Loading...

Ahok: Buni Yani Sengaja Fitnah Saya, Dia Ingin Buat Gaduh Negara


Media Indo - Calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) siap dihukum jika terbukti bersalah dalam dugaan kasus penistaan agama. Namun Ahok menginginkan hukum juga harus ditegakkan kepada Buni Yani, orang yang pertama kali mengunggah video dirinya saat melontarkan pernyataan terkait Surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Menurut Ahok, ada kesengajaan yang dilakukan oleh Buni Yani ketika memotong ucapannya dan memposting di akun Facebook. Ahok merasa tak ada yang salah dengan pernyataannya, namun Buni Yani-lah aktor yang membuat gaduh karena salah membuat transkrip Ahok terkait Surat Al Maidah 51.

"Terus si Buni Yani sudah mengaku menghilangkan kata 'pakai', itu kan jelas. Kalau kita lihat dari pengakuan Buni Yani itu sudah jelas sesuatu yang dia teledor. Kalau menurut saya dia sengaja fitnah. Sengaja membuat gaduh negara ini. Nah sekarang dia berani enggak seperti saya?" kata Ahok usai acara Jasmev di Jalan Ki Mangunsarkoro No. 69, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Ahok pun menantang Buni Yani menyatakan sikap untuk siap menjalani proses hukum. Ia menambahkan, biarkan kasus ini diselesaikan oleh pihak yang netral dan berwenang.

"Kalau saya membuat gaduh negara ini, saya bersedia ditangkap dan dipenjara. Sekarang si Buni Yani berani enggak? Udah jelas jelas fitnah kok menghilangkan, masa sarjana gitu enggak ngerti kata 'pakai' sama enggak, lihat aja skripsinya dia," ucap Ahok.

Ahok pun siap diperiksa saat dipanggil Bareskrim Polri Senin (7/11) mendatang. Namun Ahok juga meyakini suatu saat Buni Yani juga akan diperiksa polisi.

"Nanti diproses aja di hukum nanti saya kira Bareskrim akan panggil dia untuk jelaskan. Apakah seorang sarjana, peneliti, lulusan Amerika bisa dengan gampang saja (hilangkan kata)," tambahnya.(dtk)

Ahok: Buni Yani Sengaja Fitnah Saya, Dia Ingin Buat Gaduh Negara


Blog Tausiah - Calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) siap dihukum jika terbukti bersalah dalam dugaan kasus penistaan agama. Namun Ahok menginginkan hukum juga harus ditegakkan kepada Buni Yani, orang yang pertama kali mengunggah video dirinya saat melontarkan pernyataan terkait Surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Menurut Ahok, ada kesengajaan yang dilakukan oleh Buni Yani ketika memotong ucapannya dan memposting di akun Facebook. Ahok merasa tak ada yang salah dengan pernyataannya, namun Buni Yani-lah aktor yang membuat gaduh karena salah membuat transkrip Ahok terkait Surat Al Maidah 51.

"Terus si Buni Yani sudah mengaku menghilangkan kata 'pakai', itu kan jelas. Kalau kita lihat dari pengakuan Buni Yani itu sudah jelas sesuatu yang dia teledor. Kalau menurut saya dia sengaja fitnah. Sengaja membuat gaduh negara ini. Nah sekarang dia berani enggak seperti saya?" kata Ahok usai acara Jasmev di Jalan Ki Mangunsarkoro No. 69, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Ahok pun menantang Buni Yani menyatakan sikap untuk siap menjalani proses hukum. Ia menambahkan, biarkan kasus ini diselesaikan oleh pihak yang netral dan berwenang.

"Kalau saya membuat gaduh negara ini, saya bersedia ditangkap dan dipenjara. Sekarang si Buni Yani berani enggak? Udah jelas jelas fitnah kok menghilangkan, masa sarjana gitu enggak ngerti kata 'pakai' sama enggak, lihat aja skripsinya dia," ucap Ahok.

Ahok pun siap diperiksa saat dipanggil Bareskrim Polri Senin (7/11) mendatang. Namun Ahok juga meyakini suatu saat Buni Yani juga akan diperiksa polisi.

