Loading...

Ngeriii! Ini Dia Video Detik-detik Pebalap Cewek Ini Tewas Saat Memacu Motor Balapnya di Trenggalek

Para pengguna media sosial kini tengah dihebohkan dengan beredarnya video detik-detik kecelakaan maut pebalap cewek di Trenggalek, Jawa Timur.

 

Dikutip Surya.co.id, Senin (31/10/2016), pebalap tersebut diketahui bernama Riska Alvionita (19) asal Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung.
Korban meninggal setelah menabrak pembatas jalan yang berada di Desa Direnan, Dusun Tugu Bacang, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Sabtu (29/10/2016) lalu.
Awalnya, korban hanya ingin melakukan uji coba pada sepeda motor yang sudah dimodifikasi khusus. Dengan penuh semangat ia pun melajukan kendaraannya dari arah selatan ke arah utara dengan menempuh jalan lurus.
Namun tiba-tiba saja, sekitar 200 meter dari garis start, motor yang dikendarainya hilang kendali hingga menabrak pembatas jalan.
“Mengakibatkan korban meninggal dunia di tempat kejadian,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Trenggalek Ajun Komisaris Polisi Heru Sudjio.

Berikut video detik-detik kecelakaan mautnya :

Demo Ahok di Jakarta Jadi Sorotan Publik Internasional


Media Indo - Demo ormas Islam meminta Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dihukum lantaran melakukan penistaan agama di seantero Indonesia, mendapat sorotan di mata dunia. The Independent, Channel News Asia, BBC dan CNN turut memberitakan mengenai aksi demo ini.

The Independent Jumat (4/11) menuliskan, ribuan muslim garis keras turun ke jalan meminta Ahok ditangkap.

"Dia bukan seorang muslim, tapi dia melakukan penistaan pada Qur'an," ujar salah satu pendemo, Muhammad Said pada stasiun televisi Channel News Asia.

Dalam artikel yang ditulis beberapa media asing ini disebutkan, sedikitnya 18.000 personel polisi turut mengamankan jalannya aksi unjuk rasa tersebut. Demonstrasi kali ini memang digalang oleh Front Pembela Islam (FPI), salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia.

Tak beda dengan media lokal, media internasional ini juga mengatakan atmosfir Jakarta terbilang aman meski jalanan protokol terlihat seperti lautan manusia.

Kasus penistaan agama ini berawal dari penyebutan surah Al Maidah oleh Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Mantan bupati Belitung Timur ini sendiri sudah meminta maaf atas yang dia ucapkan.

Ahok juga sudah diperiksa oleh otoritas berwenang atas kasus ini.

Namun, apa yang dilakukan Ahok ini sarat hukum pidana. Pakar Hukum Universitas Indonesia Chaerul Huda mengatakan yang dilakukan Ahok memenuhi unsur Pasal 156a KUHP.

Dia menjelaskan, Pasal 156 a KUHP berbunyi: Barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. (ma)

Demo Ahok di Jakarta Jadi Sorotan Publik Internasional


Blog Tausiah - Demo ormas Islam meminta Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dihukum lantaran melakukan penistaan agama di seantero Indonesia, mendapat sorotan di mata dunia. The Independent, Channel News Asia, BBC dan CNN turut memberitakan mengenai aksi demo ini.

The Independent Jumat (4/11) menuliskan, ribuan muslim garis keras turun ke jalan meminta Ahok ditangkap.

"Dia bukan seorang muslim, tapi dia melakukan penistaan pada Qur'an," ujar salah satu pendemo, Muhammad Said pada stasiun televisi Channel News Asia.

Dalam artikel yang ditulis beberapa media asing ini disebutkan, sedikitnya 18.000 personel polisi turut mengamankan jalannya aksi unjuk rasa tersebut. Demonstrasi kali ini memang digalang oleh Front Pembela Islam (FPI), salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia.

Tak beda dengan media lokal, media internasional ini juga mengatakan atmosfir Jakarta terbilang aman meski jalanan protokol terlihat seperti lautan manusia.

Kasus penistaan agama ini berawal dari penyebutan surah Al Maidah oleh Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Mantan bupati Belitung Timur ini sendiri sudah meminta maaf atas yang dia ucapkan.

Ahok juga sudah diperiksa oleh otoritas berwenang atas kasus ini.

Namun, apa yang dilakukan Ahok ini sarat hukum pidana. Pakar Hukum Universitas Indonesia Chaerul Huda mengatakan yang dilakukan Ahok memenuhi unsur Pasal 156a KUHP.

