Loading...

PII : Tembakan Gas Air Mata, Awal Pemicu Kemarahan Massa.

PII : Tembakan Gas Air Mata, Awal Pemicu Kemarahan Massa.

Media-Indo INFO - Berada bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di barisan terdepan massa aksi damai, Pelajar islam Indonesia (PII) mengatakan aksi 4 November berlangsung damai sejak Jumat pagi. HMI, PII, dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia sudah mulai berdemonstrasi sekitar pukul 10.50 WIB. "Tidak ada niatan untuk membuat kericuhan," kata Ketua umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Munawar Khalil.

Keadaan berbalik cepat setelah pukul 18.00 WIB. Massa belum membubarkan diri, memutuskan bertahan untuk menunggu pernyataan presiden. "Saat itu memang terjadi dorong-dorongan kecil antara sejumlah peserta aksi," ujarnya.

Munawar menyayangkan tindakan berlebihan dari aparat kepolisian terhadap dorong-dorongan kecil tersebut. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kejadian itu.  "Saya saksi mata yang terdepan. Kami biasa saja dengan polisi, tapi begitu waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB, polisi menyikapi ricuh minor itu dengan menembakkan gas air mata ke arah seluruh demonstran," ungkap Munawar.

Tindakan polisi tersebut, menurut Munawar justru menjadi pemicu munculnya reaksi massa terhadap aparat keamanan. "Yang dorong-dorongan hanya segelintir, tetapi polisi menyamaratakan perlakuannya dengan menembakkan gas air mata ke seluruh demonstran," katan Munawar saat konferensi pers bersama HMI, Sabtu (5/11) di Jakarta.

Munawar berpendapat reaksi massa tak akan terjadi andaikan polisi tidak menembakkan gas air mata. "Gas air mata itu penyebab, pemicunya. Ini yang saya sayangkan, Gas air mata itu mengarah ke mobil komando."

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan pembubaran massa terpaksa dilakukan setelah ada upaya penyerangan terhadap aparat kepolisian dengan bambu runcing. Upaya provokasi tersebut disusul dengan pelemparan botol, kayu, batu, dan benda-benda berbahaya lainnya ke arah petugas. "Sekitar pukul 19.30 WIB diputuskan langkah pembubaran dengan menembakkan gas air mata. Bunyi pelontarnya seperti suara ledakan senjata (api)," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar.[republika]

PII : Tembakan Gas Air Mata, Awal Pemicu Kemarahan Massa.

PII : Tembakan Gas Air Mata, Awal Pemicu Kemarahan Massa.

POSMETRO INFO - Berada bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di barisan terdepan massa aksi damai, Pelajar islam Indonesia (PII) mengatakan aksi 4 November berlangsung damai sejak Jumat pagi. HMI, PII, dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia sudah mulai berdemonstrasi sekitar pukul 10.50 WIB. "Tidak ada niatan untuk membuat kericuhan," kata Ketua umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Munawar Khalil.

Keadaan berbalik cepat setelah pukul 18.00 WIB. Massa belum membubarkan diri, memutuskan bertahan untuk menunggu pernyataan presiden. "Saat itu memang terjadi dorong-dorongan kecil antara sejumlah peserta aksi," ujarnya.

Munawar menyayangkan tindakan berlebihan dari aparat kepolisian terhadap dorong-dorongan kecil tersebut. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kejadian itu.  "Saya saksi mata yang terdepan. Kami biasa saja dengan polisi, tapi begitu waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB, polisi menyikapi ricuh minor itu dengan menembakkan gas air mata ke arah seluruh demonstran," ungkap Munawar.

Tindakan polisi tersebut, menurut Munawar justru menjadi pemicu munculnya reaksi massa terhadap aparat keamanan. "Yang dorong-dorongan hanya segelintir, tetapi polisi menyamaratakan perlakuannya dengan menembakkan gas air mata ke seluruh demonstran," katan Munawar saat konferensi pers bersama HMI, Sabtu (5/11) di Jakarta.

Munawar berpendapat reaksi massa tak akan terjadi andaikan polisi tidak menembakkan gas air mata. "Gas air mata itu penyebab, pemicunya. Ini yang saya sayangkan, Gas air mata itu mengarah ke mobil komando."

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan pembubaran massa terpaksa dilakukan setelah ada upaya penyerangan terhadap aparat kepolisian dengan bambu runcing. Upaya provokasi tersebut disusul dengan pelemparan botol, kayu, batu, dan benda-benda berbahaya lainnya ke arah petugas. "Sekitar pukul 19.30 WIB diputuskan langkah pembubaran dengan menembakkan gas air mata. Bunyi pelontarnya seperti suara ledakan senjata (api)," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar.[republika]

Kapolri : Gelar Perkara Kasus Ahok Akan Digelar Terbuka dan Disiarkan Live


Media-Indo INFO - Polri akan melakukan gelar perkara secara terbuka terhadap terlapor dugaan kasus penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok). Sebagai bentuk transparansi, Polri ingin mengundang berbagai pihak termasuk kejaksaan, Kompolnas dan media saat gelar perkara.

