Loading...
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Problem Rizki Sebagai Rintangan Menuju Allah

Untuk mendekatkan diri kepada Allah selain perbuatan berupa hasad (iri hati) seperti yang telah diposting dan dikemas dalam blog ini dengan judul penderitaan bagi orang hasad , hal lain yang tak kalah pentingnya dan sudah dipastikan menjadi problem adalah persoalan rizki, karena rizki dijadikan sebagai bagian dari penopang kehidupan di dunia, maka alangkah pentingnya membahas problem rizki sebagai Rintangan Menuju Allah.

Definisi Rizki

Dalam al Qur'an banyak sekali ayat yang menyebutkan tentang rizki. Misalnya Allah pemberi rizki yang baik (QS. al-Hajj:58), Allah melapangkan dan menyempitkan rizki hambanya (QS. Az-Zumar:52), Allah memberikan riizki yang tidak di duga-duga (QS. at-Thalaq:3), juga memerintahkan memakan dari rizki yang baik (QS. (QS. al-Maidah:88) Allah juga menyebutkan hujan sebagai sumber rizki (QS. Qaf:11), dan masih banyak lagi.

Dari sekian ayat tersebut dapat diambil pengertian, rizki adalah, segala sesuatu yang halal dan bermanfaat, baik dhahir maupun bathin, pendek kata, rizki mencakup semua pemberian Allah yang halal dan manfaat, karenanya butuh panduan untuk menggunakan dan mendistribusikannya kepada kebaikan sesuai dengan perintahnya. Namun tulisan ini tidak membahas lebih detail cara memanfaatkan rizki tersebut, karena hal itu sudah lumrah, bahwa sesuatu yang mendatangkan kemashlahatan adalah sebagai sebuah kebaikan.

Tak jarang seorang yang sedang menempuh perjalanan menuju pendekatan diri kepada Allah (salik) disibukkan dengan urusan rizki, karenanya untuk memangkas pemikiran tersebut maka dibutuhkan satu solusi yaitu tawakkal. Yang beraarti berserah diri kepada Allah dengan segenap kemampuannya setelah melakukan berbagai usaha. Rizki tidak perlu dilihat nominalnya tetapi yang perlu dilihat adalah nilai guna dan manfaatnya, untuk itu para ulama’ terutama Imam Ghazali memberikan solusi untuk mengatasi rizki tersebut dengan tawakkal dengan berbagai pertimbangan seperti di bawah ini.

a) Rizki disertakan dalam kehidupan makhluknya
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ....
Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).... (QS. Ar-Ruum:40)

Kekuasaan Allah sangat nampak sekali dalam ayat tersebut di atas, bahwa kuasa menghidupkan dan mematikan yang berarti pula kuasa untuk memberikan penghidupan, namun kadangkala manusia serakah dan tak mau bersyukur. Dunia dan isinya ini tentu sudah terukur untuk bisa menghidupi semua yang hidup di atas permukaan bumi, tetapi rasanya bumi dan isinya tidak cukup untuk satu orang yang serakah

b) Allah menjanjikan rizki
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.(QS. Adz-Dzariyat:58)

Kuasa rizki ada di tangan-Nya, bagi seorang salik tidak perlu lagi ada kekhawatiran persoalan rizki ini, ada banyak contoh dan pengalaman bahwa rizki tidak selamanya berbading dengan keringat atau tenaga yang kita keluarkan, faktanya banyak orang orang yang tidak begitu mengeluarkan tenaga, tetapi mendapatkan nominal lebih banyak daripada orang yang bermandikan peluh setiap harinya. Gaji seorang direktur perusahaan tentu berbeda dengan gaji kuli bangunan, padahal kerigat dan tenaganya lebih banyak yang ia keluarkan daripada seorang direktur.

c) Tidak cukup berjanji, Bahkan Allah menanggung rizki makhluknya
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا....
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,…. (QS. Huud:6)

Atas dasar pertimbangan di atas itulah, sikap tawakkal dan mental qona’ah perlu dibentuk agar tidak menghalangi perjalanan menuju pendekatan diri kepada Allah. Adapun perintah untuk bertawakkal sudah jelas menjadikan salah satu solusi penting bagi seorang salik atas dasar ayat:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, (QS. Al Furqan:58)

Ini tidak menjadi salah satu solusi, melainkan masih ada solusi lain yang ditawarkan oleh Imam Ghazali, ikutilah selalu update blog ini, dengan memasukkan email untuk menjadi subsciber, kami akan mengirimkan postingan ke email anda. Terimakasih dari admin ceramah singkat, semoga bermanfaat


Ramadhan dan Hal Aneh

Ramadhan dan Hal Aneh

Oleh: Kiki Musthafa

SELAMAT DATANG RAMADHAN! Semoga keanehan-keanehan di bulan lain, tak tampak di bulan penuh ampunan ini. Keanehan yang dipredisksi Rasulullah SAW sejak 14 abad lalu. Keanehan yang sangat paradoksal--sesuatu yang semestinya tidak terjadi di keadaan yang semestinya keanehan itu tidak ada.

Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda, "Ada enam hal aneh di enam tempat." Tentu yang dimaksudkan Rasulullah SAW adalam enam hal yang amat ganjil berada di enam tempat yang tak layak. "Pertama, masjid akan terasa aneh jika berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak suka melaksanakan shalat di dalamnya."


"Kedua, mushaf terasa aneh, jika berada di rumah orang yang tidak suka membacanya." Mushaf hanya disimpan di atas lemari saja. Dijejerkan di rak buku. Atau tergeletak menyendiri di atas meja. Lapuk dan tampak usang. Diselimuti debu. Tak pernah disentuh. Apalagi dibaca. Ini keanehan itu, bagaimana mungkin kebernilaian Alquran diamalkan dalam keseharian, jika dibaca saja tidak pernah.

"Ketiga, Alquran terasa aneh jika berada di tangan orang-orang fasiq." Aneh, asing, tak pantas, dan sulit diterima akal sejat jika Alquran yang hudan linnas--petunjuk bagi umat manusia, ternyata berada di genggaman orang-orang yang justru mengkhianati Alquran. Dan berpotensi menyesatkan umat manusia.

"Keempat, wanita muslimah yang shalihah terasa aneh, jika berada dalam kekuasaan suami yang dzalim dan buruk perangainya. Dan, "kelima, sebaliknya, lelaki muslim yang shalih berada dalam kenali wanita hina dan buruk akhlaqnya." Ini sangat aneh. Terlebih jika ditautkan pada hadits lain yang disabdakan Rasulullah SAW, "Uhibbukum ilayya ahsanukum akhlaqan al-muwaththauna aknafan al-ladzina ya'lafuna wayu'lafuna--orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya, yang lembut perangainya dan murah hati, (yaitu) mereka yang ramah dan penuh simpatik." Sangat aneh. Orang baik--yang paling dicintai Rasulullah karena akhlaqnya, berada dalam kuasa orang buruk.

"Terakhir, keenam, orang alim terasa aneh jika berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak mau mendengarkan nasihatnya." Keanehan yang nyata. Para ulama dikucilkan. Ditinggalkan. Bahkan dicemooh. Nasihat-nasihatnya hanya dijadikan lelucon. Masuk telinga kanan, kabur lewat telinga kiri.

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menghapus keanehan-keanehan tersebut. Di dalam Ramadhan, segala macam kebaikan terhimpu. Semua ketaatan diterima oleh Allah SWT. Setiap doa terkabulkan. Dan seluruh dosa termaafkan. Juka selaksa surga tersedia untuk mereka yang mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan yang baik.

Masjid akan termakmurkan. Ramai dengan lantunan zikir. Shaf shalat penuh sesak di setiap jamaah shalat fardlu. Malamnya, terawih berlangusng hidmat. Dan tradisi i'tikaf berjalan dengan teratur dan tetap membahagiakan. Masjid seperti bintang jika dilihat dari luar angkasa. Berkelip-kelip dan penuh dengan gemerlap cahaya kebaikan.

Sementara di sisi lain, mushaf Alquran dibaca tanpa henti. Berlomba jumlah khatam dalam satu bulan. Kemudian setiap harinya, maknanya dipelajari di pengajian sehabis Shubuh. Atau di setiap tausiah setelah berjamaah terawih.  Alquran dipelajari dan diajarkan--sebagai awal yang baik untuk memijak proses pengamalan nilai-nilai Alquran itu sendiri, dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan memiliki daya magis yang sempurna untuk menstimulasi terlahirnya amalan-amalan baik--termasuk hal-hal yang berhubungan dengan Alquran. Ramdhan memang syahrul quran. Bulan dimana Alquran pertama kali diturunkan. Dan di bulan penuh berkah ini, tak mungkin rasanya Alquran berada dalam gengaman orang-orang fasik--yang justru mengkhianati Alquran.

