Loading...
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan

Nah Loh, Sebarkan Hate Speech, Provokator Pembela Ahok Ulin Ni’am Yusron di Laporkan Advokat Solo ke Polisi


Media Indo - Sejumlah advokat Solo melaporkan Ulin Niam Yusron ke polisi terkait tulisannya di media sosial Facebook yang mengatakan bahwa aksi bela Islam II ditujukan untuk menghabisi warga Tionghoa dan melakukan penjarahan seperti kasus 1998.

Awod SH dari Kantor Bantuan Hukum Bulan Bintang (KBH BB) datang ke Mapolres Surakarta Sabtu malam (5/11) didampingi beberapa advokat lainnya seperti Agus Margono, Zaki Mubaroq, Agus Sujiwo, Tri Sapto Pamungkas, S.Sos, Pardiyono dan Widi Nugroho.

Dalam keterangannya kepada Panjimas, Awod mengatakan bahwa kedatangannya ke Mapolresta Surakarta untuk melaporkan tentang dugaan peristiwa pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama ras dan antar golongan (SARA) sebagaimana di maksud dalam pasal 28 ayat (2) UURI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

“Laporan ini terkait dengan tulisan Ulin Ni’am Yusron dalam Facebook pribadinya yang dibuat pada hari Sabtu, 05 November 2016 +/- Pukul 14.00 WIB, yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terkait dengan Aksi Bela Islam Jilid II Jumat (04/11) di Istana Negara Jakarta kemarin. Tulisan ini selain fitnah juga berpotensi menimbulkan konflik horizontal, terlebih dalam suasana sekarang dimana hati umat Islam yang ternodai oleh penistaan agama.” Ujarnya.

Tulisan Ulin Ni’am Yusron dalam Facebooknya antara lain Memperjuangkan Agama tidak dengan menjarah! Ahok dan warga Tionghoa harus dihabisi, itulah politik rasis yang mereka gaungkan dalam berbagai aksi, ceramah dan terbitan mereka. Waspadai 1998 sebagai sekenario busuk #Indonesia Darurat.

Tulisan tersebut disertai dengan video penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat, entah siapa dalam video itu… namun tulisan ini membuat seakan-akan yang bearada dalam video itu adalah peserta kemarin yang sedang melaksanakan Aksi Bela Islam Jilid Ii 04-11-16 di Istana Negara.

Laporan tersebut diterima oleh petugas SPK Polres Surakarta dengan Laporan Polisi Nomor : LP/B/649/XI/2016/JATENG/RESTA SKA.

“Kami berharap bisa segera diproses sebagaimana Undang – undang dan peraturan yang berlaku, agar potensi konflik yang ditimbulkan oleh pihak penebar kebencian dapat direda.” Tambahnya.

Awod menambahkan, hal ini juga dapat menjadikan pelajaran kepada para aktifis, khususnya aktifis dunia maya untuk lebih berhati-hati dalam berekspresi. Ingat dalam kebebasan berekspresi itu terdapat hak orang lain untuk tidak dinista dengan berbagai bentuk ujaran kebencian. Boleh bebas berbicara namun hendaknya memperhatikan norma-norma hukum yang diatur dalam undang – undang.

“Kami sangat menyayangkan tulisan mantan aktifis PRD Solo Ulin Ni’am Yusron yang kini merintis kariernya di jakarta ini, terlebih ia juga yang saya tahu berpengalaman dalam dunia jurnalistik.Kenapa sampai membuat tulisan yang bernada ujaran kebencian (hate speech). Kami tidak ada pilihan selain menyerahkan semua ke pihak berwajib, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.” Pungkasnya.

Dengan adanya Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech), pihak kepolisian bisa dengan cepat memprosesnya, karena hal-hal teknis dan keraguan memproses perkara penebar kebencian sudah terjawab dalam SE KAPOLRI tersebut. (ps)

Nah Loh, Sebarkan Hate Speech, Provokator Pembela Ahok Ulin Ni’am Yusron di Laporkan Advokat Solo ke Polisi


Blog Tausiah - Sejumlah advokat Solo melaporkan Ulin Niam Yusron ke polisi terkait tulisannya di media sosial Facebook yang mengatakan bahwa aksi bela Islam II ditujukan untuk menghabisi warga Tionghoa dan melakukan penjarahan seperti kasus 1998.

Awod SH dari Kantor Bantuan Hukum Bulan Bintang (KBH BB) datang ke Mapolres Surakarta Sabtu malam (5/11) didampingi beberapa advokat lainnya seperti Agus Margono, Zaki Mubaroq, Agus Sujiwo, Tri Sapto Pamungkas, S.Sos, Pardiyono dan Widi Nugroho.

