Loading...
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Ruh

Ceramah singkat Mendiskusikan ruh sampai saat ini akan menjadi masalah yang terus berkembang dan masih saja misterius, mungkin hal seperti ini akan terjadi selamanya, atau barangkali otak kita tidak dipersiapkan untuk mencapai titik pembahasan detail untuk menjelaskannya dan bisa jadi memang seharusnya misterius kemudian perlu diyakini saja tidak usah dibuktikan secara faktual, cukup hanya dalam alam ide saja bukan dialam nyata, karena memang ruh bukan barang yang nyata. Namun bukan berarti berhenti untuk mengali informasi tentang ruh tersebut.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, fisik atau tubuh manusia itu apakah hanya seonggok daging bongkahan yang disusun sedemikian rupa dan didirikan oleh susunan rangka terbuat dari tulang belulang, didalamnya ada immateri yang menggerakkannya yang disebut dengan ruh? Pertanyaan dasar ini harus dicarikan dalih yang menguatkannya

Dalam diri manusia ada dua dimensi yang tak terpisahkan antara jasad dan ruh, keduanya apabila terpisah maka akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda dalm bentuk maupun fisiknya, kedua dimens tersebut sejalan dengan firman Allah

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. Sajdah: 9)

Dalam ayat diatas seteleh Allah meniupkan ruhnya ke dalam jasad kemudian dilanjutkan dengan penciptaan anggota badan, hal ini tentu menunjuk kepada penggunaan penglihatan, pendengaran yang terjadi setelah ruh itu ditiupkan, begitulah pendapat sebagian mufassir, seolah-olah ayat tersebut memberikan pengertian bahwa sumber penggeraknya adalah ruh, ibarat mobil maka sopir adalah ruhnya sopir yang mengggerakan laju cepat dan tidaknya sebuah mobil, bila ruh tidak ada maka mobilpun tidak bisa bergerak, wallahu a’lam bis shawab

Dalam filsafat Islam, badan berperan sebagai kendaraan ruh, aktifitas yang dilakukan oleh anggota badan hakikatnya bersumber dari ruh seperti melihat, mendengar, mencium dan mencecap rasa sedangkan yang berbentuk fisik berupa mata, telinga, hidung, lidah hanya sekedar alat perantara untuk mengetahui masalah-masalah ini. Oleh karena itu fisik bisa dibantu dan diganti dengan yang lain berbeda dengan hakikat ruh yang bersifat abadi. Seandainya ada seseorang yang pandangannya terganggu karena pergeseran retina maka ia bisa dibantu dengan kacamata untuk merekayasa pergeseran retina tersebut, seseorang yang mengalami masalah pendengaran bisa dibantu dengan alat bantu dengar, hal ini berbeda dengan ruh yang apabila telah hilang berpisah maka tidak ada yang bisa menggantikannya. Itulah gambaran hubungan antara ruh dan jasad

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr: 29)

Dalam kedua ayat diatas, ada kata “ruh ku”, kata tersebut tentu pemahamannya adalah bukan ruh Allah karena Allah tidak butuh dengan ruh, akan tetapi penyandaran kata ‘ruh’ dan ‘aku’ hanyalah sebuah penyandaran untuk mengagungkan, seperti halnya kita menyebut baitullah (rumah Allah), Syahrullah (bulannya Allah) kesemua ini disebut untuk memulyakan danmembesarkannya agar mendapat perhatian yang lebih dari mustami’ atau orang yang membacanya.
Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا.
dan nafs (jiwa, ruh) dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (QS. As-Syams:7-8)

Dalam ayat di atas ruh memiliki pemahaman sehingga diberikan ilham pemahaman atas kebaikan dan keburukan. Mengingat pada manusia tidak terdapat satupun anggota badan yang bisa memahami sesuatu selain ruh, maka yang layak memiliki pemahaman adalah kekuatan selain materi yang disebut oleh al-Quran dengan ruh atau nafs.
-----------------------------------------------
Rekomendasi ceramah singkat kepada anda untuk membaca juga 
  1. di tantang maut
  2. hidup adalah penyesalan

Jujur Menjadi Pintu Masuk Semua Kebaikan


Rasulullah selalu berpesan agar setiap muslim untuk berlaku jujur, jujur terahdap Allah, dirinya dan terhadap orang lain terutama pada saat dibutuhkan dengan cara dengan mengatakan apa adanya meskipun harus menanggung akibatnya, seperti dalam persidangan yang menyangkut hajat orang banyak, seperti dimintai kesaksian di pengadilan apalagi terkait dengankasus korupsi uang negara, sebagaimana Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban
قل الحق ولو كان مرا
Katakan kebenaran walau pahit (HR. Ibnu Hibban)
Makna gampangnya, Jujur adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, tanpa ada tendensi untuk menutupi kesalahan orang lain, kita bisa bayangkan seandainya para saksi itu berkata jujur maka hakim akan dengan mudah menjernihkan putusannya, yang salah diputus salah dan sebaliknya yang benar akan mendapat kebenarannya. 

Alangkah damainya dan tentramnya hidup dalam bangsa yang penuh dengan kejujuran, akibat yang dirasakan dari perbuatan jujur adalah kebaikan yang merata ke segala arah, tak terbedakan mana penguasa atau rakyat jelata, tak ada lagi mana cicak dan mana buaya. Pendek kata kejujuran menjadi pintu masuk semua kebaikan. Sebaliknya, Kebohongan membuka jalan lebar kepada keburukan, uniknya di dalam perbuatan bohong, untuk menutupinya butuh kebohongan yang lebih besar lagi, dari kebohongan semula.
Kejujuran rupanya mempunyai pertalian erat dengan aqidah. Seseorang yang aqidahnya kuat akan selalu berbuat jujur, karena merasakan kemaha hadiran Allah swt, setiap gerak dan langkahnya selalu merasa diawasi oleh Allah swt Yang Maha Mengetahui. 