"Nanti diproses aja di hukum nanti saya kira Bareskrim akan panggil dia untuk jelaskan. Apakah seorang sarjana, peneliti, lulusan Amerika bisa dengan gampang saja (hilangkan kata)," tambahnya.(dtk)

Doakan Orang Tua Kami Yang Wafat Pada Saat Membela Islam 4 November


Media Indo - Demonstrasi besar-besaran kemarin yang dilakukan oleh massa dari masyarakat muslim di Indonesia diwarnai dengan kericuhan, dan akhirnya satu korban yaitu seorang ‘Orang Tua’ yang wafat karena tebakan gas air mata yang dilakukan Polri di depan Istana, sungguh kami menyayangkan sikap Polri yang tidak memperhatikan para demonstran yang banyak di ikuti oleh para ulama dan orang tua.

Kami segenap pengurus Nusatimes.com turut berduka cita atas meninggalnya orang tua kami M. Syahrie bin Umar yang menutup usia pada umur 65 tahun pada saat membela Agamanya di depan Istana Presiden RI.

Berikut kami kutip sebuah tulisan dari fans page Genarasi Pemuda Islam di sosial media Facebook.

PAK OYE YANG SAYA KENAL

Matahari belum begitu tinggi, ketika saya menyusuri jalan sempit paving blok perumahan Binong Permai blok F14 No 24. 51 meter sebelum tiba di Mushola Bina Ihsani, lantunan kalimat Thoyyibah mengumandang. Diselingi suara gemuruh Takbir yg bergema beberapa kali. Saya bergegas berwudhu. Jenazah M. Syahrie bin Umar sebentar lagi disholatkan.

“Saudara2 sekalian, hari ini kita akan menyolatkan jenazah seorang Mujahid. Kita yakin, almarhum ini mati syahid…” suara orang yg mewakili keluarga almarhum ini tercekat. Terdengar ia sesegukan. Kata2nya sejenak terhenti. Ia tak sanggup meneruskan. Suasana begitu haru menyelimuti hati para jama’ah yg memenuhi hingga shaf belakang Musholla Bina Ihsani.

“Saudara2 kita menjadi saksi, orang yang ada di hadapan kita ini mati Syahid. Karena ia mati dalam membela Agama, membela Al Qur’an…! Lanjut si pembuka prosesi sholat jenazah itu lantang.
“Allahu Akbar…, Allahu Akbar….!” Berkali-kali Takbir berkumandung menyambut kata-kata si pembawa acara.

Ketika sholat dimulai, yang diimami uUstadz Sulaiman, isak tangis para jama’ah pun pecah… Mereka haru mengiringi kepergian Mujahid gagah tersebut.

Saya mengenal Asy Syahid. Sederhana, periang, ramah dan amat bersemangat. Di Musholla Bina Ihsani ia dikenal sebagai dedengkotnya. Lantaran amat rajin membina kaum ibu dan remaja. Almarhum yg sehari2 disapa Pak Oye itu, amat bersemangat memfasilitasi setiap kegiatan dakwah, para kader dakwah.

“Ibu2 jangan lupa ya, dukung pak Sultoni,” ujarnya bersemangat di hadapan ibu2 yg berhasil dikumpulkannya di musholla Bina Ihsani, ketika saya berkampanye.

51 meter setelah saya beranjak dari makamnya, saya msh saja tak sanggup menahan sesegukan isak tangis saya. Haru, bangga dan bercampur malu. Saya yang lebih muda dari almarhum, kenapa tak berani berada di barisan depan saat Aksi Bela Islam 4 November 2016? Saya ini kan lebih muda? Tak mengidap penyakit seperti beliau? Lebih segar, lebih sehat, lebih lincah? Tapi kenapa almarhum yang jauh lebih tua, berpenyakit asma, lebih sepuh, justru lebih gagah semangat jihadnya membela kemuliaan Al Qur’an?

Saya tercenung. Air mata saya berjatuhan, tak sanggup saya tahan.

SELAMAT JALAN WAHAI MUJAHIDKU NAN PERKASA..!

ENGKAU MEMANG CUMA SIMPATISAN DAKWAH, TAPI SEMANGAT JIHADMU SUNGGUH AMAT MILITAN..!