Dalam keterangannya kepada Panjimas, Awod mengatakan bahwa kedatangannya ke Mapolresta Surakarta untuk melaporkan tentang dugaan peristiwa pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama ras dan antar golongan (SARA) sebagaimana di maksud dalam pasal 28 ayat (2) UURI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

“Laporan ini terkait dengan tulisan Ulin Ni’am Yusron dalam Facebook pribadinya yang dibuat pada hari Sabtu, 05 November 2016 +/- Pukul 14.00 WIB, yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terkait dengan Aksi Bela Islam Jilid II Jumat (04/11) di Istana Negara Jakarta kemarin. Tulisan ini selain fitnah juga berpotensi menimbulkan konflik horizontal, terlebih dalam suasana sekarang dimana hati umat Islam yang ternodai oleh penistaan agama.” Ujarnya.

Tulisan Ulin Ni’am Yusron dalam Facebooknya antara lain Memperjuangkan Agama tidak dengan menjarah! Ahok dan warga Tionghoa harus dihabisi, itulah politik rasis yang mereka gaungkan dalam berbagai aksi, ceramah dan terbitan mereka. Waspadai 1998 sebagai sekenario busuk #Indonesia Darurat.

Tulisan tersebut disertai dengan video penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat, entah siapa dalam video itu… namun tulisan ini membuat seakan-akan yang bearada dalam video itu adalah peserta kemarin yang sedang melaksanakan Aksi Bela Islam Jilid Ii 04-11-16 di Istana Negara.

Laporan tersebut diterima oleh petugas SPK Polres Surakarta dengan Laporan Polisi Nomor : LP/B/649/XI/2016/JATENG/RESTA SKA.

“Kami berharap bisa segera diproses sebagaimana Undang – undang dan peraturan yang berlaku, agar potensi konflik yang ditimbulkan oleh pihak penebar kebencian dapat direda.” Tambahnya.

Awod menambahkan, hal ini juga dapat menjadikan pelajaran kepada para aktifis, khususnya aktifis dunia maya untuk lebih berhati-hati dalam berekspresi. Ingat dalam kebebasan berekspresi itu terdapat hak orang lain untuk tidak dinista dengan berbagai bentuk ujaran kebencian. Boleh bebas berbicara namun hendaknya memperhatikan norma-norma hukum yang diatur dalam undang – undang.

“Kami sangat menyayangkan tulisan mantan aktifis PRD Solo Ulin Ni’am Yusron yang kini merintis kariernya di jakarta ini, terlebih ia juga yang saya tahu berpengalaman dalam dunia jurnalistik.Kenapa sampai membuat tulisan yang bernada ujaran kebencian (hate speech). Kami tidak ada pilihan selain menyerahkan semua ke pihak berwajib, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.” Pungkasnya.

Dengan adanya Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech), pihak kepolisian bisa dengan cepat memprosesnya, karena hal-hal teknis dan keraguan memproses perkara penebar kebencian sudah terjawab dalam SE KAPOLRI tersebut. (ps)

Ahok: Buni Yani Sengaja Fitnah Saya, Dia Ingin Buat Gaduh Negara


Media Indo - Calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) siap dihukum jika terbukti bersalah dalam dugaan kasus penistaan agama. Namun Ahok menginginkan hukum juga harus ditegakkan kepada Buni Yani, orang yang pertama kali mengunggah video dirinya saat melontarkan pernyataan terkait Surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Menurut Ahok, ada kesengajaan yang dilakukan oleh Buni Yani ketika memotong ucapannya dan memposting di akun Facebook. Ahok merasa tak ada yang salah dengan pernyataannya, namun Buni Yani-lah aktor yang membuat gaduh karena salah membuat transkrip Ahok terkait Surat Al Maidah 51.

"Terus si Buni Yani sudah mengaku menghilangkan kata 'pakai', itu kan jelas. Kalau kita lihat dari pengakuan Buni Yani itu sudah jelas sesuatu yang dia teledor. Kalau menurut saya dia sengaja fitnah. Sengaja membuat gaduh negara ini. Nah sekarang dia berani enggak seperti saya?" kata Ahok usai acara Jasmev di Jalan Ki Mangunsarkoro No. 69, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Ahok pun menantang Buni Yani menyatakan sikap untuk siap menjalani proses hukum. Ia menambahkan, biarkan kasus ini diselesaikan oleh pihak yang netral dan berwenang.

"Kalau saya membuat gaduh negara ini, saya bersedia ditangkap dan dipenjara. Sekarang si Buni Yani berani enggak? Udah jelas jelas fitnah kok menghilangkan, masa sarjana gitu enggak ngerti kata 'pakai' sama enggak, lihat aja skripsinya dia," ucap Ahok.