Rasul saw bersabda yang diriwayatkan oleh Aisyah dikatakan bahwa: “ Sifat yang dibenci oleh Rasulullah adalah bohong”. Kalau ada orang yang berbohong sekali, maka tidak akan hilang dalam ingatan Rasulullah sampai orang itu bertaubat. Mengapa bohong itu sangat serius ? dan jujur sangat penting ?. Jujur adalah pintu kebaikan. Bohong adalah pintu kejahatan. Artinya, kalau yang kita buka adalah pintu kejujuran, maka akan masuk asemua kebaikan, sebaliknya bohong adalah pintu kejahatan, kalau dibuka pintu kebohongan maka akan masuk seluruh kejahatan.
Ada seorang yang datang kepada Rasulullah ingin memeluk agama Islam tetapi ia hobby berzina. Persoalan tersebut jika dibawa kepada seorang psikiater mungkin resepnya akan beraneka warna, tetapi Rasulullah memberikan resep yang sangat singkat, yaitu tidak boleh berdusta (bohong). Apa hubungan zina dengan bohong ? bohong adalah pintunya, jika pintunya dibuka, maka segala dosa itu akan masuk, tapi jika kebohongan itu ditutup maka segala dosa tidak akan masuk. Artinya dari seluruh kejahatan yang kita kerjakan itu akibat kita sering berani berbohong dan berdusta.

Sebagai orang mu’min sifat jujur adalah salah satu ciri yang harus dilekatkan dalam dirinya, mungkin saja orang mukmin bermaksiat tetapi seorang mu’min tidak mungkin melakukan kebohongan. Suatu hari Rasulullah saw bersabda: “ setiap mu’min mungkin saja mempunyai sikap yang jelek,. Tetapi yang tidak boleh adalah dusta dan khianat, kemudian datang seseorang yang bertanya, wahai.. Rasul saw, mungkinkah seorang mu’min itu penakut, 

Rasul saw menjawab:”mungkin”
Mungkinkah seorang mukmin itu bakhil ?”. Jawab Rasulullah : “mungkin”.
Sahabat kembali bertanya : “Mungkinkah seseorang mukmin al Kadzab (berdusta) ?
Rasul saw menjawab : “Tidak mungkin”.

Terkadang kita berbohong tetapi dalam kesadaran diri kita, kita tidak merasakan bahwa ada masalah besar dengan akhlak kita, padahal sekelumit kisah di atas, seolah-olah larangan keras dari rasul saw untuk orang-orang yang berbohong, bahkan bohong mengeluarkan manusia dari bingkai keimanannya. Pada postingan penagih pajak yang jujur di sana banyak pelajaran berharga yang membuat kita bisa membedakan dengan jelas prilaku pejabat terdahulu dan sekarang

Ketika Kesalahan Dianggap Kebenaran

Seburuk buruk manusia adalah orang yang sakit hatinya, nista perbuatannya namun tak mampu berusaha mencari obatnya, bukan kesembuhan yang didapat melainkan justru bertambah parah. Al Qur’an mensinyalir bahwa orang yang hatinya sakit tetapi tidak merasa berpenyakitan, tak pelak lagi penyakit hatinya bertambah lama semakin parah parah, fii quluubihim maradhun fazaaduhum maradha (dalam hatinya ada penyakit dan bertambah-tambah)

Agaknya hati yang berpenyakitan tak mampu menahan pedihnya formula obat penyembuhnya, tak heran karena ulama’ tasawuf manapun meyakini bahwa penyakit di dalam hati sulit dicari obatnya (‘ilajuhu ‘asirun). Fenomena ini menggejala di masyarakat umum, di semua lapisan masyarakat, bahkan tak jarang kita jumpai seseorang yang dianggap sekali lagi –hanya- dianggap sebagai orang baik ternyata hatinya masih cemar ‘debu’ kesombongan merasa benar atas segala perbuatannya. Kondisi penyakit ini menunjukkan betapa parahnya penyakit hati yang dideritanya:

Abu Darda’ pernah berkata, “tidaklah orang yang merasa aman dengan keimanannya kecuali imannya telah dirampas oleh setan” perpanjangan kata penuh hikmah tersebut, tidaklah oran yang merasa benar kecuali kebenaran telah dirampas oleh setan, tidaklah orang yang merasa alim kecuali keilmuannya telah diperbudak oleh setan. Amatlah buruk orang yang demikian ini.

Ada beberapa hal yang menyebabkan penyakit hati bertambah parah;
  1. Karena tidak kuat menahan pedihnya pada saat perbuatan salahnya diketahui oleh orang lain, setelah dinasehati seolah menjadi pil pahit yang tak sanggup dtelannya karena terhalang bangunan dinding nafsu yang kokoh lagi kuat
  2. Karena kurangnya pengetahuan, minimnya ilmu tasawuf membuat manusia mengambang, hanya mengetahui kulit luarnya tidak mengetahui delik-delik gejala penguasan nafsu atas hatinya. ‘Alim perasaanya, fasih lisannya tetapi munafik perbuatannya. Inilah yang paling dikhawatirkan oleh Nabi saw di akhir zaman
  3. Hiasan setan telah menyemat membalut erat di dalam hatinya, kita sering melihat seseorang hanyut dalam buaian pujian, padahal pujian seseorang hanya berkisar pada pandangan mata, pandangan mata adalah lemah, karena hanya melihat sisi luarnya saja. Dari gaya bicaranya, kostum kebesarannya, perasaannya. Padahal Allah hanya melihat hati bukan rambut sampai kaki.
Adapun formula pengobatannya adalah dengan membelokkan jalan lurusnya nafsu ke arah yang benar dengan ramah, bila masih tidak bisa disadarkan, sadarkan dengan kekerasan, jika tahap kedua ini masih utuh dan makin bertambah sakitnya. Maka lebih baik ucapkan ‘selamat, silahkan teruskan watak buruk seperti itu’ atau dalam bahasa al Qur’annya (qaalu salaama)
Hujan : Rahmat atau Laknat

Hujan : Rahmat atau Laknat

Allah maha pemurah, kepemurahannya itu telah dibuktikan dengan memberikan bumi sebagai tempat tinggal yang ramah dan murah, semua telah disiapkan semua disediakan telah siap pakai, tinggal manusia yang mau mengolah atau tidaknya. Sebagai khalifah tugas utamanya ada dua,