Penulis Belum Diketahui

Dishare oleh :

Haddad Assyarkhan / Adi Supriadi
Twitter : @assyarkhan

Selesai kutipan dari Nusatimes.com, beberapa tulisan kami hilangkan demi kenyaman pembaca.

Semoga tulisan ini dapat menjadi sebuah pelajaran bagi Masyarakat dan Polri untuk lebih lagi memperhatikan para pendemo yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Dan harapan kami semua, Polri harus menjawab aksi unjuk rasa kemarin dengan cepat, agar semua masyarakat bisa tenang dan tidak akan ada lagi nyawa yang dikorbankan demi tuntutan untuk mengadili Ahok atas penistaan Agama yang dia lakukan. (ns)

Doakan Orang Tua Kami Yang Wafat Pada Saat Membela Islam 4 November


Blog Tausiah - Demonstrasi besar-besaran kemarin yang dilakukan oleh massa dari masyarakat muslim di Indonesia diwarnai dengan kericuhan, dan akhirnya satu korban yaitu seorang ‘Orang Tua’ yang wafat karena tebakan gas air mata yang dilakukan Polri di depan Istana, sungguh kami menyayangkan sikap Polri yang tidak memperhatikan para demonstran yang banyak di ikuti oleh para ulama dan orang tua.

Kami segenap pengurus Nusatimes.com turut berduka cita atas meninggalnya orang tua kami M. Syahrie bin Umar yang menutup usia pada umur 65 tahun pada saat membela Agamanya di depan Istana Presiden RI.

Berikut kami kutip sebuah tulisan dari fans page Genarasi Pemuda Islam di sosial media Facebook.

PAK OYE YANG SAYA KENAL

Matahari belum begitu tinggi, ketika saya menyusuri jalan sempit paving blok perumahan Binong Permai blok F14 No 24. 51 meter sebelum tiba di Mushola Bina Ihsani, lantunan kalimat Thoyyibah mengumandang. Diselingi suara gemuruh Takbir yg bergema beberapa kali. Saya bergegas berwudhu. Jenazah M. Syahrie bin Umar sebentar lagi disholatkan.

“Saudara2 sekalian, hari ini kita akan menyolatkan jenazah seorang Mujahid. Kita yakin, almarhum ini mati syahid…” suara orang yg mewakili keluarga almarhum ini tercekat. Terdengar ia sesegukan. Kata2nya sejenak terhenti. Ia tak sanggup meneruskan. Suasana begitu haru menyelimuti hati para jama’ah yg memenuhi hingga shaf belakang Musholla Bina Ihsani.

“Saudara2 kita menjadi saksi, orang yang ada di hadapan kita ini mati Syahid. Karena ia mati dalam membela Agama, membela Al Qur’an…! Lanjut si pembuka prosesi sholat jenazah itu lantang.
“Allahu Akbar…, Allahu Akbar….!” Berkali-kali Takbir berkumandung menyambut kata-kata si pembawa acara.

Ketika sholat dimulai, yang diimami uUstadz Sulaiman, isak tangis para jama’ah pun pecah… Mereka haru mengiringi kepergian Mujahid gagah tersebut.

Saya mengenal Asy Syahid. Sederhana, periang, ramah dan amat bersemangat. Di Musholla Bina Ihsani ia dikenal sebagai dedengkotnya. Lantaran amat rajin membina kaum ibu dan remaja. Almarhum yg sehari2 disapa Pak Oye itu, amat bersemangat memfasilitasi setiap kegiatan dakwah, para kader dakwah.

“Ibu2 jangan lupa ya, dukung pak Sultoni,” ujarnya bersemangat di hadapan ibu2 yg berhasil dikumpulkannya di musholla Bina Ihsani, ketika saya berkampanye.

51 meter setelah saya beranjak dari makamnya, saya msh saja tak sanggup menahan sesegukan isak tangis saya. Haru, bangga dan bercampur malu. Saya yang lebih muda dari almarhum, kenapa tak berani berada di barisan depan saat Aksi Bela Islam 4 November 2016? Saya ini kan lebih muda? Tak mengidap penyakit seperti beliau? Lebih segar, lebih sehat, lebih lincah? Tapi kenapa almarhum yang jauh lebih tua, berpenyakit asma, lebih sepuh, justru lebih gagah semangat jihadnya membela kemuliaan Al Qur’an?

