Loading...

Dua Truk Polisi Dibakar Massa di Depan Istana


Media Indo - Massa demo di depan Istana Merdeka semakin ricuh. Massa bahkan membakar dua unit truk polisi di depan Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara.

Pantauan di lokasi, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (4/11/2016), pukul 20.00 WIB, truk tersebut dibakar oleh massa.

Truk tersebut bertuliskan polisi dan diketahui milik satuan Brimob Polda Metro Jaya. Api masih membumbung tinggi di lokasi.

Dentuman dari tembakan gas air mata juga semakin sering. Situasi di lokasi yang tadinya kondusif kini mencekam.(dtk)

Dua Truk Polisi Dibakar Massa di Depan Istana


Blog Tausiah - Massa demo di depan Istana Merdeka semakin ricuh. Massa bahkan membakar dua unit truk polisi di depan Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara.

Pantauan di lokasi, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (4/11/2016), pukul 20.00 WIB, truk tersebut dibakar oleh massa.

Truk tersebut bertuliskan polisi dan diketahui milik satuan Brimob Polda Metro Jaya. Api masih membumbung tinggi di lokasi.

Dentuman dari tembakan gas air mata juga semakin sering. Situasi di lokasi yang tadinya kondusif kini mencekam.(dtk)

Jutaan Massa Aksi Pecah, Depan Istana Diselimuti Kabut Asap


Media Indo - Kericuhan pecah pada saat massa aksi dibubarkan paksa oleh Kepolisian di depan Istana Negara. Hingga pukul 19:52 Wib terus berlangsung tembakan water Canon serta gas airmata.

Terlihat asap mengepul dengan kekisruhan yang luar biasa disertai lempar-lemparan. Pada awalnya suasana memanas berasal dari barisan massa aksi Himpunan Mahasiswa Islam di Jl MH Thamrin sebelah ruas kiri. Massa mencoba merangsek masuk menerobos barisan polisi.

Dorong dorongan serta aksi lempar-lemparan tak terbendung. Suasana seperti ini diperkirakan berlangsung sekitar 30 menit. Kemudia barisan polisi nyaris jebol. Seketika itu disambut dengan dentuman dari tembakan gas airmata secara beruntun. Alhasil kericuhan semakin menjadi-jadi.

Setelah itu ditimpal tebakan water canon yang menyapu jutaan masa aksi. Melihat keonaran serta adanya dentuman suara tembakan gas air mata, massa dari sayap Istana, tepatnya di Jl Majapahit dan Abdul Muis turut bereaksi.

Namun disikapi oleh Kepolisian yakni denga tembakan gas airmata. Hingga saat ini suasana di depan Istana negara diselimuti asap. Dan aksi lempar-lemparan terus berlangsung. [akt]

Jutaan Massa Aksi Pecah, Depan Istana Diselimuti Kabut Asap


Blog Tausiah - Kericuhan pecah pada saat massa aksi dibubarkan paksa oleh Kepolisian di depan Istana Negara. Hingga pukul 19:52 Wib terus berlangsung tembakan water Canon serta gas airmata.

Terlihat asap mengepul dengan kekisruhan yang luar biasa disertai lempar-lemparan. Pada awalnya suasana memanas berasal dari barisan massa aksi Himpunan Mahasiswa Islam di Jl MH Thamrin sebelah ruas kiri. Massa mencoba merangsek masuk menerobos barisan polisi.

Dorong dorongan serta aksi lempar-lemparan tak terbendung. Suasana seperti ini diperkirakan berlangsung sekitar 30 menit. Kemudia barisan polisi nyaris jebol. Seketika itu disambut dengan dentuman dari tembakan gas airmata secara beruntun. Alhasil kericuhan semakin menjadi-jadi.

Setelah itu ditimpal tebakan water canon yang menyapu jutaan masa aksi. Melihat keonaran serta adanya dentuman suara tembakan gas air mata, massa dari sayap Istana, tepatnya di Jl Majapahit dan Abdul Muis turut bereaksi.

