tempat wisata yang paling indah, memiliki kebun yang banyak dan luas serta buah-buahan yang menarik dan ranum rasanya. Kota ini berada di sebelah timur sungai Jaihun dengan jarak tempuh dua hari perjalanan. Dan berada di sebelah barat Samarkand (Uzbekistan) dengan jarak tempuh delapan hari perjalanan.

Kota ini telah melahirkan sosok ahli hadits yang cukup disegani semisal Al-Imam Al-Bukhari dan semisalnya.

Beliau mulai menghafal hadits sekitar umur 10 tahun di madrasah anak-anak (Kuttab). Setelah itu, beliau belajar kepada seorang ahli hadits terkenal bernama Ad-Dakhili. Suatu hari Ad-Dakhili membacakan hadits kepada manusia: “… Sufyan (telah meriwayatkan) dari Abu Zubair, kemudian Abu Zubair (telah meriwayatkan) dari Ibrahim.” Maka Ad-Dakhili: “Sesungguhnya Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan dari Ibrahim.” Maka Ad-Dakhili marah kepada beliau.

Beliau berkata kepada Ad-Dakhili: “Coba lihatlah kitab catatanmu!” Maka masuklah Ad-Dakhili ke rumahnya kemudian melihat kepada kitab catatannya, ternyata benarlah apa yang dikatakan beliau. Selanjutnya Ad-Dakhili ke rumahnya bertanya kepada beliau: “Bagaimana sanad yang benar wahai anak muda?” Maka beliau menjawab: “Dia adalah Az-Zubair bin ‘Adi meriwayatkan dari Ibrahim (jadi bukan Abu Zubair).” Ad-Dakhili meminjam pena kepada beliau dan membenarkan catatannya, kemudian mengatakan kepada beliau: “Kamu benar.”
Peristiwa itu terjadi pada saat beliau berusia 11 tahun.

Ketika usia 16 tahun, beliau telah menghafal kitab-kitab karya Abdullah ibnul-Mubarak, Waki’, serta berbagai pendapat ulama kota Roy.

Bahkan pada usia 18 tahun beliau menulis kitab yang berjudul “Qadhaya Ash Shahabah wat Tabi’in wa Aqawilihim”.

Jumlah total guru-guru beliau mencapai 1080 orang.

Kisah Keajaiban Hafalan Beliau

Beliau dikenal memiliki kecerdasan dan kekuatan hafalan yang luar biasa.

Beliau mengatakan: “Aku hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits dhaif.”

Suatu ketika beliau pernah mengambil kitab tentang ilmu kemudian kitab tersebut beliau amati mulai dari awal sampai akhir dengan sekali pengamatan, maka beliau telah menghafal semua hadits yang ada di dalamnya.

Hasyid bin Ismail dan selainnya menceritakan: “Dahulu Abu Abdillah Al-Bukhari belajar bersama kami kepada para ulama Bashrah, ketika itu beliau masih muda. Beliau tidak menulis hadits yang disampaikan oleh sang guru. Hal itu berlangsung selama beberapa hari. Maka kami berkata kepadanya:

“Sesungguhnya engkau belajar bersama kami tapi engkau tidak menulis. Lalu apa yang kamu lakukan? Maka setelah berlalu 16 hari beliau berkata kepada kami: ‘Sesungguhnya kalian berdua terus menerus mengeluhkanku. Coba tunjukkan kepadaku hadits yang telah kalian tulis!’ Maka kami tunjukkan kepada beliau hadits yang telah kami tulis. Kemudian beliau menambahkan 15.000 hadits (ke dalam catatan kami) yang dia bacakan dari hafalannya sampai kami membenarkan catatan kami dari hafalan beliau.

Dikisahkan pula suatu ketika Al-Imam Al-Bukhari singgah di kota Baghdad. Begitu mendengar kedatangan beliau, para ahli hadits kota Baghdad berkumpul dan bermusyawarah untuk menyambut kedatangan beliau. Akhirnya diambillah kesepakatan untuk menguji kekuatan hafalan beliau. Kemudian para ahli hadits mengumpulkan seratus hadits. Seratus hadits tersebut diacak, baik matan maupun sanadnya. Setelah itu, dibagikan kepada sepuluh ahli hadits, sehingga masing-masing membawa sepuluh hadits.

Singkat cerita tibalah saat dinantikan. Manusia pun berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut. Mulailah salah seorang penguji menyampaikan hadits satu persatu kepada Al-Bukhari. Tatkala sang penguji menyampaikan hadits pertama, Al-Bukhari menyatakan, “Tidak tahu.” Sampai penguji pertama selesai menyampaikan sepuluh hadits, Al-Bukhari tetap menjawab: “Tidak tahu.” Para ahli hadits yang hadir dalam acara tersebut terlihat saling memandang satu sama lain seraya berkata: “Laki-laki ini benar-benar mengetahui.” Sedangkan orang-orang yang awam justru menyangka sebaliknya yaitu Al-Bukhari tidak tahu apa-apa.

Kemudian tiba giliran penguji kedua. Mulailah ia menyampaikan sepuluh hadits satu per satu. Dan Al-Bukhari tetap menjawab, “Tidak tahu.” Demikian seterusnya penguji ketiga, keempat sampai penguji kesepuluh telah menyampaikan seluruh haditsnya, Al-Bukhari tetap menjawab: “Tidak tahu.” Kemudian Al-Bukhari mengatakan kepada penguji pertama: “Hadits pertama yang engkau bacakan demikian dan demikian, maka yang benar adalah demikian dan demikian.” Demikianlah Al-Bukhari menyebutkan kembali hadits tersebut persis sama seperti yang dibacakan oleh sang penguji, kemudian beliau membetulkan letak kesalahannya. Beliau melakukan hal ini mulai dari hadits pertama sampai hadits keseratus. Manusia pun mengakui akan kehebatan hafalan beliau.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Semua orang menunduk di hadapan Al-Bukhari, yang menakjubkan dari beliau bukan pada sisi kemampuan membenarkan hadits yang salah karena beliau memang seorang penghafal hadits. Namun yang menakjubkan adalah kemampuan beliau menyebutkan kembali hadits-hadits yang telah diacak tadi secara tertib dan urut hanya dengan sekali dengar.” Subhanallah..

[sumber]

Kisah Hidup Desainer Muslimah Asal Inggris Yang Populer 'Hana Tajima'

Bagi seorang perempuan muslimah sudah sepatutnya untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat karena hal itu sudah diatur dalam agama islam. Belakangan ini banyak sekali model model jilbab yang trendi namun tetap dalam koridor syariah. Banyak gadis gadis atau wanita yang mencoba untuk mengenakan jilbab di bulan ramadhan ini meski kita tidak tau apakah nanti dilepas kembali atau tidak, hal ini merupakan berita yang sangat bagus. Tidak hanya di Indonesia model model jilbab yang trendi yang bisa dijadikan inspirasi gaya untuk berjilbab. Di luar negeri, tepatnya di negara Inggris /United Kingdom yang perkembangan pemeluk islam makin hari makin bertambah terdapat seorang perempuan muslimah yang mampu menciptakan sebuah brand fashion untuk berjilbab /berhijab yang trendi dan modis. Gadis itu bernama Hana tajima , berikut ini adalah ceritanya ...
Muslimah berumur 23 tahun keturunan jepang ini masuk Islam saat berumur 17 tahun. Keluarganya yang sekuler dan tidak begitu religius itu juga menerima dengan senang hati keputusan anaknya yang menjadi muslimah. Sebelum menjadi muslimah dia hidup layaknya anak muda metropolitan di Inggris lainnya . Namun perkenalannya dengan  teman teman muslim waktu kuliah membuat dia heran dan bertanya tanya. Pada saat itu teman teman muslimnya selalu menolak kalau diajak ke klub malam, mabuk mabukan, dan ber pesta pora. Dia bingung bagaimana bisa di hari gini di usia yang masih muda ada yang menolak untuk diajak bersenang senang dan hura hura.