1. memakmurkan bumi
2. Merawat alam semesta

Memakmurkan bumi menjadi tugas kolektif, karena bumi ini ditempati secara bersama-sama, keterlibatan sangat diharapkan berjalan secara sinergis, bagi ahli ilmu alam memberikan pengertian kepada yang awam tentang ilmu alam, sedangkan yang awam sadar dan mau mentaati terhadap kepada ahlinya. Pemerintah dengan segenap kebijakannya juga harus memperhatiakan kemakmuran terhadap bumi beserta isinya agar bumi ini menjadi lestari dan mampu menjadi tempat yang ramah hingga anak cucuk kita

Merawat alam adalah tugas kedua yang berkaitan dengan alam, tugas ini dengan berbagai bentuknya diharapkan dapat menjadikan alam tetap terjaga dan aman dari tangan jahat yang tidak bertanggung jawab. saling mengingatkan dan menasehati akan pentingnya menyelamatkan bumi dengan cara menjaga pepohonan, membuat resapan dan membuat segala bentuk kegiatan yang mengarah kepada pemanfaatan alam yang ramah dan tidak merusak ekosistem yang sudah mapan seperti yang diciptakan oleh Allah swt.

kita semua tentu sadar, bahwa alam raya dengan segala pesona yang melekat di dalamnya adalah tanda kekuasaan Allah bagi orang orang yang mau memikirkannya, termasuk diciptakannya angin dan hujan. Seluruh makhluknya adalah ciptaannya, termasuk angin adalah ciptaannya, arah bertiupnya sesuai dengan perintah Allah, pergerakan angin membawa berita gembira atas rahmat yang dibawanya, dengan angin yang bertiup udara menjadi segar, virus hilang dan berganti dengan rahmat dan segala nikmat. Angin juga bisa menggiring gumpalan awan untuk bergerak ke suatu tempat kemudian mendatangkan hujan, airnya menumbuhkan berbagai macam pohonan dan sayuran untuk kepentingan makhluk di bumi ini dalam Surat Ar-Ruum: 46
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur”
dalam ayat yang lain

Penggalan Surat al Baqarah ayat 164
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“..dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al Baqarah: 164).

Namun tidak semua angin atau hujan menjadi rahmat, terkadang juga menjadi adzab yang menjadi sebab kematian dan kehancuran manusia, tidak setabilnya kehidupan dibumi ini, seperti kisahnya kaum 'Aad (kaumnya Nabi Hud)

وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ. مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ
“Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk” (QS adz Dzariyat:41-42)

Begitu juga hujan, hujan terkadang menjadi adzab bagi pepnghuni bumi, seperti banjnir bandang yang dikirmkan untuk menghancurkan ummatnya Nabi nuh as yang durhaka. Jadi, ada banyak ragam tafsir seiring dengan datangnya bencana yang melanda bumi ini. Bisa jadi banjir bagi sebagian orang manfaat, seperti tukang service mengalami peningkatan pelanggan, mesin air makin dibur, dan segala kebutuhan lainnya. Di satu sisi madharat tapi di sisi yang lain manfaat bagi orang lain.tidak salah lagi apa yang dikatakan oleh Jalaluddin Ar-Rumi
Ular bagi ular adalah kehidupan
Namun ular ini bagi manusia adalah kematian
Karena itu tiada keburukan mutlak di alam semesta
Ketahuilah keburukan nisbilah yang ada di alam semesta

Banjir bermanfaat untuk sebagian kecil orang tetapi bagi sebagian besar bagi mereka adalah bencana, begitu juga fenomena alam lainnya. jadi semua masih menjadi tanda tanya besar apakah banjir yang ada saat ini menjadi rahmat atau laknat bagi penduduk bumi itu sendiri.

Renungan Akhir Tahun; Filosofi Barunya Waktu


Hakikat setiap hari adalah baru terbukti tidak ada hari yang sama, yang sama hanya namanya saja. Hari Selasa sekarang berbeda dengan selasa yang akan datang atau selasa yang telah lalu. Karena tanggal/bulannya beda, seandainya kebetulan sama yang pasti tahunnya beda. Dengan begitu mengantarkan kepada kesimpulan bahwa tahun baru tidak

Dalam perjalanan hari selalu ditandai dengan peredaran matahari, sampai sore hari menjadi malam, dari gelap menjadi terang benderang di siang hari, dari siang menuju senja dan berakhir menjadi gelap gulita, manusia juga berputar dari lemah menjadi sangat kuat sampai di usianya yang renta akan kembali menjadi lemah seperti sedia kala sampai berakhir pada kematian.

Putaran tahun juga demikian, seperti putaran matahari. Dari tahun ke tahun sampai pada akhirnya akan berakhir pada limit yang telah ditentukan oleh Allah swt. Jika kita tidak sampai di limit tahun terakhir mungkin kita akan meninggalkan putaran tahun tersebut, terlepas dari itu semua bahwa kita harus tahu bahwa hakikatnya setiap waktu adalah baru

Setiap hari adalah baru, Rabu sekarang berbeda dengan Rabu yang akan datang atau Rabu kemarin. Saat ini tanggal 1 Januari 2014, Rabu yang akan datang tanggalnya sudah berbeda, bila ada kesamaan Rabu di bulan Januari yang akan datang pasti akan berbeda tahunnya, itulah yang dimaksud dengan hakikat setiap waktu adalah baru.

Peringatan tahun baru menjadi terlihat istimewa, mungkin disebabkan karena putarannya lebih lama, karena itu pada tahun baru ini yang terpenting bukan soal perubahan tahunnya tapi prestasi amal baik apa yang sudah diukir, kemaksiatan apa saja yang sudah dihentikan. Perayaan pergantian dengan cara muhasab inilah yang harus didahulukan. Perhatikanlah firman Allah swt

"Di tempat itu, tiap-tiap diri merasakan pembalasan atas segala yang telah dikerjakan dahulu, dan mereka di kembalikan kepada Allah Penguasa mereka yang sebenarnya, dan (pada saat itu) lenyaplah dari mereka segala yang mereka ada-adakan"(QS. 10:30)


Ruang dan Waktu

Ruang dan Waktu

Al Qur'an mempunyai konsentrasi tinggi terhadap persoalan waktu, mengingat manusia tidak bisa mengelak dari waktu, kemanapun pergi waktu selalu menyertai, kelak waktu juga ikut bersaksi atas perbuatan manusia, salah satu bukti bahwa Al Qur'an 'perhatian' kepada waktu dibuktikan dengan adanya beberapa Surat di dalam Al Quran yang di awali dengan sumpah demi waktu, seperti demi waktu ashar, demi malam, demi waktu subuh, demi waktu dhuha dan sejenisnya.