Dia menjelaskan, Pasal 156 a KUHP berbunyi: Barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. (ma)

Subhanallah, Tekad Ahmad Demo Ahok Pantang Surut, Meski Hanya Punya Satu Kaki


Media Indo - Aksi unjuk rasa menuntut penegak hukum mengusut tuntas kasus dugaan penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok) dihadiri puluhan ribu orang dari berbagai elemen. Dari mahasiswa, pejabat, sampai orangtua pun ikut hadir meminta Presiden Jokowi tidak intervensi dalam pengusutan kasus Ahok.

Ahmad misalnya, meski usia memasuki 60 tahun, masih tetap gigih melakukan aksi long march dalam unjuk rasa di kawasan Jalan Medan Merdeka. Luar biasanya lagi, Achmad, kakek asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah itu melakukan long march dengan satu kaki.

Ahmad mengungkapkan, ketidaksempurnaan fisiknya itu tidak membuat tekadnya untuk datang ke Jakarta surut. Apalagi, Ahmad yang berprofesi guru itu berangkat dari Palangkaraya sendirian.

"Enggak masalah meski saya kondisinya begini. Karena ini sudah saya rasakan sejak kecil jadi saya tidak mau memusatkan pikiran saya kepada sakit saya," ujar Ahmad, Jumat (4/11).

Ongkos yang dikeluarkan Ahmad dari Palangkaraya ke Jakarta pun disebutnya tidak murah, namun dia enggan menyebut berapa nominal biaya perjalanannya Palangkaraya - Jakarta - Palangkaraya.

Setibanya di Jakarta, Ahmad berkumpul dengan adik adiknya yang tinggal di Samarinda dan Surabaya.

Melihat gigihnya tekad Ahmad datang ke Jakarta, Saiful, adik kandung Ahmad sempat merasa cemas dengan niat kakaknya yang ingin datang ke Jakarta sendiri. Namun, dia menyadari watak kakaknya yang begitu gigih.

"Cemas pasti, tapi saya tahu watak abang saya gimana. Apalagi ini aksi bela agama, tidak ada ruginya," tandasnya. (ma)

Subhanallah, Tekad Ahmad Demo Ahok Pantang Surut, Meski Hanya Punya Satu Kaki


Blog Tausiah - Aksi unjuk rasa menuntut penegak hukum mengusut tuntas kasus dugaan penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok) dihadiri puluhan ribu orang dari berbagai elemen. Dari mahasiswa, pejabat, sampai orangtua pun ikut hadir meminta Presiden Jokowi tidak intervensi dalam pengusutan kasus Ahok.

Ahmad misalnya, meski usia memasuki 60 tahun, masih tetap gigih melakukan aksi long march dalam unjuk rasa di kawasan Jalan Medan Merdeka. Luar biasanya lagi, Achmad, kakek asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah itu melakukan long march dengan satu kaki.

Ahmad mengungkapkan, ketidaksempurnaan fisiknya itu tidak membuat tekadnya untuk datang ke Jakarta surut. Apalagi, Ahmad yang berprofesi guru itu berangkat dari Palangkaraya sendirian.

"Enggak masalah meski saya kondisinya begini. Karena ini sudah saya rasakan sejak kecil jadi saya tidak mau memusatkan pikiran saya kepada sakit saya," ujar Ahmad, Jumat (4/11).

Ongkos yang dikeluarkan Ahmad dari Palangkaraya ke Jakarta pun disebutnya tidak murah, namun dia enggan menyebut berapa nominal biaya perjalanannya Palangkaraya - Jakarta - Palangkaraya.

Setibanya di Jakarta, Ahmad berkumpul dengan adik adiknya yang tinggal di Samarinda dan Surabaya.

Melihat gigihnya tekad Ahmad datang ke Jakarta, Saiful, adik kandung Ahmad sempat merasa cemas dengan niat kakaknya yang ingin datang ke Jakarta sendiri. Namun, dia menyadari watak kakaknya yang begitu gigih.

"Cemas pasti, tapi saya tahu watak abang saya gimana. Apalagi ini aksi bela agama, tidak ada ruginya," tandasnya. (ma)

Jokowi Tak Temui Pendemo, Fahri Hamzah : "Presidennya Amatir"


Media Indo - Puluhan ribu massa tak berhasil menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi). Para pendemo yang menuntut kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok diusut tuntas itu hanya ditemui oleh Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno dan Seskab Pramono Anung.

Sejak siang tadi, Jokowi memang tidak berada di Istana. Orang nomor satu di Indonesia itu lebih memilih meninjau proyek kereta di Bandara Soekarno-Hatta, ketimbang menemui demonstran.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, protokoler presiden tidak cermat mengatur agenda kegiatan Jokowi. Seharusnya, kata Fahri, Presiden tetap berada di kantornya untuk menemui massa aksi.

"Penasihat keamanan presiden ini tidak cermat, ngawur membiarkan presiden keluar saat demo seperti ini. Bagaimana, ada massa 1 juta presiden enggak ada di dalam. Sekuriti, keamanan, ringan kan, artinya dia bisa lebih gampang," kata Fahri di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (4/11).