Ahok pun siap diperiksa saat dipanggil Bareskrim Polri Senin (7/11) mendatang. Namun Ahok juga meyakini suatu saat Buni Yani juga akan diperiksa polisi.

"Nanti diproses aja di hukum nanti saya kira Bareskrim akan panggil dia untuk jelaskan. Apakah seorang sarjana, peneliti, lulusan Amerika bisa dengan gampang saja (hilangkan kata)," tambahnya.(dtk)

Ahok: Buni Yani Sengaja Fitnah Saya, Dia Ingin Buat Gaduh Negara


Blog Tausiah - Calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) siap dihukum jika terbukti bersalah dalam dugaan kasus penistaan agama. Namun Ahok menginginkan hukum juga harus ditegakkan kepada Buni Yani, orang yang pertama kali mengunggah video dirinya saat melontarkan pernyataan terkait Surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Menurut Ahok, ada kesengajaan yang dilakukan oleh Buni Yani ketika memotong ucapannya dan memposting di akun Facebook. Ahok merasa tak ada yang salah dengan pernyataannya, namun Buni Yani-lah aktor yang membuat gaduh karena salah membuat transkrip Ahok terkait Surat Al Maidah 51.

"Terus si Buni Yani sudah mengaku menghilangkan kata 'pakai', itu kan jelas. Kalau kita lihat dari pengakuan Buni Yani itu sudah jelas sesuatu yang dia teledor. Kalau menurut saya dia sengaja fitnah. Sengaja membuat gaduh negara ini. Nah sekarang dia berani enggak seperti saya?" kata Ahok usai acara Jasmev di Jalan Ki Mangunsarkoro No. 69, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Ahok pun menantang Buni Yani menyatakan sikap untuk siap menjalani proses hukum. Ia menambahkan, biarkan kasus ini diselesaikan oleh pihak yang netral dan berwenang.

"Kalau saya membuat gaduh negara ini, saya bersedia ditangkap dan dipenjara. Sekarang si Buni Yani berani enggak? Udah jelas jelas fitnah kok menghilangkan, masa sarjana gitu enggak ngerti kata 'pakai' sama enggak, lihat aja skripsinya dia," ucap Ahok.

Ahok pun siap diperiksa saat dipanggil Bareskrim Polri Senin (7/11) mendatang. Namun Ahok juga meyakini suatu saat Buni Yani juga akan diperiksa polisi.

"Nanti diproses aja di hukum nanti saya kira Bareskrim akan panggil dia untuk jelaskan. Apakah seorang sarjana, peneliti, lulusan Amerika bisa dengan gampang saja (hilangkan kata)," tambahnya.(dtk)

Tak hanya Ustad Arifin, Syehk Ali Jaber juga Jadi Korban


Media Indo - Tak hanya Ustad Arifin Ilham yang menjadi korban tembakan gas air mata oleh pihak Kepolisian ketika membubarkan massa aksi bela Islam di Istana Negara, Jumat (4/11).

Syekh Ali Jaber juga dikabarkan menjadi korban atas kricuran yang terjadi ketika Kepolisian membubarkan massa aksi bela Islam di Istana.

Sejumlah ulama juga menjadi korban. Dikabarkan sekitar 50 orang lebih menjadi korban. Informasi tersebut dibenarkan Tarmizi Tohir dari Ormas Jabbar Alif saat dikonfirmasi di Rumah Sakit Budi Kemuliaan.

Kebanyakan korban lainnya juga dikabarkan dari luar daerah. “Kebanyakan dari luar kota Jakarta, ada Bandung dan Yogya banyak juga,” dari salah seorang perawat di RS Budi Kemuliaan.

Beberapa luka kebanyakan karena terkena gas air mata dan lemparan benda keras dikepala. Salah satu korban yang dilarikan ke RS Budi Kemuliaan adalah Ustadz tena Arifin Ilham.

“Iya betul ada Arifin Ilham dibawa kesini.” [akt]

Tak hanya Ustad Arifin, Syehk Ali Jaber juga Jadi Korban


Blog Tausiah - Tak hanya Ustad Arifin Ilham yang menjadi korban tembakan gas air mata oleh pihak Kepolisian ketika membubarkan massa aksi bela Islam di Istana Negara, Jumat (4/11).

Syekh Ali Jaber juga dikabarkan menjadi korban atas kricuran yang terjadi ketika Kepolisian membubarkan massa aksi bela Islam di Istana.

Sejumlah ulama juga menjadi korban. Dikabarkan sekitar 50 orang lebih menjadi korban. Informasi tersebut dibenarkan Tarmizi Tohir dari Ormas Jabbar Alif saat dikonfirmasi di Rumah Sakit Budi Kemuliaan.