Sejak saat itu dia mulai bingung dia sudah mempunyai segalanya ,hidup yang senang, pacar, kepopuleran, teman yang baik, dan lainnya tetapi dia mulai ragu apakah benar itu tujuan dari hidup? Dia pun mulai belajar filsafat dan agama dan semakin membaca Al Quran semakin tinggi kekagumannya terhadap kitab suci umat islam tersebut .Isu isu mengenai hak hak perempuan membuat dia tertarik  untuk dengan islam karena islam sangat memuliakan perempuan. Semakin dia membaca Al Quran dia semakin setuju atas apa yang ditawarkan kitab suci umat islam ini sebagai petunjuk hidup.

Kini setelah menjadi seorang muslimah dia melihat bahwa pakaian muslimah yang dikenakan banyak orang terlalu monoton . Dengan sentuhan kreatifitasnya dia pun membuat sebuah produk fashion yang trendi dan keren untuk para muslimah dengan label "maysaa". Untuk membeli produk produk hana tajima cukup masuk ke situs www.maysaa.com dan untuk mengikuti cerita style dia dalam berjilbab kunjungi saja blognya di http://hanatajima.tumblr.com .

[sumber]

Hikmah Ramadhan: Keajaiban Sedekah yang Tersembunyi

keajaiban sedekah tausiahislam.co.cc
www.tausiahislam.co.cc | Hikmah Ramadhan: Keajaiban Sedekah yang Tersembunyi - Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa pada zaman dahulu bangsa Israil dilanda peceklik. Banyak orang yang menderita kelaparan. Tidak sedikit pula yang meninggal dunia akibat tidak makan. Namun masih ada orang kaya tapi tak merasa sama sekali terhadap adanya musibah itu. Orang kaya tersebut memiliki seorang anak gadis yang baik hati dan budi pekertinya. Suatu malam gadis itu sedang makan. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang berdiri di ambang pintu. Berikan aku sedekah semata-mata karena Allah meskipun hanya sepotong roti!. Ucap pengemis itu dengan wajah berseri-seri.


Gadis itu segera beranjak dan menghampirinya. Ia memberikan sepotong roti kepada pengemis itu dengan ikhlas. Senyumnya menandai betapa ia sangat senang memberikan sepotong roti kepada orang yang jauh lebih membutuhkan daripada dirinya. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang kikir baru saja datang dari bekerja. Rupanya sang ayah mengetahui perbuatan anaknya yang dianggap sangat keterlaluan. Ia melotot dan memarahi anak gadisnya.

Setelah memarahi habis-habisan, dengan emosi yang tak terkontrol, sang ayah kemudian bergegas pergi ke dapur dan mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja pisau itu sudah sampai di hadapan anaknya. Dipegangnya tangan kanan anak itu dan dengan serta merta pergelangannya dipotong. Sang ayah rupanya tak mau peduli apakah anaknya akan cacat atau tidak.

Tak lama kemudian usaha orang kaya itu bangkrut. Semakin lama semakin menurun dan akhirnya benar-benar menjadi orang miskin. Hutangnya menjadi banyak dan membebani pikirannya sepanjang hari dan malam. Bekas orang kaya itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun meninggal dunia pula.

Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian di negeri Israil kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin kini menjadi makmur. Dan gadis itu terpaksa menjadi pengemis demi menopang kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika ia berdiri di depan rumah bagus dan mewah. Ia berharap pemilik rumah kaya itu memberi sepotong roti atau apa saja yang dapat dimakan untuk mengganjal perutnya.

Sesaat kemudian keluarlah seorang wanita setengah baya dan menghampiri gadis tersebut. Ia memandangi gadis itu dengan penuh simpati. Akhirnya, gadis itu kemudian diambil anak angkat. Wanita pemilik rumah mewah itu diam-diam mempunyai rencana untuk menjodohkannya dengan anak lelakinya yang pergi merantau ke negeri orang dan tak kunjung mengirimkan kabar.

Setelah anaknya pulang, segeralah gadis itu dikawinkan dengannya. Mereka menggelar pesta meriah dan mengundang kenalannya yang rata-rata orang kaya dan pejabat di negeri itu.

Di tengah pesta perkawinan yang digelar, sang pengantin laki-laki merasa kurang senang melihat ulah istrinya yang dianggap kurang sopan, karena makan dengan tangan kiri. Pengantin laki-laki berusaha menegurnya. Tetapi pengantin wanita itu tetap merasa sulit karena selama ini ia menyembunyikan cacat tangannya sehingga tak seorang pun tahu.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, Keluarkanlah tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah sepotong roti dengan ikhlas karena Allah. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula!

Mendengar suara tersebut, terpaksa pengantin wanita mengeluarkan tangan kanannya. Terjadilah suatu keajaiban: telapak tangannya yang terputus itu berubah seperti sediakala. Pengantin wanita itu sangat heran melihat kejadian yang sangat menakjubkan itu.

Itulah keberuntungan orang yang ikhlas bersedekah, walau hanya sebatas roti. Sungguh balasan Allah jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan. Kedermawanan seorang gadis dalam kisah di atas menunjukkan bahwa sedekah merupakan wujud dari kepedulian sosial yang penting dikedepankan

Petikan didalam kitab Tanbihul Ghafilin dijelaskan juga bahwa sedekah itu tidak hanya membawa keberuntungan di akhirat saja sebentuk keyakinan yang dianggap abstrak oleh kebanyakan orang.

Akan tetapi di dunia pun banyak keberuntungan-keberuntungan yang luar biasa dahsyat.

Karena itu tak heran jika Imam Syafi dalam syairnya berucap:

"Kudermakan apa yang ada, walaupun sepanjang malam aku kelaparan dan dahaga"

Apalagi Ramadhan, didukung oleh energi shaum puasa, keihklasan dan keberkahannya membuat doa mustajab dan Insya Allah lebih naik-senaik2nya, tidak heran Abu Bakar Shiddiq Ra sebaik-baik manusia dari Umat Rosulullah SAW menginfakkan seluruh hartanya sampai Nol di bulan Ramadhan ia berInfaq dijalan Allah saat perang Tabuk

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....

[sumber]
Kisah Penjaga Rahasia, Hudzaifah bin al-Yaman

Kisah Penjaga Rahasia, Hudzaifah bin al-Yaman

www.tausiahislam.co.cc: Kisah Penjaga Rahasia, Hudzaifah bin al-Yaman - Namanya Hudzaifah bin al-Yaman, terkenal dengan julukan Shahibu Sirri Rasulillah (penjaga rahasia yang dipercaya oleh Rasulullah). Orangnya sangat disiplin dan teguh memegang rahasia. Siapa pun tidak akan bisa membujuk atau memaksanya untuk membuka rahasia.

Salah satu problem besar yang dihadapi oleh umat Islam di Madinah adalah keberadaan kaum munafiqin, yang secara sengaja menyebarkan isu-isu yang tidak benar terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Mereka suka membuat intrik-intrik dan tipu muslihat yang menyulitkan kaum Muslimin.

Rasulullah SAW tahu siapa saja mereka dan siapa tokoh-tokohnya, tetapi beliau tidak bisa mengumumkannya karena sehari-hari mereka menampilkan diri sebaimana orang-orang beriman lainnya, bahkan juga datang shalat berjamaah di masjid bersama Nabi-kecuali shalat Subuh dan Isya yang berat bagi mereka melakukannya.