Saya tercenung. Air mata saya berjatuhan, tak sanggup saya tahan.

SELAMAT JALAN WAHAI MUJAHIDKU NAN PERKASA..!

ENGKAU MEMANG CUMA SIMPATISAN DAKWAH, TAPI SEMANGAT JIHADMU SUNGGUH AMAT MILITAN..!

Penulis Belum Diketahui

Dishare oleh :

Haddad Assyarkhan / Adi Supriadi
Twitter : @assyarkhan

Selesai kutipan dari Nusatimes.com, beberapa tulisan kami hilangkan demi kenyaman pembaca.

Semoga tulisan ini dapat menjadi sebuah pelajaran bagi Masyarakat dan Polri untuk lebih lagi memperhatikan para pendemo yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Dan harapan kami semua, Polri harus menjawab aksi unjuk rasa kemarin dengan cepat, agar semua masyarakat bisa tenang dan tidak akan ada lagi nyawa yang dikorbankan demi tuntutan untuk mengadili Ahok atas penistaan Agama yang dia lakukan. (ns)

Antisipasi Jihad Akbar, Relawan Jokowi Desak Proses Hukum Ahok


Media Indo - Komite Rakyat Nasional (Kornas) Jokowi mendukung pemerintah segera memproses hukum Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas dugaan penistaan agama.

Selain merupakan komitmen negara terhadap penegakan hukum tanpa pandang bulu, proses hukum Ahok juga dapat meredam unjuk rasa lanjutan yang bukan lagi aksi damai melainkan darul har atau jihad akbar.

"Proses hukum Ahok segera, benar salah biar pengadilan yang memutuskan. Sebab langkah itu sesuai dengan tuntutan umat Islam. Kalau tidak dilaksanakan tidak tertutup kemungkinan terjadi aksi lanjutan yang mengarah kepada aksi jihad akbar dan bukan aksi damai lagi," jelas Ketua Kornas Jokowi Provinsi Lampung Novelia Yulistin Sanggem dalam keterangannya, Sabtu (5/11).

Untuk itu, dia meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera turun tangan mengambil sikap tegas agar permasalahan tersebut agar tidak berlarut. Kornas Jokowi khawatir isu agama sangat berpotensi besar dijadikan alat kepentingan untuk menjatuhkang Jokowi dari kursi kekuasaan.

Menurut Novel, aksi 4 November kemarin yang dinamakan Aksi Bela Islam wajar terjadi karena umat Islam tersinggung dengan ucapan Ahok yang menyinggung Surat Al Maidah 51 yang jadi bumerang bagi dirinya. Ucapan itu dianggap sebagian umat Islam sebagai bentuk penistaan agama. Dia pun menyayangkan unjuk rasa yang digelar berakhir rusuh.

Aksi akbar tersebut seharusnya menjadi aksi damai dan sejuk karena hak mengeluarkan pendapat dituntun oleh keyakinan agama. Hal itu terjadi akibat dorongan yang kuat dari keinginan massa untuk bertemu Presiden Jokowi. Namun harapan itu tidak terwujud dan mereka bertahan, aparat keamanan terpaksa membubarkan massa secara paksa.

"Ada yang harus disikapi dari aksi ini. Aksi yang didasari oleh hakiki dari masyarakat tentang keyakinan mereka yang diusik, merasa kitab suci mereka diremehkan. Ini sudah pasti banyak penumpang gelap yang ikut ambil bagian," beber Novel.

Lanjutnya, penumpang gelap dalam unjuk rasa kemarin tidak sama niatnya untuk membela agama. Akan tetapi lebih dari itu yakni menjadikan negara agar tidak kondusif yang pada akhirnya menumbangkan pemerintahan yang sah. 

"Jadi presiden harus ada tindakan tegas dari Presiden Jokowi," demikian Novel. (rmol)

Antisipasi Jihad Akbar, Relawan Jokowi Desak Proses Hukum Ahok


Blog Tausiah - Komite Rakyat Nasional (Kornas) Jokowi mendukung pemerintah segera memproses hukum Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas dugaan penistaan agama.