Hal itu mestinya menjadi bahan renungan sebagai hamba Allah yang dikarunia kesempurnaan akal seperti manusia, bahwa hidup ini berpacu dengan waktu, Sahabat Ali ra bahkan mengatakan:"waktu adalah pedang", pedang sebagai alat untuk membunuh termasuk membunuh sang empunya sendiri jika tidak pandai memanfaatkannya. Sebaliknya bila mampu me-manage dengan baik maka dengan alat pedang membuka peluang menjadi jalan menuju kebajikan (bc: syahid). Yang terpenting dalam memanfaatkan waktu adalah untuk meraih prestasi amal baik dan menciptakan prasasti dari perbuatan yang bisa dikenang oleh orang lain sepanjang masa.

Disamping waktu, manusia juga tidak bisa melepaskan dirinya dari ruang, tak perduli sispappun, entah rakyat jelata atau pejabat kaya, presiden atau pengamen, anggota DPR atau tukang ember, pemikir atau tukang parkir, baik kalangan mentri atau tukang patri semua tak bisa melepaskan didinya dari ruang dan waktu.

Ruang keabadian adalah Akhirat semua akan berlabuh di 'sana' kekal selama-lamanya, oleh karena semua tujuan adalah ke arah sana, maka sebagai seorang muslim harus menata orientasi hidup tidak sekedar bermewah-mewahan di dunia, tetapi yang terpenting adalah membuat orientasi jangka panjang yang bersifat abadi dimana ruang dan waktu nya bersifat kekal yakni akhirat,

Saat ini pula tanpa harus menunggu besok atau lusa untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan dosa, sebagaimana firman Allah: "Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (QS Al Muddatstsir: 5). Senada dengan tulisan ini silahkan di baca Renungan tahun baru hijriyah


Belajar Ngaca

Mungkin kesan pertama yang ditangkap pembaca agak janggal judul di atas, bukankah anak kecil saja tidak perlu belajar ngaca, karena ngaca adalah perbuatan sehari-hari yang mudah, tetapi posting blog ini berisi ajakan belajar ngaca. hehehe.. yang dimaksud Belajar Ngaca dalam posting kali ini bukan ngaca di depan cermin biasa seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang terutama kaum hawa’, tetapi yang dimaksud dari posting ini adalah ajakan untuk belajar dari ngaca, melihat perlakuan orang lain terhadap kita sebagai hasil pantulan dari perbuatan kita terhadap orang lain, berdasarkan hadits Nabi Saw: al mu'minu mraatul mu'min (orang mukmin cermin bagi orang mu'min -lainnya). Dari segi bahasa mira'at adalah derivasi dari kata ra'a yang artinya melihat, adapun mira'at merupakan isim alat, alat untuk melihat diartikan "cermin".

Biasanya kata ra'a diartikan melihat sesuatu yang bersifat abstrak, mimpi diistilahkan dalam bahasa Arab ra'a fil manam. Saya pernah mendengar ada khatib menjelaskan haditts di atas tetapi penjelasannya hampir 90% ra’a dimaknai melihat secara fisik, misalnya cara berpakaian, cara senyum, cara bertutur kata dan seterusnya, kerancuan akan timbul bila dikaitkan dengan trend butuhnya popularitas di tahun 2014 nanti. Memberi pencitraan kebaiakn dalam pikirannya agar menarik simpatik para penggemarnya wallahu a'lam

-o0o-
Kalau kita mengucapkan salam kepada banyak orang lain, maka yang kita dapat adalah ucapan salam, kalau seseorang berbuat baik kepada orang lain maka orang lain pun akan banyak yang berbuat baik sebagai balasannya. Semakin banyak perbuatan baik yang diberikan kepada orang lain maka semakin banyak pula kebaikan yang dapat kita petik. Sebaliknya, semakin banyak perbuatan buruk yang dilakukan maka semakin banyak pula balasan keburukan yang dipanen. Jadi hidup ini layaknya orang yang sedang mengaca di depan cermin.

Kalau ternyata dalam cermin tersebut ada bayangan jelek, hitam, kotor, senyum kepuraan, kebaikan yang brbalut pencitraan, fenomena itu bukan berarti di dalam cermin ada makhluk lain. Tetapi seperti itulah timbal balik sejati yang didapat. Jadi perbuatan baik kepada orang lain adalah berbuat baik kepada diri sendiri, begitu juga sebaliknya dhalim kepada orang lain sama halnya dhalim kepada diri sendiri
Allah berfirman di dalam surat al Isra':7
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
"apabila engkau berbuat baik maka berbuat baik untuk dirimu, dan jika engkau berbuat kejelekan maka perbuatan jelek untuk dirimu"

Imam al Qurtubi menafsirkan “li” pada kata li anfusikum dalam ayat di atas bermakna ila, sehingga diartikan dan apabila engkau berbuat baik maka berbuat baik kepada dirimu, dan jika engkau berbuat kejelekan perbuatan jelek kepada dirimu. Pencitraan baik kepada orang lain yang aslinya tidak baik, hanya memberi kepalsuan saja kepada orang lain
أوقال الطبري : اللام بمعنى إلى ، يعني وإن أسأتم فإليها ، أي فإليها ترجع الإساءة ; لقوله - تعالى - : بأن ربك أوحى لها أي إليها .
Mungkin masih terbantahkan, faktanya dalam kasus tertentu ada orang berbuat baik tetapi mendapat balasan buruk, ingat..!! bahwa muara hidup ini bukan sebatas di dunia, tetapi muara paling akhir dari semua rangkaian kehidupan ini di hari akhirat kelak, jika tak terbalas di dunia PASTI kebaikan akan berbalas kebaikan di akhirat. 