Nabi memberikan daftar nama-nama kaum munafiqin kepada Hudzaifah dan memintanya untuk merahasiakannya kepada siapa pun. Hudzaifah juga ditugasi mengawasi gerak-gerik dan kegiatan mereka untuk mencegah bahaya yang mungkin akan mereka timpakan kepada kaum Muslimin. Rahasia itu dipegang sangat erat oleh Hudzaifah sampai Rasulullah SAW wafat.

Tatkala menjabat khalifah, Umar bin Khathab pernah bertanya kepada Hudzaifah apakah ada pegawainya yang munafik. Hudzaifah menjawab, ada satu orang, tapi dia tidak mau menyebutkan namanya. "Maaf wahai Amirul Mukminin, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

Hudzaifah bukanlah berasal dari Yaman walaupun bapaknya bernama al-Yaman. Bapaknya orang Makkah, dari Bani 'Abbas. Oleh karena suatu utang darah dari kaumnya, al-Yaman terpaksa menyingkir ke Yatsrib-yang kemudian bernama Madinah. Di Yatsrib, al-Yaman berlindung dan bersumpah setia pada Bani 'Abd Asyhal, sampai kemudian menikah dengan perempuan dari suku tersebut. Dari perkawinan itulah lahir Hudzaifah. Walaupun sering bolak-balik ke Makkah, al-Yaman lebih banyak menetap di Madinah.

Dengan latar belakang orang tua seperti itu, tatkala pertama kali bertemu dengan Nabi di Makkah-sebelum beliau hijrah-Hudzaifah menanyakan apakah dia termasuk Muhajirin atau Anshar. Nabi menjawab: "Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan, jika ingin digologkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai." Sekalipun kedua-duanya disayangi oleh Rasulullah, ternyata Hudzaifah memilih digolongkan kepada Anshar.

Kedua orang tua Hudzaifah sudah masuk Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Dan, Hudzaifah pun sudah masuk Islam sebelum bertemu dengan Nabi. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau, turut bersama Nabi dalam seluruh peperangan kecuali Perang Badar. Dalam Perang Khandaq, Hudzaifah mendapatkan tugas yang sangat berat dari Nabi. Tugas yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang cerdas, tangggap, dan berdisiplin tinggi.

Pada malam gelap gulita, Hudzaifah ditugaskan oleh Nabi masuk ke jantung pertahanan musuh, mengintai gerak-gerik mereka. "Hai Hudzaifah," kata Nabi. "Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku."

Hudzaifah sukses menjalankan tugas itu. Dia bahkan bisa berada sangat dekan dengan Abu Sufyan, panglima perang musuh. Kata Hudzaifah: "Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku." Demikianlah sekelumit tentang Hudzaifah bin al-Yaman RA, sang penjaga rahasia.

[sumber]

Ahli Surga: Utsman bin Affan RA

‎(AHLI SYURGA) UTSMAN BIN AFFAN RA - Wajah beliau sangat tampan, berperawakan sedang dan gemuk, berdada lebar dan warna kulit sawo matang. Memiliki jenggot dan rambut yang lebat.
Beliau adalah seorang saudagar yang kaya lagi dermawan, banyak berbuat kebaikan, lembut perangainya, penyabar, penyayang, suka menyambung kekerabatan, memiliki sifat pemalu dan rajin melaksanakan puasa serta shalat malam. Beliau termasuk jajaran sahabat yang terdahulu masuk Islam.


Ketika itu para sahabat yang masuk Islam baru mencapai 38 orang. Tatkala diketahui masuk Islam, sang paman yang bernama al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah langsung mengikat tubuh beliau seraya mengatakan, “Apakah engkau membenci agama nenek moyangmu dan lebih memilih agama yang baru? Demi Allah, aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu sampai engkau meninggalkan agama tersebut!” Beliau mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya selama-lamanya!”
Demi melihat teguhnya pendirian beliau, sang paman pun akhirnya meninggalkannya.

(Diantara Jasa dan Prestasi dalam Islam )

1. Menyiapkan bekal untuk pasukan Perang Tabuk.

‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menginfakkan harta untuk kebutuhan sepertiga pasukan sebanyak 900 unta dan 100 kuda serta uang sebesar 1000 dinar lebih.

Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan, “‘Utsman telah memberikan infak kepada pasukan perang Tabuk dengan infak yang sangat besar yang belum pernah ada seorang pun yang memberikan infak sebesar itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan bekal untuk pasukan al-‘Usrah (perang Tabuk) maka baginya adalah al-Jannah (surga).” (HR. al-Bukhari no. 2778)

2. Mewakafkan sumur Rumah untuk kaum muslimin.

Ruumah adalah nama sebuah sumur yang cukup terkenal di lembah kota Madinah dan dimiliki oleh seorang Yahudi. Kaum muslimin biasa membeli air dari sumur Yahudi tersebut dengan harga 1 dirham setiap 1 kantong air. Kemudian beliau membelinya dengan harga 20.000 dirham, dan mewakafkannya untuk kaum muslimin.

Dalam perjuangan untuk kepentingan agama Allah dan perjuangan Rasul-Nya, Utsman bin Affan r.a. tidak pernah menghitung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya, harta benda dan jiwanya diserahkan untuk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dengan amal perbuatannya, yang dengan uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih "Bir Romah" untuk kepentingan semua kaum muslimin.

Utsman bin Affan r.a. jugalah yang dengan uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar masjid Rasul Allah s.a.w., ketika masjid itu sudah terlampau sempit untuk menampung jemaah yang bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin menghadapi paceklik hebat, pada saat mana Rasul Allah s.a.w. telah mengambil keputusan untuk memberangkatkan pasukan guna menghantam perlawanan Romawi, Utsman bin Affan r.a. lah yang mengeluarkan uang dari koceknya untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya. Ia memang seorang hartawan dan hartanya dihabiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

3. Menyatukan Al-Qur`an dalam satu bacaan

Dalam rangka menyatukan bacaan Al-Qur`an, beliau membentuk panitia kerja yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dan panitia kerja berhasil menyusun standar salinan Al-Qur`an yang dikenal dengan nama Mushaf ‘Utsmani, untuk kemudian diperbanyak dan dikirim ke berbagai daerah serta memerintahkan untuk menarik semua mushaf yang tidak sesuai dengan Mushaf ‘Utsmani dalam rangka penyatuan bacaan Al-Qur`an.

( Menjabat Khalifah )

Beliau dibai’at sebagai khalifah, 3 hari setelah pemakaman khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Tepatnya pada hari Sabtu bulan Muharam tahun 24 Hijriyah (644 Masehi) dalam usia 70 tahun. Pada masa pemerintahan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, kaum muslimin dengan pertolongan Allahsubhanahu wa ta’ala berhasil menaklukkan beberapa daerah. Daerah-daerah yang ditaklukkan meliputi daerah Ray (Teheran), Hamadzan, benteng-benteng Romawi, kota Sabur, beberapa daerah di benua Afrika sampai berhasil menembus negeri Andalusia (Spanyol), Asbahan, Khurasan, Sijistan, Naisabur, Thabaristan, Thus, Sarkhas, Maru dan Baihaq.

( Mendapat kabar gembira masuk surga )

Dahulu ada seseorang minta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu:

ائْذَÙ†ْ Ù„َÙ‡ُ ÙˆَبَØ´ِّرْÙ‡ُ بِالْجَÙ†َّØ©ِ عَÙ„َÙ‰ بَÙ„ْÙˆَÙ‰ سَتُصِÙŠْبُÙ‡ُ

“Izinkan baginya dan berilah kabar gembira dengan surga atas musibah yang akan menimpanya.” (HR. al-Bukhari no. 3695)
Tatkala pintu dibuka, ternyata orang tersebut adalah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.