Namun disikapi oleh Kepolisian yakni denga tembakan gas airmata. Hingga saat ini suasana di depan Istana negara diselimuti asap. Dan aksi lempar-lemparan terus berlangsung. [akt]

Dimana Joko Bersembunyi???


Oleh: Djoko Edhi
Penulis adalah mantan anggota Komisi III DPR RI  

SELAMAT untuk Kapolri dan Panglima TNI telah menjaga bangsa sehingga demo 4 November 2016 berjalan damai. Apakah sukses? Tentu tidak. Sukses dan damai adalah terminologi dekonstruksi semantik.

Sukses 4 November itu hasil prosesi semantik, menunjukkan begitu tak berdayanya rakyat. Silent majority seperti semut yang untuk sekadar bicara tak mampu. Saya lihat demonstran 4 November itu membawa Bendera Merah Putih. Tak didominasi bendera FPI. Tak ada HTI. Tak ada bendera Muhammadiyah, atau NU yang sudah resmi melarang atributnya dipakai. Ada sekelebatan bendera bertulis La Ilaha Illahloh, tapi bukan yang di bendera ISIS. Tak ada saya lihat bendera Al Nusra atau simbol kaum terorisme.

Saya membaca semiotikanya, silent majority yang mencintai Tuhannya, Allah Subhanahu Wataala. Kerumunan orang-orang yang menghormati Al Quran Karim. Mereka yang kemarin difitnah sebagai ditunggangi, sebagai radikalis, etcetera.

Saya lihat mereka adalah bangsa. Semua kulit berwarna, seperti kulit saya. Semua warga negara Republik Indonesia asli yang menyebut diri bangsa. Tak ada di sana warga negara Indonesia berbangsa China.

Sebagian dari mereka datang dari luar Jakarta yang difitnah dibiayai pihak tertentu. Faktanya, banyak yang menjual hand phone-nya untuk ongkos ke Jakarta. Tega-teganya anda memfitnah orang-orang malang itu, silent majority yang sekadar untuk bicara tak mampu. Kini malah Presiden Jokowi tak bersedia menemui mereka. 

Mereka menjual hand phone untuk sekadar bisa menyampaikan aspirasinya, malah tak kesampaian. Jokowi tak nongol. Yang nongol Wiranto, Menkopolhukam, Wapres Jusuf Kalla. Tentu saja ditolak. Mereka tahu itu kiat Mukidi.

Saya peroleh determinisme terminologis bangsa dan warga negara kemarin dari Bang Imran dalam seminar 'Indonesia Hari ini: Kami Melawan' di Taman Ismail Marzuki, sebuah catatan tentang Ahok dari Mochtar Efendy Harahap dan Ramly Kamidin. 

Naskah proklamasi menyebut kalimat 'Atas nama bangsa Indonesia'. Bukan atas nama warga negara Indonesia. Siapa bangsa? Saya melihat demo 4 November itu atas nama bangsa Indonesia, bukan atas nama warga negara Republik Indonesia. Mereka tak sekadar warga negara yang siapapun bisa, melainkan bangsa Indonesia. Tak bisa anda mengajari mereka berbangsa. [rmol]

Hasil Mediasi Lindungi Ahok, Massa Teriakkan Revolusi Turunkan Jokowi, "Kita Siap Revolusi?!!!"


Media Indo - Aksi demonstrasi bela Islam II yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk ditahan karena menistakan Al Quran mulai memanas sekitar pukul 19.00-an.

Hal ini terjadi setelah hasil tim mediasi yang masuk ke Istana Negara yang semula berharap bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi), malah ketemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Hasil mediasi ternyata sangat tak memuaskan, sehingga sempat memantik emosi para demonstran, kendati kemudian ditenangkan kembali.

“Saya akan bacakan hasil dari pertemuan itu. Ini adalah tim mediasi ya bukan delegasi para ulama,” cetus Ketua Front Pembela Islam (GPI), Habib Riziq membacakan hasil mediaso di tengah kerumunan massa demonatran di depan Istana Negara, Jumat (4/11).