Tak luput, meskipun harga kebutuhan dapur melangit, tapi kesabaran para istri menyediakan keperluan selama shaum terjada dengan sepenuh kesyukuran. Sebaliknya para suami terus menunjukkan sikap lembut, sebagai teladan untuk istri dan anak-anaknya. Ramadhan yang memberkahkan segala hubungan. Merekatkan hal baik yang sempat jauh. Dan menjauhkan hal buruk yang selalu merapat.

Ramadhan, tempat semua orang bersila mendengarkan petuah para ulama. Semua kembali menjadi pembelajar. Mengevaluasi diri dalam setahun terakhir. Ddan saling menjabat untuk bangkit bersama menjadi lebih baik di masa depan. Saat para ulama ber-tausiah, saat itu pulalah dalam dada kita semangat untuk berubag terus membuncah.

Tapi, benarkah selama ini, kita sudah seperti itu mengisi Ramadhan???

Demikianlah, terlepas dari pernyataan di atas, SELAMAT DATANG RAMADHAN! Semoga keanehan-keanehan di bulan lain, tak tampak di bulan penuh ampunan ini. Keanehan yang diprediksi Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu. Keanehan yang sangat paradoksal--sesuatu yang semestinya tidak terjadi di keadaan  yang semestinya keanehan itu tidak ada.

Allohumma shalli 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala ali sayyidina Muhammad.

Sumber: Buletin Masjid Agung Kota Tasikmalaya No. 242/VI/2016
Bekal Jelang Ramadhan

Bekal Jelang Ramadhan

Sebagai orang beriman sudah sepatutnya kita berbahagia menyambut kehadiran Ramadhan dengan penuh kegembiraan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ketika bulan Ramadhan datang, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa, dibuka lebar pintu surga, ditutup rapat pintu neraka, dan dibelenggu tangan syetan. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan bulan puasa." (HR Ahmad)


 Hadits di atas memberikan penjelasan sekaligus kabar gembira tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Sehingga mendorong kita untuk menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Namun, di tengah kebahagiaan itu, kita perlu melakukan persapan sebagai bekal menghadapi Ramadhan dengan berbagai amalan shaleh.

Pertama, memperbanyak berdoa. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin usia kita sampai bulan Ramadhan, untuk itu teruslan berdoa kepada-Nya. "Allohumma bariklana fii rojaba wa sya'bana, wa balighna romadhona." (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).

Kedua, puasa sunah di bulan Sya'ban. Dikisahkan oleh Aisyah RA, Rasulullah banyak berpuasa (pada Sya'ban) sehingga mengatakan, "Beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasan sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya'ban." (Muttafaq 'alaih)

Ketiga, tadarus Alquran. Dengan memperbanyak tadarus Alquran di bulan Sya'ban, dapat mengantarkan kepada kebersihan jiwa, sehingga saat memasuki Ramadhan jiwa dalam keadaan bersih dan pada akhirnya mengantarkan kepada keikhlasan dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Keempat, menelaah buku-buku terkait ibadah puasa. Hal ini dilakukan untuk pemantapan dan penyempurnaan ibadah di bulan Ramdhan. Sebab, ibadah yang tidak disertai ilmu (pemahaman) hanya akan merusak kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Hasan al-Basri mengatakan, beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungih-sungguh, rapi jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, tapi jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin beribadah, tapi meninggalkan belajar. (lihat dalam Miftah Daris Sa'adah karya Ibnul Qayyim).

Kelima, silaturahim kepada keluarga, tetangga, teman, terutama kepada kedua orangtua untuk saling memaafkan dan mendoakan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghadirkan suasana kebersamaan dan saling memotivasi, guna memaksilmalkan ibadah Ramadhan.

Semoga Allah membimbing kita agar dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisaban, terampuni dosa-dosa kita dan meraih derajat taqwa. Aamiin.

Oleh Imam Nur Suharno dalam Buletin Masjid Agung Kota Tsm 242/VI/2016

Cinta Harta Melebihi Segalanya

Ceramah singkat adalah blog berbagi contoh ceramah dalam bentuk naskah ceramah dan videonya
Dalam sebuah cuplikan proposal thesis tertulis kalimat yang di duga oleh Pak Dosen kualitasnya 'kurang' ilmiah dan terlalu cepat men-generalisir kesimpulan (tasri’ut ta’miim) sehingga keilmiahan thesis kurang indah, cuplikan tersebut lengkapnya adalah sebagai berikut:
“Fakta telah berbicara bahwa kecondongan manusia mencintai harta mengalahkan kecintaan terhadap keluarga, wanita maupun tahta, seseorang mencintai harta tidakk terbatas usia, dari kecil, dewasa dan orang tua ”.
Kemudian dalam tulisan tersebut, disematkan footnote yang merujuk kepada, QS. al Munafiqun: 9, QS. al Kahfi: 46, QS. al Isra’:6.

Melalui tulisan pendek ini, saya hendak menjelaskan bahwa yang dimaksud tulisan tersebut di atas adalah, semua orang baik anak anak maupun orang dewasa lebih mencintai harta, bahwa dibanding gebyar duniawi lainnya termasuk keluarga, sebagai ilustrasi sederhana, anak balita laki laki dia tidak suka dengan wanita, tetapi si balita sudah sudah suka dengan harta, tentu bukan dalam arti uang gepokan atau bongkahan berlian, tetapi nalurinya memiliki mainan dan makanan adalah bagian dari bukti kecintaan terhadap harta, bukan?. Begitupula dengan orang tua renta sebut saja usia 90 tahun, ia tak butuh lagi wanita penghibur atau tahta, tetapi kecintaannya terhadap harta tetap saja melekat dalam hatinya, dengan motif ingin meninggalkan banya harta kepada keturunannya sebagai warisannya. Nah, saya kira tak berlebihan bila Dr. Musa Sahiin menafsirkan bahwa semua orang mempunyai kecondongan yang berlebih terhadap harta. Adapun tulisan lengkapnya adalah sebagai berikut:


Kutipan tulisan di atas merupakan hasil perasan dari tulisan al māl fil al Qur'an wa as-Sunnah h. 56 karya Dr. Musa Syahin seorang tenaga pengajar di Universitas Al Azhar Kairo, ketika menjelaskan panjang lebar surat Ali Imran: 14 tentang perhiasan dunia yang tersebut, Namun sayang sekali Pak Dosen yang tak perlu saya sebut namanya di sini, menurut saya juga terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan tanpa meminta konfirmasi terlebih dahulu penjabaran arti cuplikan di atas kepada penulisnya, sehingga komentar bahwa tulisan di atas terkesan seperti bahasa-bahasa paparan khutbah, adalah sebuah komentar yang terburu buru dalam pula. Tapi saya perlu angkat topi tinggi-tinggi sebagai bentuk penghormatan atas masukan yang diberikan, oleh Pak Dosen, karena dengan demikian saya akanlebih berhati hati dalam memilih sajian narasi dan diksi untuk menjelaskan gagasan, belum lagi bila mengingat singkatnya tulisan itu saya buat.

Akhirnya, hanya bisa berdoa semoga bermanfaat untuk kita semua amiin.

Bahaya Makan Berlebihan

Berlebihan dalam hal makan sangat tidak dianjurkan dalam ajaran agama Islam, terlebih lagi makanan yang diharamkan, makanan yang halal akan dihisab sedangkan makanan yang haram akan mendatangkan adzab. Bahaya berlebihan makanan membahayakan kesehatan terlebih sangat membahayakan kondisi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalam ceramah singkat ini akan diperdalam pembicaraannya dalam kasus bahaya makan berlebihan terhadap kinerja spirtualitas dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Ditemukan di dalam kitab minhajul abidin karya Imam Ghazali, paling tidak ada 10 bahaya berlebihan makan

Pertama,
إن فى كثرة الأكل قسوة القلب
Sesungguhnya dalam berlebihan makan ada hati yang keras, Bahaya makan berlebihan menyebabkan hati menjadi keras dan hilangnya sinar hati dari petunjuk Allah. Kehilangan sinar hati dari petunjuk Allah adalah kerugian besar bagi seorang mukmin, karena dengan hilangnya petunjuk yang menciptakan hidup ‘nyasar’ dari rel agama yang benar.