(sumber)

Kisah Teladan: Syaikh Ahmad Yassiin

syeikh ahmad yassin
‎(KISAH TELADAN) SYAIKH AHMAD YASIIN - Pemimpin perjuangan rakyat Palestina, Syekh Ahmad Yasin kehidupannya sangat sederhana. Anaknya Mariyam Ahmad Yasin menceritakan tentang sikap hidup ayahnya: Rumah ayah terdiri dari 3 kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Ini fakta bahwa ayahku tak cinta dunia, namun cinta akhirat.

Banyak yang menawari beliau untuk memiliki rumah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya. Bahkan pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza. Namun Tawaran itupun ditolak.

Rumah ini sangat sempit. Tidak ada lantai, dapurpun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Namun jika musim panas tiba, kami pun kepanasan. Ayah sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumah di akhiratnya.

Adapun kondisi psikis, Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surgaNYa nanti. Untuk itulah kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau.

Jika Syekh Ahmad Yasin ingin kaya, harta menumpuk, rumah mewah bertingkat, mobil mengkilat lebih dari empat, makanannya serba lezat, semuanya bisa saja beliau dapatkan

Syekh Ahmad Yasin mengikuti resep zuhud, Nabi dan shahabatnya. Jalan lurus kehidupan yang senantiasa dimiliki para kekasih Allah SWT dimana ia mengutamakan akhiratnya.

Allah SWT Berfirman : Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS:An Nisaa/4: 69)

dari: http://www.facebook.com/ustadz.yusufmansur.3
Sang Jendral dan Alquran

Sang Jendral dan Alquran


Sang Jendral dan Alquran - Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena alau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.



Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

"Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...! " Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang.

'Algojo penjara' itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, "Rabbi, waana'abduka..." Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?!

Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus.Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."

Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap,"Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya.

Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara'itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

************
Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia).Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi..." Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya " Abi...Abi... Abi..." Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.

"Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.

Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. "Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka

************
Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, Abi...Abi.. .Abi..." Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai'tanda hitam' pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh -puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa..." Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata buktikebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap." Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu," Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah. ." Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam', sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah..."Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30)

(sumber)

Tirulah Sifat Jujur Abu Bakar


Tirulah Sifat Jujur Abu Bakar - JUJUR adalah sifat terpuji. Secara naluri, semua orang suka kejujuran. Namun, secara aplikasi, tidak semua orang bisa berlaku jujur. Orang yang berbusa-busa menyuarakan kejujuran, belum tentu berperilaku jujur. Kenapa? Karena jujur tidak cukup ditimbang dengan apa yang diucapkan di lisan seseorang saja. Menyerukan kejujuran harus butuh bukti dalam kehidupan nyata.

Selain itu, menjadikan jujur sebagai karakter yang mengakar di hati, juga menjadi syarat akan kebenaran kejujuran seseorang. Belum bisa disebut orang jujur, manakala tiga komponen ini, hati, lisan, dan perbuatan, belum bersatu-padu dalam diri seseorang, atau dengan bahasa lain masih parsial, dekotomi.
Terkadang ada orang yang jujur hatinya saja, namun lisannya belum mampu mengucapkannya. Atau, lisannya yang mampu berkata jujur, tapi perbuatannya belum bisa membenarkannya. Ada pula, sekedar perbuatannya yang sepertinya melakukan kejujuran, tapi hati dan lisannya mengingkari itu semua.

Tentu perilaku macam ini, yang memisahkan antar komponen tersebut tidak dibenarkan dalam konsep kejujuran. Dan realitas di lapangan, khususnya di negeri kita, justru mala praktek macam ini yang malah menyeruak di tengah-tengah lapisan masyarakat, baik itu rakyat jelata, atau pun para pemimpinnya. Mulai dari pengusaha, hingga bawahan-bawahannya.

Sebagai contoh. Setiap para pejabat disumpah, mereka selalu berjanji dangan sumpah dengan ditandai meletakkan kitab suci masing-masing di atas kepala mereka. Apakah kemudian mereka juga jujur? Buktinya tidak juga. Justru terkadang, di kemudian hari terbongkar tindak pidana korupsinya.

Seorang pelajar (siswa/mahasiswa) yang hampir setiap saat dididik untuk menjadi pribadi yang jujur, namun masih banyak juga ketika ujian mereka menyontek.

Fenomena di atas setidaknya sebagai cermin, bahwa praktek kejujuran belum seutuhnya teraplikasi dalam sebagian besar masyarakat kita dengan benar. Sikap ini terjadi di semua lini di antara kita. Karyawan marketing memark-up kwitansi, sopir memark-up bensin, petugas jalanan “mengutip” pungutan, jaksa, hakim dan petugas hukum juga masih menerima suap. Bahkan orang antri ingin masuk PNS dengan suap. Pegawai korupsi waktu. Semua lini selalu ada korupsi.

Padahal Rosulullah pernah mengatakan, “As-shidqu yahdii ila al-birri” (Kejujuran itu mengarahkan ke pada kebaikkan).

Kisah Abu Bakar

Dalam sejarah, terdapat salah satu sosok manusia yang mampu menampilkan kejujuran yang benar, selain Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam adalah Abu Bakr. Dia merupakan sahabat yang pertama yang beriman ke pada Nabi dari golongan laki-laki dewasa.

Kejujurannya telah teruji semenjak awal dia masuk Islam. Hal tersebut terbukti -salah satunya- di tengah-tengah kaum Quraisy mengingkari dan bahkan menghina Nabi dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Abu Bakr justru menjadi orang pertama yang meyakini kebenaran hal tersebut.

Bahkan, dia berani menantang kaum kafir, bahwa kalau saja ada berita yang lebih dahsyat dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, maka dia akan mempercayai hal tersebut tanpa sedikitpun meragukannya.

Kejujuran Abu Bakr ini, kemudian terwujud dengan tindakan nyata. Dia tidak pernah meragukan akan apa yang telah menjadi janji Allah dan Rosul-Nya. Dan hal itu setidaknya tergambar dengan keberaniannya menyerahkan kepada Nabi seluruh harta bendanya demi memperjuangkan kejayaan Islam pada suatu peperangan.

“Aku tinggalkan mereka Allah dan Rosul-Nya”. Hanya kalimat singkat ini lah yang terlontar dari lisan Abu Bakr, ketika Rosulullah bertanya tentang apa yang dia sisakan untuk keluarganya, kalau semua kekayaannya dia serahkan fii sabilillah.

Karena kejujurannya ini, yang telah menjadi gaya hidupnya, beliau pun mendapat julukan sebagai As-Shiddiq (orang yang membenarkan). Tidak itu saja, jaminan ‘tiket’ masuk surga secara langsung, pun telah beliau genggam dari Rosulullah. Allahu Akbar !!!.

Lain Abu Bakr, lain pula Abu Tholib. Beliau adalah orang jujur, yang meyakini akan kebenaran ajaran Rosulullah. Selain itu, beliau pun membuktikan akan kejujuran hatinya dengan tindakannya yang selalu melindungi perjalanan dakwah Rosulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (??? ???? ???? ? ???). Sayang hanya karena kurang satu dimensi saja, pengucapan (lisan), perilaku jujur itu pun ‘mandul’, tidak menghasilkan apa-apa di sisi Allah. Dia pun akhirnya mati dalam kekafiran yang tempat kembalinya adalah neraka.
Apa lagi dengan sosoknya Abu Lahab. Secara naluri (Baca: hati) beliau mengakui akan kebenaran risalah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam. Namun, karena lisannya dan tindakkannya berpaling dari keyakinan hatinya, maka dia pun mati dalam keadaan kafir pula, dan tempat kembalinya adalah neraka.