Kebanyakan korban lainnya juga dikabarkan dari luar daerah. “Kebanyakan dari luar kota Jakarta, ada Bandung dan Yogya banyak juga,” dari salah seorang perawat di RS Budi Kemuliaan.

Beberapa luka kebanyakan karena terkena gas air mata dan lemparan benda keras dikepala. Salah satu korban yang dilarikan ke RS Budi Kemuliaan adalah Ustadz tena Arifin Ilham.

“Iya betul ada Arifin Ilham dibawa kesini.” [akt]

Polisi Tembaki Rombongan Ulama dengan Petasan, Ustad Arifin Ilham Terluka


Media Indo - Aksi bela Islam jutaan umat Islam di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat diwarnai penembakan petasan terhadap rombongan ulama yang dilakukan oleh aparat Kepolisian.

Padahal saat kejadian para alim ulama tengah menyanjungkan Shalawat untuk memotivasi massa bela Islam, yang menuntut dan mendesak Kepolisian untuk segera menangkap Basuki Tjahja Purnama alias Ahok atas dugaan penistaan Al-Quran surat Al-Maidah 51.

Pantauan Aktual.com di lapangan sekitar pukul 18.45 WIB, Polisi sengaja melepaskan tembakan petasan dengan maksud untuk membubarkan massa aksi belas Islam yang sudah melewati batas waktu pelaksanaan unjuk rasa, yang sesuai aturan UU pukul 18.00 WIB harus sudah bubar.

Sambil terus bershalawat, Alim Ulama yang tengah menumpangi mobil komando aksi itu, ditembaki berkali-kali oleh aparat kepolisian.

Atas insiden penembakan petasan terhadap rombongan ulama tersebut, Ust Arifin Ilham dikabarkan mengalami luka-luka.



Ustad Arifin langsung dievakuasi oleh jamaahnya, yang juga dipukul mundur oleh pihak Kepolisian. Terlebih, Kepolisian secara membabi buta menembakan gas air mata kearah para massa bela Islam. Kini Arifin Ilham dibawa ke Rumah Sakit Budi Kemulyaan. [akt]

Polisi Tembaki Rombongan Ulama dengan Petasan, Ustad Arifin Ilham Terluka


Blog Tausiah - Aksi bela Islam jutaan umat Islam di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat diwarnai penembakan petasan terhadap rombongan ulama yang dilakukan oleh aparat Kepolisian.

Padahal saat kejadian para alim ulama tengah menyanjungkan Shalawat untuk memotivasi massa bela Islam, yang menuntut dan mendesak Kepolisian untuk segera menangkap Basuki Tjahja Purnama alias Ahok atas dugaan penistaan Al-Quran surat Al-Maidah 51.

Pantauan Aktual.com di lapangan sekitar pukul 18.45 WIB, Polisi sengaja melepaskan tembakan petasan dengan maksud untuk membubarkan massa aksi belas Islam yang sudah melewati batas waktu pelaksanaan unjuk rasa, yang sesuai aturan UU pukul 18.00 WIB harus sudah bubar.

Sambil terus bershalawat, Alim Ulama yang tengah menumpangi mobil komando aksi itu, ditembaki berkali-kali oleh aparat kepolisian.

Atas insiden penembakan petasan terhadap rombongan ulama tersebut, Ust Arifin Ilham dikabarkan mengalami luka-luka.



Ustad Arifin langsung dievakuasi oleh jamaahnya, yang juga dipukul mundur oleh pihak Kepolisian. Terlebih, Kepolisian secara membabi buta menembakan gas air mata kearah para massa bela Islam. Kini Arifin Ilham dibawa ke Rumah Sakit Budi Kemulyaan. [akt]

Makin Terlihat, Ahok Pegang "Kartu Mati" Jokowi


Media Indo - Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sodik Mujahid menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo yang memilih untuk meninjau pembangunan rel kereta api di Bandara Soekarno Hatta, ketimbang menemui perwakilan massa aksi Bela Islam di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 4/11).

"Demonstran sudah bersusah payah datang dari berbagai pelosok dengan aksi yang damai dan tertib. Aspirasi mereka sangat bagus dan konstitusional yakni penegakkan hukum bagi penista agama dan perusak kerukunan beragama dan pengacau keutuhan NKRI," katanya melalui pesan singkat.

Padahal, tambahnya, Jokowi selama ini sering blusukan mencitrakan diri dengan dan aspriratif kepada rakyat. Sayangnya, saat ini Jokowi sulit menerima aspirasi rakyatnya sendiri.

"Menegaskan bahwa blusukannya hanya pencitraan dan kamuflase Sementara rakyat yang datang ke istana dgn konten aspirasi yang mendasar malah ditinggalkan," terang Sodik.