Perut yang diisi makanan berlebihan bagaikan memanaskan bejana di atas tungku, sedang di atas bejana yang dipanaskan tadi ada sebuah benda, bila tungku dinyalakan terus menerus maka benda yang berada di atas bejana akan gelap karena asapnya dan bahkan bisa menggosongkan benda tersebut. Kayu sebagai bahan bakar tungku itu adalah makanan sedangkan bejana diserupakan perut dan hati berada di atas perut tersebut. Pada akhirnya hati menjadi gelap dan keruh begitula itulah analogi filosofis hati yang keras karena makan berlebihan

Kedua,
إن فى كثرة فتنة الأعضاء وهيجها وأنبعاثها للفضول والفساد
sesungguhnya banyak makan menyebabkan penyakit bagi anggota tubuh, gerak yang dihasilkannya dan berlebihan serta kerusakan yang ditimbulkannya. Abu Ja’far berpendapat, bila perut dalam keadaan kenyang maka anggota tubuh menjadi lapar, sebaliknya perut lapar (puasa). Maksud dari ungkapan tersebut, bila perut lapar maka anggota tubuh lainnya mudah terjaga dari aktifitas yang tidak perlu atau dengan kata lain sudah kenyang, sebaliknya perut yang berlebihan makan akan menjadikan anggota tubuh lain lapar dan mencari aktifitas yang tidak berkualitas

Terlebih lagi bila sumber makanan itu diperoleh dari usaha yang haram. Makanan dan perut laksana benih dan media tanam, makanan yang haram akan menumbuhkan perbuatan yang haram, begitu pula sebaliknya.

Ketiga
إن فى كثرة الأكل قلة الفهم والعلم
Banyak makan menyebabkan sedikit pemahaman dan pengetahuan, ada unkapan innal bathnah yudzhibna fathonah (perut menghilangkan kecerdasan). Yang dimaksud di sini adalah perut yang berlebihan makanan. Imam Ad Darani ra, seringkali mencegah makan bila ia punya tujuan ukhrawiy hingga tercapai tujuannya. Keempat, Sesungguhnya banyak makan mengurangi ibadah, makan berlebihan membuat badan menjadi bera diajak beribadah, mengantuk dan lain sebagainya. Hal ini tentu sangat logis

Kelima
إن فى كثرة الأكل فقد حلاوة العبادة
Berlebihan makan menghilangkan rasa manisnya beribadah, Dalam hal ini Abu Bakar as-Shiddiq mengaku tidak pernah makan sampai kenyang selma beliau masuk Islam karena khawatir rasa manisnya dalam beribadah berkurang. Oleh karena itu Rasulullah memuji Abu Bakar ra bukan dari segi banyaknya sholat dan puasa, tetapi ia mempunyai sesuatu yang sedikit saja untuk dirinya. Senada dengan pengakuan Ad-Darani ra, bahwa ia lebih manis dalam beribadah bila dalam keadaan perut dan punggungnya menempel (bc. lapar)

Keenam, Banyak makan dikhawatirkan akan terjatuh dalam perkara makan yang syubhat, karena kebiasan makan yang banyak menjadi terbiasa untuk rakus, dalam kondisi demikian sistem filterisasi menjadi berkurang.

Ketujuh
إن فيه شغل القلب والبدن بتخصيله
Banyak makan membuat sibuknya hati dan badan dalam menghasilkannya. Bila kita merenung maka akan kita dapati orang yang butuh makan banyak akan menjadikan dirinya sengsara, sengsara memikirkan banyaknya kebutuhan untuk makan tentu berpengaruh juga dalam usaha memperolehnya, bila sudah memperoleh makan, maka selanjutnya adalah sibuk, memasak kemudian membersihkan wadahnya, tidak sebanding dengan waktu yang dipakai untuk memakan makanan yang telah diusahakan tersebut.

Malik bin Dinar, seorang tokoh sufi terkenal merasa malu bila bolak-balik ke kamar kecil karena buang kotoran atau buang air kecil akibat makanan yang dimakan, hingga beliau berandai-andai, seandainya Allah menciptakan makanannya dari kerikil dimana sekali hisab nutrisinya bisa cukup hingga akhir ajal tiba tentu waktu yang dipakai ibadah bisa lebih lama.

Kedelapan
ما يناله من أمور الأخرة وشدة سكرات الموت
Tidak memperoleh kebaikan dalam urusan akhirat dan memperberat sakaratul maut. Diriwayatkan bahwa beratnya sakaratul maut berbanding terbalik dengan banyaknya mengenyam kenikmatan duniawi, semakin banyak merasakan kenikmatan duniawi, maka semakin berat sakaratyul mautnya.

Kesembilan
نقصان الثواب فى العقبى
Berkurangnya pahala di akhirat, karena telah mendapatkan kenikmatan duniawi sedemikian sehingga berkuranglah kenikmatan di akhirat. Kesepuluh orang yang banyak makan kelak diakhirat dihisabnya lebih lama, karena lebih banyak yang ia pertanggung jawabkan di hadapan Allah swt, makan yang halal ada hisabnya sedangkan makanan yang haram ada adzabnya.

Demikian besar madharat yang didapat bagi orang makan berlebihan, padahal kesepuluh bahaya diatas tersebut adalah prihal makanan yang halal, tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana dengan orang yang banyak makan harta yang haram. Makan dalam konteks ini tidak bisa hanya dinilai dari segi sesuatu yang masuk perut,tetapi semua kebutuhan, seperti pakaian, kendaraan, tempat tinggal dan lain lain.
Umat Islam Shalat Menghadap Ka'bah, Bukan Berarti Allah Berada di Dalam Ka'bah

Umat Islam Shalat Menghadap Ka'bah, Bukan Berarti Allah Berada di Dalam Ka'bah

Si A : Mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?
Ustadz : Salah itu! Umat Islam tidak menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.
Si A : Bukankah orang Islam shalat menghadap Ka’bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka’bah?
Belum sempat sang ustadz menjawab, terdengar handphone-nya si A berbunyi. Setelah si A selesai menjawab panggilan di handphonen-ya, dia memandang sang ustadz. Sang ustadz tersenyum.
Si A : Mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi ustadz?
Ustadz : Hmm… Perlukah saya menjawab pertanyaanmu?
Si A : Ah, pasti kau tidak bisa menjawab bukan? hehehehe.....
Ustadz : Bukan itu maksud saya. Saya melihat kau kurang menyadarinya.
Si A : Mengapa kau bicara begitu?
Ustadz : Tadi saya lihat kau bicara sendiri, ketawa dan tersenyum sendiri. Dan kau mencium HP itu sambil bicara “I love You”
Si A : Saya tidak bicara sendiri. Saya bicara dengan istri saya. Dia yang telfon saya tadi.
Ustadz : Mana istrimu? Saya tak melihatnya.
Si A : Istri saya di Padang. Dia telfon saya, saya jawab menggunakan telfon. Apa masalahnya? [ heran ]
Ustadz : Boleh saya lihat HP kamu?
Si A mengulurkan HP-nya kepada sang ustadz. Sang ustadz menerimanya, lalu membolak-balikan HP itu, menggoncang-goncangnya, mengetuk-ngetuk HP tersebut ke meja.
Ustadz : Mana istrimu? Saya lihat dia tidak ada di sini. Saya pecahkan HP ini pun istrimu tetap tak terlihat di dalamnya?
Si A : Mengapa kau bodoh sekali? Teknologi sudah maju. Kita bisa berbicara jarak jauh menggunakan telfon. Apa kau tak bisa menggunakan otakmu?
Ustadz : Alhamdulillah [senyum]. Begitu juga halnya dengan Allah SWT. Umat Islam shalat menghadap Ka’bah bukan berarti umat Islam menyembah Ka’bah. Tetapi umat Islam shalat atas arahan Allah. Allah mengarahkan umat Islam untuk shalat menghadap Ka’bah juga bukan berarti Allah ada di dalam Ka’bah. Begitu juga dengan dirimu dan istrimu. Istrimu menelfon menggunakan HP, ini bukan berarti istrimu ada di dalam HP. Tetapi ketentuan telekomunikasi menetapkan peraturan
Si A : Bisa saja kau [ Garuk kepala tak gatal ]
Ustadz : Ada satu lagi, bilamana shalat tidak menghadap ka'bah, maka arah shalat akan kacau. Ada dua jamaah shalatnya berhadap-hadapan, ada yang shalat sendiri, karena tidak ada arah akan ganjil, ada yang menghadap kekiri dan kekanan. Wah bisa terbayang kan ?
Si A : [ Merenung ]

Tugas manusia dan makhluk Allah lainya

Mempertegas kehidupan manusia dalam ceramah singkat kali ini adalah ingin mengajak untuk merenungi firman Allah tentang tugas manusia dan tugas makhluk Allah lainnya selain manusia (bc. alam) , namun sebelumnya tentu tidak hanya sebatas dua ayat dibawah ini, karena ayat tentang tugas makhluk Allah tersebar di dalam al Quran sangat banyak sekali, diantaranya dua ayat yang kami maksud adalah