Jokowi telah menugaskan Wiranto dan Pratikno berdiskusi dengan pendemo. Fahri menjelaskan, perwakilan massa aksi menolaknya dan ngotot ingin bertemu Jokowi. Mereka meminta Jokowi untuk segera memerintahkan Kapolri mengusut dan mengadili Ahok.

"Sekuriti yang ngawur, itu jadinya longgar, bagaimana kalau orang masuk ke situ, kalau ada massa sebanyak itu presiden harus ada di situ, orang itu enggak mau omongan lain, harus presiden," tegasnya.

Fahri menganggap, manajemen politik Jokowi buruk dan amatir. Dia menambahkan, seharusnya Jokowi tidak menghindar dari pendemo dengan alasan meninjau proyek kereta bandara. Berdialog dan mendengar aspirasi rakyat, lanjut dia, juga jadi tugas seorang presiden.

"Presidennya amatir. Dia cuma bilang kerja kerja kerja, emang kerja itu cuma ninjau rel dan kapal, kalau aspal suruh mandor saja, presiden ke situ, manajemen politik diabaikan," pungkasnya.

Sebelumnya, dua orang perwakilan dari demonstran akhirnya diterima pihak Istana. Dua orang tersebut salah satunya yakni Bachtiar Nasir.

Keduanya diterima oleh Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Namun delegasi demonstran meminta langsung bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kita tak bisa pertemukan langsung pimpinan delegasi dengan Presiden Jokowi karena Pak Jokowi sedang tidak ada di tempat," kata Wiranto kepada dua orang perwakilan demonstran di depan halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (4/11).

Kecewa tak bisa bertemu Jokowi, perwakilan demonstran lantas menolak berdialog dengan perwakilan pemerintah. Keduanya lantas meninggalkan Istana dan bergabung dengan kerumunan demonstran yang ada di depan Istana.(ma)

Jokowi Tak Temui Pendemo, Fahri Hamzah : "Presidennya Amatir"


Blog Tausiah - Puluhan ribu massa tak berhasil menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi). Para pendemo yang menuntut kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok diusut tuntas itu hanya ditemui oleh Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno dan Seskab Pramono Anung.

Sejak siang tadi, Jokowi memang tidak berada di Istana. Orang nomor satu di Indonesia itu lebih memilih meninjau proyek kereta di Bandara Soekarno-Hatta, ketimbang menemui demonstran.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, protokoler presiden tidak cermat mengatur agenda kegiatan Jokowi. Seharusnya, kata Fahri, Presiden tetap berada di kantornya untuk menemui massa aksi.

"Penasihat keamanan presiden ini tidak cermat, ngawur membiarkan presiden keluar saat demo seperti ini. Bagaimana, ada massa 1 juta presiden enggak ada di dalam. Sekuriti, keamanan, ringan kan, artinya dia bisa lebih gampang," kata Fahri di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (4/11).

Jokowi telah menugaskan Wiranto dan Pratikno berdiskusi dengan pendemo. Fahri menjelaskan, perwakilan massa aksi menolaknya dan ngotot ingin bertemu Jokowi. Mereka meminta Jokowi untuk segera memerintahkan Kapolri mengusut dan mengadili Ahok.

"Sekuriti yang ngawur, itu jadinya longgar, bagaimana kalau orang masuk ke situ, kalau ada massa sebanyak itu presiden harus ada di situ, orang itu enggak mau omongan lain, harus presiden," tegasnya.

Fahri menganggap, manajemen politik Jokowi buruk dan amatir. Dia menambahkan, seharusnya Jokowi tidak menghindar dari pendemo dengan alasan meninjau proyek kereta bandara. Berdialog dan mendengar aspirasi rakyat, lanjut dia, juga jadi tugas seorang presiden.

"Presidennya amatir. Dia cuma bilang kerja kerja kerja, emang kerja itu cuma ninjau rel dan kapal, kalau aspal suruh mandor saja, presiden ke situ, manajemen politik diabaikan," pungkasnya.

Sebelumnya, dua orang perwakilan dari demonstran akhirnya diterima pihak Istana. Dua orang tersebut salah satunya yakni Bachtiar Nasir.

Keduanya diterima oleh Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Namun delegasi demonstran meminta langsung bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kita tak bisa pertemukan langsung pimpinan delegasi dengan Presiden Jokowi karena Pak Jokowi sedang tidak ada di tempat," kata Wiranto kepada dua orang perwakilan demonstran di depan halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (4/11).

Kecewa tak bisa bertemu Jokowi, perwakilan demonstran lantas menolak berdialog dengan perwakilan pemerintah. Keduanya lantas meninggalkan Istana dan bergabung dengan kerumunan demonstran yang ada di depan Istana.(ma)