Dari sini kita bisa mengambil benang merah, bahwa seyogyanya kita mengikuti jejak Abu Bakar dalam mempraktekkan kejujuran kita dalam segala aspek kehidupan. kita harus meyakini bahwa sesuatu yang benar itu adalah benar, tanpa diiringi keraduan sedikitpun. Dan suatu yang salah itu adalah salah. Tidak cukup itu saja, tindakkan kita pun harus menunjukkan hal tersebut, dan terakhir kita pun harus berani mensuarakannya ke pada khalayak umum.

Sebaliknya, jangan sampai kita berperilaku jujur dengan kejujuran ala Abu Thalib, lebih-lebih Abu Lahab. Sungguh perilaku macam ini sama sekali tidak akan membawa keuntungan sedikit pun bagi kita di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Kerana itu kita harus menjauhinya.

Pintu kemunafikan

Lawan dari pada jujur adalah dusta. Dan sampai kapanpun dua hal ini tidak akan pernah bersinergi. Barangsiapa yang berperilaku jujur, maka pasti dia akan menjauhi sifat dusta. Begitu pula sebaliknya, barang siapa yang suka berdusta, maka secara otomatis dia akan memusuhi kejujuran.

Karena demikian, tidak jarang orang yang berperilaku jujur harus menghadapi resiko yang tidak kecil, terlebih jikalau dia hidup di tengah masyarakat yang telah menjadikan dusta sebagai strategi ilegal dalam meraih sesuatu, sebagaimana yang terjadi di negeri kita saat ini.

Sekali pun demikian, kita tidak boleh getir. Perinsip ‘Qul al-Haqqa wa lau kaana murran’ (katakan lah sebenarnya meskipun pahit), harus menjadi prinsip kita.

Biasanya, dusta atau kebohongan dilakukan seseorang untuk berbagai tujuan; misalnya untuk memperoleh keuntungan materi secara tidak fair, untuk membuat kesal atau mencelakakan orang lain, dan adakalanya untuk menutupi kebohongan yang lain.

Implikasi dari kebohongan juga berbeda-beda. Jika kebohongan itu pada hal yang bersifat informasi, implikasinya bisa menyesatkan atau mencelakakan orang lain. Jika kebohongannya pada janji, maka implikasinya pada mengecewakan atau merugikan orang lain. Jika kebohongannya pada sumpah maka implikasinya pada merugikan dan mencelakakan orang lain.

Nabi bersabda; “Sesunggguhnya kebohongan adalah satu di antara beberapa pintu kemunafikan, innal kizba babun min abwab an nifaq.”

Jadi orang yang melakukan kebohongan dan dusta berarti sedang berada dalam proses menjadi seorang munafik. Kata Nabi, tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; (1) jika berkata, ia berdusta, (2) jika berjanji, ia ingkar dan (3) jika diberi kepercayaan, ia berkhianat.

Jika kebohongan dan dusta merupakan pintu kemunafikan, maka kejujuran merupakan pintu amanah. Sebagai contoh, Nabi memiliki sifat siddiq (benar dan jujur), maka sifat lain yang menyertainya adalah amanah (tanggungjawab), fathanah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan secara terbuka apa yang mesti disampaikan).

Kebalikannya, dusta (kizib) akan diiringi oleh sifat curang (khiyanah), bodoh, yakni melakukan perbuatan bodoh (jahil) dan menyembunyikan apa yang semestinya disampaikan secara terbuka (kitman).

Rasulullah mengatakan, "Seorang mukmin memiliki tabiat atas segala sifat aib, kecuali khianat dan dusta." (HR. Al Baazaar)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a, dari Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta." (HR Bukhari [6094]). Mudah-mudahan kejujuran kita membawa ke surga yang dijanjikan.
Mangkuk, Madu, dan Sehelai Rambut

Mangkuk, Madu, dan Sehelai Rambut

Suatu hari Rasulullah saw berkumpul bersama sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Shahibul Bait, Ali bin Abi Thalib., Istri Ali, Fathimah yang juga putri Rasulullah saw, menghidangkan madu untuk mereka yang sedang berdiskusi. Madu itu diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang sangat indah.

Ketika madu dihidangkan, Rasul mendapati sehelai rambut di dalamnya, Rasul diam sejenak dari diskusi. Daripada membincang apalagi menuduh rambut siapa, kecerdasan Rasul kemudian membelokkan tema diskusi, dengan meminta semua sahabat membuat tamsil terhadap mangkuk yang indah nan cantik, madu, dan sehelai rambut.
Abu Bakar r.a. mengawali, "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang beriman itu lebih manis dari madu ini, dan mempertahankan iman jauh lebih sulit dari melewati sehelai rambut."

Umar r.a. berkata, "Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Seorang raja lebih manis dari madu. Raja yang memerintah dengan adil lebih sulit daripa meniti sehelai rambut."

Utsman r.a. berkata, "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu. Dan beramal dengan ilmu yang dimilikinya lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Ali r.a. berkata, "Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Menjamu itu lebih manis daripada madu. Membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Fathimah juga berkata, "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk cantik. Wanita yang berjilbab itu lebih manis dari madu. Mendapatkan wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Selanjutnya Rasulullah saw berkata, "Seorang yang mendapat taufik untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Beramal dengan amal yang baik itu lebih manis daripada madu. Berbuat amal dengan ikhlas lebih sulit dari melewati sehelai rambut."

Malaikat Jibril berkata, "Menegakkan pilar-pilar agama lebih cantik dari mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu. Mempertahakan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Allah SWT berfirman, "Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surga-Ku lebih manis dari madu itu, jalan menuju surga-Ku lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Diskusi Rasulullah saw yang dapat kita jumpat dalam The Secret of Kisah-kisah Teladan, Sumber Inspirasi dan Penyejuk Hati, karya Abdul Aziz S (2011) sengaja penulis angkat dalam kisah Ramadan, karena memiliki makna yang sangat komprehensif dan holistik.

Konvergensi antara akhlak dan kecerdasan Rasulullah saw dalam menyikap persoalan ringan, menjadi pintu bagi para sahabat untuk mengeluarkan nalar-nalar yang berbobot. Abu Bakar bicara hal yang paling fundamen, yaitu iman dan hati. Umar bicara soal nafsu dan kekuasaan. Utsman mengenai nalar keilmuan. Ali tentang etika, akhlak atau perilaku, dan Fathimah soal syariat. Semua sangat urgen dan harus ditegakkan meskipun berat, itulah jalan menuju surga Allah SWT.

Bila kita renungkan, tamsil yang disodorkan oleh para sahabat, sesungguhnya sebuah resume dari kehidupan manusia.

(Samsul Ma'rif, S.Ag dalam PR 25 Agustus 2011)
Perisai Sabar

Perisai Sabar

Perjuangan para Nabi adalah gerakan kesabaran, sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT dan sabar menghindari larangan-Nya. Sebelum diterpa cobaan, hatinya telah dibalut perisai sabar. Mereka menyiapkan perisai sabar terus-menerus. Ahmad bin Hanbal menuturkan, Alquran mengulang kata sabar sebanyak 90 kali.

Pengulangan kata sabar menandakan betapa pentingnya energi makna dibalik kata sabar itu. Kapan momentum yang tepat mengenakan perisai sabar? Apakah kita mengenakan perisai sabar hanya ketika terimpit cobaan atau ujian? Jamak dipahami, perisai sabar dikenakan saat menghadapi cobaan atau ujian yang tak diinginkan. Andai orang tidak mengenakan perisai kesabaran, niscaya akan limbung, terjatuh pada sikap kecewa, sedih, menderita, berujung pada frustasi.