"Kita kan hadirkan juga saudara terlapor saudara Basuki Tjahaja Purnama, kalau yang bersangkutan ingin hadir dipersilakan tetapi kalau tidak ingin hadir bisa diwakili penasihat hukum," kata kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Polri, kata Tito, juga akan mendengarkan masukan dari beberapa pihak terkait untuk membantu penyelidikan kasus Ahok ini. Pihak-pihak yang akan diminta masukan di antaranya Kejaksaan, Kompolnas dan Komisi III DPR RI.

"Nanti selain penyidikan kita juga akan mengundang pihak eksternal yaitu dari kejaksaan dan tim dari Kompolnas sebagai pengawas kepolisian. Bahkan bisa juga kita akan mengundang, kami akan konsultasi dengan ketua komisi III (DPR RI, -red) yaitu tim dari komisi III beberapa orang yang ditugaskan untuk mengawasi proses kasus ini," ungkapnya.

"Ini dengan gelar perkara ini dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak-pihak terkait kemudian kita buka juga kepada publik yaitu melalui media secara live," imbuhnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa kasus Ahok harus diselesaikan dalam waktu dua pekan secara tegas. "Kesimpulannya adalah soal saudara Ahok, kita akan tegakkan hukum, laksanakan dengan hukum yang tegas dan diselesaikan dalam dua minggu," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (4/11/2016).

Dikatakan JK, pelaksanaan hukum yang cepat itu harus berjalan sesuai aturan. "Sehingga semua berjalan sesuai aturan hukum yang tegas," katanya.[detik]

Kapolri : Gelar Perkara Kasus Ahok Akan Digelar Terbuka dan Disiarkan Live


POSMETRO INFO - Polri akan melakukan gelar perkara secara terbuka terhadap terlapor dugaan kasus penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok). Sebagai bentuk transparansi, Polri ingin mengundang berbagai pihak termasuk kejaksaan, Kompolnas dan media saat gelar perkara.

"Kita kan hadirkan juga saudara terlapor saudara Basuki Tjahaja Purnama, kalau yang bersangkutan ingin hadir dipersilakan tetapi kalau tidak ingin hadir bisa diwakili penasihat hukum," kata kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Polri, kata Tito, juga akan mendengarkan masukan dari beberapa pihak terkait untuk membantu penyelidikan kasus Ahok ini. Pihak-pihak yang akan diminta masukan di antaranya Kejaksaan, Kompolnas dan Komisi III DPR RI.

"Nanti selain penyidikan kita juga akan mengundang pihak eksternal yaitu dari kejaksaan dan tim dari Kompolnas sebagai pengawas kepolisian. Bahkan bisa juga kita akan mengundang, kami akan konsultasi dengan ketua komisi III (DPR RI, -red) yaitu tim dari komisi III beberapa orang yang ditugaskan untuk mengawasi proses kasus ini," ungkapnya.

"Ini dengan gelar perkara ini dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak-pihak terkait kemudian kita buka juga kepada publik yaitu melalui media secara live," imbuhnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa kasus Ahok harus diselesaikan dalam waktu dua pekan secara tegas. "Kesimpulannya adalah soal saudara Ahok, kita akan tegakkan hukum, laksanakan dengan hukum yang tegas dan diselesaikan dalam dua minggu," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (4/11/2016).

Dikatakan JK, pelaksanaan hukum yang cepat itu harus berjalan sesuai aturan. "Sehingga semua berjalan sesuai aturan hukum yang tegas," katanya.[detik]

Digantikan JK, Guru Besar Universitas Pertahanan : "Jokowi Sudah Lelah Dibebani Ahok"

Guru Besar Universitas Pertahanan : "Jokowi Sudah Lelah Dibebani Ahok"

Media-Indo INFO - Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said melihat Presiden Joko Widodo sudah lelah dibebani oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sehingga menyerahkan penerimaan pihak demonstrasi 4 November kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Kesan saya, tekanan kepada Jokowi gara-gara Ahok begitu kuat, sehingga Jokowi sudah cape (lelah) membela Ahok," ujar Salim dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (5/11/2016).

Pemeriksaan Ahok terkait dugaan penistaan agama akan dilakukan dalam waktu dua minggu, kata Salim, penyataan itu bukan keluar dari Jokowi melainkan Jusuf Kalla didampingi pejabat-pejabat pemerintahan.