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Dari kedua ayat tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa manusia diciptakan bukanlah bebas sebebasnya akan tetapi tugas utamanya adalah beribadah kepada Allah, sedangkan bekal untuk aktivita hidupnya telah ditanggung oleh Allah. Tidak dibenarkan manusia berpandangan bahwa kehidupannya diciptakan di alam persada adalah bebas seperti anak kecil yang berbuat semaunya, 

Lebih jauh jika kita perhatikan, semua makhluk Allah dari yang besar hingga yang kecil masing-masing mempunyai kepada Allah, hewan diciptakan ada yang diberi tugas berkembang biak kemudian dagingnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan hajat manusia, atom tunduk mengitari intinya, pepohonan berbuah dan buahnya dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Semua mempunyai tugas sesuai dengan yang di titahkan oleh sang maha pencipta. Mereka memahami sistem kepatuhannya kepada Allah swt. Sebagaimana friman Allah 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. an-Nuur:42)

Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya merupakan petunjuk bagi manusia bahwa semua makhluk ciptaannya mengetahui bagaimana ber-patuh kepada tuhannya, sebagai modal untuk patuh kemudian Allah menanggung jatah keberlangsungan hidupnya. Begitu pula manusia Rizki adalah tanggungan Allah, sedangkan tugas utama manusia adalah ibadah. Dengan kata lain, tugas manusia adalah beribadah, sedangkan tugas Allah adalah memberikan penghidupan (rizki), di sini rizki harus dipahami sekedar yang kita pakai untuk membalut aurat dan makanan sekedar untuk menegakkan tulang iga agar kuat untuk menunaikan perintah beribahdah, itulah yang disebut dengan rizki madhmun (rizki yang ditanggung)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS. Huud:6)

Adapun untuk hal lain, seperti kendaraan, makanan sesuai dengan selera, kebutuhan aksesoris hidup lainnya, tentu Allah akan membedakan antara makhluk yang satu dengan makhluk lainnya, antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, rizki yang dibagikan sedemikian rupa sesuai dengan tingkat kesungguhannya disebut dengan rizki maqsuum (rizki yang dibagikan) 

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ.
Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari ni`mat Allah? (QS. An-Nahl: 71)

Dari penjelasalan ceramah singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa semua makhluk mempunyai tugas masing masing untuk patuh kepada Allah melalui cara mereka masing masing. Segala yang diciptakan oleh Allah baik di langit maupun di bumi, matahari, bintang, gunung, pohon dan termasuk manusia mempunyai tugas untuk patuh terhadap aturan Allah, sebagaimana firman Allah swt. 

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.(QS. Al-Hajj: 19)

Perbedaan yang mencolok antara tugas manusia dan makhluk Allah lainnya selain manusia, jika tugas untuk benda dan hewan adalah tugasnya bersifat pasti (idhthiroriy) sedang tugas manusia bersifat pilihan (ikhtiyariy). Manusia yang diberikan tugas ibadah bisa saja memilih sebagai hamba Allah yang membangkang dan melanggar sesuai dengan dorongan nafsunya.

Ruh

Ceramah singkat Mendiskusikan ruh sampai saat ini akan menjadi masalah yang terus berkembang dan masih saja misterius, mungkin hal seperti ini akan terjadi selamanya, atau barangkali otak kita tidak dipersiapkan untuk mencapai titik pembahasan detail untuk menjelaskannya dan bisa jadi memang seharusnya misterius kemudian perlu diyakini saja tidak usah dibuktikan secara faktual, cukup hanya dalam alam ide saja bukan dialam nyata, karena memang ruh bukan barang yang nyata. Namun bukan berarti berhenti untuk mengali informasi tentang ruh tersebut.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, fisik atau tubuh manusia itu apakah hanya seonggok daging bongkahan yang disusun sedemikian rupa dan didirikan oleh susunan rangka terbuat dari tulang belulang, didalamnya ada immateri yang menggerakkannya yang disebut dengan ruh? Pertanyaan dasar ini harus dicarikan dalih yang menguatkannya

Dalam diri manusia ada dua dimensi yang tak terpisahkan antara jasad dan ruh, keduanya apabila terpisah maka akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda dalm bentuk maupun fisiknya, kedua dimens tersebut sejalan dengan firman Allah

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. Sajdah: 9)

Dalam ayat diatas seteleh Allah meniupkan ruhnya ke dalam jasad kemudian dilanjutkan dengan penciptaan anggota badan, hal ini tentu menunjuk kepada penggunaan penglihatan, pendengaran yang terjadi setelah ruh itu ditiupkan, begitulah pendapat sebagian mufassir, seolah-olah ayat tersebut memberikan pengertian bahwa sumber penggeraknya adalah ruh, ibarat mobil maka sopir adalah ruhnya sopir yang mengggerakan laju cepat dan tidaknya sebuah mobil, bila ruh tidak ada maka mobilpun tidak bisa bergerak, wallahu a’lam bis shawab

Dalam filsafat Islam, badan berperan sebagai kendaraan ruh, aktifitas yang dilakukan oleh anggota badan hakikatnya bersumber dari ruh seperti melihat, mendengar, mencium dan mencecap rasa sedangkan yang berbentuk fisik berupa mata, telinga, hidung, lidah hanya sekedar alat perantara untuk mengetahui masalah-masalah ini. Oleh karena itu fisik bisa dibantu dan diganti dengan yang lain berbeda dengan hakikat ruh yang bersifat abadi. Seandainya ada seseorang yang pandangannya terganggu karena pergeseran retina maka ia bisa dibantu dengan kacamata untuk merekayasa pergeseran retina tersebut, seseorang yang mengalami masalah pendengaran bisa dibantu dengan alat bantu dengar, hal ini berbeda dengan ruh yang apabila telah hilang berpisah maka tidak ada yang bisa menggantikannya. Itulah gambaran hubungan antara ruh dan jasad

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr: 29)

Dalam kedua ayat diatas, ada kata “ruh ku”, kata tersebut tentu pemahamannya adalah bukan ruh Allah karena Allah tidak butuh dengan ruh, akan tetapi penyandaran kata ‘ruh’ dan ‘aku’ hanyalah sebuah penyandaran untuk mengagungkan, seperti halnya kita menyebut baitullah (rumah Allah), Syahrullah (bulannya Allah) kesemua ini disebut untuk memulyakan danmembesarkannya agar mendapat perhatian yang lebih dari mustami’ atau orang yang membacanya.
Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا.
dan nafs (jiwa, ruh) dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (QS. As-Syams:7-8)

Dalam ayat di atas ruh memiliki pemahaman sehingga diberikan ilham pemahaman atas kebaikan dan keburukan. Mengingat pada manusia tidak terdapat satupun anggota badan yang bisa memahami sesuatu selain ruh, maka yang layak memiliki pemahaman adalah kekuatan selain materi yang disebut oleh al-Quran dengan ruh atau nafs.
-----------------------------------------------
Rekomendasi ceramah singkat kepada anda untuk membaca juga 
  1. di tantang maut
  2. hidup adalah penyesalan

Sepertiga Kehidupan Manusia

Ceramah Singkat Ada riwayat yang mengatakan bahwa Luqman al-Hakim berwasiat kepada anak-sepertiga kehidupan manusia  didistribusikan ; sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk cacing tanah”. Nasehat di atas kelihatannya sangat simpel tetapi menacakup semua kehidupan dalam istilah manthiqy disebut jami’ mani’ isi kehidupan secara keseluruhan ini tercakup dalam nasehat tersebut, sepertiga untuk Allah adalah ruhnya, sepertiga untuk manusia adalah amalnya. Dan sepertiga untuk cacing tanah adalah jasadnya setelah mati.
anaknya: ”wahai anakku...! sesungguhnya dalam kehidupan ini,

Secara lengkap dan penjabarannya tentang sepertiga kehidupan manusia adalah sebagai berikut:

عن لقمان الحكيم أنه قال لإبنه
: يابني إن الناس ثلاثة أثلاث ثلث لله وثلث لنفسه وثلث للدوده, فأماما هو لله فروحه , وأماماهو لنفسه فعمله , وأماماهوللدود فجسمه

Sepertiga untuk Allah
Dalam pesan tersebut juga mengandung makna, bahwa Allah tidak menghendaki apapun kecuali kembalinya ruh (penghidupan) kepada Allah setelah menjalankan perannya sebagai khalifatullah dengan bersih, kebersihan ruh ini diminta untuk bersih seperti pada saat Allah meniupkannya kedalam diri manusia semenjak di kandungan usia 120 hari, Syukur-syukur jika bisa berpulang ke haribaannya dengan membawa banyak amal perbuatan.