Bagi orang yang mengenakan perisai sabar, niscaya akan jauh dari ancaman frustasi. Karena frustasi hanya patut mengena pada orang kafir. "Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf [12]:27). Orang bersabar niscaya akan terhindar dari putus asa, lantaran sabar adalah pintu awal yang dapat menyelamatkan manusia dari perasaan negatif. Rasulullah saw bersabda, "Kesabaran itu pada pukulan pertama."

Jika respons pertama disertai kesabaran, sontak kebahagiaan senantiasa terus menyusupi hati. Kesabaran berperan menghadirkan ketenangan hati. Bersabar dalam kemiskinan. Bersabar dari cercaan dan makian. Bersabar dengan ujian yang menerpa silih berganti. Kesabaran seperti itu akan meneguhkan jiwa meraih kemuliaan. Pun demikian, perisai sabar tak hanya dikenakan di saat terkena musibah. Perisai sabar juga semestinya dikenakan ketika berada dalam kelapangan. Betapa banyak orang yang mampu bersabar dalam kesulitan, akan tetapi tak bisa bersabar dalam kelapangan.

Model pribadi yang bersabar dalam kejayaan dan bisa dicontoh adalah pada diri Nabi Sulaiman. Dikisahkan, walau Nabi Sulaiman termasuk sosok kaya raya yang kekuasaannya memenuhi seluruh kerajaan, dari manusia, binatang, dan golongan jin, namun makanan sehari-hari beliau tidak berasal dari gajinya.

Beliau makan dari hasil jerih payahnya membuat anyaman. Dari kebiasaan itu, tidak hanya rakyat dari kalangan manusia yang kagum pada perilaku sabarnya Nabi Sulaiman, burung-burung bahkan bangsa jin menaruh kagum padanya. Ternyata bersabar dalam kelapangan tidak mengurangi sedikit pun kehormatan beliau. Bahkan, semakin meninggikan derajatnya di hadapan Allah SWT.

(Khalili Anwar dalam Suara Masjid Agung Tsm)
Umar Bin Khattab

Umar Bin Khattab

Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat nabi dan khalifah kedua setelah wafatnya Abu Bakar As-Sidiq. Jasa dan pengaruhnya terhadap penyebaran Islam sangat besar hingga Michael H. Heart menempatkannya sebagai orang yang paling berpengaruh nomor 51 sedunia sepanjang masa.

Umar tumbuh menjadi pemuda yang disegani dan ditakuti pada masa itu. Wataknya yang keras membuatnya mendapat julukan "Singa Padang Pasir".



Sebagai seorang petinggi militer dan ahli siasat yang baik, Umar sering mengikuti berbagai peperangan yang dihadapi umat Islam bersama Rasulullah saw. Ia ikut terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria.

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasihatnya. Setelah Abu Bakar meninggal paad tahun 634 H, Umar menjadi penggantinya.

Selama masa jabatannya, khalifah Umar amat disegani dan ditakuti negara-negara lain. Kekuatan Islam maju pesat, mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia, mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, dan Armenia dari kekaisaran Romawi.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, pada sekitar tahun ke-17 Hijriah, tahun keempat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah. Umar meninggal pada 25 Dzulhijjah 23 H dan selanjutnya digantikan oleh Utsman bin Affan.

(Suara Masjid Agung Tsm Juli 2010)
Kalah Karena Tergoda Rampasan Perang

Kalah Karena Tergoda Rampasan Perang

Tsauban, maula (orang yang diperwalikan) Rasulullah saw, mengisahkan beberapa peristiwa mengandung hikmah, yang dialami bersama Rasulullah saw. Antara lain, pada suatu hari, Rasulullah saw mendoakan semua keluarganya, termasuk Ali, Fatimah, dan lain-lain.

Tsauban bertanya, "Ya, Nabiyullah, apakah saya juga termasuk yang tuan doakan bersama anggota keluarga tuan yang mulia itu?" "Ya, Tsauban", jawab Rasulullah. "Selama engkau hidup mandiri, tidak berdiri di depan pintu rumah orang untuk meminta-minta, dan menengadahkan tangan ke hadapan seorang amir (penguasa) memohon sesuatu."


Beberapa waktu setelah terjadi Perang Uhud pada tahun ketiga hijriah, kaum Muslimin Madinah dilanda kesedihan mendalam. Mereka kehilangan tujuh puluh sahabat, saudara, dan kenalan dekat, diantaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, yang bergelar "Singa Allah".

Semua itu terjadi akibat sebagian pasukan Islam mengabaikan perintah Rasulullah, terutama pasukan artileri (pemanah) yang ditempatkan di Bukit Rumat, di sisi Padang Uhud tempat pertempuran berkecamuk.

"Siagalah di situ, menjaga pasukan musuh yang kemungkinan masuk dari arah belakang", demikian intruksi Rasulullah yang terjun langsung memimpin pasukan infanteri berlaga melawan pasukan kafir Quraisy.

Strategi itu sangat tepat, pasukan kavaleri Quraisy pimpinan Khalid bin Walid tidak dapat masuk memberi bantuan. Mereka tertahan oleh pasukan artileri Muslin dengan tembakan panah-panahnya yang terarah ke sasaran. Bahkan, ketika pasukan infanteri Quraisy terdesak ke kaki Gunung Uhud, pasukan kavaleri Khalid bin Walid tidak dapat bergerak sama sekali.

Pertempuran usah sudah dengan kemenangan pasukan Islam. Pasukan Quraisy berlarian menyelamatkan diri ke lereng-lereng Gunung Uhud. Mereka meninggalkan segala harta milik mereka, pedang, tombak, tameng, kuda, serta perhiasan dan segala simbol kemegahan militer yang lazim dibawa ke medan perang kala itu.

Sambil mengejar sisa-sisa pasukan yang masih mencoba melawan atau bertahan, pasukan Islam mengumpulkan ganimah, harta rampasan perang yang terserak-serak di antara mayat bergelimpangan dan genangan darah.

Tiba-tiba pasukan artileri di Bukir Rumat tergoda oleh limpahan ganimah. Mereka lupa terhadap kewajiban menjaga posisi belakang. Apalagi pasukan kavaleri Khalid bin Walid sudah tidak terlihat. Mereka menduga, pasukan Khalid bin Walid sudah kabur duluan setelah melihat kekalahan telak pasukan infanteri Quraisy.

Maka, mereka segera berhamburan turun. Ikut menyerbu ganimah. Saat itulah pasukan berkuda Khalid yang ternyata bersembunyi di balik pohon-pohon kurma datang menerjang. Pasukan Islam sangat terkejut. Kalang kabut memberikan perlawanan seadanya. Gugurlah tujuh puluh prajurit. Rasulullah sendiri terluka, dua gigi tanggal kena lemparan senjata.

Konsolidasi pasukan seadanya di bawah komando Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, berhasil menangkal kekalahan lebih telak. Kepulangan ke Madinah, diiringi duka-cinta mendalam.

Beberapa orang Muhajirin berkata, "Seandainya kita tahu apa harta paling berharga daripada emas perak, niscaya kekalahan di Uhud tidak akan terjadi. Kita tidak akan turun dari bukit untuk ikut memburu ganimah".

Mendengar hal itu, Umar yang berada dekat mereka menyatakan, "Perbincangan kalian ini akan ditanyakan kepada Rasulullah saw".

Umar segera mencari Rasulullah saw, yang sedang berjalan diiringi Tsauban. Setelah bertemu, Umar menyampaikan segala apa yang dimasalahkan para Muhajirin veteran perang Uhud tadi.