"‎Sebagai orang yang mempelajari politik, Jokowi ini melepas tangan atau kata lain cuci tangan. Ini nasi kamu (Ahok), kamu terlalu banyak mintanya, saya (Jokowi) capek," ujar Salim.

Menurut Salim, agenda Jokowi menjalankan roda pemerintahan bukan hanya di Jakarta tetapi seluruh wilayah lainnya di Indonesia, bahkan program yang berjalan di Ibukota saat ini merupakan ide Jokowi.

‎"Apa yang dikerjakan Ahok itu ide Jokowi, Ahok banyak musuh jadi cape Jokowi. Ahok itu baik, cuman mulutnya aja," ucap Salim.[tribun]

Digantikan JK, Guru Besar Universitas Pertahanan : "Jokowi Sudah Lelah Dibebani Ahok"

Guru Besar Universitas Pertahanan : "Jokowi Sudah Lelah Dibebani Ahok"

POSMETRO INFO - Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said melihat Presiden Joko Widodo sudah lelah dibebani oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sehingga menyerahkan penerimaan pihak demonstrasi 4 November kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Kesan saya, tekanan kepada Jokowi gara-gara Ahok begitu kuat, sehingga Jokowi sudah cape (lelah) membela Ahok," ujar Salim dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (5/11/2016).

Pemeriksaan Ahok terkait dugaan penistaan agama akan dilakukan dalam waktu dua minggu, kata Salim, penyataan itu bukan keluar dari Jokowi melainkan Jusuf Kalla didampingi pejabat-pejabat pemerintahan.

"‎Sebagai orang yang mempelajari politik, Jokowi ini melepas tangan atau kata lain cuci tangan. Ini nasi kamu (Ahok), kamu terlalu banyak mintanya, saya (Jokowi) capek," ujar Salim.

Menurut Salim, agenda Jokowi menjalankan roda pemerintahan bukan hanya di Jakarta tetapi seluruh wilayah lainnya di Indonesia, bahkan program yang berjalan di Ibukota saat ini merupakan ide Jokowi.

‎"Apa yang dikerjakan Ahok itu ide Jokowi, Ahok banyak musuh jadi cape Jokowi. Ahok itu baik, cuman mulutnya aja," ucap Salim.[tribun]

Ngacir Saat Didemo Rakyat, Pengamat : Dimana Sosok Jokowi yang Merakyat ?

Ngacir Saat Didemo Rakyat, Pengamat : Mana yang katanya Jokowi merakyat ?

Media-Indo INFO - Sikap presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meninggalkan Istana Negara dan tak mau menemui demonstran disayangkan banyak pihak. Apalagi info soal demonstrasi 4 November ini sudah viral terdengar sampai istana negara. 

Meninggalkan istana dalam kondisi semacam itu bukan sikap negarawan yang baik. "Sosok Jokowi yang populis, merakyat, dan doyan blusukan nyaris tak menemukan relevansinya karena enggap menemui pada demonstran," kata pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, Sabtu (5/11/2016).

Menurutnya, keterangan pers yang disampaikan Presiden malah membuat situasi makan gaduh. Alih-alih membuat pernyataan yang meneduhkan, Jokowi kian memancing panas situasi dengan menuding ada aktor politik yang menunggangi demo tersebut. 

Seharusnya demo dimaknai sebagai aktivitas politik warga negara biasa secara suka rela untuk menyampaikan aspirasinya. Sebab itu, Jokowi tidak perlu paranoid ketakutan berkebihan. 

"Terbukti, saat wapres JK menemui para demonstran dialog yang terbangun konstruktif dan damai," tandasnya.

Sikap Jokowi yang meninggalkan istana itu memantik spekulasi publik. Pertama, Jokowi kebingungan jika bukan ketakutan, dengan jumlah massa yang cukup besar. Apalagi selama dua tahun menjadi Presiden nyaris tidak ada tekanan berarti dari gerakan ekstra parlementer. Semua aktivis bungkam seolah bangsa ini tak terjadi apa-apa. 

"Padahal dalam banyak hal, negara ini berada di tepi jurang. Jokowi bingung karena tak ada solusi untuk menghadapi tuntutan demonstran," katanya.

Kedua, Presiden sengaja menghindar karena menganggap demonstrasi sebagai sesuatu yang remeh temeh. Jokowi harus ingat Setya Novanto lengser di tengah dari posisi ketua DPR akibat tekanan publik yang deras.  

Begitupun penolakan terhadap BG sebagai calon tunggal Kapolri karena tekanan publik yang dahsyat. "Termasuk Soerharto tumbang pun akibat pressure publik yang massif," katanya. [sindo]