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah: 9)

Allah tidak menuntut apa yang engkau pakai, perhiasan sekelas apapun bagi Allah adalah sama tidak ada bedanya. Allah hanya menuntut kembalinya ruh dalam keadaan bersia seperti sedia kala. Kalau kita renungkan tentu sangat wajar sekali jika Allah hanya menuntut kembalinya kesucian ruh bukan perhiasan atau pakaiannya, karena pada saat lahir Allah tidak menyertakan pakaian dan perhiasan. Walaupun seiring perjalanan hidupnya kemudian Dia-lah Yang Maha Memberi makan, minum dan pakaian, tugas utama manusia adalah menghamba kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Sumber yang mendorong manusia untuk berbuat baik adalah kejernihan hatinya, karena itulah Nabi bersabda, bahwa Allah tidak melihat secara fisik tetapi melihat hati hamba-Nya.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَ رِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdirrahman bin Syahrin radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)

Sepertiga untuk Diri
Isi nasehat yang kedua adalah sepertiga untuk dirimu, yaitu amalmu. Dalam panggung kehidupan ini milik pribadi yang hakiki yang dapat dinikmati dan menemani seorang hamba hingga menghadap kepada Allah adalah amal perbuatannya. Harus diyakini bahwa di alam ‘sana’ tidak kenal rekayasa sedikitpun, semua hamba Allah disetting sedemikian sehingga menjadi pribadi yang sanat jujur tidak mampu berbohong sedikitpun, karena yang berbicara tidak lagi lisan tetapi semua yang ada di sekeliling kita akan menjadi saksi

Alat komunikasi berupa lisan yang dipakai saat ini di akhirat akan dikunci dan anggota tubuh lainnya menjadi saksi, saat itulah amal perbuatan di dunia menjadi bagian dari diri kita, yang membela dan mengantarkan kepada kebahagiaan sejati nan abadi. Amal yang baik akan dibalas dengan kebaikan sebaliknya amal yang buruk akan dibalas dengan siksaan, hal ini bersifat pasti, Allah berfirman

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yaasin: 65)

Sepertiga untuk Cacing Tanah
Adapun sepertiga dari kehidupan ini adalah untuk cacing tanah, yaitu jasad kita, kita bekerja setiap hari untuk merawat fisik agar tetap sehat dengan nutrisi yang seimbang, tetapi pada saatnya nanti setelah pulang keharibaannya dan seonggok badan ditidurkan di dalam tanah untuk selamanya ia akan menjadi santapan cacing tanah.

Harga fisik ketika hidup yang sedemikian mahalnya, seperti jantung, ginjal, usus dan organ fisiologi lainnya, ketika telah berpisah dari ruhnya seketika berubah menjadi murah dan hanya menjadi bahan rebutan bagi cacing tanah, dalam arti tampan dan kemolekan hanya menjadi hiasan duniawi saja, apalah artinya sekeping wajah ia hanya menjadi hiasan yang bersifat sementara dan tidak lama.

Coba lihatlah Bilal bin Rabbah dengan kulitnya yg hitam, lihat pula Amr bi Jamuh dengan kakinya  pincang, Abdullah bin Ummi Maktum dengan kebutaan penglihatan. Mereka mulia di sisi Rabbnya, Rasulullah mengakui keutamaan mereka. Bukan karena tampannya atau cantiknya rupa, bukan pula karena sempurna anggota badannya. Namun semuanya karena kesetiaan pada ikrar syahadat yang diucapkan, kepatuhan pada aturan syariat, melaksanakan kewajiban tanpa keengganan, dan ketaqwaan yang menghunjam sanubari tanpa lekang.

Oleh karena itu tak ada sediktipun yang patut dibanggakan dalam kehidupan ini bila orientasinya kepada fisik, karena hidup yang sesungguhnya adalah non-fisik, hidup yang abadi adalah hidup sesudah kematian dan kehidupan untuk alam sesudahnya, itulah sepertiga kehidupan manusia.

Refleksi 1436 H: berprestasi dan berprasasti

Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Hasyr: 18)

Ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita semua akan pentingnya mengingat amal perbuatan yang telah kita lakukan di masa sebelumnya. Mengingat setiap manusia harus berpacu seiring dengan perjalanan waktu dan terkait dengan perpindahan ruang, dari ruang di dunia hingga ruang di akhirat.

Harus pula di sadari bahwa kita hidup di dunia ini tidaklah abadi, kita dibatasi  ruang dan waktu, batas waktu hidup bernama ajal dan batas ruang yang namanya barzakh setelah proses kematian usai. Karena itu pada refleksi ini marilah kita terus mempebaiki kualitas amal perbuatan kita, seiring terus berjalannya waktu.

Siapapun tidak bisa mengelak dari kematian yang terus kian mendekat dengan pasti, bertambahnya tahun  bertambah pula satu tahun mendekat menuju titik kematian yang telah di tentukan Allah. Dimanapun dan kapanpun manusia hanya bisa pasrah dari kejarannya.
Allah berfirman :
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.. (Q.S. An-Nisa’ 78).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (Q.S. Al-Jumu’ah 8)

Karena tidak bisa menghindar dari kematian itulah, maka tidak penting kapan kita menemui ajal, nanti esok hari, atau tahun-tahun yang akan datang, toh semua bakal mencalonkan diri menjadi maut, baik secara sukarela maupun dalam keadaan terpaksa. Yang terpenting bagi kita adalah apa yang telah kita perbuat untuk menghadapi kematian tersebut, disitulah ayat yang pertama tadi bertindak.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Hasyr: 18)

Hidup pada dasarnya tidak hanya semat-mata menghembuskan nafas dan menghirupnya kembali, tetapi hidup harus berprestasi dan berprasasti. Berprestasi artinya beramal sebaik-baiknya sebagai ongkos melangkah ke ruang yang abadi yakni ruang kubur dan alam akhirat, disamping itu hidup juga harus berprasasti, yang artinya kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain sehingga prasasti amaml perbuatan kita dikenang sepanjang zaman.

Kita tahu, usia baginda Nabi besar muhammad saw tidak sampai 63 tahun, namanya dikenang sepanjang zaman, abadi berprasasti dalam hati sanubari semua ummat islam di dunia ini, usia Imam Ghazali antara 52-53 tahun, tetapi namanya dikenang harum dan pedoman kesufiannya diteladani oleh banyak orang, kita juga mengenal Imam Syafi’i usianya tidak lebih dari 53 tahun, namun metode ijtihadnya dipakai dan abadi berprasasti di seluruh dunia sampai sekarang. Mereka para wali dan orang-orang ‘alim pun demikian, beliau-beliau tidak lama usianya namun kebaikannya meluber dan dikenang bagai prasasti yang abadi. Itulah sebaik baik manusia, dia yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya, dialah yang paling mulia di sisi Allah, karena beliau-beliau adalah tingkat tinggi nilai taqwanya.

Imam Nawawi mengatakan, “Umur adalah modal kehidupan manusia.” modal yang banyak kalau tidak bisa mengolahnya maka kerugian yang diderita akan lebih parah dari modal yang sedikit. Umur adalah modal bagi kehidupan manusia, umur yang pendek tapi berkualitas jah lebih diharapkan dari pada sebaliknya.

Subhanallah... untuk apa umur bertambah jika ternyata makin lama durasi hidupnya makin banyak perbuatan maksiatnya. Andaikan dalam agama ini diperbolehkan dipercepat ajalnya, maka maka lebih baik dipercepat ajal ini supaya tidak bertamabah tumpukan dosa. Sayangnya berdo’a agar didatangkan kematian lebih cepat adalah dilarang dalam agama.