Sambil tersenyum Rasulullah menjawab, "Harta yang lebih berharga daripada emas dan perak adalah apabila kalian memiliki lidah yang selalu menyebut nama Allah, walbu yang selalu bersyukur, dan seorang istri mu'minah yang mendorong kalian untuk tetap menjadi seorang mu'min.

(H. USEP ROMLI H.M. dalam PR 3 September 2010)
Cara Dua Sahabat Menyambut Waktu Shalat

Cara Dua Sahabat Menyambut Waktu Shalat

Dua sahabat Nabi Muhammad Rasulullah saw, Abubakar As Siddik dan Umar bin Khattab, tergolong as sabiqunal awwalun. Orang-orang yang masuk Islam sejak awal kelahiran Islam. Bersama Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar dan Umar melanjutkan kepemimpinan Islam dan umat Islam sepeninggal Nabi saw. Mereka berempat bergantian menjadi amirulmukminin (pemimpin orang-orang beriman) yang digelari "Khulafa'ur Rasyidin", pemimpin utama.

Karakter sehari-hari Abu Bakar berbeda dengan Umar, walaupun keduanya tegas dan keras dalam menjalankan aturan hukum. Abu Bakar pernah memerangi kelompok-kelompok orang yang enggan membayar zakat. Sementara Umar tak segan-segan menghukum anaknya sendiri, Abdurahman, yang ketahuan meminum alkohol dengan 25 cambukan.


Jika terdengar Bilal ibnu Rabbah seorang berkulit hitam namun bersuara emas mengumandangkan azan, Abu Bakar sering tercenung sedih. Kadang-kadang mencucurkan air mata. Badannya gemetar seperti ketakutan oleh sesuatu.

"Wahai Abu Bakar, mengapa setiap mendengar azan, engkau selalu begitu?" tanya seorang sahabat.

Setelah lama menahan tangis agar mereda, Abu Bakar menjawab,"Sahabatku, azan adalah panggilan menegakkan shalat. Sedangkan shalat merupakan saat pertemuan kita dengan Allah SWT. Kita menyerahkan segala hidup, mati, dan ibadah hanya kepadaNya Aku takut, aku malu, karena aku datang ke hadapanNya membawa kehinaan dan ketidakberdayaanku melawan dosa-dosa. Takut dan malu karena kelemahan imanku dan ketiadaan amal solehku. Apa yang harus kubanggakan di hadapanNya, Yang Maha Mlelihat dan Maha Mencatat segala kekuranganku dalam mensyukuri nikmatNya yang tak terbilang?"

Sementara Umar, setiap mendengar azan suka kelihatan gembira ria. Tersenyum-senyum bahagia. Membuat semua yang menyaksikan terheran-heran.

"Wahai Umar, mengapa setiap mendengar kumandang azan, engkau selalu begitu?"tanya seorang sahabat.

Tanpa ragu, Umar menjawab, "Bagaimana tidak gembira perasaanku? Saat shalat adalah saat pertemuanku dengan Allah SWT. Aku dapat berkomunikasi langsung denganNya. Dapat menyampaikan doa permohonanku agar dikuatkan iman kepadaNya, dan agar diberi kemampuan beramal saleh kepada sesama manusia. Karena iman dan amal saleh merupakan fondasi kehidupan kita untuk menerima limpahan rahmat karuniaNya. Dalam shalat pula aku memohon ampun atas segala dosa dan kekuranganku sebagai manusia. Aku percaya, Allah SWT akan memberi ampunan kepada siapa saja yang bertobat, karena Dia Ghafurur Rahim, Maha Pengampun dan Maha Pengasih kepada makhluk-makhlukNya yang lemah."

(H. USEP ROMLI O.M. dalam PR)
Perlombaan Sedekah Umar dan Abu Bakar ra

Perlombaan Sedekah Umar dan Abu Bakar ra

Sebagaimana kita ketahui, para sahabat Nabi Muhammad saw, selalu berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dalam upaya melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, tak terkecuali Umar bin Khattab dan Abu Bakar ra.

Kisah perlombaan sedekah antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar ra ini terjadi pada peristiwa Perang Tabuk, dimana pada waktu itu Rasulullah saw menyeru kepada para sahabatnya untuk memberikan sedekah sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Umar bin Khattab ra pada saat itu memiliki harta kekayaan untuk disedekahkan. Dalam hatinya, ia merenung, "setiap saat Abu Bakar selalu membelanjakan hartanya lebih banyak dari apa yang telah saya belanjakan di jalan Allah." Umar berharap dengan karunia Allah, semoga dapat membelanjakan harta di jalan Allah lebih dari Abu Bakar kali ini, saat itu Umar ra mempunyai dua harta kekayaan untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT.

Kemudian ia pulang ke rumahnya untuk membawa harta yang akan disedekahkannya, dengan perasaan gembira sambil membayangkan bahwa pada hari ini ia akan bersedekah melebihi Abu Bakar ra. Oleh karena itu, segala yang ada di rumahnya ia ambil setengahnya untuk disedekahkan.

Lantas Umar ra membawa harta itu kepada Rasulullah saw. Pada saat itu Rasulullah saw bersabda kepada Umar ra, "Apa ada yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Umar?" Umar ra pun menjawab, "Ya, ada yang saya tinggalkan, wahai Rasulullah." Rasulullah bertanya, "Seberapa banyak yang telah kamu tinggalkan untuk keluargamu?" Ia menjawab, "Saya telah tinggalkan setengahnya."

Tidak berapa lama kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh harta bendanya kepada Rasulullah saw. Umar bin Khattab ra berkata, "Saya mengetahui bahwa beliau telah membawa seluruh harta benda miliknya. Begitulah pembicaraan yang saya dengar dari pembicaraan antara beliau dengan Rasulullah saw."

Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada Abu Bakar, "Apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab, "Saya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka (saya tinggalkan dengan keberkahan nama Allah SWT dan Rasul-Nya serta keridhaan-Nya)." Mendengar hal itu Umar bin Khattab ra berkata, "Sejak saat itu saya mengetahui bahwa sekali-kali saya tidak dapat melebihi Abu Bakar."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa berlomba-lomba dan berusaha melebihi orang lain dalam kebaikan adalah perbuatan baik dan merupakan perbuatan yang disukai Allah SWT dan Rasul-Nya, seperi firman Allah dalam Alquran, "Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan danjalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS Al-Maidah [5]:48)

Untuk itu marilah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, terlebih pada bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini, dimana setiap kebaikan dibalas dengan pahala yang berlipat, Rasulullah bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan." (HR Tirmidzi)

(H. Moch. Hisyam on PR 27 Agustus 2010)
Kecintaan Ukasyah terhadap Rasulullah

Kecintaan Ukasyah terhadap Rasulullah

Ketika Rasululllah saw sakit menjelang akhir hayatnya, pada suatu majelis beliau berpesan kepada para sahabatnya "Jika aku melakukan kezaliman pada kalian walau sebesar biji zarah (biji sawi), balaslah saat ini juga. Janganlah kalian datang kepada Allah SWT kelak di hari kiamat menuntutku atas perbuatanku yang merugikan kalian di dunia ini," kata Rasulullah.

Semua yang hadir terdiam. Tiba-tiba berdirilah Ukasyah ra dan bertanya. "Ya Rasulullah, ketika aku dahulu masih kafir, dalam perang badar, engkau menarik bajuku hingga robek dan memukul pundakku dengan tongkatmu. Apakah engkau sengaja memukul saya atau hendak memukul baginda?"


Rasulullah berkata, "Wahai Ukasyah, aku sengaja memukul kamu." Ukasyah pun berkata, "Ya Rasulullah, izinkan aku menuntut balas darimu."