Karenanya, menurut dia, tindakan Jokowi tersebut menguatkan dugaan orang bahwa Jokowi tidak berani bertindak tegas kepada Ahok karena dia pegang banyak "kartu mati" Jokowi.

"Saya harap Jokowi segara memerintahkan aparat untuk memproses Ahok secepatnya sebagai bentuk menghargai aspirasi masyakat dan untuk membantah dugaan dan pikiran-pikiran seperti tadi, dipegang kartunya oleh Ahok dan juga sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan hukum," demikian Sodik. [rmol]

Makin Terlihat, Ahok Pegang "Kartu Mati" Jokowi


Blog Tausiah - Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sodik Mujahid menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo yang memilih untuk meninjau pembangunan rel kereta api di Bandara Soekarno Hatta, ketimbang menemui perwakilan massa aksi Bela Islam di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 4/11).

"Demonstran sudah bersusah payah datang dari berbagai pelosok dengan aksi yang damai dan tertib. Aspirasi mereka sangat bagus dan konstitusional yakni penegakkan hukum bagi penista agama dan perusak kerukunan beragama dan pengacau keutuhan NKRI," katanya melalui pesan singkat.

Padahal, tambahnya, Jokowi selama ini sering blusukan mencitrakan diri dengan dan aspriratif kepada rakyat. Sayangnya, saat ini Jokowi sulit menerima aspirasi rakyatnya sendiri.

"Menegaskan bahwa blusukannya hanya pencitraan dan kamuflase Sementara rakyat yang datang ke istana dgn konten aspirasi yang mendasar malah ditinggalkan," terang Sodik.

Karenanya, menurut dia, tindakan Jokowi tersebut menguatkan dugaan orang bahwa Jokowi tidak berani bertindak tegas kepada Ahok karena dia pegang banyak "kartu mati" Jokowi.

"Saya harap Jokowi segara memerintahkan aparat untuk memproses Ahok secepatnya sebagai bentuk menghargai aspirasi masyakat dan untuk membantah dugaan dan pikiran-pikiran seperti tadi, dipegang kartunya oleh Ahok dan juga sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan hukum," demikian Sodik. [rmol]

[VIDEO] Pendukung Ahok Dihajar Lantaran Provokasi Massa Demo 4 November


Media Indo - Seorang pria diduga pendukung calon Gunernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok digebuki massa lantaran memprovokasi peserta demo 4 November di dalam kompleks Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (4/11/2016).

Insiden itu bermula ketika pendukung Ahok mengendarai sepeda motor menerobos kerumunan massa demo 4 November yang sedang jalan kaki. Pria bertubuh gempal tersebut lantas bertanya kepada peserta demo dengan nada tinggi

“Demonya di bayar berapa,” ucap pria yang mengenakan seragam klub sepak bola Intermilan itu.

Sejumlah massa yang mendengar ucapan itu langsung menoleh ke arah pendukung Ahok. Mereka bertanya balik kepada pria berkacamata itu.

“Apa maksudmu ngomong gitu? Kamu bilang kami dibayar? Hati-hati kalau ngomong. Kamu pasti pendukung Ahok kan?,” tanya seorang demonstran dengan nada tinggi.

Beberapa pendemo lantas melayangkan pukulan ke arah helm yang dikenakan pria tersebut. Ada juga yang memukulnya dengan gulungan koran.

Pendukung Ahok tak berkutik. Ia tak melawan dan pasrah menjadi bulan-bulanan massa. Seorang pendemo lantas mengambil kunci kontak motor pria itu dan mengancam untuk mebawanya ke polisi.

“Ini provokator. Ayo kita bawa ke polisi,” ucap seorang pendemo lantas membawa pelaku meninggalkan lokasi dengan menggunakan motor.

Saksi mata bernama Ismail (24) yang ditemui pojoksatu di lokasi kejadian mengatakan, pelaku merupakan pendukung Ahok.

“Dia itu pendukung Ahok, orang Kristen. Kayaknya dia sengaja memprovokasi kita supaya emosi. Untung teman-teman yang lain tidak tersulut emosinya,” ucap Ismail.

Berikut video yang sempat diperoleh Pojoksatu.id:

[VIDEO] Pendukung Ahok Dihajar Lantaran Provokasi Massa Demo 4 November


Blog Tausiah - Seorang pria diduga pendukung calon Gunernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok digebuki massa lantaran memprovokasi peserta demo 4 November di dalam kompleks Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (4/11/2016).

