Loading...

Tiba di Gedung DPR, Massa Teriakkan "Allaahu Akbar! Revolusi, Revolusi...!!!"


Media Indo -  Massa pendemo Aksi Bela Islam II sudah mulai tiba di depan Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (4/11).

Pantauan Kantor Berita Politik RMOL, sekitar dua ratusan pendemo yang menggunakan sepeda motor dan mobil sudah mulai berdatangan.

Mereka meneriakan "Allahuakbar, revolusi-revolusi!"

Kabarnya, ada 5000 pendemo mengarah ke Senayan. 1500 aparat keamanan yang bertugas di Komplek Parlemenpun sudah mulai merapatkan barisan.

Diketahui para pendemo sebenarnya hanya menuntut penegakkan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan klarifikasi langsung dari Presiden Joko Widodo terkait isu melindungi mantan Bupati Belitung Timur itu dari jerat hukum. Khususnya terkait kasus penistaan agama. [rmol]

Tiba di Gedung DPR, Massa Teriakkan "Allaahu Akbar! Revolusi, Revolusi...!!!"


Blog Tausiah -  Massa pendemo Aksi Bela Islam II sudah mulai tiba di depan Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (4/11).

Pantauan Kantor Berita Politik RMOL, sekitar dua ratusan pendemo yang menggunakan sepeda motor dan mobil sudah mulai berdatangan.

Mereka meneriakan "Allahuakbar, revolusi-revolusi!"

Kabarnya, ada 5000 pendemo mengarah ke Senayan. 1500 aparat keamanan yang bertugas di Komplek Parlemenpun sudah mulai merapatkan barisan.

Diketahui para pendemo sebenarnya hanya menuntut penegakkan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan klarifikasi langsung dari Presiden Joko Widodo terkait isu melindungi mantan Bupati Belitung Timur itu dari jerat hukum. Khususnya terkait kasus penistaan agama. [rmol]

Makin Terlihat, Ahok Pegang "Kartu Mati" Jokowi


Media Indo - Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sodik Mujahid menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo yang memilih untuk meninjau pembangunan rel kereta api di Bandara Soekarno Hatta, ketimbang menemui perwakilan massa aksi Bela Islam di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 4/11).

"Demonstran sudah bersusah payah datang dari berbagai pelosok dengan aksi yang damai dan tertib. Aspirasi mereka sangat bagus dan konstitusional yakni penegakkan hukum bagi penista agama dan perusak kerukunan beragama dan pengacau keutuhan NKRI," katanya melalui pesan singkat.

Padahal, tambahnya, Jokowi selama ini sering blusukan mencitrakan diri dengan dan aspriratif kepada rakyat. Sayangnya, saat ini Jokowi sulit menerima aspirasi rakyatnya sendiri.

"Menegaskan bahwa blusukannya hanya pencitraan dan kamuflase Sementara rakyat yang datang ke istana dgn konten aspirasi yang mendasar malah ditinggalkan," terang Sodik.

Karenanya, menurut dia, tindakan Jokowi tersebut menguatkan dugaan orang bahwa Jokowi tidak berani bertindak tegas kepada Ahok karena dia pegang banyak "kartu mati" Jokowi.

"Saya harap Jokowi segara memerintahkan aparat untuk memproses Ahok secepatnya sebagai bentuk menghargai aspirasi masyakat dan untuk membantah dugaan dan pikiran-pikiran seperti tadi, dipegang kartunya oleh Ahok dan juga sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan hukum," demikian Sodik. [rmol]

Makin Terlihat, Ahok Pegang "Kartu Mati" Jokowi


Blog Tausiah - Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sodik Mujahid menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo yang memilih untuk meninjau pembangunan rel kereta api di Bandara Soekarno Hatta, ketimbang menemui perwakilan massa aksi Bela Islam di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 4/11).

"Demonstran sudah bersusah payah datang dari berbagai pelosok dengan aksi yang damai dan tertib. Aspirasi mereka sangat bagus dan konstitusional yakni penegakkan hukum bagi penista agama dan perusak kerukunan beragama dan pengacau keutuhan NKRI," katanya melalui pesan singkat.