Oleh karena itu di penghujung tahun ini, sempatkan waktu untuk muhasabah dan menilai amal baik apa yang pernah kita lakukan, check and recheck kembali dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Dan setelah itu mari kita sama-sama melakukan perbaikan amal perbuatan kita sebagai langkah untuk menghadapi perpindahan ruang yang pasti yakni ruang kubur setelah kematian berlangsung. Umar ra berkata
وزنوها قبل أن توازنواها حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
Hitunglah amalmu sebelum kau dihitung, timbanglah amal perbuatanmu sebelum kau ditimbang

Porsi Rizki

Atas anugerah dan kasih sayang Allah kepada hambanya, kita semua mendapat rizki tiada henti, berupa oksigen, sehat, nyaman, tenang dan sederet nikmat lainnya sebagai bukti bahwa Allah maha kaya, kekayaannya telah terbukti tidak habis meski telah dibagi kepada seluruh makhluknya baik yang berjalan maupun yang merangkak sejak alam ini tercipta. Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun meminta-minta kepada selain-Nya, terlebih lagi meminta-minta kepada sesamanya. Ibnu Mandzur, menilai rizki tidak hanya berupa material fisik seperti uang, sandang pangan tapi jauh lebih penting adalah rizki bersifat bathin bathin misalnya, hilangnya kesedihan, sehat jasamiani ruhani, nyaman dll.
Ada sebuah keterangan yang memberkan informasi bahwa porsi rizki manusia telah ditulis Allah sejak dalam kandungan sejak janin berusia 120 hari. Rizki tersebut dibagikan selama kurun waktu menjalani kehidupan dunia hingga ajal berbicara, antara hamba yang satu dengan yang lainnya diberi perbedaan agar terjadi kelangsungan sunnatullah, ada yangbanyak dan ada yang sedikit, catatan pembukuannya erat dalam genggamanya, So.. tak ada gunanya harus iri apalagi dengki dengan kenikmatan orang lain, begitupula tak ada alasan membanggakan usahanya, bukankah semua telah diaturoleh sang maha teratur, teratur dalam pemberian dan teratur dalam jumlahnya. Pendek kata porsi rizki itu kuasa Allah ta'ala tidak bisa dipaksa-paksa, Allah berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)

Yang tahu jumlah rizki hanya Allah ta'ala, semua rahasia itu erat dalam genggaman-Nya, jangankan untuk masa depan yang lama, untuk esok hari saja manusia tidak mengetahuinya, sesuai dengan firman-Nya.

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا....….
" Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (QS. Lukman : 34).

Kerahasiaan itu dimaksudkan agar supaya setiap insan tidak bermalas malasan dalam usaha, keberhasilan semata-mata bukan karena hasil usaha manusia tetapi karenya-Nya, tetapi bukan berarti pasrah tanpa usaha, pada akhirnya nanti kberhasilan usaha akan mendorong manusia untuk bersyukur dan bernilai ibadah, begitupula kegegalan juga pada akhirnya mendorong manusia untuk bersabar dan bernilai ibadah pula. Jangan bangga dengan keberhasilan pun jangan kecewa karena kegagalan, keduanya ada ibadah mulya di dalamnya.

Faktanya pada saat ini banyak orang mengeluh karena usahanya gagal dan bahkan ada sebagian orang resah bukan karena rugi tapi semata-mata karena hasil yang didapat hari ini lebih kecil dari hari-hari sebelumnya, tak jarang pula ada sebagian orang yang masih membangga-banggakan strateginya dalam mencari rizki sehingga tak terasa lewat jalan pintas, manipulasi, curang dan terjerumus dalam transaksi yang dilarang oleh Allah swt. Anehnya dengan bangga ia ceritakan kepada sesamanya, Naudzubillah..

Dalam perjalan pencarian rizki manusia dihadapkan pada pilihan cara, cara halal namun lambat, cara haram tetapi cepat untuk menghasilkan rizki melimpah, tidak sedikit manusia terjebak dalam pilihannya, sampai terjerumus ke dalam lembah nista, dengan cara mencuri atau korupsi, dengan cara manipulasi atau melalui cara tipu sana tipu sini. Mencari rizki sebagai sarana ibadah hukumnya adalah ibadah, tetapi dengan cara haram seperti ini, mencari rizki berharap mendapat rahmat, namun bukan rahmat malah laknat di dapat

Rizki diberikan kepada manusia tidak lain adalah untuk menegakkan tulang iga supaya ia mampu beribadah kepada Allah swt, karena tugas utamanya adalah semata-mata beribadah kepada Allah, bukan memburu karunianya apalagi menumpuknya, karena mencari sarana untuk ibadah sehingga Allah memuji bagi orang yang bekerja keras, tetapi bisa jadi karena tidak sadar dengan tujuan utama hidupnya sehingga manusia mencari karunia Allah untuk ditumpuknya kemudian harta tersebut tidak menjadi sarana memuluskan perjalanannya ke ridho-Nya tetapi malah membuat murkaNya.

Oleh karena itu mencari harta yang halal sudah tidak bisa ditawar-tawar, terlebih di zaman akhir, silahkan baca : tanda akhir zaman , Rizki sebagai sarana pengantar untuk beribadah harus benar-benar halal dan thoyyib, ibarat orang minum, rizki adalah gelasnya, minum dengan gelas bersih supaya badan sehat, jangan coba coba minum dengan gelas kotor kalau ingin hidup sehat. Jalani kehidupan ini dengan rizki halal dan memohon keberkahan dari Allah bila ingin hidup berbahagia di dunia, sungguh harta yang tidak berkah itu banyak indah dan banyak dalam hitungan tapi hakikatnya sedikit sekali manfaatnya, dan tidak punya pengaruh baik untuk mencapai kedamaian dalam hatinya. Karena Rizki yang berkah itu sangatlah penting

Rizki yang berkah adalah, rizki yang mempunyai efek kebaikan berlipat ganda pada setiap lini keidupannya, Namun perlu dingat, pengertian berkah ini tidak melulu identik dengan banyaknya materi yang dimiliki, tetapi juga menyertai harta yang sedikit. Hal ini tercermin pada diri yang merasa berkecukupan memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun income yang didapatkan masih tergolong jauh dari cukup. Namun tak jarang kita melihat kebahagiaan selalu menyelimutinya. Seperti yang disindir di dalam Hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu 'anhu di bawah ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi. Dan barangsiapa mengambilnya dengan jiwa serakah , niscaya tidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang".( HR al Bukhari, kitab az Zakat)

Mungkin di lain waktu, saya akan jelaskan lebih detail lagi tentang rizki berkah, jangan sangka bahwa harta banyak adalah berkah, kerja ringan dengan pendapatan berlimpah adalah makna berkah, bukan sungguh bukan itu . Di penghujung tulisan ini marilah kita renungkan hadits nabi di bawah ini :
َ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
"Akan datang suatu masa pada manusia, seseorang tidak peduli terhadap apa yang digenggamnya, apakah dari halal atau dari yang haram" (HR al Bukhari, kitab al Buyu’, bab Man Lam Yubali min Haitsu Kasaba al Mal (4/296)

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar selalu saja muncul pertanyaan dalam sebuah majlis pengajian, pertanyaannya sangat singkat
tetapi jawabannya harus panjang lebar, karena menyangkut aqidah (kepercayaan) akan datangnya lailatur qadar..

Terlebih dahulu yang harus di jawab adalah apa itu lailatul qadar, lailatul qadar adalah malam yang diberkahi yang didalamnya diturunkan al Qur’an sebagai pedoman sepanjang zaman, tak usang meskipun zaman semodern seperti apapun. Kitab yang isinya tentang peta khidupan memuat aqidah, syari’ah, tarikh dan hukum syara’. Ketika al Qur’an sudah diturunkan apakah masih ada malam mulya tersebut ? ada sebagian kecil ulama’ yang menganggap bahwa malam lailatul qadar hanya terjadi satu kali saja berdasarkan firman Allah didalam surat (QS. ad-Dukhan: 2-3)

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ. إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ.
Demi Kitab (al- Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

Pendapat yang menyatakan tidak ada lagi malam yang diberkahi atau lailatul qadar tersebut dibatah oleh mayoritas ulama’ , bahwa lailatul qadar terus ada sampai dunia ini gulung tikar, berdasarkan informasi dari QS. Al-Qadr, yang diredaksikan dengan bentuk fi’il mudhori’ tanazzalu (akan turun)malaikat dan jibril dengan izin Allah. Lailatul qadar dapat ditemui di salah satu malam bulan Ramadhan. Bagi kita yang terpenting adalah mengimana bahwa lailatul qadar itu ada, kemulyaannya lebih daripada malam seribu bulan, adapun wujud dan cirinya dalah masih dalam perdebatan ulama’ namun keberadaannya adalah sebuah kepastian yang tidak terbantahkan lagi. Marilah kita lihat surat al-Qadr secara lengkap:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Tahukah engkau tentang lailatul qadar, pertanyaan dengan kata yang sama seperti ini terulang sebanyak 13 kali di dalam al Qur’an, 10 diantaranya adalah menanyakan hal hal yang diluar batas pengetahuan manusia yang berkaitan dengan kiamat, kitab catatan amal, neraka dll.. Sedangkan tiga yang lain adalah untuk menananyakan langit diwaktu malam (at-thariq) dan jalan sulit yang mendaki (‘aqabah) dan menanyakan tentang tema yang kita bahas pada saat ini yaitu lailatul qadar

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا العقبة
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Nah, dari sini kita dapat mengambil kesimpulan sementara, bahwa lailatul qadar tidak bisa diketahui secara pasti kapan terjadi, begitu juga tanda-tandanya tidak bisa divisualisasikan secara jelas. Semua masih erat dalam genggaman Allah swt, seandainya ada keterangan dari hadits tentu masih dalam tahap perdebatan kebenaran dan makna verbal hadits tersebut, seperti, air membeku, hening, angin sepoi-sepoi dan lain sebagainya, karenanya memang menjadi rahasia dan harus dicari di semua malam-malam bulan Ramadhan, tidak hanya 10 terakhir di bulan Ramadhan. Seperti yang banyak dipahami oleh kebanyakan orang dengan dalih qiyamul lail dan I’tikaf lebih-lebih di 10 terkahir di bulan Ramadhan. Padahal sudah semestinya memang demikianlah seharusnya ketika ibadah puasa sedang berada dalam puncak tertingginya, diharapkan mencapai hari ke-20 adalah hari dimana sedang memuncaknya nilai spiritualitas seseorang dan dilengkapi dengan rutinitas i’tikaf terutama sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan tersebut.