Insiden itu bermula ketika pendukung Ahok mengendarai sepeda motor menerobos kerumunan massa demo 4 November yang sedang jalan kaki. Pria bertubuh gempal tersebut lantas bertanya kepada peserta demo dengan nada tinggi

“Demonya di bayar berapa,” ucap pria yang mengenakan seragam klub sepak bola Intermilan itu.

Sejumlah massa yang mendengar ucapan itu langsung menoleh ke arah pendukung Ahok. Mereka bertanya balik kepada pria berkacamata itu.

“Apa maksudmu ngomong gitu? Kamu bilang kami dibayar? Hati-hati kalau ngomong. Kamu pasti pendukung Ahok kan?,” tanya seorang demonstran dengan nada tinggi.

Beberapa pendemo lantas melayangkan pukulan ke arah helm yang dikenakan pria tersebut. Ada juga yang memukulnya dengan gulungan koran.

Pendukung Ahok tak berkutik. Ia tak melawan dan pasrah menjadi bulan-bulanan massa. Seorang pendemo lantas mengambil kunci kontak motor pria itu dan mengancam untuk mebawanya ke polisi.

“Ini provokator. Ayo kita bawa ke polisi,” ucap seorang pendemo lantas membawa pelaku meninggalkan lokasi dengan menggunakan motor.

Saksi mata bernama Ismail (24) yang ditemui pojoksatu di lokasi kejadian mengatakan, pelaku merupakan pendukung Ahok.

“Dia itu pendukung Ahok, orang Kristen. Kayaknya dia sengaja memprovokasi kita supaya emosi. Untung teman-teman yang lain tidak tersulut emosinya,” ucap Ismail.

Berikut video yang sempat diperoleh Pojoksatu.id:

Beredar Foto Ahok Berkumpul Bersama Tim Sukses Saat Demo Berlangsung


Media Indo - Banyak masyarakat bertanya-tanya tentang aktivitas cagub DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat ada demonstrasi yang diikuti lebih 200 ribu orang pada Jumat (4/11). Ahok memang sempat mengunjungi Jalan Muara Karang Elok, Penjaringan, Jakarta Utara pada Jumat ini. Namun, setelah itu ke mana?

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab setelah beredar foto Ahok berkumpul dengan tim suksesnya kala demo terbesar sejak Reformasi 1998 ini terjadi. Hal itu dapat terlihat dengan terpampangnya televisi dengan siaran langsung TVOne. 

post-feature-image

Ahok didampingi anggota Fraksi PDIP DPR Charles Honoris, Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi, dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya. Ada dua foto yang beredar di media sosial dan grup Whatsapp tentang keceriaan mereka kala berkumpul bersama sembari melihat para pendemo melakukan aksinya. Mereka tampak tertawa sembari foto bersama.

Akun Twitter, @indraST1 menulis, "@Yusrilihza_Mhd ketawa mr @yunartowijaya ketika umat islam demo https://t.co/WrLwf12uCC."

Pemilik akun @gasnar menulis, "Ciecie toto nontonnya tvone wkkww @Umar_Hasibuan @panca66 @Abaaah @DennyJA_WORLD @ragilnugroho1 https://t.co/XqCR2upRRq."

Tahu fotonya bersama Ahok menjadi bahan pembicaraan di lini masa, Yunarto akhirnya memberi respon. "Kemarin foto sama AHY salah,  ada foto sama ahok kesebar salah juga... :))," katanya melalui @yunartowijaya. [rol]

Beredar Foto Ahok Berkumpul Bersama Tim Sukses Saat Demo Berlangsung


Blog Tausiah - Banyak masyarakat bertanya-tanya tentang aktivitas cagub DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat ada demonstrasi yang diikuti lebih 200 ribu orang pada Jumat (4/11). Ahok memang sempat mengunjungi Jalan Muara Karang Elok, Penjaringan, Jakarta Utara pada Jumat ini. Namun, setelah itu ke mana?

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab setelah beredar foto Ahok berkumpul dengan tim suksesnya kala demo terbesar sejak Reformasi 1998 ini terjadi. Hal itu dapat terlihat dengan terpampangnya televisi dengan siaran langsung TVOne. 

post-feature-image

Ahok didampingi anggota Fraksi PDIP DPR Charles Honoris, Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi, dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya. Ada dua foto yang beredar di media sosial dan grup Whatsapp tentang keceriaan mereka kala berkumpul bersama sembari melihat para pendemo melakukan aksinya. Mereka tampak tertawa sembari foto bersama.

Akun Twitter, @indraST1 menulis, "@Yusrilihza_Mhd ketawa mr @yunartowijaya ketika umat islam demo https://t.co/WrLwf12uCC."

Pemilik akun @gasnar menulis, "Ciecie toto nontonnya tvone wkkww @Umar_Hasibuan @panca66 @Abaaah @DennyJA_WORLD @ragilnugroho1 https://t.co/XqCR2upRRq."