Oleh karena itu jangan pernah ragu untuk berbuat baik kepada orang lain, tak perlu harus membungkus dengan citra palsu dalam keseharian, suatu saat masyarakat yang cerdas akan mampu mebedakan antara yang orisinil dengan yang imitasi, antara yang sakral dan yang profan. Semoga manfaat dan kita semua bisa menajalankan hidup di panggung dunia ini dengan hidup sebaik-baiknya.. silahkan rujuk juga posting yang masih berkaitan dengan tema ini yaitu Hidup adalah Penyesalan

Sabar dan Syukur

Sabar disaat susahJika pada posting sebelum-sebelumnya telah dijelaskan bahwa takdir adalah pilihan hidup, maka setelah pilihan tersebut masuk ke dalam suka adatau duka maka sabar dan syukur adalah sifat untuk menerima ketentuan yang diberlakukan oleh Allah kepada diri kita. Dalam perjalanan kehidupan manusia antara bahagian dan susah, suka dan duka keduanya datang silih berganti saling mendahului,

Terkadang ada suasana senang tapi di lain waktu dirundung susah semuanya silih berganti. Karena itu Allah memberikan dua sifat mulya sebagai solusinya untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan sabar dan syukur . Ketika dalam keadaan suka diperintahkan untuk bersyukur apabila sedang dirundung susah diperintahkan untuk bersabar.

Kadua sifat; syukur dan sabar itu seolah berpasang-pasangan yang saling mengisi satu dengan yang lainnya. melalui dua sifat tersebut Allah hendak menjadikan para hambanya sebagai orang yang berpeluang sama untuk mendapat ridhonya. bagi hambanya yang diberi karunia nikmat maka syukur adalah media untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebaliknya bagi hamba Allah yang dirundung kesusahan maka sabar adalah salah satu media untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Sabar dan syukur juga diisyaratkan oleh Allah seperti orang berjalan, antara kiri dan kanan bergantian, tidak pernah kita jumpai orang yang berjalan selalu kaki kanan didepan atau sebaliknya kaki kiri selalu di depan. begitu juga lamabaian tangan, antara kanan dan kiri selalu bergantian, apabila kaki melangkah maka tangan kanan yang melambai ke depan dan begitulah seterusnya.

Semua itu adalah ayat Allah yang tidak berupa teks yang menantang untuk kita baca, agar kita semakin dalam rasa iman dan taqwa terutama terhadap takdir yang diberlakukan Allah kepada kita semua.

Orang yang bersyukur akan ditambahkan nikmat oleh Allah yang melimpah, al-Ghazali membuat analogi, semua nikmat bagaikan bianatang peliharaan, sedangkan syukur adalah jodohnya, apabila binatang tersebut satu jodoh maka tidak menutup kemungkinan akan kawin dan membuat anak-pianak dari nikmat-nikmat tersebut yang akan ditambahkan,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Rabb-mu memberitahukan, jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambah bagi kalian. Dan jika kalian kufur, sesungguhnya adzab-Ku itu amatlah berat.” (Qs. Ibrahim: 7)


Pahala sabar tidak terhitung, agaknya tak heran jika pahala puasa hanya Allah yang mengetahui besar kecil, berkualitas atau tidaknya puasa seseorang, karena di dalam puasa yang berlaku adalah kesabaran, kesabaran menahan dahaga sampai pada waktu berbuka.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, pahala mereka tidak terhitung

Menakar ukuran taqdir

Menyoal qadha dan qadar akan menjadi hal yang sangat pernting karena qadha dan qadar adalah salah satu rukun iman, yaitu beriman kepada qadha dan qadar, kedua kata ini lebih dikenal dengan nama takdir. pengertian taqdir, itu sendiri jika taqdir dikaitkan dengan manusia maka artinya kemampuna, sedangkan jika dikaitkan kepada Allah berarti menafikan ketidakmampuan Allah, atau dengan kata lain melemahkan yang lainnya, Allah Qadiir berarti Allah maha kuasa, menafikan keyakinan bahwa Allah mempunyai kelemahan. sebelum melajutkan bacaan simak terlebih dahulu kultum tentang takdir 

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan kewajiban mengimani takdir Allah Ta’ala dalam ucapan beliau: “Ini termasuk ikatan iman (yang utama), landasan utama ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah Ta’ala), serta pengakuan (keyakinan) terhadap tauhid dan rububiyah-Nya

Qadha dan Qadar
Qadar secara bahasa adalah ukuran tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali, dari pengertian ini berarti qadar mendahului qadha'. karena telah ditentukan itulah maka tidak bisa melampaui dari ukuran yang telah ditentukan sebelumnya

"Dan telah Kami takdirkan/tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua" (QS Ya Sin [36]: 39)

rembulan tidak akan bisa bergerak melampaui manzilah yang telah ditentukan sebelumnya, ia akan patuh sesuai dengan ukurannya yang berlaku. Begitu juga dalam kehidupan, takdir adalah pilihan hidup memilih dengan mengetahui kadar ukuran yang paling tepat untuk menunjang kehidupan ini

Namun ada yang tidak membedakan sama sekali, yang membedakan qadha lebih didasarkan atas ayat qur'an diberbagai tempat mendahulukn qadha daripada qadar. Bagi ulama' yang membedakan kedua kata tersebut. Qadha adalah ketentuan azali sedangkan waktu terjadinya disebut dengan kadar/taqdir. Semua tertulis rapi di lauh mahfudz.