Hasil mediasi itu, kata dia, ada dua keputusan. Pertama, sampai saat ini Presiden Jokowi belum mau menerima delegasi demonstran untuk ketemu langsing.

Pernyataan ini langsung memanving emosi demonstran. Mereka yang semula duduk tenang langsung bangun dan teriak tanda ketidaksukaannya.

“Ini saya sampaikan amanat secara jujur ya,” tegasnya dengan langsung dijawab takbir oleh para demonstran.

Jokowi sendiri memang diketahui malah menggilkan Istana untuk menuju Bandara Soekarno Hatta bersama Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perhubungan.

“Hasil kedua, Wapres menawarkan dan menjamin agar kita memberi waktu kepada Kepolisian selama dua minggu untuk menuntaskan kasus Ahok,” tandasnya.

Hasil kedua ini semakin memancing emosi para demonstran. Mereka secara spontan teriak usir Ahok dan bahkan turunkan Jokowi. Bahkan satu kendaraan panser milik kepolisian yang semula sudah diduduki demonstran digebrak-gebrak dan dipukul-pukul.

“Apakah kita siap revolusi? Tapi ingat, kita tak boleh ada darah yang tertumpah,” tegas Riziq.

“Wahai para Kapolri dan Panglima TNI, segera ambil langkah untuk selamatkan negara jangan mengorbankan bangsa dam negara hanya seorang Ahok yang penista agama Islam,” cetua dia.

Menurutnya, TNI tidak boleh diadu dengan rakyat gara-gara Ahok. “Polri dan TNI harus bersatu dengan rakyat,” pungaksnya. [akt]

Hasil Mediasi Lindungi Ahok, Massa Teriakkan Revolusi Turunkan Jokowi, "Kita Siap Revolusi?!!!"


Blog Tausiah - Aksi demonstrasi bela Islam II yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk ditahan karena menistakan Al Quran mulai memanas sekitar pukul 19.00-an.

Hal ini terjadi setelah hasil tim mediasi yang masuk ke Istana Negara yang semula berharap bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi), malah ketemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Hasil mediasi ternyata sangat tak memuaskan, sehingga sempat memantik emosi para demonstran, kendati kemudian ditenangkan kembali.

“Saya akan bacakan hasil dari pertemuan itu. Ini adalah tim mediasi ya bukan delegasi para ulama,” cetus Ketua Front Pembela Islam (GPI), Habib Riziq membacakan hasil mediaso di tengah kerumunan massa demonatran di depan Istana Negara, Jumat (4/11).

Hasil mediasi itu, kata dia, ada dua keputusan. Pertama, sampai saat ini Presiden Jokowi belum mau menerima delegasi demonstran untuk ketemu langsing.

Pernyataan ini langsung memanving emosi demonstran. Mereka yang semula duduk tenang langsung bangun dan teriak tanda ketidaksukaannya.

“Ini saya sampaikan amanat secara jujur ya,” tegasnya dengan langsung dijawab takbir oleh para demonstran.

Jokowi sendiri memang diketahui malah menggilkan Istana untuk menuju Bandara Soekarno Hatta bersama Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perhubungan.

“Hasil kedua, Wapres menawarkan dan menjamin agar kita memberi waktu kepada Kepolisian selama dua minggu untuk menuntaskan kasus Ahok,” tandasnya.

Hasil kedua ini semakin memancing emosi para demonstran. Mereka secara spontan teriak usir Ahok dan bahkan turunkan Jokowi. Bahkan satu kendaraan panser milik kepolisian yang semula sudah diduduki demonstran digebrak-gebrak dan dipukul-pukul.

“Apakah kita siap revolusi? Tapi ingat, kita tak boleh ada darah yang tertumpah,” tegas Riziq.

“Wahai para Kapolri dan Panglima TNI, segera ambil langkah untuk selamatkan negara jangan mengorbankan bangsa dam negara hanya seorang Ahok yang penista agama Islam,” cetua dia.

Menurutnya, TNI tidak boleh diadu dengan rakyat gara-gara Ahok. “Polri dan TNI harus bersatu dengan rakyat,” pungaksnya. [akt]