Tahu fotonya bersama Ahok menjadi bahan pembicaraan di lini masa, Yunarto akhirnya memberi respon. "Kemarin foto sama AHY salah,  ada foto sama ahok kesebar salah juga... :))," katanya melalui @yunartowijaya. [rol]

Hasil Mediasi Lindungi Ahok, Massa Teriakkan Revolusi Turunkan Jokowi, "Kita Siap Revolusi?!!!"


Media Indo - Aksi demonstrasi bela Islam II yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk ditahan karena menistakan Al Quran mulai memanas sekitar pukul 19.00-an.

Hal ini terjadi setelah hasil tim mediasi yang masuk ke Istana Negara yang semula berharap bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi), malah ketemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Hasil mediasi ternyata sangat tak memuaskan, sehingga sempat memantik emosi para demonstran, kendati kemudian ditenangkan kembali.

“Saya akan bacakan hasil dari pertemuan itu. Ini adalah tim mediasi ya bukan delegasi para ulama,” cetus Ketua Front Pembela Islam (GPI), Habib Riziq membacakan hasil mediaso di tengah kerumunan massa demonatran di depan Istana Negara, Jumat (4/11).

Hasil mediasi itu, kata dia, ada dua keputusan. Pertama, sampai saat ini Presiden Jokowi belum mau menerima delegasi demonstran untuk ketemu langsing.

Pernyataan ini langsung memanving emosi demonstran. Mereka yang semula duduk tenang langsung bangun dan teriak tanda ketidaksukaannya.

“Ini saya sampaikan amanat secara jujur ya,” tegasnya dengan langsung dijawab takbir oleh para demonstran.

Jokowi sendiri memang diketahui malah menggilkan Istana untuk menuju Bandara Soekarno Hatta bersama Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perhubungan.

“Hasil kedua, Wapres menawarkan dan menjamin agar kita memberi waktu kepada Kepolisian selama dua minggu untuk menuntaskan kasus Ahok,” tandasnya.

Hasil kedua ini semakin memancing emosi para demonstran. Mereka secara spontan teriak usir Ahok dan bahkan turunkan Jokowi. Bahkan satu kendaraan panser milik kepolisian yang semula sudah diduduki demonstran digebrak-gebrak dan dipukul-pukul.

“Apakah kita siap revolusi? Tapi ingat, kita tak boleh ada darah yang tertumpah,” tegas Riziq.

“Wahai para Kapolri dan Panglima TNI, segera ambil langkah untuk selamatkan negara jangan mengorbankan bangsa dam negara hanya seorang Ahok yang penista agama Islam,” cetua dia.

Menurutnya, TNI tidak boleh diadu dengan rakyat gara-gara Ahok. “Polri dan TNI harus bersatu dengan rakyat,” pungaksnya. [akt]

Hasil Mediasi Lindungi Ahok, Massa Teriakkan Revolusi Turunkan Jokowi, "Kita Siap Revolusi?!!!"


Blog Tausiah - Aksi demonstrasi bela Islam II yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk ditahan karena menistakan Al Quran mulai memanas sekitar pukul 19.00-an.

Hal ini terjadi setelah hasil tim mediasi yang masuk ke Istana Negara yang semula berharap bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi), malah ketemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Hasil mediasi ternyata sangat tak memuaskan, sehingga sempat memantik emosi para demonstran, kendati kemudian ditenangkan kembali.

“Saya akan bacakan hasil dari pertemuan itu. Ini adalah tim mediasi ya bukan delegasi para ulama,” cetus Ketua Front Pembela Islam (GPI), Habib Riziq membacakan hasil mediaso di tengah kerumunan massa demonatran di depan Istana Negara, Jumat (4/11).

Hasil mediasi itu, kata dia, ada dua keputusan. Pertama, sampai saat ini Presiden Jokowi belum mau menerima delegasi demonstran untuk ketemu langsing.

Pernyataan ini langsung memanving emosi demonstran. Mereka yang semula duduk tenang langsung bangun dan teriak tanda ketidaksukaannya.

“Ini saya sampaikan amanat secara jujur ya,” tegasnya dengan langsung dijawab takbir oleh para demonstran.

Jokowi sendiri memang diketahui malah menggilkan Istana untuk menuju Bandara Soekarno Hatta bersama Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perhubungan.

“Hasil kedua, Wapres menawarkan dan menjamin agar kita memberi waktu kepada Kepolisian selama dua minggu untuk menuntaskan kasus Ahok,” tandasnya.

Hasil kedua ini semakin memancing emosi para demonstran. Mereka secara spontan teriak usir Ahok dan bahkan turunkan Jokowi. Bahkan satu kendaraan panser milik kepolisian yang semula sudah diduduki demonstran digebrak-gebrak dan dipukul-pukul.