Lailatul qadar ibarat tamu yang di undang, ia akan datang kepada orang yang mengundangnya dan telah mempersiapkan segala sesuatunya, kebersihan fisik serta kejernihan hati dengan spirit yang tinggi. Kalau ada tamu agung yang datang ke kampung anda, apakah akan singgah di setiap rumah? Tentu ‘tidak’, ia hanya singgah kepada orang yang telah mengundangnya dan telah mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka penyambutannya.

Nah, marilah kita undang dengan tadarrus, memperbanyak dzikir, ampunan, sedekah serta amal perbuatan baik lainnya, semoga undangan tersebut membuat kita mempunyai kesiapan lahir-bathin untuk ditemui lailatul qadar amiin

Adab Berbuka Puasa dan Dalilnya

Salah satu yang harus dilakukan oleh orang yang melaksanakan ibadah puasa adalah berbuka puasa, hukum berbuka puasa adalah wajib, karena itu tidak ada tuntunannya seseorang yang berpuasa sehari semalam, jika kita mendengar ada seseorang melaksanakan puasa sehari semalam dengan niat tertentu maka pahamilah mereka berbuka namun sekedar untuk membatalakn puasa saja, kemudian ia tidak makan semalam suntuk. Mengingat pentingnya berbuka puasa tersebut kali ini akan membahas adab berbuka puasa dan dalilnya.

Setelah menahan lapar dan dahaga seharian penuh dan dalam berpuasa jangan sampai berbuka dengan ucapan main-main (malahiy) lebih lebih dengan ucapan yang haram, inilah yang disarankan oleh Rasul saw, ada seseorang yang berpuasa namun di siang harinya ia berbuka dengan yang haram, seperti gosip, adu domba, ghibah dan lain sebagainya. Karena inti puasa adalah pengendalian diri bila tidak bisa mengajak puasa seluruh anggota tubuh atau panca inderanya lalu apa bedanya dengan hewan yang dipaksa diajak berpuasa dengan cara tidak memberikan makan, minum dan kawin. Sama saja dengan puasa hewani  dan yang diharapkan adalah Adab berbuka puasa adalah sebagai berikut

Segerakan berbuka, apabila telah datang waktu berbuka jangan menunggu lama untuk berbuka puasa, mensegerakan berbuka puasa hukumnya sunnat, begitulah keindahan Agama Islam dalam memperlakukan ummatnya. Agama Islam tidak memberatkan ummat pemeluknya, karena itu tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak melakukan tuntunan agama yang wajib. Bila seseorang tidak mampu karena udzur maka dibolehkan baginya untuk tidak berpuasa, tentunya udzur yang sesuai dengan syar’i misalnya sakit, dalam perjalanan, karena tua renta dll, pedoman disunnatkan untuk men-segerakan berbuka adalah hadits Dari Sahl bin Sa'ad ra, Rasulullah saw bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka" [HR Bukhari 4/173 dan HR. Muslim 1093].

Makanlah yang manis-manis, seperti kurma, buah atau makanan lain yang manis hal ini dipahami dari hadits Nabi saw: Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi ). Sebisa mungkin untuk tidak memakan makanan yang berat karena lambung masih kosong dan menghadapi sholat maghrib.

Apabila makan malam sudah dihidangkan maka makanlah terlebih dahulu, karena yang demikian itu akan lebih membuat khusyu’ didalam sholat. Lebih makan makan sambil ingat sholat dari pada sebaliknya di tengah pelaksanaan sholat ingat makan, mendahulukan makan yang sudah dihidang tersebut berdasarkan Hadits Nabi saw dari Anas ra, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Bukhary dan Muslim )

Masa penantian berbuka adalah masa yang paling indah dan saat-saat spiritualitas kita meningkat, mengingat senangnya seseorang di dalam berbuka karena itu perbnanyaklah membaca do’a. Doa orang yang berpuasa adalah sangat maqbul. Semoga puasa kita semua menjadi puasa yang mengatarkan kita menjadi orang yang bertaqwa
Buka Puasa Bersama Memperpanjang Umur

Buka Puasa Bersama Memperpanjang Umur

CERAMAH SINGKAT, Ramadhan adalah momentum berharga bagi ummat islam, diantaranya adalah momentum dimana waktu maghrib selalu menjadi penantian istimewa bagi orang yang berpuasa. Tidak ada waktu yang sangat berharga selain waktu maghrib di bulan puasa. Ada tradisi baik yang patut dilestarikan yaitu buka bersama dalam rangka memperkuat tali shilaturrahim bersama keluarga atau organisasi terntentu. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa buka puasa bersama memperpanjang umur, bukan karena buka puasanya tetapi disebabkan terjalinnya shilaturrahim

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dari hadits di atas kita juga bisa memaknai bahwa buka puasa bersama disamping memperpanjang umur juga memperbanyak rizki. Menurut ibn Mandzur rizki yang berkah bukan diukur dari seberapa banyak secara nominal, tetapi rizki yang banyak diukur dari seberapa manfaat yang di dapat dari jumlah rizki yang dimilikinya.

Rangkaian acara buka bersama biasanya juga diisi dengan amalan amalan baik seperti ceramah agama, bershalawat, baca do’a bersama atau mungkin juga dengan khatmil qur’an dan berbagai bentuk kegiatan keagamaan lainnya. Dengan demikiaa, seandainya kegiatan ini tidak ada di zaman Nabi saw, sekali lagi, Seandainya tidak ada di zaman Nabi saw, maka perbuatan semacam ini tetap saja menjadi tradisi baik yang perlu dilestarikan dan diperbaiki secara terus menerus kualitasnya.

Secara historis entah kapan dimulainya ada tradisi buka bersama sehingga saat ini hampir setiap lembaga, organisasi atau instansi banyak yang membuat acara buka puasa bersama, mungkin saja acara ini hanya dipandang dari sudut manfaat kebersamaan yang diperoleh dan tidak perlu lagi dipertimbangan unsur historisnya. Yang pasti, hampir semua faham meng-amini tentang keberadaan buka bersama tersebut. baca juga amalan puasa yang banyak mendatangkan pahala di judul postingan makna i'tikaf

Oiya besok pertengahan ramadhan buka puasa di mana bro?... ikut dong??? 

Makna I'tikaf

Pengetian i’tikaf, secara etimologi atau secara bahasa makna i’tikaf berarti diam atau menetap di dalam suatu tempat, sedangkan menurut istilah I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid disertai dengan niat i’tikaf, tentunya di dalam melakukan amalan-amalan syar’i yang dianjurkan oleh syara’ baik yang bersifat wajib maupun bersifat sunnat. Waktu i’tikaf ada banyak perbedaan tetapi lazimnya adalah berdian diri melebihi tuma’ninah sholat, bisa jadi sehari atau kurang atau bahkan lebih. Semakin lama maka semakin baik, karena semakin banyak pula amalan baik yang dikerjakannya. Pendek kata waktu i’tikaf bisa dilaksanakan satu atau dua jam, tetapi batas maksimalnya tidak ditentukan

Pelaksanaan i’tikaf kapan saja baik siang maupun malam, tetapi sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan, hal ini tidak aneh karena bulan Ramadhan adalah bulan mulia penuh ampunan dan rahmat dari Allah swt. Seperti itu pula disitir dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشَرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. [رواه مسلم]
Artinya: “Bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” [HR. Muslim]

Berdiam diri dimana? Yang dimaksud berdiam diri untuk memperbanyak amalan baik adalah di dalam masjid jami’ atau masjid yang dipakai oleh orang orang setempat melksanakan sholat lima waktu secara rutin, begitulah pendapat Hanafiyah, atau lebih mudahnya untuk mencirikan masjid jami’ adalah masjid yang biasa dipakai untuk pelaksanaan sholat jumat. Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud

" ولا اعتكاف إلا في مسجد جامع ـ رواه أبو داود.
"Dan tiada I'tikaf kecuali di masjid jami' (H.R. Abu Daud)
I’tikaf harus dilakukan dalam keadaan akil baligh dan suci dari hadats kecil dan hadats besar. I’tikaf lebih dianjurkan lagi disaat-saat 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, sebagai puncak dari ibadah puasa wajib yang ditaklifkan kepada orang-orang mukmin dewasa.