Demikian tulisan singkat tentang menakar ukuran taqdir Silahkan rujuk juga 
Ayat Banjir

Ayat Banjir

Dibawah ini adalah salah satu rangkaian detail ayat banjir di QS. Hud dari ayat:32-49, posting ayat banjir ini semata-mata melengkapi posting sebelumnya yang diberi judul Banjir; Fenomena alam atau kutukan prespektif teologis

قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Mereka berkata: "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (QS. Hud: 32)

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ
Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. (QS. Hud: 33)

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". (QS. Hud: 34)


أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ
Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja". Katakanlah: "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat". (QS. Hud: 35)

وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ ءَامَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ
Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (QS. Hud: 38)

فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ
Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Hud: 39)

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَا ءَامَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Hud: 40)

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Hud: 41)

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (QS. Hud: 42)

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud: 43)

وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim." (QS. Hud: 44)

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." (QS. Hud: 45)

قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS. Hud: 46)

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Hud: 47)

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu'min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (QS. Hud: 48)

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Hud: 49)

Semoga ayat banjir di atas menjadi sumber pelajaran berharga bagi kita dalam memahami banjir yang segera tiba di musim penghujan akhir tahun. dan masih ada ayat lain yang tersebar di beberapa surat di dalam al Qur'an

BLOGGER INDONESIA

Banjir; Fenomena alam atau kutukan prespektif teologis

Dalam pandangan ilmiah, banjir dianggap sebagai fenomena ilmiah (sunnatullah). Biasanya terjadi secara periodik dari tahun ke tahun di musim penghujan, sayang sekali kejadian serupa terulang terus menerus terjadi secara periodik tanpa menyisakan pelajaran berharga untuk belajar memelihara alam agar semakin ramah terhadap penghuninya

Secara alamiah banjir disebabkan oleh akibat kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia yang tidak mampu merawatnya dengan baik, sehingga kurangnya resapan pada setiap bangunan, penyumbatan selokan akibat buang sampah ngawur, sistem pengaliran air ke laut yang kuran terawat diperparah oleh penggundulan hutan dan penghilangan lahan untnuk dijadikan pemukiman dan lahan industri, ambil saja contohnya Jakarta, hampir 90.33 persen wilayahnya berupa bangunan.

Akibatnya tahun 1992 banjir di Jakarta mencapai 61 titik, meningkat di tahun 2002 menjadi 159 titik. Dalam sekala Nasional Selama tahun 2012 ditemukan 4.291 kasus banjir yang merugikan 186.125 warga. Bahkan menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 97 dari 180 kabupaten/kota yang ada di Pulau Jawa berpotensi banjir. Sungguh sebuh bilangan bencana yang mengerikan di negeri yang loh jinawi seperti ini. Pemerintah harus selalu mencarikan jalan keluar dan tidak menganggap ini adalah kejadian wajar tetapi pasti ada tata kelolah yang salah.

Sebagian orang memaknai banjir adalah sebagai bagian dari kutukan dan kemurkaan Tuhan kepada manusia yang terus bergelimang maksiat. Bahkan dalam pentas sejarah agama, Nabi-nabi terdahulu juga mengalami fenomena banjir bandang seperti yang terjadi pada ummatnya Nabi Nuh, Hud dan banjir yang melanda kaum Saba’. Karena ummat nabi-nabi tersebut tidak mau taat terhadap perintah Allah. Pemaknaan teologi semacam ini bukan tidak berdasar, karena di dalam al Qur’an dinyatakan secara gamblang, misalnya Fenomena banjir bandang Nabi Nuh as banjir dijelaskan secara detail dari prolog sampi epilognya tertuang dalam (QS. 11: 32-49)

Dalam beberapa ayat diantaranya peneggelaman orang orang yang tidak bersama Nabi Nuh disebabkan karena mendustakan ayat-ayat Allah, sebagaimana termaktub di dalam firmannya

فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا عَمِينَ
Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (QS. al A’raf: 64)

Dari kata “ayat-ayat kami..” dapat dipahami bukan hanya hanya ayat lafdziyah (teks) tetapi juga pengingkaran atas ayat ayat kauniyah, dalam teologi banjir ini adalah ayat ayat lingkungan. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa pemahaman banjir disebabkan oleh pengingkaran atau maksiat yang dimaksud bisa jadi karena perusakan alam yang semakin nyata dan riil, bukan murni karena kutukan.

Dalam sebuah desertasinya Dr. Mujiyono Abdillah, MA., ia tidak sepakat apabila fenomena alam berupa banjir ditafsiri sebagai murni karena kutukan dari Tuhan, tetapi justru sebalikanya hal-hal semacam ini lebih pada pola tafsir secara ekologis yang dapat di cari pola penyelesaiannya secara manusiawi dan alamiah bukan semata mata kutukan tuhan. Pemaknaan banjir; fenomena alam atau kutukan prespektif teologis harus didasarkan pada rasio sehat bahwa banjir yang terjadi sebab sunnah lingkungan yang dilanggar. Karena sunnah yang dilanggar itulah menimbulkan kutukan tuhan. Alam menjadi ‘tidak sabar’ menahan eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh tangan jahat manusia.

Teologi Santet

Beberapa minggu belakangan ini kata “santet” menjadi akrab ditelinga kita, isu santet ini booming terkait adanya perseteruan beberapa kalangan artis dengan orang tertentu. Topik santet ini rupanya terus digilai oleh publik terbukti dengan pemberitaan di televisi, pagi, siang, sore dan malam bahkan ada acara bergengsi di salah satu televisi swasta mengambil tema ini dikaitkan dengan anggota dewan yang membahas tentang pasal santet, hmm…

Santet atau guna-guna (Jawa: tenung, teluh) adalah upaya mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet dilakukan dengan menggunakan berbagai macam media antara lain rambut, foto, boneka, dupa, ruparupa kembang, dan sederet media aneh lainnya. Akibat ulah santet ini diduga menciptakan efek cacat atau meninggal dunia. biasanya dilatarbelakangi motif dendam kepada orang lain. Santet dipergunakan sebagai alat pembunuh tanpa jejak sehingga aman dari jeratan hukum positif.

Di Jawa Barat pada umumnya tidak dikenal nama santet tetapi dikenal dengan nama telush, teluh ganggaong atau sogra, kalau di Bali disebut desti, leak, atau teluh terangjana, di Maluku dan Papua dikenal suangi, di Sumatra Utara begu ganjang, di Sumatra Barat puntianak dan sederet nama lain, tidak hanya di bumi belahan Asia saja, tetapi sampai dibelahan benua Afrika, mengenal santet dengan istilah voodoo. Santet dikaji dari berbagai sudut memang mempunyai nilai akademis tinggi karena tak pernah habis dan tuntas untuk dibahas, sebut saja Prof Dr Tb Ronny Nitibaskara, menyatakan santet termasuk sorcery (ilmu tenung) atau witch craft (ilmu sihir).

Jika santet yang dimaksud adalah sihir, berarti sugah ada sejak Nabi Musa as. Di dalam al Qura’an disebutkan adanya keterangan bahwa Musa as diserang beberapa ular jelmaan dari tukang sihir suruhan Fir’un, dari lemparan tali tambang dan tongkat mereka yang dilemparkan kepada Nabi Musa as.
Di dalam al Quran disebutkan, Allah befirman;

قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى
Berkata Musa: "Silakan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. (QS. Thaha:66)

Dalam kisah yang lain, latar belakang turunnya (asbabun nuzul ) surat al-Falaq dan An-Naas juga bagian dari kisah serangan sihirnya orang Yahudi yang bernama Lubai al-A’sham kepada Nabi Muhammad saw, Disebutkan di dalam kitab Dalaailun Nubuwwah karya Imam Baihaqi menuliskan sebuah hadits dengan sanad sebagai berikut:

Dari al Kalibi dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas r.a. Menceritakan, bahwa suatu hari Rasulullah saw. mengalami sakit serius, kemudian dua malaikat datang kepada Nabi saw, yang satu di kepala dan satunya lagi di kaki, Malaikat yang berada di kaki Rasulullah saw bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Malaikat di sebelah kepala Rasul saw menjawab: "Thabb", kemduian bertanya lagi "Apakah Thabb itu?" malaikat yang berada di kepada menjawab: "Sihir", "Siapakah yang menyihirnya?" Malaikat yang di kepala menjawab: "Lubaid Al A'sham orang Yahudi". Lalu malaikat yang berada di sebelah kaki terus bertanya: "Di manakah sihir itu disimpan?", "Di dalam sumur keluarga si Polan, ia terletak di bawah sebuah batu besar dalam keadaan terbungkus". Jawabnya.

Kemudian mereka berdua mendatangi sumur itu, lalu mereka menguras airnya dan mengangkat batu besar untuk mengambil buntelan buntelan lalu membakarnya di dalamnya ada seutas tali degnan sebelas ikatan. Kemudian diturunkan kedua surah yakni an-Naas dan al Falaq ini kepada Rasulullah saw., setiap kali beliau membaca satu ayat dari kedua surah tersebut terlepaslah satu ikatannya. Jumlah ayat an-Naas dan al Falaq jika dikalkulasikan sebanyak 11 ayat.
***
Kisah tersebut di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa sihir atau santet itu ada, dan membahayakan bagi manusia, namun semua akan terjadi jika Allah menghendaki karena semua yang terjadi adalah atas kuasa Allah swt. Oleh karenanya Allah swt memerintahkan untuk selalu berlindung dari kajahatan manusia. Sihir termasuk kejahatan yang mengakibatkan pelakunya diganjar dengan dosa besar, sihir tergolong dalam tujuh perbuatan dosa besar, Nabi bersabda:

"Jauhilah tujuh perkara yang merusak Para sahabat lantas bertanya: apa (tujuh perkara) itu, wahai Rasulullah?, Jawab Rasul: (1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang dilindungi Allah kecuali dengan cara yang haq, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) lari menghindar saat berkobarnya perang dan (7) menuduh zina wanita yang dilindungi yang beriman dan yang lupa (yang tidak pernah membayangkan untuk melakukannya). (diriwayatkan oleh Bukhari).

Sihir adalah kekuatan gaib yang dimiliki oleh seeorang bertujuan untuk merusak dan meresahkan maasyarakat, dalam rancangan perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang menyatakan, orang yang berupaya menawarkan kemampuan magisnya bisa terancam pidana lima tahun penjara.

Aturan ini dituangkan pada Bab V tentang Tindak Pidana terhadap Ketertiban Umum yang secara khusus dicantumkan dalam Pasal 293. Lebih jelasnya kutipannya sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV;

(2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya ditambah dengan sepertiga."

Karena bersifat magic inilah, tentunya pembuktiannya akan mengalami berbagai kendala, sebab tidak bisa dibuktikan secara faktual, entahlah bagaimana cara mengimplementasikan pasal tersebut.

Hukum positif dan hukum agama telah melarang keras untu mengembangkan, memakai atau mengajarkan ilmu sihir karena tidak ada sisi baiknya sama sekali, entah siapakah pencipta ilmu hitam tersebut. Yang pasti secara teologis jika santet yang dimaksud adalah ilmu sihir, maka ilmu tersebut jelas benar adanya, tak bisa diragukan lagi. Setiap orang perlu waspada terhadap kejahatan manusia pengguna ilmu santet/sihir tersebut.

Memilih Rahim sebagai Ladang Menabur Benih

Memilih Rahim sebagai Ladang Menabur Benih

Ceramah singkat saya kali ini akan membahas tentang pemilihan jodoh atau pasangan hidup yang serasi dan selaras sebagai ladang untuk menabur benih keturunan, karena al Qur’an dengan jelas memberikan isyarat isteri bagaikan ladang yang butuh digarap dengan baik, penuh kesabaran untuk mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat QS. Al baqarah: 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ.
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (al Baqarah :223)

Ayat di atas memberikan isyarat bahwa, secara tersirat ada semacam anjuran berikhtiyar mencari pasangan hidup yang sempurna untuk dijadikan sebagai ladang menanam benih keturunan, karena isteri itu bagaikan ladang untuk menanam benih keturunan. Sudah menjadi hukum alam, ladang yang subur diimbangi dengan perawatan yang baik, lebih berpotensi menghasilkan tanaman yang berkualitas daripada ladang tandus dengan garapan yang baik pula.

Ayat di atas, juga memberikan pengarahan, tidak hanya ladang dan sistem garapan yang baik saja untuk mencita-citakan hasil yang berkualitas, tetapi sebelum memilihi ladang yang subur, dahulukan dirimu menjadi individu yang memproduksi bibit berkualitas tinggi, lanjutan ayatnya : ”Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu” , lanjutan ayat ini mengarahkan kepada pembacanya, sebelum memilih ladang yang subur maka pastikan sang suami memiliki benih yang berkualitas. Usaha untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas harus di awali dari diri sendiri, jangan menyalahkan ladang (isteri) kalau individu seorang suami belum bisa menjadi bibit yang berkualitas.

Terpenuhinya cita cita memperoleh hasil tanaman yang baik, ternyata harus melalui cara yang panjang, sejak dari sendiri, pemilihan isteri dan mempergauli isteri degnan cara yang baik. Dengan usaha itu, kedua belah pihak akan merasa diuntungkan, alangkah meruginya seorang isteri jika mendapat suami yang mempunyai bibit tidak berkualitas, begitu juga sebaliknya, suami akan merasa kecewa kalau mendapati isteri yang digadang-gadang sebagai ladang untuk menanam benih ternyata tidak subur. Lalu bagaimana jika sudah terlanjur.

Ingat!!! Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan, mulailah sekarang, sekarang, sekarang untuk berbuat baik, ajak isteri juga untuk melakukan aktivitas yang baik-baik. wassalam
Manusia bisa lebih dari Iblis

Manusia bisa lebih dari Iblis

Sombong termasuk sifat yang membahayakan keimanan, modalnya melakukannya tidak mahal, tetapi bisa membuat seseorang defisit amal baik yang luar biasa besar. Iblis pada mulanya adalah bala tentara Allah sejenis para malaikat Allah, ttapi menentang perintah Allah untuk sujud (penghormatan) kepada Adam as yang terbuat dari tanah, Allah pun berfirman dengan nada bertanya: "Apa yang membuatmu tidak bersujud ketika Aku perintahkan?" Iblis menjawab," Aku lebih baik dari pada dia. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah." Menanggapi sikap sombong Iblis yang tidak mau bersujud itu kemudian Allah berfirman "Turunlah engkau dari surga karena tidak pantas engkau berlaku sombong di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk orang yang hina."(QS.al-A'raf: 13)

Iblis yang sebelumnya telah beribadah selama 6 ribu tahun lamanya –wallahu a’lam apakah tahun dunia atau alam lain--, melakukan kesombongan satu kali saja membuat dirinya terlempar jauh sekali dari rahmat Allah, meski Iblis mengakui bahwa Allah adalah tuhan semesta alam. Bagaimana dengan manusia yang melakukan kesombongan berkali-kali??

Surga diharamkan bagi orang orang yang di dalam hatinya masih bercokol sebiji atom sekalipun rasa sombong, Rasulullah saw bersabda; "Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebutir atom."(HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud ra). Sebutir atom yang tidak terlihat kasat mata saja dapat menghalangi perolehan kenikmatan surga seluas langit dan bumi, lalu bagaimana dengan pribadi kita yang seringkali menyombongkan diri dengan keberhasilan usaha dan ilmu pengetahuannya?? Tentu akan lebih jauhlagi ketimbang iblis laknatullah, kalau tidak mendapat rahmat dari Allah swt.

Hadits bahaya sombong di atas menggetarkan seorang laki-laki yang mendengarnya dan ia pun bertanya kepada Rasulullah saw," Seseorang itu tentu senang kalau pakaiannya bagus dan sandalnya pun indah. Apakah itu sombong?" Beliau saw menjawab pertanyaan tersebut dan menerangkan hakikat sombong," Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran (bathru al-Haq) dan merendahkan orang lain (ghamtu al-Nâs).

Rupanya kisah iblis, bukan berakhir di golongannya saja, Hamba Allah yang bernama manusia ini, ketika lepas kendali bisa berbuat lebih jahat daripada Iblis dalam sifat sombongnya, misalnya Fir'aun, ia lebih sombong daripada iIblis. Kesombongan Iblis masih mengakui bahwa Allah adalah tuhan penciptanya, tetapi Fir'aun mengaku sebagai tuhan sang pencipta, seperti yang dikatakan di dalam Al Qur’an: " Ana Rabbukum al-A'lâ (Akulah Rabb kalian yang paling tinggi)."

Kalau Fir’un sombong karena kekuasaannya, lain lagi dengan Qarun yang sombong karena hartanya. Saking berlimpahnya harta kekayaannya, untuk memikul kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya saja tidak kuat dipikul orang-orang kuat sekalipun. Menjawab ajakan untuk beramal menggunakan Qorun dengan angkuh dan sombong mengatakan: "Harta ini aku dapatkan karena ilmuku."(QS.al-Qashash: 78). Kemudian Qarun dan hartanya dibenamkan oleh Allah swt.

Hanya Mengaku
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk miskin, bumi tempat kita berpijak, sebelum kita dan orang tua kita terdahulu diciptakan, tanah ini sudah ada, itu berarti tanah ini bukan milik kita seutuhnya, bahkan sebelum Adam as tanah inipun sudah ada. Kalau saat ini kita katakan milik kita, itu hanya pengakuan manusia saja. Manusia tukang mengakui harta yang hakekatnya bukan milik pribadinya secara hakiki, karena itu tidak patut disombongkan.

Saat ini kita bisa mengatakan, ”ini tangan-ku, ini kakiku, ini pakaianku,” tapi 100 tahun lagi kita sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, bahkan nama kita-pun ikut terbenam ke dalam tanah yang kita injak setiap hari ini. Yang patut berlaku sombong hanya Allah swt. "Kebesaran adalah pakaian-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. (Allah Ta'ala berfirman): Barang siapa menyaingi Aku pada keduanya pasti Aku azab ia." (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Semoga kita bukanlah hamba Allah yang masuk ke dalam bujuk rayu iblis terlaknat itu, dan marilah terus menyadari sepenuhnya bahwa apa yang kita miliki ini adalah pemberian Allah, sekecil apapun pemberian itu harus di syukuri, dengan ucapan dan tindakan.

.