Padahal, tambahnya, Jokowi selama ini sering blusukan mencitrakan diri dengan dan aspriratif kepada rakyat. Sayangnya, saat ini Jokowi sulit menerima aspirasi rakyatnya sendiri.

"Menegaskan bahwa blusukannya hanya pencitraan dan kamuflase Sementara rakyat yang datang ke istana dgn konten aspirasi yang mendasar malah ditinggalkan," terang Sodik.

Karenanya, menurut dia, tindakan Jokowi tersebut menguatkan dugaan orang bahwa Jokowi tidak berani bertindak tegas kepada Ahok karena dia pegang banyak "kartu mati" Jokowi.

"Saya harap Jokowi segara memerintahkan aparat untuk memproses Ahok secepatnya sebagai bentuk menghargai aspirasi masyakat dan untuk membantah dugaan dan pikiran-pikiran seperti tadi, dipegang kartunya oleh Ahok dan juga sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan hukum," demikian Sodik. [rmol]

Tak Berani Pulang ke Grogol, Wanita Tionghoa Ini Khawatir Aksi Demo Berujung seperti Kerusuhan 1998


Media Indo - Salah satu perempuan keturunan Tionghoa, Xiao Fei (27), mengaku khawatir dengan aksi 4 November. Dia takut aksi tersebut berbuntut sama dengan kerusuhan 1998.

"Di tahun 1998, keturunan Tionghoa menjadi sasaran utama atas konflik yang terjadi di Tanah Air. Jangankan yang Tionghoa, yang pribumi dan Muslim saja khawatir terjadi kerusuhan dan adanya salah sasaran," ujarnya kepada Republika.co.id, Jumat (4/11).

Sebagai bentuk kekhawatirannya, Xiao Fei memutuskan pulang kerja lebih cepat untuk menghindari kesulitan pulang dan hal-hal negatif yang mungkin terjadi. Dia juga tak berani pulang ke kediamannya di Grogol, Jakarta Barat. "Saya ke rumah keluarga saya di Tangerang, berharap di sana lebih aman," ujarnya. 

Xiao Fei berharap para peserta aksi tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. Menurut dia, tidak ada untungnya bagi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja (Ahok) menistakan agama tertentu. Yang dia tahu, Ahok sudah membangun banyak Masjid di DKI Jakarta, memberikan donasi untuk Masjid dan Mushala, memberikan Kartu Jakarta Pintar (KJP), menaikkan gaji guru mengaji sesuai standard UMR, dan memajukan jam pulang pegawai negeri sipil (PNS) saat Ramadhan agar bisa berbuka puasa bersama keluarga. "Kalau beliau ingin menistakan agama, untuk apa semua itu dilakukan? Dan kalaupun Pak Ahok salah, beliau sudah minta maaf. Bukankah semua agama mengajarkan untuk saling memaafkan?," kata Xiao Fei.

Seperti diberitakan sebelumnya, hari ini peserta aksi memenuhi kawasan Monas dan sekitarnya. Mereka terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan menuntut agar kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok diproses secara hukum seadil-adinya dan bebas intervensi. [rol]

Tak Berani Pulang ke Grogol, Wanita Tionghoa Ini Khawatir Aksi Demo Berujung seperti Kerusuhan 1998


Blog Tausiah - Salah satu perempuan keturunan Tionghoa, Xiao Fei (27), mengaku khawatir dengan aksi 4 November. Dia takut aksi tersebut berbuntut sama dengan kerusuhan 1998.

"Di tahun 1998, keturunan Tionghoa menjadi sasaran utama atas konflik yang terjadi di Tanah Air. Jangankan yang Tionghoa, yang pribumi dan Muslim saja khawatir terjadi kerusuhan dan adanya salah sasaran," ujarnya kepada Republika.co.id, Jumat (4/11).

Sebagai bentuk kekhawatirannya, Xiao Fei memutuskan pulang kerja lebih cepat untuk menghindari kesulitan pulang dan hal-hal negatif yang mungkin terjadi. Dia juga tak berani pulang ke kediamannya di Grogol, Jakarta Barat. "Saya ke rumah keluarga saya di Tangerang, berharap di sana lebih aman," ujarnya. 