Selain merupakan komitmen negara terhadap penegakan hukum tanpa pandang bulu, proses hukum Ahok juga dapat meredam unjuk rasa lanjutan yang bukan lagi aksi damai melainkan darul har atau jihad akbar.

"Proses hukum Ahok segera, benar salah biar pengadilan yang memutuskan. Sebab langkah itu sesuai dengan tuntutan umat Islam. Kalau tidak dilaksanakan tidak tertutup kemungkinan terjadi aksi lanjutan yang mengarah kepada aksi jihad akbar dan bukan aksi damai lagi," jelas Ketua Kornas Jokowi Provinsi Lampung Novelia Yulistin Sanggem dalam keterangannya, Sabtu (5/11).

Untuk itu, dia meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera turun tangan mengambil sikap tegas agar permasalahan tersebut agar tidak berlarut. Kornas Jokowi khawatir isu agama sangat berpotensi besar dijadikan alat kepentingan untuk menjatuhkang Jokowi dari kursi kekuasaan.

Menurut Novel, aksi 4 November kemarin yang dinamakan Aksi Bela Islam wajar terjadi karena umat Islam tersinggung dengan ucapan Ahok yang menyinggung Surat Al Maidah 51 yang jadi bumerang bagi dirinya. Ucapan itu dianggap sebagian umat Islam sebagai bentuk penistaan agama. Dia pun menyayangkan unjuk rasa yang digelar berakhir rusuh.

Aksi akbar tersebut seharusnya menjadi aksi damai dan sejuk karena hak mengeluarkan pendapat dituntun oleh keyakinan agama. Hal itu terjadi akibat dorongan yang kuat dari keinginan massa untuk bertemu Presiden Jokowi. Namun harapan itu tidak terwujud dan mereka bertahan, aparat keamanan terpaksa membubarkan massa secara paksa.

"Ada yang harus disikapi dari aksi ini. Aksi yang didasari oleh hakiki dari masyarakat tentang keyakinan mereka yang diusik, merasa kitab suci mereka diremehkan. Ini sudah pasti banyak penumpang gelap yang ikut ambil bagian," beber Novel.

Lanjutnya, penumpang gelap dalam unjuk rasa kemarin tidak sama niatnya untuk membela agama. Akan tetapi lebih dari itu yakni menjadikan negara agar tidak kondusif yang pada akhirnya menumbangkan pemerintahan yang sah. 

"Jadi presiden harus ada tindakan tegas dari Presiden Jokowi," demikian Novel. (rmol)

PPP Laporkan Pelanggaran Kampanye Ahok-Djarot


Media Indo - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melaporkan pelanggaran kampanye oleh pasangan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) dan pendukungnya kepada Bawaslu DKI.

Terkait iklan kampanye Pilkada DKI yang menayangkan pengurus PPP tentang MoU Djan Faridz dengan Ahok-Djarot pada 3 dan 4 November 2016 di stasiun TV One. Iklan disertai ajakan agar umat Islam memilih calon petahana di Pilkada DKI 2017.

"PPP sampai detik ini tidak pernah mengeluarkan iklan kampanye terkait Pilkada DKI 2017," kata Ketua DPW PPP DKI Jakarta H. Abdul Aziz kepada redaksi, Sabtu (5/11).

Dia menjelaskan, Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 12/2016 pasal 29 ayat 23 menyebut pasangan calon, tim sukses atau siapapun dilarang memasang iklan di media massa. Karena iklan di media akan difasilitasi oleh KPU dan hanya dilakukan pada 14 hari terakhir masa kampanye.

Untuk itu, PPP meminta Bawaslu DKI segera mengambil tindakan sesuai undang-undang dan PKPU. Serta meminta agar pelanggaran seperti itu tidak terulang di kemudian hari. 

DPW PPP DKI juga telah menyampaikan laporan pelanggaran isi siaran Kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan meminta memberi teguran dan sanksi kepada stasiun TV One serta menghentikan penayangan iklan kampanye tersebut.

"Kepada semua tim kampanye pasangan calon agar tidak melakukan kampanye dengan cara-cara melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku," tegas Abdul Aziz. (rml)