“Apakah kita siap revolusi? Tapi ingat, kita tak boleh ada darah yang tertumpah,” tegas Riziq.

“Wahai para Kapolri dan Panglima TNI, segera ambil langkah untuk selamatkan negara jangan mengorbankan bangsa dam negara hanya seorang Ahok yang penista agama Islam,” cetua dia.

Menurutnya, TNI tidak boleh diadu dengan rakyat gara-gara Ahok. “Polri dan TNI harus bersatu dengan rakyat,” pungaksnya. [akt]

Demo Depan Istana Ricuh, Polisi Tembakan Gas Air Mata, Mahasiswa Melawan!


Media Indo - Aparat Kepolisian terlibat bentrok dengan sejumlah massa aksi dari Himpunan Mahasiswa Islam dan elemen mahasiswa, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, beberapa saat tadi (Jumat, 4/11). Bentrok pecah sekitar pukul 19.35 WIB tadi.

Kejadiannya berawal saat massa HMI mencoba untuk menerobos barikade Polisi yang berjaga. Polisi sempat terdesak dan mundur. Merasa tidak mau kalah, Polisi lalu menembakan gas air mata ke arah massa HMI.

Massa HMI dan sejumlah elemen mahasiswa lain itu berniat untuk jalan ke arah Istana Negara, menembus ring 1 pengamanan istana. Namun aksi mereka terus digagalkan dengan gas air mata yang ditembakan polisi. 

Wartawan Kantor Berita Politik RMOL yang ada di lokasi mengabarkan, bentrok masih terjadi. Dari amatannya, ada salah seorang wartawan media nasional yang terjebak di kerumunan aksi HMI dan elemen mahasiswa. 

Belum diketahui secara pasti korban dari pihak kepolisian maupun mahasiswa. Kami akan terus melaporkan perkembangan langsung dari lokasi. [rmol]

Demo Depan Istana Ricuh, Polisi Tembakan Gas Air Mata, Mahasiswa Melawan!


Blog Tausiah - Aparat Kepolisian terlibat bentrok dengan sejumlah massa aksi dari Himpunan Mahasiswa Islam dan elemen mahasiswa, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, beberapa saat tadi (Jumat, 4/11). Bentrok pecah sekitar pukul 19.35 WIB tadi.

Kejadiannya berawal saat massa HMI mencoba untuk menerobos barikade Polisi yang berjaga. Polisi sempat terdesak dan mundur. Merasa tidak mau kalah, Polisi lalu menembakan gas air mata ke arah massa HMI.

Massa HMI dan sejumlah elemen mahasiswa lain itu berniat untuk jalan ke arah Istana Negara, menembus ring 1 pengamanan istana. Namun aksi mereka terus digagalkan dengan gas air mata yang ditembakan polisi. 

Wartawan Kantor Berita Politik RMOL yang ada di lokasi mengabarkan, bentrok masih terjadi. Dari amatannya, ada salah seorang wartawan media nasional yang terjebak di kerumunan aksi HMI dan elemen mahasiswa. 

Belum diketahui secara pasti korban dari pihak kepolisian maupun mahasiswa. Kami akan terus melaporkan perkembangan langsung dari lokasi. [rmol]

[FOTO] Ahok Asyik Selfie Sambil Nonton Siaran Demo 4 November


Media Indo - Beredar foto Ahok selfie bersama rekan-rekannya dilatarbelakangi siaran TV peristiwa demo akbar 4 November 2016.

Tidak diketahui dimana lokasi foto tersebut diambil.

Netizen yang melihat foto ini megungkapkan kekesalan.

"Dasar tak tau diri! Didemo banyak orang Ahok malah selfie di depan tv yang meliput demo. Manusia apa setan dia ini?", ungkap salah seorang netizen.

Baca selanjutnya: Beredar Foto Ahok Berkumpul Bersama Tim Sukses Saat Demo Berlangsung

[FOTO] Ahok Asyik Selfie Sambil Nonton Siaran Demo 4 November


Blog Tausiah - Beredar foto Ahok selfie bersama rekan-rekannya dilatarbelakangi siaran TV peristiwa demo akbar 4 November 2016.

Tidak diketahui dimana lokasi foto tersebut diambil.

Netizen yang melihat foto ini megungkapkan kekesalan.

"Dasar tak tau diri! Didemo banyak orang Ahok malah selfie di depan tv yang meliput demo. Manusia apa setan dia ini?", ungkap salah seorang netizen.

Baca selanjutnya: Beredar Foto Ahok Berkumpul Bersama Tim Sukses Saat Demo Berlangsung