Adapun Hikmah i’tikaf adalah, melatih diri dan mengendalikan emosi serta nafsu, mengingat masjid adalah tempat pendidikan ruh yang paling tepat. Dengan berdiam diri di masjid lebih memungkinkan seseorang untuk termotifasi berbuat baik dan menjauhkan diri dari riuh rendah bising duniawi, masih banyak lagi hikmah i’tikaf yang didapat. Demikian uodate ceramah singkat kali ini, nantikan update selanjutnya

Karakter Pemimpin Ideal



Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
(QS. Al Baqarah: 30)
Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang engkau pimpin.”
(H.R Bukhari Muslim).

Dalam Ensiklopedia Administrasi, pemimpin adalah orang yang melakukan kegiatan atau proses mempengaruhi orang lain dalam suatu situasi tertentu, melalui proses komunikasi, yang diarahkan guna mencapai tujuan/tujuan-tujuan tertentu. Pemimpin adalah orang yang telah diberi mandat penuh untuk mengelola bidang tertentu, termasuk merawat alam. Hal inilah yang membuat kesimpulan hakikat semua makhluk di muka bumi adalah pemimpin, pemimpin bangsanya, keluarganya atau minimal memimpin dirinya sendiri untuk bersinergi dengan alam sebagai hunian. Namun dalam tulisan ini fokus bacaannya adalah menyoal karakter pemimpin ideal untuk menjalankan roda kehidupan bernegara berharap tuilisan bisa menjadi alat bantu untuk memandu dalam menentukan pilpres 2014 yang akan dilaksanakan 9 Juli mendatang.

Alangkah baiknya mari kita baca terlebih dahulu Pidato Abu Bakar as-Shidiq setelah diankat menjadi khalifah, "Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua".

Dari pidato tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa pemimpin harus mempunyai; pertama sifat rendah hati dan mempunya hati yang legowo, tidak meminta perlakuan istimewa dari bawahannya dan siap menerima kritik membangun dari bawahannya karena pada dasarnya pemimpin adalah pelayan masyarakat. Kedua, Pemimpin juga jujur dan adil, jujur atas amanah yang dibebankan kepadanya dan adil dalam meperlakukan siapapun termasuk anggota keluarganya, salah satu amanah terpentingnya adalah mengayomi dan siap menjadi pembela bagi yang lemah

Ketiga, mempunya komitmen kuat untuk berjuang, bukan sekedar hanya mencari popularitas atau bekerja untuk mencari pangan, tetapi berjuang sepenuh hati untuk menciptakan kesejahteraan bagi orang orang yang dipimpinnya, keempat demokratis, demokratis dalam artian bekerja untuk rakyat dan mengambil keputusan yang berpihak kepada rakyat, menentukan kebijakan atas pertimbangan kepentingan bersama dengan mempertimbangkan azas musyawarah sebagai arah klebijakannya. Sebagai pondasi dari perbuatan diatas adalah taqwa kepada Allah dalam rangka mencapai ingin mendapat ridho dari-Nya. Dalam jiwa pemimpin harus ada sifat untuk mengajak kepada kebaikan sebagaimana firman-Nya

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi." (QS. Al-Anbiya': 73)

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsirnya kepemimpinan ideal adalah pemimpin yang senantiasa mengajak rakyatnya kepada jalan Allah secara aplikatif dengan keteladanan untuk mengabdi kepada kepada Allah sebagai ‘abd yang tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah swt
وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ adalah batasan bahwa segala aturan kepemimpinan pada muaranay adalah tunduk dan berorientasi kepatuhan kepada Allah .

***
Sudah bukan rahasia lagi pemimpin ideal adalah kepemimpinan yang diperlihatkan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu yang diwariskan kepada para alim ‘ulama dan sampai ke tanah air ini. Karakter kepemimpinannya selalu bertumpu pada 4 sifat wajib Nabi yaitu jujur (shidiq) karena jujur adalah pintu masuk semua kebaikan, berdakwah mengajak kepada kebaikan (tabligh) tidak hanya sekedar tebar pesona sana-sini, bertanggung jawab dan amanah, cerdas dan cakap dalam mengambil keputusan dan membaca situasi yang dihadapi masyarakat yang dipimpinnya, silahkan baca terlebih dahulu asal usul tembang tombo ati

Kecerdasan sangat dibutuhkan untuk membawa terobosan baru dalam mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya, termasuk kemapanan mental dan keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan yang akan menerpa gerbong kepemimpinan yang besar apalagi seperti bumi pertiwi ini, Allah berfirman dalam Q.s An-nisa: 83)

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا.

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menambahkan bahwa kriteria pemimpin yang memang harus ada adalah keteladanan dalam kebaikan secara universal sehingga secara eksplisit Allah menegaskan tentang mereka: Telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan beragam kebajikan. Fi'lal khairat yang senantiasa mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat Allah secara integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.

Pada akhirnya kembali kepada kita semua, kita dituntut untuk ikut berperan serta meskipun kewajibannya tidak bersifat taklifi (personal) tapi bersifat kifa’i (kolektif) untuk mengangkat dan menegakkan kepemimpinan yang benar menurut kepercayaan kita masing masing silahkan buka kembali karya Abul Hasan Al-Mawardi dalam buku politiknya 'Al-Ahkam As-Sulthaniyah'

Efek baik dan buruknya sebuah sistem kepemimpinan akan dirasakan semua pihak, berdasarkan hadits di bawah ini

وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيكُمْ الْبَرُّ بِبِرِّهِ ، وَيَلِيكُمْ الْفَاجِرُ بِفُجُورِهِ ، فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: "Akan datang sepeninggalku beberapa pemimpin untuk kalian. Ada seorang yang baik yang memimpin kalian dengan kebaikan, namun ada juga pemimpin yang buruk yang memimpin dengan kemaksiatan. Maka hendaklah kalian tetap mendengar dan taat pada setiap yang menepati kebenaran. Karena jika mereka baik, maka kebaikan itu untuk kalian dan untuk mereka. Namun jika mereka buruk, maka keburukan itu hanya untuk mereka"

Untuk mendapat calon pemimpin yang mengantongi semua sifat mulia seperti di atas rasanya sangat sulit sekali –untuk tidak mengatakan mustahil—karena banyak varian karakter dan kewajiban yang harus dipenuhi, bisa saja kita menemukan sifat penujang kebaikan dan kelebihan dalam calon pemimpin kita tetapi di sisi lain ada juga faktor keburukan dan kelemahannya tinggal cara penentuannya adalah mencari yang paling banyak kebaikan dan kelebihannya. Yang paling mengerti tentang hal itu adalah pribadi masing-masing para pemilih. Tulisan ini sama sekali tidak ada tendensi untuk mempengaruhi para pemilih tetapi hanya sekedar memberikan sekelumit panduan penting dalam menentukan karakter pemimpin ideal.


Metodologi Tasawuf Baru, Mungkinkah?

Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan dibutuhkan metode formula tertentu meskipun dengan formula apapun sah dan dibolehkan dan terbuka luas untuk berbagai cara. Cara dan metode tersebut dibukukan dalam kerangka memberikan arahan dan panduan yang dikodifikasikan dalam bentuk disiplin ilmu yang disebut dengan ilmu tasawuf.

Tasawuf adalah jembatan manusia untuk mendekati tuhannya, mungkin ada yang mengatakan bahwa ini bukanlah ilmu tuhan karena diciptakan dan dikreasikan berdasarkan kerangka pikiran manusia namun bukan berarti mempelajarinya adalah bid’ah atau ada akan tetapi hal ini dimaksudkan agar orang orang yang ingin mengikuti jalan dan cara bertasawwuf kepada atau mendekatkan diri kepada Allah adalah bagian dari cara emereka untuk mendapatkan

Dalam kerangkan perkembangan ilmu pengetahuan tidak menutup kemungkinan akan muncul konsep metodologi dalam tasawwuf, meskipun konsep baru tersebut turunan dari konsep lama, karena memang pada dasarnya ilmu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Faktor lain yang ‘diduga’ dapat menimbulkan perkembangan ilmu tasawwuf baru adalah kita tahu bahwa pada permulaannya ilmu tasawwuf adalah hasil dari refleksi mendalam yang tinggi dari para saliknya. Tingkat subyektifitas itulah yang memungkinkan adanya konsep baru dalam tasawuf menjadi tumbuh