Xiao Fei berharap para peserta aksi tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. Menurut dia, tidak ada untungnya bagi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja (Ahok) menistakan agama tertentu. Yang dia tahu, Ahok sudah membangun banyak Masjid di DKI Jakarta, memberikan donasi untuk Masjid dan Mushala, memberikan Kartu Jakarta Pintar (KJP), menaikkan gaji guru mengaji sesuai standard UMR, dan memajukan jam pulang pegawai negeri sipil (PNS) saat Ramadhan agar bisa berbuka puasa bersama keluarga. "Kalau beliau ingin menistakan agama, untuk apa semua itu dilakukan? Dan kalaupun Pak Ahok salah, beliau sudah minta maaf. Bukankah semua agama mengajarkan untuk saling memaafkan?," kata Xiao Fei.

Seperti diberitakan sebelumnya, hari ini peserta aksi memenuhi kawasan Monas dan sekitarnya. Mereka terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan menuntut agar kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok diproses secara hukum seadil-adinya dan bebas intervensi. [rol]

Komitmen Habib Rizieq Demo Damai, Justru Mereka yang Berseberangan yang Ingin Provokasi


Media Indo - Komitmen Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab untuk melakukan aksi Demo Damai II dengan tuntutan agar Ahok segera dihukum, dilakukan dengan segala kekuatan dan kewaspadaan oleh Anggota FPI di lokasi demo.

Sejak mulai bergulir usai Shalat Jumat di Mesjid Istiqlal para peserta demo mulai melakukan longmarch dengan rute Jalan Pejambon, Depan Balaikota dan menuju ke Istana Negara, rupanya cukup memakan waktu yang cukup lama.

Informasi yang didapat pembawaberita.com, dari salah satu panitia jika saat ini jumlah peserta yang telah mendaftar dan mengikuti aksi demo damai mencapai 1,5 juta. Walaupun diawalnya panitia menerima data jumlahnya mencapai 2 juta lebih.

Banyaknya peserta ternyata dimanfaatkan oleh beberapa orang yang terlihat beraksi sedikit berlebihan, dan terkesan malah memptovokasi peserta demo lainnya.

Anggota “pasukan” FPI yang memang sudah disebar dan selalu berkoordinasi dengan anggota FPI lainnya, dan diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan anggota FPI, dengan mudahnya menangkap mereka.

Sekitar pukul 14.00 wib, seorang tersangka yang melakukan tindakan mencurigakan berhasil diborgol oleh anggota FPI dengan kondisi kepala mengeluarkan darah, akibat kena pukul massa yang mengetahui kegiatannya yang mencurigakan.

Tersangka langsung di serahkan kepada “Keamanan” aksi dari FPI, namun tidak diketahui keterangan secara detail pria yang bertubuh kurus ini. Karena terlanjur dibawa oleh FPI untuk diserahkan kepada pihak kepolisian.

Dan tidak berselang lama, sekitar pukul  kembali anggota FPI berhasil menangkap seorang pria, yang dari identitas dirinya diketahui bukan beragama Islam, namun nama pria yang ditangkap menggunakan penutup mulut dan topi ini, juga tidak diberitahu.

“Dengan jumlah sedemikian banyaknya, bukan tidak mungkin para provikator, bahkan pencopet berusaha untuk memanfaatkan kesempatan, saya salut dengan anggota FPI dan peserta lainnya yang cukup tanggap dan tidak terpancing. Mereka sangat menghormati FPI selaku panitia dengan cara menyerahkan kepada mereka,” ujar Abdullah Kelrey Presidium Nusa Ina Institute.

Kegeraman para netizen terhadap dua penyusup yang berhasil ditangkap, meminta agar FPI membuka kedok mereka, agar mereka bisa tahu siapa yang ingin mengacaukan aksi damai mereka.

“Saya pikir demikian, agar para netizen tidak menuduh secara serampangan, namun pastinya mereka yang berseberangan,”ujar Abdullah Kelrey, Presidium Nusa Ina Institute. [pbc]