Seketika, gaduhlah majelis tersebut karena ada sahabatt yang tega menuntut balas pada Baginda Nabi. Umar bin Khattab langsung berdiri dan menghardik Ukasyah.

"Biarkan aku membawanya keluar ya Rasulullah. Ia telah berlaku tidak sopan terbadapmu. Tidak pernah kami merasakan suatu kezaliman pun walau kecil yang engkau lakukan terhadap kami."

Rasulullah tersenyum dan meminta Umar untuk duduk kembali. Disuruhnya Bilal ra untuk mengambil tongkatnya yang disimpan di rumah Fatimah. Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di atas kepada dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk diqisas."

Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah, maka Bilal menyampaikan maksudnya untuk mengambil tongkat Nabi. Fatimah pun heran dan bertanya, "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya. 'Berkata Bilal ra, "Wahai Fatimah, Rasulullah saw telah menyediakan dirinya untuk diqisas."

"Siapakah manusia yang sampai hatinya untuk mengqisas Rasulullah saw.?" Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah.

Setelah Fatimah memberikan tongkat tersebut, Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah saw. kemudian beliau pun menyerahkan kepada Ukasyah.

Abu Bakar dan Umar tidak tinggal diam. Keduanya tampil ke depan sambil berkata, "Wahai Ukasyah, janganlah kamu qisas Rasulullah, qisaslah kami berdua!"

Mendengar pembelaan kedua sahabatnya itu, Rasulullah segera berkata, "Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua."

Kemudian Ali berdiri lalu berkata, Wahai Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah, pukullah aku dan janganlah kamu mengqisas Rasulullah!"

Lalu Rasulullah berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatmu dan mcngetahui isi hatimu."

Setelah itu, Hasan dan Husein bangun dengan berkata, "Wahai Ukasyah, bukankah kamu tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah saw, kalau kamu mengqisas kami sama dengan kamu mengqisas Rasulullah."

Mendengar kata-kata cucunya, Rasulullah pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua."

Rasulullah berkata" "Wahai sahabatku Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul. Aku rida."

Keriuhan semakin menjadi. Isak tangis semakin keras. Anggota majelis pun semakin banyak karena tersebar kabar bahwa Rasulullah yang agung akan diqisas. Para sahabat pun tidak berdaya mencegah Ukasvah karena Nabi telah mempersilakan Ukasyah untuk melakuakan qisas.

Kemudian Ukasyah berkata "YA Rasulullah, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju karena bajuku robek saat kau renggut. Maka Rasulullah pun membuka baju. Setelah Ukasyah melihat tubuh Rasulullah, ia pun maju ke depan dengan membawa tongkat.

Namun, tongkat itu justru dicampakkannya dan ia mencium Rasulullah seraya berkata, "Saya tebus engkau dengan jiwa saya ya Rasulullah, siapakah yang sanggup memukulmu? Saya melakukan ini karena ingin menyentuh badan yang dimuliakan oleh Allah dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neralka dengan kehormatanmu."

Takbir pun bergema. Kemudian Rasulullah berkata sambil menunjuk Ukasyah, 'Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli surga, inilah orangnya."

(Hj. Nunung Karwati on PR Agustus 2010)
Kedermawanan Ali bin Abi Thalib

Kedermawanan Ali bin Abi Thalib

Pada suatu ketika Allah SWT menguji keluarga Ali bin Abi Thalib ra. Salah seorang dari kedua anaknya ditimpa demam tinggi. Demi kesembuhannya, ia melakukan pelbagai ikhtiar.

Mulai dari usaha konvensional hingga yang bersifat spiritual seperti dengan memberikan tindakan media yang selaras dengan konteks zaman. Atau, lewat doa, bahkan bernazar. Dalam nazarnya itu, Ali bin Abi Thalib ra menyatakan bahwa ia akan melaksanakan puasa selama tiga hari berturut-turut apabila anaknya itu sembuh.



Segala puji milik Allah. Selang beberapa waktu, kesehatan anaknya pulih kembali. Allah SWT mengabulkan doanya. Oleh karena itu, ia sangat bersyukur. Maka, keesokan harinya ia mulai melaksanakan puasa nazarnya. Dalam hal ini ia disertai istri tercintanya, Fatimah al-Zahra binti Rasulullah saw.

Waktu bergulir. Pagi berganti siang. Petang menyusul, kemudian waktu maghrib pun akhirnya tiba. Ketika pasangan suami-istri itu hendak berbuka dengan makanan alakadarnya, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang. Tamu yang tidak diundang itu ternyata seorang miskin papa. Ia datang untuk meminta belas kasihan, karena didera lapar seharian penuh. Tanpa berpikir panjang, keluarga suci itu segera memberikan makanan yang sedianya akan mereka santap. Tidak heran malam itu mereka berbuka puasa hanya dengan beberap teguk air.

Esoknya mereka berpuasa lagi. Hari itu berlalu seperti biasa. Namun, kala waktu maghrib tiba, pintu rumah lagi-lagi diketuk orang. Kini yang datang adalah seorang anak yatim. Sebelum yang bersangkutan mengutarakan maksudnya, mereka sudah jatuh iba. Kondisi anak atim itu memang sangat memprihatinkan sehingga mereka memberinya makanan, yang sejatinya dipersiapkan untuk berbuka puasa. Malam itu pun mereka lalui dengan perut lapar.

Kini, mereka telah berada pada hari ketiga dari puasa nazarnya. Karena berkah Allah SWT dalam segala hal, mereka tampil tetap dalam kondisi prima. Tidak kecuali dalam menjalai maisyah, atau kehidupan dunia ini.

Sebagaimana hari-hari sebelumnya, ketika menjelang maghrib, ketika mereka mempersiapkan diri untuk berbuka, seseorang datang memohon belas kasihan. Kali ini adalah seorang tawanan perang. Lantaran mengutamakan orang lain sudah menjadi sifat keluarga itu, tidak mengejutkan jika makanan yang sudah terhidang untuk berbuka pun mereka berikan kepadanya dengan penuh keikhlasan.

Dengan demikian, selama keluarga suci itu menunaikan puasa nazar, maka tidak sebutir kurma atau sepotong roti pun yang masuk ke perut mereka. Sungguh mengagumkan perilaku pasangan suami-istri itu. Mereka sanggup menahan lapar berhar-hari, lantaran lebih mengutamakan orang lain dari kalangan akar rumput. Lagi pula, semua itu mereka lakukan tanpa pamrih, kecuali mengharap ridha Allah SWT.

(PR 20 Agustus 2010)
Meneladani Siti Khadijah ra

Meneladani Siti Khadijah ra

Mengenang Siti Khadijah ra berarti kita mengingat sejarah perjuangannya dalam mendampingi Rasulullah saw. Siti Khadijah berasal dari keturunan yang terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit serta terkenal sebagai wanita yang tegas dan cerdas. Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy mencoba mempersunting dirinya. Tetapi pilihannya justru jatuh kepada seorang pemuda yang bernama Muhammad, pemuda yang begitu mengenal harga dirinya, yang tidak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan.


Sayyidina Khadijah ra merupakan wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau banyak membantu dan memperteguh tekad Rasulullah saw melaksanakan risalah dakwah. Beliau senantiasa berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami oleh suaminya dalam menjalankan tugas dakwah. Inilah keistimewaan dan keutamaan Khadijah dalam sejarah perjuangan Islam. Beliau adalah sumber kekuatan yang berada di belakang Rasulullah saw.

Pada suatu ketika Rasulullah saw menyatakan, "Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkark, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya ..." Begitulah pernyataan Rasulullah saw tentang kepribadian Khadijah, istrinya. Seorang istri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam.