Loading...
Tampilkan postingan dengan label kultum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kultum. Tampilkan semua postingan

Bahaya Makan Berlebihan

Berlebihan dalam hal makan sangat tidak dianjurkan dalam ajaran agama Islam, terlebih lagi makanan yang diharamkan, makanan yang halal akan dihisab sedangkan makanan yang haram akan mendatangkan adzab. Bahaya berlebihan makanan membahayakan kesehatan terlebih sangat membahayakan kondisi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalam ceramah singkat ini akan diperdalam pembicaraannya dalam kasus bahaya makan berlebihan terhadap kinerja spirtualitas dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Ditemukan di dalam kitab minhajul abidin karya Imam Ghazali, paling tidak ada 10 bahaya berlebihan makan

Pertama,
إن فى كثرة الأكل قسوة القلب
Sesungguhnya dalam berlebihan makan ada hati yang keras, Bahaya makan berlebihan menyebabkan hati menjadi keras dan hilangnya sinar hati dari petunjuk Allah. Kehilangan sinar hati dari petunjuk Allah adalah kerugian besar bagi seorang mukmin, karena dengan hilangnya petunjuk yang menciptakan hidup ‘nyasar’ dari rel agama yang benar.

Perut yang diisi makanan berlebihan bagaikan memanaskan bejana di atas tungku, sedang di atas bejana yang dipanaskan tadi ada sebuah benda, bila tungku dinyalakan terus menerus maka benda yang berada di atas bejana akan gelap karena asapnya dan bahkan bisa menggosongkan benda tersebut. Kayu sebagai bahan bakar tungku itu adalah makanan sedangkan bejana diserupakan perut dan hati berada di atas perut tersebut. Pada akhirnya hati menjadi gelap dan keruh begitula itulah analogi filosofis hati yang keras karena makan berlebihan

Kedua,
إن فى كثرة فتنة الأعضاء وهيجها وأنبعاثها للفضول والفساد
sesungguhnya banyak makan menyebabkan penyakit bagi anggota tubuh, gerak yang dihasilkannya dan berlebihan serta kerusakan yang ditimbulkannya. Abu Ja’far berpendapat, bila perut dalam keadaan kenyang maka anggota tubuh menjadi lapar, sebaliknya perut lapar (puasa). Maksud dari ungkapan tersebut, bila perut lapar maka anggota tubuh lainnya mudah terjaga dari aktifitas yang tidak perlu atau dengan kata lain sudah kenyang, sebaliknya perut yang berlebihan makan akan menjadikan anggota tubuh lain lapar dan mencari aktifitas yang tidak berkualitas

Terlebih lagi bila sumber makanan itu diperoleh dari usaha yang haram. Makanan dan perut laksana benih dan media tanam, makanan yang haram akan menumbuhkan perbuatan yang haram, begitu pula sebaliknya.

Ketiga
إن فى كثرة الأكل قلة الفهم والعلم
Banyak makan menyebabkan sedikit pemahaman dan pengetahuan, ada unkapan innal bathnah yudzhibna fathonah (perut menghilangkan kecerdasan). Yang dimaksud di sini adalah perut yang berlebihan makanan. Imam Ad Darani ra, seringkali mencegah makan bila ia punya tujuan ukhrawiy hingga tercapai tujuannya. Keempat, Sesungguhnya banyak makan mengurangi ibadah, makan berlebihan membuat badan menjadi bera diajak beribadah, mengantuk dan lain sebagainya. Hal ini tentu sangat logis

Kelima
إن فى كثرة الأكل فقد حلاوة العبادة
Berlebihan makan menghilangkan rasa manisnya beribadah, Dalam hal ini Abu Bakar as-Shiddiq mengaku tidak pernah makan sampai kenyang selma beliau masuk Islam karena khawatir rasa manisnya dalam beribadah berkurang. Oleh karena itu Rasulullah memuji Abu Bakar ra bukan dari segi banyaknya sholat dan puasa, tetapi ia mempunyai sesuatu yang sedikit saja untuk dirinya. Senada dengan pengakuan Ad-Darani ra, bahwa ia lebih manis dalam beribadah bila dalam keadaan perut dan punggungnya menempel (bc. lapar)

Keenam, Banyak makan dikhawatirkan akan terjatuh dalam perkara makan yang syubhat, karena kebiasan makan yang banyak menjadi terbiasa untuk rakus, dalam kondisi demikian sistem filterisasi menjadi berkurang.

Ketujuh
إن فيه شغل القلب والبدن بتخصيله
Banyak makan membuat sibuknya hati dan badan dalam menghasilkannya. Bila kita merenung maka akan kita dapati orang yang butuh makan banyak akan menjadikan dirinya sengsara, sengsara memikirkan banyaknya kebutuhan untuk makan tentu berpengaruh juga dalam usaha memperolehnya, bila sudah memperoleh makan, maka selanjutnya adalah sibuk, memasak kemudian membersihkan wadahnya, tidak sebanding dengan waktu yang dipakai untuk memakan makanan yang telah diusahakan tersebut.

Malik bin Dinar, seorang tokoh sufi terkenal merasa malu bila bolak-balik ke kamar kecil karena buang kotoran atau buang air kecil akibat makanan yang dimakan, hingga beliau berandai-andai, seandainya Allah menciptakan makanannya dari kerikil dimana sekali hisab nutrisinya bisa cukup hingga akhir ajal tiba tentu waktu yang dipakai ibadah bisa lebih lama.

Kedelapan
ما يناله من أمور الأخرة وشدة سكرات الموت
Tidak memperoleh kebaikan dalam urusan akhirat dan memperberat sakaratul maut. Diriwayatkan bahwa beratnya sakaratul maut berbanding terbalik dengan banyaknya mengenyam kenikmatan duniawi, semakin banyak merasakan kenikmatan duniawi, maka semakin berat sakaratyul mautnya.

Kesembilan
نقصان الثواب فى العقبى
Berkurangnya pahala di akhirat, karena telah mendapatkan kenikmatan duniawi sedemikian sehingga berkuranglah kenikmatan di akhirat. Kesepuluh orang yang banyak makan kelak diakhirat dihisabnya lebih lama, karena lebih banyak yang ia pertanggung jawabkan di hadapan Allah swt, makan yang halal ada hisabnya sedangkan makanan yang haram ada adzabnya.

Demikian besar madharat yang didapat bagi orang makan berlebihan, padahal kesepuluh bahaya diatas tersebut adalah prihal makanan yang halal, tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana dengan orang yang banyak makan harta yang haram. Makan dalam konteks ini tidak bisa hanya dinilai dari segi sesuatu yang masuk perut,tetapi semua kebutuhan, seperti pakaian, kendaraan, tempat tinggal dan lain lain.

Memberikan peringatan kepada hati

ceramah singkat Bila hati baik maka semua anggota tubuh akan dibawa kepada kebaikan, sebaliknya bila hati ini tidak baik maka sekujur tubuh akan berbuat kerusakan, begitulah isi hadits Nabi saw, atas dasar itulah menata hati menjadi aktifitas yang sangat vital dalam kaitannya dengan ibadah kepada Allah swt. Adapun caranya adalah dengan sesering mungkin memberikan peringatan kepada hati, bentuk peringatannya adalah memerintahkan hati agar selalu berjalan di koridor agama yang benar, sesuai petunjuk Allah swt.

Pertanyaan selanjutnya kepada adalah, benarkah kita sudah sering memperingatkan kepada hati untuk berbuat yang sebaik baiknyay secara fithrah, jawabnya jelas ‘tidak’, terbukti masih banyaknya kemungkaran yang terjadi, dan kebaikan yang masih ingin diakui oleh orang lain, demikian ini terjadi disebabkan terhalang oleh tabir yang merupakan bawaan sejak lahir, yakni ujian dan hiasan yang dibuat sedemikian rupa oleh Allah untuk menguji kemampuan setiap individu sufi dalam menjaga kefithrahan dirinya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran: 14)

Dijadikan indah atau sebuat saja hiasan, hiasan adalah sesuatu yang menutupi barang aslinya, seumpama kecantikan, sesungguhnya kecantikan bukanlah dari perhiasan bedak, gincu dan lain sebagainya, karena bedak dan gincu tidak akan bertahan lama tapi hanya untuk sesaat saja, ketika perhiasan itu terkikis maka kecantikannya akan menjadi habis. Orang yang cerdas tentu orang yang tidak tertipu dengan hiasan, bisa membedakan antara hiasan dan hakekat aslinya, bukan sekedar bayangannya saja tetapi benda aslinya. Pendek kata hiasan tidak akan bisa bertahan lama.

Hiasan tersebut bersifat menipu karena menutupi hakikat yang sebenarnya, hakekat sesungguhnya manusia adalah diciptakan dengan tabiat yang fithrah, berdasarkan hadits Nabi saw, 

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih (fithrah), maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi

Pada dasarnya semua orang dengan fithrahnya ia menginginkan kehidupan yang selamat di dunia dan akhirat, jangankan berbuat baik hatta orang orang yang berbuat maksiat sekalipun pasti akan mengharapkan selamat. Seorang koruptor pun ingin selamat dari jeratan hukum, meskipun pada saat melakukan tindak korupsi ia sadar bahwa perbuatanya adalah salah, apalagi orang orang yang berbuat baik, tentu akan sangat berharap untuk mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat.

Keinginan selamat itu tidak lain adalah atas dasar dorongan fithrah yang diciptkan sejak lahir. Jadi pencitaannya manusia ini sejak lahir memang sudah bercampur aduk, pada saat bertemunya ruh dengan jasad, bercampur antara ruh yang fithrah dan nafsu. Untuk mengembalikannya kepada fithrah yang sesungguhnya maka kita harus berupaya semaksimal mungkin memberikan peringatan kepada hati agar selalu ingat kepada Allah (dzikrullah) dalam setiap langkah. Terkait dengan campuran penciptaan tersebut, Allah berfirman di dalam QS. Al-Insan: 2;

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Kalau kita merenungi awal penciptaan manusia berdasarkan ayat di atas, maka kita akan menemukan penyebab tabir menuju fithrah seperti permulaan penciptaan Allah kepada manusia adalah bercampur dengan ujian, nafsu, syahwat. Campuran inilah yang membuat tabir hati menghalangi nur diri kepada Allah.

Oleh karena itu, silahkan kita memiliki apapun termasuk jabatan tapi semua itu adalah ujian dari Allah, silahkan kita mempunyai, silahkan kita bernafsu untuk memperkaya diri dan lain sebagainya atau cinta terhadap lawan jenis, tetapi jangan sekali kali penampakan lahiriyah tersebut tembus hingga menutupi hati yang asalnya bersih (fithrah) karena semua itu adalah hanya hiasan duniawiyah saja. Semoga manfaat dan kita bisa menjauhkan diri dari setiap yang merusak kejernihan hati, sehingga kita kembali kepada Allah dalam keadaan suci, intinya utnuk menciptakan kejernihan hati adalah dengan cara maksimalisasi memberikan peringatan kepada hati

Anak Yatim Menjadi Orang Hebat

ceramah singkatAdmin ceramah singkat kali ini akan mengemukakan fakta bahwa anak yatim menjadi orang hebat, terkenal dan ternama di dunia. Mungkin kita bisa katakan paling malang di dunia ini adalah anak yatim, karena anak yatim statusnya tidak tergantikan, meskipun telah mendapatkan bapak pengganti, yang pasti akan berbeda dengan bapak biologis aslinya, dari kasih sayangnya, ketulusan hingga tanggapan sang anak terhadap status ayah ‘penggantinya’ itu sendiri, namun bukan berarti status tersebut jadi penghalang kesuksesan anak tersebut, di bawah ini adalah fakta bahwa anak yatim pun bisa menjadi orang hebat. Mungkin kalau dari kalangan Nabi kita sudah bayak tahu, termasuk nabiyullah agung Nabi Muhammad saw, yang sudah yatim semenjak beliau masih di kandungan Ibunda Siti Aminah

1. Imam Muhammad bin Idris Syafi’i
Salah satu fakta yang membuat mata ini terbelalak dan cakrawala pikiran kita tercengang adalah apabila membaca sejarah biografi Imam Syafi’i, Beliau adalah yatim berkepribadian teguh dan berprinsip kuat dimana tahun lahirnya bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah (la-hanafiy) yaitu tahun 150 dan wafat tahun 204 H, di lahirkan di Ghuzzah atau sekarang dikenal dengan jalur Gaza Palestina.

Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin as-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hisyam bin al-Mutallib bin Abdu Manaf bin Qushaiy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luaiy bin Ghalib al-Qurasyi asy-Syafi’i. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah Saw. pada Abdu Manaf.

Ayahnya meninggal ketika ia belum genap berusia dua tahun, kemudian hijrah ke tanah leluhurnya yaitu Makkah, dengan modal hafalan yang kuat dan kegigihannya sejak usia 5 tahun ia sudah hafal al Qur’an, seungguh sebuh prestasi yang sangat mengagumkan, kecerdasannya yang sangat luar biasa itu ia pun mampu menghafal banyak syair Arab dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan agama, tak heran jika diawal usia baligh yaitu 15 tahun ia sudah menjadi mufti d makkah.

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru ilmu fiqih kepada mufti kota suci itu, Muslim bin Khalid az-Zanji. Karena ketekunannya, semua ilmu fiqih dilalapnya dengan cepat. Ia juga cerdas dan benar-benar seorang yang berbakat menjadi mufti. Sekali lagi ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa, meski demikian ia tidak lekas puas, kemudian ia melanjutkan menuntut ilmu ke madinah, pada masa itu terdengar seorang alim pendiri Madzhab Maliki yakni Imam Malik bin Anas, kemudian ia berguru kepadanya, ia menghafal al-Muwaththa’, kitab tebal yang berisi ribuan hadits disusun oleh Imam Malik, dalam tempo sembilan hari ia hafalkan.

Setelah menyerap ilmu dari Imam Malik, lantas pergi ke Yaman dan kemudian ke Baghdad mennimba ilmu ke Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, ulama besar madzhab Hanafi dan murid langsung Imam Nu’man bin Tsabit al-Hanafi (Imam Abu Hanifah). Saking cerdasnya itulah sehingga Imam Ahmad bin Hanbal, murid Imam Syafi’i saat di Makkah memberikan testimoni, “Beliau adalah orang yang paling faqih dalam al-Quran dan as-Sunnah. Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di leher asy-Syafi’i.”

2. Imam Ahmad bin Hanbal al-Mubajjal
Imam Ahmad bin Hanbal lahir pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 780 H di Baghdad. Ketika masih kanak-kanak, ia sudah ditinggal sang ayah selamanya. Sejak itu, dibawah asuhan Ibunya ia belajar dengan tekun berbagai disiplin ilmu pengetahuan agama, menghafal Qur’an dan hadits dan pada saat menginjak usia 20 tahun rihlah ‘ilmiyahnya di mulai dari Mesir menuju Kuffah, Makkah, Madinah, Syam, Yaman, dan kembali ke Baghdad.

Status yatim justru memecu dan membuat keteguhan hatinya menjadi bertambah wal hasil ia menjadi pribadi yang kuat dan berpendirian teguh, terbukti pada saat berhadapan dengan Khalifah al-Makmun al-Abbasi tahun 212 H yang menganut faham Mu’tazilah memaksaka Ibn Hambal untuk mengakui mengakui bahwa al-Quran adalah makhluk, namun pendiriannya tetap kokoh tidak goyah sedikitpun. Meskipun ia harus dipenjara karena berlainan dengan penguasa pada waktu itu. Sejak itu pula ia harus rela mendekam di penjara.


3. Imam Sufyan Ats-Tsauri
Anak Yatim pun bisa menjadi orang hebat itulah kata yang tepat, diantaranya lagi adalah Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin Habib bin Rafi’. Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berusian 9 tahun, Ia lahir di Kuffah pada tahun 97 H/715 M. Kakeknya termasuk salah satu tabi’in terkemuka dan ikut bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam Perang Jamal. Ayah Sufyan adalah salah satu ulama Kuffah. Hal ini yang mungkin menjadikan Imam Sufyan ats-Tsauri sudah menuntut ilmu ketika dirinya masih belia.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia belum genap berusia sembilan tahun. Di bawah pengasuhan ibunya tidak lantas anak ini menjadi minder tetapi dengan arahan yang tepat kelak ia tumbuh menjadi ualam’ besar di Kuffah, terbukti pada suatu hari, ibunya menjual hasil tenunannya seharga 10 dirham kemudian uangnya diberikan kepada Sufyan Tsauri untuk menuntut ilmu seraya berpesan; “Putraku, ini ada uang sepuluh dirham. Pergi dan gunakanlah uang ini untuk belajar hadits di masjid. Kemudian perhatikan, jika kamu melihat apa yang kamu pelajari memiliki pengaruh terhadap akal, hati dan perbuatanmu, datanglah kemari lagi. Nanti akan Ibu beri uang sepuluh dirham lagi untuk kamu gunakan menuntut ilmu. Namun, jika kamu tidak menemukan pengaruh tersebut, tinggalkan saja ilmu itu, karena ilmu tidak bersedia ikut kecuali dengan orang yang ikhlas, tulus dan sungguh-sungguh.”

Sejak kecil, Sufyan sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan sangat menonjol di dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, terutama di bidang hadits dan fiqih, sehingga namanya melambung dalam dunia Islam khususnya, sejajar dengan ulama’ sekaliber Imam Malik sebagai ulama’-nya penduduk Madinah, Imam Abdurhman al-Auza’i di Syam, Imam Sufyan ats-Tsauri adalah ulama’nya penduduk Kuffah. Jumlah hadits yang diriwayatkan Imam Sufyan tak kurang dari 30 ribu hadits. 

Diceritakan oleh Yahya bin Yaman, ia telah meriwayatkan 20 ribuan hadits yang melalui Sufyan ats-Tsauri. Sedangkan dalam bidang fiqh Sufyan Tsauri terkenal dengan kemampuan berijtihadnya yang banyak mengandalkan logika qiyas, beliau sangat berhati hati dalam memutuskan masalah, tak jarang orang orang harus menunggu lama dalam meminta fatwanya karena saking hati-hatinya, yang pasti tidak seperti ustadz badrol yang terkesan lebih dekat dengan dunia infotainmen ketimbang keilmuan dan keulamaannya.

Selain tokoh-tokoh di atas, masih banyak yang menunjukkan kisah bahwa anak yatim menjadi orang hebat misalnya Imam Bukhari, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan para pakar ilmu-ilmu Islam lainnya.

Porsi Rizki

Atas anugerah dan kasih sayang Allah kepada hambanya, kita semua mendapat rizki tiada henti, berupa oksigen, sehat, nyaman, tenang dan sederet nikmat lainnya sebagai bukti bahwa Allah maha kaya, kekayaannya telah terbukti tidak habis meski telah dibagi kepada seluruh makhluknya baik yang berjalan maupun yang merangkak sejak alam ini tercipta. Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun meminta-minta kepada selain-Nya, terlebih lagi meminta-minta kepada sesamanya. Ibnu Mandzur, menilai rizki tidak hanya berupa material fisik seperti uang, sandang pangan tapi jauh lebih penting adalah rizki bersifat bathin bathin misalnya, hilangnya kesedihan, sehat jasamiani ruhani, nyaman dll.
Ada sebuah keterangan yang memberkan informasi bahwa porsi rizki manusia telah ditulis Allah sejak dalam kandungan sejak janin berusia 120 hari. Rizki tersebut dibagikan selama kurun waktu menjalani kehidupan dunia hingga ajal berbicara, antara hamba yang satu dengan yang lainnya diberi perbedaan agar terjadi kelangsungan sunnatullah, ada yangbanyak dan ada yang sedikit, catatan pembukuannya erat dalam genggamanya, So.. tak ada gunanya harus iri apalagi dengki dengan kenikmatan orang lain, begitupula tak ada alasan membanggakan usahanya, bukankah semua telah diaturoleh sang maha teratur, teratur dalam pemberian dan teratur dalam jumlahnya. Pendek kata porsi rizki itu kuasa Allah ta'ala tidak bisa dipaksa-paksa, Allah berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)

Yang tahu jumlah rizki hanya Allah ta'ala, semua rahasia itu erat dalam genggaman-Nya, jangankan untuk masa depan yang lama, untuk esok hari saja manusia tidak mengetahuinya, sesuai dengan firman-Nya.

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا....….
" Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (QS. Lukman : 34).

Kerahasiaan itu dimaksudkan agar supaya setiap insan tidak bermalas malasan dalam usaha, keberhasilan semata-mata bukan karena hasil usaha manusia tetapi karenya-Nya, tetapi bukan berarti pasrah tanpa usaha, pada akhirnya nanti kberhasilan usaha akan mendorong manusia untuk bersyukur dan bernilai ibadah, begitupula kegegalan juga pada akhirnya mendorong manusia untuk bersabar dan bernilai ibadah pula. Jangan bangga dengan keberhasilan pun jangan kecewa karena kegagalan, keduanya ada ibadah mulya di dalamnya.

Faktanya pada saat ini banyak orang mengeluh karena usahanya gagal dan bahkan ada sebagian orang resah bukan karena rugi tapi semata-mata karena hasil yang didapat hari ini lebih kecil dari hari-hari sebelumnya, tak jarang pula ada sebagian orang yang masih membangga-banggakan strateginya dalam mencari rizki sehingga tak terasa lewat jalan pintas, manipulasi, curang dan terjerumus dalam transaksi yang dilarang oleh Allah swt. Anehnya dengan bangga ia ceritakan kepada sesamanya, Naudzubillah..

Dalam perjalan pencarian rizki manusia dihadapkan pada pilihan cara, cara halal namun lambat, cara haram tetapi cepat untuk menghasilkan rizki melimpah, tidak sedikit manusia terjebak dalam pilihannya, sampai terjerumus ke dalam lembah nista, dengan cara mencuri atau korupsi, dengan cara manipulasi atau melalui cara tipu sana tipu sini. Mencari rizki sebagai sarana ibadah hukumnya adalah ibadah, tetapi dengan cara haram seperti ini, mencari rizki berharap mendapat rahmat, namun bukan rahmat malah laknat di dapat

Rizki diberikan kepada manusia tidak lain adalah untuk menegakkan tulang iga supaya ia mampu beribadah kepada Allah swt, karena tugas utamanya adalah semata-mata beribadah kepada Allah, bukan memburu karunianya apalagi menumpuknya, karena mencari sarana untuk ibadah sehingga Allah memuji bagi orang yang bekerja keras, tetapi bisa jadi karena tidak sadar dengan tujuan utama hidupnya sehingga manusia mencari karunia Allah untuk ditumpuknya kemudian harta tersebut tidak menjadi sarana memuluskan perjalanannya ke ridho-Nya tetapi malah membuat murkaNya.

Oleh karena itu mencari harta yang halal sudah tidak bisa ditawar-tawar, terlebih di zaman akhir, silahkan baca : tanda akhir zaman , Rizki sebagai sarana pengantar untuk beribadah harus benar-benar halal dan thoyyib, ibarat orang minum, rizki adalah gelasnya, minum dengan gelas bersih supaya badan sehat, jangan coba coba minum dengan gelas kotor kalau ingin hidup sehat. Jalani kehidupan ini dengan rizki halal dan memohon keberkahan dari Allah bila ingin hidup berbahagia di dunia, sungguh harta yang tidak berkah itu banyak indah dan banyak dalam hitungan tapi hakikatnya sedikit sekali manfaatnya, dan tidak punya pengaruh baik untuk mencapai kedamaian dalam hatinya. Karena Rizki yang berkah itu sangatlah penting

Rizki yang berkah adalah, rizki yang mempunyai efek kebaikan berlipat ganda pada setiap lini keidupannya, Namun perlu dingat, pengertian berkah ini tidak melulu identik dengan banyaknya materi yang dimiliki, tetapi juga menyertai harta yang sedikit. Hal ini tercermin pada diri yang merasa berkecukupan memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun income yang didapatkan masih tergolong jauh dari cukup. Namun tak jarang kita melihat kebahagiaan selalu menyelimutinya. Seperti yang disindir di dalam Hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu 'anhu di bawah ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi. Dan barangsiapa mengambilnya dengan jiwa serakah , niscaya tidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang".( HR al Bukhari, kitab az Zakat)

Mungkin di lain waktu, saya akan jelaskan lebih detail lagi tentang rizki berkah, jangan sangka bahwa harta banyak adalah berkah, kerja ringan dengan pendapatan berlimpah adalah makna berkah, bukan sungguh bukan itu . Di penghujung tulisan ini marilah kita renungkan hadits nabi di bawah ini :
َ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
"Akan datang suatu masa pada manusia, seseorang tidak peduli terhadap apa yang digenggamnya, apakah dari halal atau dari yang haram" (HR al Bukhari, kitab al Buyu’, bab Man Lam Yubali min Haitsu Kasaba al Mal (4/296)

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar selalu saja muncul pertanyaan dalam sebuah majlis pengajian, pertanyaannya sangat singkat
tetapi jawabannya harus panjang lebar, karena menyangkut aqidah (kepercayaan) akan datangnya lailatur qadar..

Terlebih dahulu yang harus di jawab adalah apa itu lailatul qadar, lailatul qadar adalah malam yang diberkahi yang didalamnya diturunkan al Qur’an sebagai pedoman sepanjang zaman, tak usang meskipun zaman semodern seperti apapun. Kitab yang isinya tentang peta khidupan memuat aqidah, syari’ah, tarikh dan hukum syara’. Ketika al Qur’an sudah diturunkan apakah masih ada malam mulya tersebut ? ada sebagian kecil ulama’ yang menganggap bahwa malam lailatul qadar hanya terjadi satu kali saja berdasarkan firman Allah didalam surat (QS. ad-Dukhan: 2-3)

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ. إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ.
Demi Kitab (al- Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

Pendapat yang menyatakan tidak ada lagi malam yang diberkahi atau lailatul qadar tersebut dibatah oleh mayoritas ulama’ , bahwa lailatul qadar terus ada sampai dunia ini gulung tikar, berdasarkan informasi dari QS. Al-Qadr, yang diredaksikan dengan bentuk fi’il mudhori’ tanazzalu (akan turun)malaikat dan jibril dengan izin Allah. Lailatul qadar dapat ditemui di salah satu malam bulan Ramadhan. Bagi kita yang terpenting adalah mengimana bahwa lailatul qadar itu ada, kemulyaannya lebih daripada malam seribu bulan, adapun wujud dan cirinya dalah masih dalam perdebatan ulama’ namun keberadaannya adalah sebuah kepastian yang tidak terbantahkan lagi. Marilah kita lihat surat al-Qadr secara lengkap:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Tahukah engkau tentang lailatul qadar, pertanyaan dengan kata yang sama seperti ini terulang sebanyak 13 kali di dalam al Qur’an, 10 diantaranya adalah menanyakan hal hal yang diluar batas pengetahuan manusia yang berkaitan dengan kiamat, kitab catatan amal, neraka dll.. Sedangkan tiga yang lain adalah untuk menananyakan langit diwaktu malam (at-thariq) dan jalan sulit yang mendaki (‘aqabah) dan menanyakan tentang tema yang kita bahas pada saat ini yaitu lailatul qadar

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا العقبة
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Nah, dari sini kita dapat mengambil kesimpulan sementara, bahwa lailatul qadar tidak bisa diketahui secara pasti kapan terjadi, begitu juga tanda-tandanya tidak bisa divisualisasikan secara jelas. Semua masih erat dalam genggaman Allah swt, seandainya ada keterangan dari hadits tentu masih dalam tahap perdebatan kebenaran dan makna verbal hadits tersebut, seperti, air membeku, hening, angin sepoi-sepoi dan lain sebagainya, karenanya memang menjadi rahasia dan harus dicari di semua malam-malam bulan Ramadhan, tidak hanya 10 terakhir di bulan Ramadhan. Seperti yang banyak dipahami oleh kebanyakan orang dengan dalih qiyamul lail dan I’tikaf lebih-lebih di 10 terkahir di bulan Ramadhan. Padahal sudah semestinya memang demikianlah seharusnya ketika ibadah puasa sedang berada dalam puncak tertingginya, diharapkan mencapai hari ke-20 adalah hari dimana sedang memuncaknya nilai spiritualitas seseorang dan dilengkapi dengan rutinitas i’tikaf terutama sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan tersebut.

Lailatul qadar ibarat tamu yang di undang, ia akan datang kepada orang yang mengundangnya dan telah mempersiapkan segala sesuatunya, kebersihan fisik serta kejernihan hati dengan spirit yang tinggi. Kalau ada tamu agung yang datang ke kampung anda, apakah akan singgah di setiap rumah? Tentu ‘tidak’, ia hanya singgah kepada orang yang telah mengundangnya dan telah mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka penyambutannya.

Nah, marilah kita undang dengan tadarrus, memperbanyak dzikir, ampunan, sedekah serta amal perbuatan baik lainnya, semoga undangan tersebut membuat kita mempunyai kesiapan lahir-bathin untuk ditemui lailatul qadar amiin

Berpahalakah Anak Kecil Berpuasa

Pada hukum asalnya, puasa hanya diwajibkan bagi mu’min yang akil baligh, sedangkan bagi anak kecil tidak ada kewajiban yang mengikat untuk berpuasa, Bagi anak kecil yang berpuasa tujuan utamanya adalah untuk mendidik (li-tarbiyyah) agar ketika di awal akil baligh si anak sudah terbiasa dengan kewajiban berpuasa. Hampir semua orang tua memahami dalam hal ini, ada ta’bir yang mengatakan;
قال أبو إسحاق : يلزمه أن ينوي صوم فرض رمضان ، لأن صوم رمضان قد يكون نفلا في حق الصبي فافتقر إلى نية الفرض ليتميز عن صوم الصبي
Abu Ishaq berkata: wajib niat puasa fardhu ramadhan, karena sesungguhnya puasa ramadhan itu sunnat bagi anak kecil, maka butuh terhadap niat untuk pembeda dengan puasanya anak-anak

Dari ta’bir diatas, menurut penulis jelas sekali bahwa setelah niat maka nilai puasanya menjadi beda. Puasa anak-anak tidak memakai niat karena tidak mengerti tentang puasa termasuk apa definisi niat, akan tetapi setelah nyata bahwa puasanya disertai niat maka kualitasnya akan berbeda.

TPertanyaan selanjutnya adalah berpahalakah Anak Kecil Berpuasa ? Jawabnya “Ya”, puasa anak-anak akan diberi pahala, tetapi pahala puasanya diberikan kepada orang tua yang telah dengan susah payah mengajarkanya tersebut. Simak redaksi berikut:

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺑﻄﺎﻝ - ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ - ( ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﻠﺰﻡ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭ ﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻭﻟﻜﻦ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﺳﺘﺤﺴﻨﻮﺍ ﺗﺪﺭﻳﺐ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺭﺟﺎﺀ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﺄﺟﻮﺭ ﻭﻷﻧﻬﻢ ﺑﺎﻋﺘﻴﺎﺩﻫﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺗﺴﻬﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺇﺫﺍ ﻟﺰﻣﺘﻬﻢ

Ibnu Batthol berkata ulama' sepakat (ijam') bahwa anak yang belum baligh tidak diwajibkan ibadah dan melakukan kefarduan kecuali bila sudah baligh akan tetapi mayoritas ulama' menganggap baik atas latihan ibadah yang dilakukan anak belum baligh karena mengharapkan keberkahan . dan orang yang orang tua yang melakukan tersebut (menyuruh anaknya melakukan latihan puasa) itu diberikan pahala dikarenakan sebab kebiasaan ibadah yang dilakukan anak belum baligh itu menyebabkan dia mudah melakukan ibadah disaat dirinya (anak) sudah diwajibkan melakukan ibadah (yaitu disaat baligh) wallahu a'lam

Umdatul qori' syarah shohih bukhari 17/16

( ﺑﺎﺏ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ )
ﺃﻱ ﻫﺬﺍ ﺑﺎﺏ ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﻫﻞ ﻳﺸﺮﻉ ﺃﻡ ﻻ ﻭﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻭﺍﺳﺘﺤﺐ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻣﻨﻬﻢ ﺍﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ ﻭﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﺆﻣﺮﻭﻥ ﺑﻪ ﻟﻠﺘﻤﺮﻳﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻃﺎﻗﻮﻩ
ﻭﺣﺪ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺑﺎﻟﺴﺒﻊ ﻭﺍﻟﻌﺸﺮ ﻛﺎﻟﺼﻼﺓ ﻭﻋﻨﺪ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺣﺪﻩ ﺍﺛﻨﺘﻲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ﻭﻋﻨﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋﺸﺮ ﺳﻨﻴﻦ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻲ ﺇﺫﺍ ﺃﻃﺎﻕ ﺻﻮﻡ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺗﺒﺎﻋﺎ ﻻ ﻳﻀﻌﻒ ﻓﻴﻬﻦ ﺣﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺸﺮﻉ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺑﻄﺎﻝ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﻠﺰﻡ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻭﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﺳﺘﺤﺴﻨﻮﺍ ﺗﺪﺭﻳﺐ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺭﺟﺎﺀ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﺃﻧﻬﻢ ﻳﻌﺘﺎﺩﻭﻧﻬﺎ ﻓﺘﺴﻬﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺇﺫﺍ ﺃﻟﺰﻣﻬﻢ ﻭﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺑﻬﻢ ﻣﺄﺟﻮﺭ ﻭﻓﻲ ( ﺍﻷﺷﺮﺍﻑ ) ﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺆﻣﺮ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺑﺎﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﻜﺎﻥ ﺍﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ﻭﻋﻄﺎﺀ ﻭﻋﺮﻭﺓ ﻭﻗﺘﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻃﺎﻗﻪ

Kurang lebih maksud dari ta’bir diatas adalah
Tidak disyariatkan berpuasa selain mu’min yang sudah baligh, Ibnu Sirin, Az-Zuhriy, menghukumi sunnat, karena Imam Syafi’i berpendapat sesungguhnya mereka diperintahkan memerintakan berpuasa bila sudah mampu untuk melaksanakan puasa.

Adapun batasannya menurut ashabus-syafi’i sama dengan batasan umur sholat yaitu antara 7-10 tahun, sedang menurut Ibn Ishaq adalah 12 tahun, namun menurut madzhab maliki anak kecil tidak disyariatkan untuk berpuasa. Ibn Bathal berpendapat tidak di syariatkan untuk melakukan ibadah wajib (apalagi sunnat) namun ibadahnya adalah dalam rangka pendidikan semata mata mengharap berkah agar ketika sudah baligh ia mudah untuk melakukan ibadah kepada Allah

Demikian maksud singkat dari ta’bir panjang yang ada di atas tersebut. Semoga bermanfaat untuk menjadikan refrensi, masih banyak lagi keterangan-keterangan yang menyangkut dengan puasanya anak kecil. Baca juga makna i’tikaf

SAlah Kaprah Membangunkan Sahur

Dua momentum dalam sahur yang tak pernah luput kemeriahannya dengan pengeras suara, yaitu momentum buka puasa dan makan sahur. Di masjid-masjid pada saat jelang buka puasa ramai didengungkan kalimat-kalimat thoyyibah seperti sholawat, do’a bersama, membaca al Quran dan bahkan pada saat saya dipesantren dulu, sebelum buka puasa didahului dengan kajian kitab tertentu.

Makan sahur menjadi ibadah yang bernilai sunnah, bahkan dalam beberapa hadits Nabi saw sangat menganjurkan untuk tidak meninggalkan makan sahur, sebagai contoh hadits Nabi Saw yang mengnjurkan untuk tidak meninggalkan makan sahur meskipun hanya seteguk air.
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ
“Sahur adalah makanan yang berkah. maka jangan kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang sahur.

Semakna dengan hadits di atas, bahwa sahur mengandung keberkahan adalah
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan
Momentum yang lain adalah jelang makan sahur. Berkaitan sahur ini ada hal yang mungkin salah kaprah membangunkan sahur. Terkesan adanya panggilan yang menggebu-nggebu agar seseorang mempercepat makan sahur, padahal menurut fiqh, mengakhirkan makan sahur hukumnya sunnat. Namun fatanya jam dua kumandang makan sahur sudah bertalu talu. Tapi ada baiknya juga yaitu membangunkan untuk persiapan masak bagi ibu-ibu untuk makan sahur

Adapun dalil yang dapat dijadikan patokan sebagai hukum disunnahkannya mengakhirkan sahur di antaranya adalah;
Hadits dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً.
“Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh[8] dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat, Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Berkaitan dengan hadits di atas Ibnu Hajar berpendapat, “Maksud sekitar membaca 50 ayat adalah waktu makan sahur yang tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat.” Sedangkan Imam al-Qurthubi mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”
Buka Puasa Bersama Memperpanjang Umur

Buka Puasa Bersama Memperpanjang Umur

CERAMAH SINGKAT, Ramadhan adalah momentum berharga bagi ummat islam, diantaranya adalah momentum dimana waktu maghrib selalu menjadi penantian istimewa bagi orang yang berpuasa. Tidak ada waktu yang sangat berharga selain waktu maghrib di bulan puasa. Ada tradisi baik yang patut dilestarikan yaitu buka bersama dalam rangka memperkuat tali shilaturrahim bersama keluarga atau organisasi terntentu. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa buka puasa bersama memperpanjang umur, bukan karena buka puasanya tetapi disebabkan terjalinnya shilaturrahim

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dari hadits di atas kita juga bisa memaknai bahwa buka puasa bersama disamping memperpanjang umur juga memperbanyak rizki. Menurut ibn Mandzur rizki yang berkah bukan diukur dari seberapa banyak secara nominal, tetapi rizki yang banyak diukur dari seberapa manfaat yang di dapat dari jumlah rizki yang dimilikinya.

Rangkaian acara buka bersama biasanya juga diisi dengan amalan amalan baik seperti ceramah agama, bershalawat, baca do’a bersama atau mungkin juga dengan khatmil qur’an dan berbagai bentuk kegiatan keagamaan lainnya. Dengan demikiaa, seandainya kegiatan ini tidak ada di zaman Nabi saw, sekali lagi, Seandainya tidak ada di zaman Nabi saw, maka perbuatan semacam ini tetap saja menjadi tradisi baik yang perlu dilestarikan dan diperbaiki secara terus menerus kualitasnya.

Secara historis entah kapan dimulainya ada tradisi buka bersama sehingga saat ini hampir setiap lembaga, organisasi atau instansi banyak yang membuat acara buka puasa bersama, mungkin saja acara ini hanya dipandang dari sudut manfaat kebersamaan yang diperoleh dan tidak perlu lagi dipertimbangan unsur historisnya. Yang pasti, hampir semua faham meng-amini tentang keberadaan buka bersama tersebut. baca juga amalan puasa yang banyak mendatangkan pahala di judul postingan makna i'tikaf

Oiya besok pertengahan ramadhan buka puasa di mana bro?... ikut dong??? 

Makna I'tikaf

Pengetian i’tikaf, secara etimologi atau secara bahasa makna i’tikaf berarti diam atau menetap di dalam suatu tempat, sedangkan menurut istilah I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid disertai dengan niat i’tikaf, tentunya di dalam melakukan amalan-amalan syar’i yang dianjurkan oleh syara’ baik yang bersifat wajib maupun bersifat sunnat. Waktu i’tikaf ada banyak perbedaan tetapi lazimnya adalah berdian diri melebihi tuma’ninah sholat, bisa jadi sehari atau kurang atau bahkan lebih. Semakin lama maka semakin baik, karena semakin banyak pula amalan baik yang dikerjakannya. Pendek kata waktu i’tikaf bisa dilaksanakan satu atau dua jam, tetapi batas maksimalnya tidak ditentukan

Pelaksanaan i’tikaf kapan saja baik siang maupun malam, tetapi sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan, hal ini tidak aneh karena bulan Ramadhan adalah bulan mulia penuh ampunan dan rahmat dari Allah swt. Seperti itu pula disitir dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشَرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. [رواه مسلم]
Artinya: “Bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” [HR. Muslim]

Berdiam diri dimana? Yang dimaksud berdiam diri untuk memperbanyak amalan baik adalah di dalam masjid jami’ atau masjid yang dipakai oleh orang orang setempat melksanakan sholat lima waktu secara rutin, begitulah pendapat Hanafiyah, atau lebih mudahnya untuk mencirikan masjid jami’ adalah masjid yang biasa dipakai untuk pelaksanaan sholat jumat. Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud

" ولا اعتكاف إلا في مسجد جامع ـ رواه أبو داود.
"Dan tiada I'tikaf kecuali di masjid jami' (H.R. Abu Daud)
I’tikaf harus dilakukan dalam keadaan akil baligh dan suci dari hadats kecil dan hadats besar. I’tikaf lebih dianjurkan lagi disaat-saat 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, sebagai puncak dari ibadah puasa wajib yang ditaklifkan kepada orang-orang mukmin dewasa.

Adapun Hikmah i’tikaf adalah, melatih diri dan mengendalikan emosi serta nafsu, mengingat masjid adalah tempat pendidikan ruh yang paling tepat. Dengan berdiam diri di masjid lebih memungkinkan seseorang untuk termotifasi berbuat baik dan menjauhkan diri dari riuh rendah bising duniawi, masih banyak lagi hikmah i’tikaf yang didapat. Demikian uodate ceramah singkat kali ini, nantikan update selanjutnya

Puasa Hewani

Secara singkat makna puasa adalah mencegah masuknya setiap sesuatu ke dalam perut melalui rongga tubuh yang terbuka dan mencegah hubungan seksual di siang hari, makna tersebut masih dalam taraf syar'i, ada makna yang lebih dalam lagi dalam menghayati nilai nilai ibadah puasa, paling tidak ada dua makna yang harus direnungankan

1. Makna kesabaran hanya semata-mata karena Allah, karena hanya Allah yang mengetahuinya, berbeda dengan ibadah yang lain yang masih bisa disaksikan oleh orang lain.

2. Memaksa ‘musuh’ untuk kalah, musuh utama dalam hidup menggapai kedekatan kepada rabb adalah syahwat duniawy, syahwat duniawiy dalam dunia sufi dipandang sebagai penghalang tembusnya pandangan hati melihat alam malakut, semakin tipin syahwat duniawiyahnya maka semakin transparan alam malakut dalam pandangannya.

لول أن الشياطين يحومون على قلوب بني أدم لنظرو ملكوت السموات (رواه أحمد من أبي هريرة)

Nah, puasa diantaranya adalah mempersempit ruang gerak syahwat duniawy, seperti syahwat makan, minum, hubungan seksual, tidak berkata bohong dll. Syahwat duniawiy akan menjadi kendaraan setan untuk menjauhkan manusia dari tuhannya

إن الشيطان ليجرى من ابن أدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع (متفق عليه)
“Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam aliran darah anak adam, maka persempitlah alirannya dengan lapar”

Macam Macam Puasa

A. Puasa Umum, mencegah syahwatnya perut dan kemaluan saja tanpa diimbangi dengan mencegah indera yang lainnya, puasa yang demikian ini bisa dipaksakan juga kepada hewan

B. Puasa Khusus, mencegah anggota tubuh yang 6 yakni
1. Memejamkan mata
النظرة سهم مسموم من سهام الإبليس

2. Menjaga lisan
Puasa dari barang yang halal, tetapi berbuka dengan yang haram, barang haram yang dimaksud dengan berbuka dengan yang haram adalah tidak mampu mencegah lisannya di siang hari dari hal hal yang diharamkan oleh Allah

3. Mencegah pendengaran dari setiap pembicaraa yang tidak bermanfaat, karena setiap sesuatu yang diharamkan untuk dikatakan maka haram pula untuk di dengarkan
كل ما حرم قوله حرم الإصغاء إليه

4. Mencegah kaki dan tangan untuk melakukan hal-hal yang makruh terutama yang dilarang oleh Allah swt

5. Tidak memperbanyak makan ketika berbuka puasa
فروح الصوم وسره تضعف القوى التى هي وسائل الشيطان فى العود إلى السرور
Makanan yang halal itu berbahaya jika dimakan dalam batas yang banyak, bukan karena jenisnya, tetapi karena banyaknya. Makanan halal itu obat, bermanfaat jika sedikit dan berbahaya jika dalam jumlah banyak pula

6. Setelah berbuka hatinya terus bergantung kepada Allah, dan merasakan kekhawatiran jika puasanya tidak diterima oleh Allah

C. Khowasul khawas,
صوم القلب عن الهمم الدنية و الأفكار الدنيوية
Puasanya hati dari segala cita-cita dan pikiran duniawiy

Kemampuan berpuasa yang hanya sebatas mencegah makan, minum dan hubungan seksual adalah kemampuan berpuasa yang paling rendah dan paling mudah, puasa jenis ini bisa dilakukan oleh binatang atau disebut juga dengan puasa hewani

Inspiratif: Berebut Menjadi Pelayan

"Orang yang paling keji adalah pemimpin yang berkhianat" Betapa mengerihkannya apa yang telah dikatakan oleh Ali ra. begitu tajam dan mengena cocok untuk menjadi renungan bagi sang pemimpin, terutama juga bagi yang mencalonkan dirinya sebagai pemimpin bangsa. Pemimpin yang baik mempunyai beberapa sifat diatnaranya, menjadi teladan, memberikan ruang kesalahan, apresiatif, kolektif, persuasif, jujur, pemberani, imajiner, demokratis, dan berbagai bentuk sifat lainnya

Apabila tidak mempunyai kualifikasi sifat-sfita yang layak menjadi pemimpin alangkah baiknya untuk tidak mencalonkan diri menjadi pemimpin, karena kepemimpinan yang ia emban nantinya akan menjadi bumerang di hari kiamat, penyesalan yang mendalam.

Pemimpin adalah pelayan publik, ia harus melayani kepentingan bersama mengalahkan kepentingan pribadi, yang demikian ini adalah sangat sulit, terlebih orang orang yang mempunyai sifat egois. Pemimpin tak ubahnya pelayan masyarakat, namun mungkin sudah zaman kebalik-balik, sehingga banyak orang orang justru senang mencalonkan dirinya sebagai pemimpin atau dengan kata lain, berebut menjadi pelayan.Jdi pelayan kok rebutan

Bagi orang orang yang mempunyai sifat yang ideal untuk menjadi pemimpin mungkin sudah selayaknya ia mencalonkan dirinya, tetapi bukankah Umar bin Khattab menagis saat ia ditunjuk sebagai pengganti khalifah Abu Bakar ra, tentu ingatan kita juga masih kuat tentang kisah Miqdad bin Amr, yang sumpah serapah tidak bersedia menjadi pemimpin walau untuk dua orang saja.

Jika orang-orang terdahulu sekaliber Umar ra dan Miqdad bin Amr sang pemberani saja merasa keberatan menjadi pemimpin, lalu untuk apa berebut menjadi pemimpin. bukankah hanya berebut menjadi pemimpin artinya berebut meminta beban? Yang paling menggelikan adalah jika ada seseorang meminta untuk dirinya dipilih sebagai pemimpin, bukankah Rasul saw sudah bersabda :

يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بن سَمُرَةَ لاَ تَسْألِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَها عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْها
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). ” Hadits ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih

Ini benar benar trend yang sangat aneh bin ajaib, ada orang berebut menjadi pelayan, bukan menjadi majikan.

Renungan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1435

Tak terasa waktu telah melesat begitu cepat bagai panah Rahwana, hari berganti hari, bulan berlalu dan musimpun berganti, tak berselang lama lagi kita tahunpun berganti. Tahun baru ini sempatkan diri hening sejenak memandang panorama belakang dan membaca riwayat masa lampau, hanyutkan diri dalam bingakai renungan tahun baru hijriyah 1 muharram 1435. dengan berbagai materi renungan dan menguji kemampuan sentakan do'a sembari, merenung dan terus merenung sampai mendapat rencana gemilang untuk bekal meniti tangga tahun depan


Setiap manusia dalam keadaan rela maupun terpaksa harus 'nurut' dengan perjalanan waktu, tak ada satupun yang bisa mengundur hadirnya tahun baru apalagi menolak kehadirannya. Selalu pertanyakan kepada setiap personal, bahwa PRESTASI apa yang sudah pernah kita raih tahun lalu, kok tiba-tiba sudah berganti tahun baru. PRASASTI baik apa yang sudah diukir dalam hati seseorang atas kebaikan yang pernah kita lakukan, kok tahun baru sudah bergulir pelan dengan penuh kepastian melindas kita

Jika waktu demikian cepatnya sedang kita tidak mempersiapkan dengan baik, lalu apalagi yang dicari dalam hidup ini, bukankah hidup didunia ini tak ubahnya seperti halte yang menghubungkan dengan alam kekekalan?? disaat kita telah masuk dalam alam yang kekal tersebut, sudah apa saja yang dipersiapkan??? kalau hidup hanya tidur-mencari pangan kemudian tidur lagi mirip lagunya almarhum Mbah Surip, lalu sampai kapan? sampai kapan? sampai kapan bisa bertahan. Bukankah akhirat itu dekat karena kita didekatkan, sedang kelahiran lambat laun kian menjauh

Rasanya kita perlu malu dengan hewan dan tumbuhan di sekeliling kita yang sudah banyak memberikan manfaat kepada alam sekitar, sedangkan kita yang notabene-nya manusia cerdas dengan perangkat akalnya hanya menyisakan seonggok daging dengan susunan tulang tertata tanpa manfaat menghiasinya, Maka dalam renungan tahun baru hijriyah ini, mari rencanakan sesuatu yang baik untuk menghadap dan "ngambah" di tahun yang baru.. semoga sukses selalu, terimakasih telah membaca Renungan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1435
Menakar Taqwa Seseorang Selepas Ramadhan

Menakar Taqwa Seseorang Selepas Ramadhan

Ramadhan baru saja berlalu dari hadapan kita, bulan di mana semua ummat islam di-tranining untuk “dimodali” sebagai bekal untuk mengendalikan diri dalam mengarungi hidup sebelas bulan dihadapan kita yang membentang. Diharapkan dalam training tersebut kita mampu mengendalikan hawa nafsu sebagai mana dihari-hari selama ramadhan.

“Training” tersebut di awasi langsung oleh Allah dan ‘sertifikat’ kelulusannya adalah titel taqwa sekaligus ampunan yang disematkan pada ‘pesta’ perayaan lebaran. Kesuksesan seseorang dalam taqwanya dapat ditakar selepas Ramadhan melalui tiga hal yang menjadi ciri khas pribadi muttaqiin. Terangkum dengan apik dalam al Quranul karim Surat ali-Imran:134

الذين ينفقون فى السراء و الضراء والكا ظمين الغيظ و العا فين عن النا س إن الله يحب المحسنين
Artinya:
orang yang beriman adala)…. adalah orang yang menginfakkan harta bendanya baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang, menahan marah, mema'afkan orang lain. sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik


Pertama, berbagi dalam keadaan sempit maupun lapang, kaitannya dengan ramadhan adalah zakat fithrah, zakat fithrah wajib bagi siapapun yang pernah menikmati ramadhan dan malam satu syawal meskipun sejenak, selama ia mempunyai bekal makanan untuk hidup esok harinya. Betapa zakat ftihrah ini membawa pesan bawah tanggung jawab berbagi bukan hanya kepada orang-orang yang kaya raya. Tetapi kepada siapapun jua yang diberi anugerah oleh Allah. Orang mempunyai kelebihan harta, maka berbagi harta untuk sesama yang membutuhkan, anugerah ilmu pengetahuan berbagilah kepada orang yang mendamba nasehat baiknya, anugerah kelebihan tenaga maka berbagilah kepada orang yang lemah dan begitulah seterusnya..

Kedua, menahan marah, marah adalah ciri manusia berperasaan, tetapi marah yang tidak pada tempatnya adalah hina dan menciderai nilai taqwa. Karena itu agama islam sebagai agama paripurna mengatur marah sedemikian rupa kepada orang lain yang dianggap melakukan kesalahan dalam level ‘terlalu’. Tetapi jangan lupa, tidak berarti marah dalam makna yang serampangan tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi.

Apabila memang pantas untuk marah, pertimbangkan kembali sudah pantaskah benar-benar untuk marah, kalau memang sudah pantas, pertimbangkan kembali porsi marah yang harus diledakkan, jika sudah tepat maka pertimbangkan kembali dimana dan kapan dia harus marah. Dengan demikian marah kita ini tidak semata-mata melepas nafsu murka tetapi memberi pelajaran berharga bagi orang-orang yang dimarahi. Jika masih bisa ditahan maka tidak marah adalah jalan terbaik, sampai nabi mengatakan di dalam haditsnya, la-taghdhab, la-taghdhab, la-taghdhab

Ketiga dan paling sulit adalah mema’afkan, karena mema’afkan bertujuan menghapus kesalahan orang lain dari dalam lubuk hati, mengaku dengan lisan mema’afkan tetapi tidak tembus ke dalam hati itu berarti masih dalam batas menahan amarah, belum dalam level mema’afkan, ya hanya belum meledak saja.. hehehe

Memaafkan adalah bagian dari merubah pola pikir dari merasa benar menjadi pola pikir orang berpandangan bahwa orang lain yang melakukan kesalahan lebih pada kesalahan yang tak disengaja. Karena itu tidak ditemukan ayat meminta ma’af tetapi yang ditemukan adalah ayat-ayat untuk mema’afkan misalnya penggalan ayat QS. An-Nuur:22

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hendaknya mereka mema’afkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak bahwa Allah akan mengampunimu? Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang

Dari ayat di atas, ciri-ciri pribadi muttaqin ada 3 yaitu, infaq dalam kondisi apapun, menahan marah, dan memaafkan, jika kita telah melaksanakan tiga hal tersebut maka kita layak mendapat julukan orang orang yang muhsinin. Dari tiga tingkatan tersebut yang paling tinggi tingkat kesulitannya adalah berbuat baik kepada orang lain meskipun orang lain tersebut berbuat salah kepada kita, dan itulah yang disebut dengan muhsinin

Semoga kita termasuk orang orang yang muhsinin... amiin ya rabbal alamin. Butuh naskah khutbah, silahkan kunjungi pusat khutbah jumat

Contoh Ceramah; Seputar Keluarga Bahagia

Saat berlibur di Tajur
Umur blog ini memang terbilang seumur jagung, namun melihat minat baca para on-liners yang mampir di blog ceramah singkat ini, mendongkrak semangat kami untuk selalu menyajikan informasi berbasis agama islam yang jauh dari perbedaan khilafiyah, diharapkan penyajian informasi ini menjadi model dakwah dunia maya untuk penyebaran pengetahuan agama islam kepada semua pihak yang membutuhkan.

Dari sekian bahan ceramah singkat atau kultum yang berhasil kami rilis, akhir-akhir ini mengambil spesifikasi ceramah seputar keluarga bahagia, mengingat pentingnya peranan keluarga sakinah sebagai sekolah pertama bagi anak-anak yang secara biologis melekat dalam tanggung jawab semua orang. Sebagai antisipasi faktor yang merusak tatanan "sakinah" maka dibuatlah postingan yang berjudul ceramah singkat perusak sakinah. Blog ini akan terus bergeliat mencari makna tanpa lelah.

Kami sodorkan beberapa judul menarik dari berbagai bahan bacaan yang ada, diantara beberapa postingan ada yang kental dengan nuansa tafsiry dan hikmah seperti memilih rahim sebagai ladang menabur benih keturunan, ada juga yang bernuansa sebagai pengantar saja misalnya ceramah singkat tentang keluarga bahagia dan masih banyak bahan ajar untuk ceramah atau kultum yang lainnya.

Lebih melengkapi rangkaian ceramah singkat seputar keluarga berikut kami tampilka subyek pendukung dalam menata pondasi keluarga bahagia yang salah satunya adalah seorang wanita shaliha pilar keluarga sakinah, karena ribuan orang sukses ternyata dibelakangnya ada peran dominan dari seorang wanita, entah itu pasangannya atau anak dan ibunya.

Intinya kami berharap ada sumbangsih tulisan tentang keluarga khususnya untuk kami posting dalam blog ini yang mana makin hari pengunjungnya bertambah dan memberikan testimoni positif dengan materi tulisan yang ada. Terimakasih atas kunjungannya salam buat keluarga bahgia yang anda bina, kami berdoa: "semoga keluarga bahagia yang kita rajut adalah adalah keluarga bahagia karena Allah ta'ala"
Keluarga bahagia karena Allah

Keluarga bahagia karena Allah

Kultum pernikahan kali ini untuk konseling membangun keluarga bahagia Sebagai orang muslim, hendaknya melakukan apa saja atas dasar karena Allah termasuk menikah. Niat yang benar akan mengantar pada perbuatan yang benar pula, pantas kalau ada hadits yang mengatakan sahnya amal karena niatnya. Dalam rangka membangun keluarga bahagia maka awalilah niat menikah karena Allah. Rasulullah bersabda berdasarkan riwayat Mu'adz bin Anas,

‘Barang siapa memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah dan berumah tangga karena Allah maka sungguh imannya sempurna’ (HR. Ahmad).

Dalam hadits ini ditegaskan bahwa sebelum berkeluarga tanyakan terlebih dahulu kepada hati masing-masing individu (istafti qolbak) apakah sudah tepat posisi niat untuk berkeluarga, jika sudah maka lanjutkan dengan penuh keyakinan, jika tidak segera perbaiki dengan niat yang suci. Pernikahan yang tidak didasarkan semata-mata karena Allah tidak akan memberi pengaruh terhadap ketebalan taqwa & tidak memperoleh pahala sunnah nabinya.

Saya selalu menganjurkan kepada orang yang konseling kepada saya, menikahlah karena kebutuhan jangan menikah karena keinginan. Menikah karena kebutuhan akan selalu menjaga dari keretakan karena sama-sama membutuhkan berbeda dengan menikah karena keinginan, naluri keinginan manusia pasti ada bosannya, ketika sudah bosan maka pernikahan tidak lagi menjadi keluarga bahagia tetapi akan menjadi keluarga yang nyampah.

Sebelum menikah buka mata lebar-lebar untuk memilih pasangan yang istimewa dan cocok menurut naluri, jangan didasarkan kecantikan paras belaka. kecantikan ada batasnya, tetapi hati mulya makin lama makin bersinar cahaya kedamaiannya. Pada tingkat membedakan kecantikan ini banyak kebimbangan menggelayuti hati. Tidak usah bimbang, carilah karakter cantik di hatinya jangan di parasnya.

Perlu diingat karakter manusia biasanya terbentuk sebelum usia 21 tahun, di atas usia ini karakter sudah terbentuk secara permanent dan sulit untuk di ubah. Sekiranya karakter calon pasangan ini tidak bisa diatasi dengan mudah, lanjutkan hubungan anda, apabila tidak maka warning buat anda. bagaimanapun wanita shalihah adalah pilar keluarga sakinah
Prinsip dasar keluarga bahagia

Prinsip dasar keluarga bahagia

prinsip keluarga bahagia paling tidak memiliki dasar pijakan,

Pertama, dalam keluarga ada rasa cinta, perasaan ini sengaja dibangun secara bersama-sama, dinikmati bersama & terus dijaga untuk dinanti berseminya. Cinta biasanya didasarkan pada sesuatu untuk dicintai sedangkan sayang atas dasar kasih yang tulus dalam hati. Cinta lebih berorientasi fisik, cinta kepada kecantikan, harta, postur tubuhnya & lain sebagainya, tetapi kasih sayang lebih berorientasi psikis, ia  di dalam hati tidak nampak kasat mata. Cinta lebih condong & berdekatan dengan makna mawaddah sedangkan kasih sayang lebih dekat dibahasakan dengan rahmah. lihat penjelasannya pada postingan keluarga sakinah dalam blog ceramah singkat ini

Kedua, prinsip keluarga bahagia atas dasar hubungan keluarga yang baik antara sumai-isteri atas dsar saling membutuhkan tidak saling menginginkan. perkawinan atas dasar kebutuhan akan mencipta pada kelanggengan sedangkan perkawinan yang di dasarkan atas nama keinginan, suatu saat akan membosankan, ketikan tidak lagi ada keinginan maka bubar, hancur lebur berkeping-keping. Dalam QS. Al Baqarah: 187). istri adalah berfungsi sebagai pakaian, disamping menutup, juga melindungi & perhiasan. MEnutup darisegala bentuk kekuarangan, melindungi terjaganya kehormatan & keturunan serta menjadi perhiasan di dunia & menjadi aset dimasa depan di hadapan Alah swt.

Ketiga, sang isteri memahami bahwa ia adalah hiasan bagi suaminya. Banyak wanita tidak menyadari bahwa wanita shalihah adalah pilar keluarga sakinah , sehingga menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kenistaan dengan memperbanyak tuntutan terhadap suami sehingga istri tidak lagi dibanggakan sebagai perhiasan, tetapi sebagai batu sandungn & alasan untuk melakukan tindak korupsi demi memenuhi tuntutan penghidupan mewah kepada isteri.

Keempat, Sebaliknya suami memahami tanggung jawabnya, Bagi suami, hendaknya isteri dijadikan sebagai perhiasan, menciderai & mengotori dengan ucapan atau perbuatan terhadap isteri sama halnya degnan mengotori perhiasannya sendiri. tak jarang kita saksikan KDRT (kekerasan dalam Rumah Tangga) disebabkan seorang suami merasa memiliki suprioritas dibanding pasangan lawan jenisnya. Isteri terkadang tidak mengatakan tetapi isyarat & kelembutan hatinya telah diakui oleh dunia psikologis manapun, bawah seorang isteri lebih perasa, terkadang tidak berkata-kata tetapi cukup meneteskan air mata adalah mewakili isi hatinya. karena itu lah jadilah suami yang memahami psikis isterinya, jangan semena-mena apalagi memaksa. karena itu dalam postingan keluarga bahagia, telah saya sampaikan menikahi isteri hendaknya karena kebutuhan bukan semata-mata karena keinginan hubungan seksual semata.

Kelima, rizki yang halal, berulang kali sering saya sampaikan dalam beberapa ceramah singkat, bahwa rizki itu bagaikan bahan bakar dalam analogi kendaraan bermotor, jika bahan bakarnya tercampuri oleh zat lain yang tidak senyawa dengan bensin, maka laju kendaraan akan mengalami masalah bahkan mungkin mesinnya akan rusak, begitu juga dengan keluarga. Keluarga laksana bahtera mengarungi lautan kehidupan, dibutuhkan bahan bakar murni & mesin yang bagus, bensinnya adalah rizki sedangkan mesinnya adalah fisik kita. Mesin bagus tidak cukup tapi juga harus diimbangi dengan bahan bakar murni, fisik sehat tidak cukup harus diimbangi dengan rizki yang halal lagi berkah, supaya menghasilkan aktifitas yang berkah pula

Tanda kebahagiaan menurut hadits Nabi ada empat: pasangan yang baik, anak sholeh/shalehah, pegaulan dengan orang shalih, serta rizki di daerahnya sendiri. ciri paling terakhir bisa juga diterjemahkan rizki yang dekat, bagaimanapun kerja didaerahnya sendiri itu lebih menenanagkan ketimbang bekerja di daerah asing apalagi bekerja di negeri orang lain. Hal ini disampaikan bukan semata-mata ingin menyudutkan para TKI tetapi ingin memberikan pencerahan bahwa selama tidak terjepit kebutuhan yang mendesak carilah & bekalilah keturunan kita dengan kreatifitas atau skill kerja memadahi.
KELUARGA BAHAGIA

KELUARGA BAHAGIA

Ceramah singkat kali ini mencoba memberikan tema menarik yang dialami oleh setiap orang yaitu tentang keluarga bahagia. Sebutan keluarga bahagia sungguh teramat mudah dimengerti maksudnya, tapi sulit untuk menentukan standarnya, luasnya arti keluarga bahagia seluas lautan tak bertepi, oleh karena itulah kita biasa menyebut bahtera rumah tangga. Sederet prasyarat harus dipenuhi demi untuk membentuk keluarga bahagia. paling tidak keluarga bahagia meliputi masalah ekonomi, hukum, keturunan, cinta kasih, saling menghormati.

mari kita urai satu persatu, secara ekonomi, minimal keluarga bahagia adalah keluarga itu mampu memenuhi kebutuhannya secara layak, dari hasil pekerjaannya tersisa tabungan untuk hari esok, dana pendidikan dan dana untuk kesehatan. meskipun dalam batas yang berbeda-beda prioritasnya. Dalam hal ini, dana pendidikan harus menjadi prioritas, mengingat skill dalam sebuah hidup bagaikan roda penggerak segala aktifitas, pendidikan mamapu menggeser nasib seseorang dalam tanda kutip. Saking pentingnya pendidikan itulah rasulullah berpesan: "didiklah anak-anakmu dengan sebaik-baik pendidikan" terutama sekali pendidikan agama, dengannya keluarga dibangun, kelak ia dewasa.

keluarga bahagia secara norma hukum, hukum menjadi penegak dan aturan penting dalam setiap organisasi sekecil apapun termasuk membangun keluarga. Hukum yang dimaksud adalah hukum yang sama-sama dimengerti dan diketahui oleh anggota keluarga, dalam al Quran Allah berfirman, pergaulilah keluarga dengan pergaulan yang ma'ruf. arti ma'ruf dapat dilihat di terminologi al quran tentang kebaikan. ma'ruf dalam arti peraturan yang tidak bertentangn dengan agama dan disepakati serta diketahui oleh anggota keluarga. Tegaknya hukum yang ma'ruf akan mampu menyelesaikan problema keluarga, bila suatu saat didalamnya terjadi kemelut atau prahara.

Disinyalir, keluarga hancur karena antara anggota tidak faham mengenai statusnya sehingga hak dan kewajiban yang ia emban tidak berjalan seimbang. Ketidak seimbangan inilah yang menciptakan karamnya sebuah bahtera rumah tangga. Tolak ukur Keluarga bahagia juga diindikasikan dengan keturunan, tujuan utama dalam berkeluarga dan tidur bersama pasangan tidak asemata-mata ingin memperoleh kepuasan nafsu seksual saja, tetapi bertujuan agar memperoleh keturunan sebagai perpanjangan kehidupan, dimana cita-cita yang belum sempat tercapai akan dititpkan dipundak keuturnan tersebut. Keturunan yang shalih akan menenangkan hati dan pikiran, Allah berfirman:

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (al-Furqan:74)

sebuah catatan penting bagi setiap individu bahwa, keturunan bagaikan tumbuhan, untuk menghasilkan tumbuhan yang bagus maka bibit dan lahannya harus bagus, benih yang menjadi bibit ibaratnya suami, sedangkan lahannya adalah isteri, al quran secara implisit memnyiratkan dalam firmannya,

"Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman."(al Baqarah:223)

Keluarga bahagia dari segi psikis, adalah keluarga bahagia yang diukur dari cinta kasih yang bersemi dalam anggota keluarga. cinta adalah bangunan fisik keluarga, tak mungkinlah dikatakan bahagia jika antar keluarga bermusuhan saling menaruh benci satu dengan yang lainnya. tidak mungkin tidur berduaan tetapi dalam keadaan bermusuhan, setiap bercinta tentu saling mengenal dan atas dasar suka sama suka, tulus melayani tanpa keterpaksaan, bisa dibayangkan alangkah tidak nikmatnya bercinta tanpa didasari cinta dan kasih sayang

Menjaga hubungan baik dengan kerabat, termasuk kerabat pasangan (ipar), akad nikah dimaksudkan tidak hanya menyatukan orang yang diakadkan tetapi menyatukan dua keluarga yang sebelumnya tidak ada ikatan kerabat untuk dijadikan satu bingkai kerabat kekeluargaan. menciderai salah satu kerabat ipar termasuk menciderai akad pernikahan bukan tidak mungkin akan menciptakan aral penghalang terciptanya keluarga bahagia.

Keluarga bahagia yang dimaksud di atas mungkin lebih kita kenal dengan istilah keluarga keluarga sakinah, meskipun tidak sama persis, mungkin ada beberapa faktor penunjang keluarga sakinah yang tidak ter-cover di dalam tulisan di atas

Wanita shalihah pilar keluarga sakinah

Keluarga Sakinah
Entah cocoknya untuk kultum atau ceramah nasehat pernikahan tapi postingan kali masih tentang Keluarga sakinah bahwa keluarga sakinah menjadi cita-cita yang di dambakan semua orang berkeluarga di dunia, tidak satupun insan berkeluarga kecuali ia menginginkan hidup aman tanpa gangguan, damai tanpa permusuhan, mulus dalam menjalani kehidupan tanpa aral melintang di jembatan menuju kedamaian yang dicita-citakan, kira-kira seperti itulah gambaran bangunan mahligai keluarga sakinah. Kuncinya ada di wanita shalihah yang selalu taat kepada suaminya setelah taat kepada tuhannya, pemegangn kunci adalah suami yang mengerti akan seluruh kebutuhan hak dan kewajibannya, serta mampu memberi teladan paling duluan ketimbang anggota keluarganya.

Wanita shalihah akan menjadi hiasan membanggakan di dunia-akhirat, karena wanita shalihah dengan ketaatan dan kelembutannya mampu mengetuk pintu ridho suaminya terus menerus tak kenal waktu sampai kematian menjemputnya, pantaslah jika ada kaitan erat bahwa salah satu –bukan satu satunya-- penyebab masuknya wanita ke dalam surga karena ridho suaminya. Dari ummu salamah, Rasulullah bersabda, :”wanita mana saja yang meninggal dunia dalam keadaan diridhoi suaminya maka ia masuk surga”. #jleb sangat tepat sekali, kalau menganjurkan wanita untuk masuk surga melalui pintu keluarga sakinah dan wanita yang bisa berkarakter seperti ini hanya dimiliki oleh wanita shalihah, ia aktor menjadi penunjang keluarga sakinah.

Saya menggambarkan keluarga sakinah sesuai dengan namanya, “sakinah” yang mempunyai arti, tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Kelaurga sakinah adalah keluarga yang hubungan antar intern keluarga penuh kasih sayang, saling menghormati dan melindungi serta damai semua penghuninya. Untuk menjadi ideal seperti ini tentu bukan tanpa melalui proses. Proses membentuk keluarga sakinah sangatlah panjang, dimulai sejak memilih rahim untuk menabur benih keturunan ia harus berkualitas dan subur supaya menumbuhkan keturunan yang baik-baik, untuk memperoleh hasil tanaman (baca: keturunan) yang baik perlu benih unggul dari suami yang baik pula, begitulah seterusnya antara yang satu dengan lainya saling keterkaitan.

Membangun keluarga sakinah bagaikan mendirikan bangunan yang mempunyai dua tiang, tiang yang satu adalah pria sholih, tiang lainnya adalah wanita shalihah berpondasi agama dan betahta cinta keduanya diikat dalam sebuah bangunan yang disebut mahligai rumah tangga. Dengan pondasi agama kehidupan akan berpijak pada tatakan yang kuat & dengan pilar wanita shalihah ketenangan akan didapat, wanita shalihah dari ciri secara umum bisa dilihat, bahwa suaminya senang melihatnya terutama karakter psikisnya, wanita shalihah adalah harta karun berharga, sebagaimana sabda Nabi tatkala turun wahyu yang berbunyi : “dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih. (At-Taubah[9]:34)” Umar keluar rumah diikuti oleh Tsauban untuk menghadap Nabi seraya mengadu, ayat ini dirasa berat oleh para sahabat.

Rasulullah bersabda,
Maukah aku tunjukkan simpanan terbaik bagi seseorang, yaitu wanita shalihah. Jika dipandang menyenangkan jika diperintah taat, jika ditinggal menjaga (diri dan kehormatannya).

Memang penting memilih wanita shalihah akan tetapai adal yang lebih penting yaitu dipilih dan dinobatkan sebagai wanita shalihah, karena dengan menajdi wanita shalihah sudah barang tentu akan menjadi pilihan semua orang baik manusia, malaikat atau derajat tinggi di hadapan tuhannya. Untuk itu berjuang keraslah untuk memperoleh predikat wanita shalihah karena wanita shalihah pilar keluarga sakinah
Ceramah dalam rangka memakmurkan masjid

Ceramah dalam rangka memakmurkan masjid


Ceramah dengan tema memakmurkan masjid kali ini semoga tidak menjadi senjata makan tuan bagi ustad yang memberikan ceramah di dalamnya, pasalnya ada sebagian orang yang hidup justru dimakmurkan oleh keberadaan sebuah masjid, ha..ha..ha. memakmurkan dan memulyakan rumah ibadah yang bernama masjid merupakan tanggung jawab orang mukmin secara keseluruhan, bukan semata-mata merbot masjid saja.

Abu Laits samarqand pernah berkata:”sesungguhnya seseorang akan mendapat kemulyaan di sisi Allah, jika ia mengagungkan perintahnya, rumah-rumahnya, dan hamba-hambanya yang beribadah didalamnya, maka setiap orang mukmin harus mengagungkannya, barang siapa yang mengagungkan masjid maka sama halnya dengan mengagungkan Allah”.

Masjid harus diperhatikan setiap orang mukmin, kebersihan, kenyamanan, juga isi pembicaraan di dalamnya. Akhir-akhir ini kita kerap kali saksikan seolah-olah masjid dijadikan sebagai pintu politisi dan para simpatisan untuk mencuri simpatik dari para jama’ahnya. Ada sebagian orang yang rela menyumbang karpet dan kebutuhan masjidnya dengan beberapa catatan masjid mau ‘terlibat’ menjadi suksesi langkah politik yang sedang ditempuh, amat terhinalah orang-orang yang menjadikan masjid sebagai lahan berpolitik selain lahan ibadah kepada Allah swt.

Seharusnya masjid dijadikan sebagai tempat menyejukkan hati, oleh karenanya isi ceramah nya pun harus mencerminkan bahasa-bahasa pilihan yang menyejukkan hati. Para da’i hendaknya mengerti masalah ini, sehingga membawakan ceramah yang mencerahkan, kultum yang tidak meresahkan, keberadaan para da’I tidak memanfaatkan masjid hanya sekedar sebagai corong pembelaan atas perbedaan khilfiyah yang belum tahu dengan pasti kebenarannya. Dalam hati orang mukmin masjid adalah tempat yang menyejukkan hati dan menenangkan pikiran disaat kalut.

Lain ceritanya dengan orang munafik, bagi orang munafik masjid bagaikan penjara yang membatasi dirinya untuk berbuat sesuatu yang disukainya. Annazzal bin Saburah pernah berkata: “orang munafik di dalam masjid, bagaikan burung dalam sangkar”. Ia tertekan dan tidak betah tinggal dalam waktu yang lama di dalam masjid.

Masjid yang dikelolah dengan menejemen yang baik pada akhirnya akan menjadi tempat tambatan hati para orang-orang yang hatinya bersih, memasuki masjid adalah tamu Allah, dzikir, membaca qur’an, ceramah dengan betuk kultum atau yang lainnya adalah makanan bagi tamu-tamu Allah yang datang ke “rumah”-Nya, Nabi bersabda:”Jadilah kamu di dunia seperti tamu dan jadikanlah masjid itu sebagai rumahmu. Biasakanlah hatimu untuk bersikap lunak, perbanyaklah merenung dan menangis, serta jangan sampai kamu dikacaukan oleh hawa nafsu.
Kultum tentang Takdir

Kultum tentang Takdir

Sobat, kategori ceramah singkat yang satu ini, memang lebih pas untuk kultum tentang takdir saya buat aslinya memang untuk bahan khutbah di masjid tertentu, alurnya jelas dan menggunakan bahasa yang simpel tidak bertele-tele. selengkapnya silahkan dibaca kemudian diedit sendiri sobat...

Pertama, marilah kita panjat puji syukur ke hadirat Allah swt
Kedua, shalawat serta salam mudah-mudahan tersanjung kepada junjungan kita N. Muhamammad saw.

Pada siang hari ini, khotib berwasiat khususnya kepada diri khotib sendiri dan kepada jama’ah jum’at pada umumnya untuk selalu memperbaiki kualitas keimanan kita, dengan cara bertambah giat melaksanakan perintahnya dan mejauhi segala larangannya. Dengan taqwa itulah yang akan kita jadikan modal utama untuk menghadap Allah ta’alah untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak ami ya rabbal alamin

Hadirin rahimakumullah.
Ketika negeri syam ditimpa wabah penyakit, Umar bin Khattab yang ketika itu menjadwalkan kunjungannya ke sana, tiba-tiba membatalkannya, ketika itu ada seseorang yang bertanya:

Wahai.. khalifah : “apakah anda menghindari dan lari dari taqdir Allah”.
Umar menjawab : "saya lari dari taqdir yang satu menuju taqdir lainnya"

hal serupa juga pernah dialami oleh Khalifah Ali ra. saat beliau bersandar di tembok sudah rapuh, kemudian beliau berpindah ke tempat yang lain, beberapa orang disekelilingnya bertanya:

Wahai… Ali ra : “Apakah engkau menghindari taqdir Allah”
Ali ra. Menjawab : “aku menghindari taqdir yang satu dan menuju taqdir yang satunya lagi”

Kita semua meyakini, bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan setting Allah swt Yang Maha Kuasa, baik itu berupa anugerah maupun bencana. Baik rahmat maupun itu berupa laknat. Karena Allah-lah pemegangn kendali atas semua yang pernah dan yang terjadi di jagat raya ini. Atau menurut bahasa agama lebih populer disebut dengan taqdir. Dari dua dialog singkat di atas memberikan gambaran kita semua bahwa, ada taqdir baik dan taqdir buruk.

Dengan adanya takdir baik dan buruk tersebut, semoga menjadi jelas dalam nalar agama kita, bahwa tidak dibenarkan tawakkal tanpa ikhtiyar, menyerah tanpa berusaha, dalam hidup ini tidak ada hal-hal yang dapat menghalangi usaha manusia untuk berpindah dari taqdir yang satu menuju taqdir lainnya, dari taqdir buruk menuju taqdir yang lebih baik. Takdir adalah pendidikan kepada ajaran “sebuah pilihan nasib” bukan semata-mata ajaran “penyerahan tanpa usaha”. Di dalam Fathu-robbaniy Syeikh Abdul Qadir Jaelani mengatakan “ meninggalkan usaha dan bergantung hidup dalam kekuasaan orang lain adalah siksa nyata untuk hamba Allah”...
Allah berfirman dalam penggalan ayat 29 di dalam surat al-Kahfi;

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
Artinya:
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".[al-Kahfi:29]

Hadirin sidang jum’at anjakumullah
Belum lepas dari ruang dengar kita akan bahayanya flu burung yang disebabkan oleh Virus influensa H5N1, datang kembali yang sedang ramai dibicarakan oleh publik tentang ganasnya flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1. yang ditemukan oleh seorang dokter Amerika Serikat J. Koen adalah penemu flu babi pertama kali pada tahun 1918. setelah seolah-olah menghilang pada tahun 1977 saat ini marak kembali dan diprediksi akan menjadi pandemi yang mengglobal termasuk. Na’udzu billah.. terbukti sampai saat ini kurang lebih 159 orang maninggal dunia. Di samping menularkan Flu, Hewan yang satu ini dinilai mengidap sekian banyak kuman dan cacing pita yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Diantaranya adalah Tenasolim atau sejenis cacing yang berkembang dalam pendernaan yang panjangnya bisa mencapai 8 meter

Apakah ini adalah bagian dari taqdir Allah yang tidak bisa dihindari??... jika kita sepakat bahwa taqdir adalah sebuah bentuk “pilihan hidup” dari yang buruk menuju taqdir yang baik, maka virus flu babi yang berkembang dan mengancam kita semua itu bisa saja kita hindari, dengan cara jangan memelihara meskipun punya alasan untuk tidak memakannya, dan jangan memakannya meskipun kita mampu untuk membelinya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ.
Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu

Secara umum manusia diberi kemampuan yang sangat istimewa untuk memilih takdir yang dikehendaki dan takdir yang dihindari. Ini merupakan perbedaan takdir Allah yang berlaku terhadap benda-benda mati. Seperti takdir air adalah membasahi, api ditakdirkan panas. Matahari tidak ditakdirkan tidak akan beredar melalui batas orbit yang telah ditentukan oleh Allah, sebagaimana bulan, bintang dan benda-benda lainnya. Semuanya adalah sunnatullah yang telah dikehendaki sejak zaman azali. Adanya penyakit flu tersebut adalah merupakan perpanjangan kisah khalifah Umar Bin Khatab dan khalifah Ali karramallahu wajhahu

Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia
Marilah kita pahami bersama bahwa alah melarang memakan daging babi seperti yang tercantum di dalam surat al maidah, pasti ada hikmah yang kita dapat. Begitu juga larangan-larangan yang lain pasti ada hikmah baik yang didapat dalam semua tuntunan agama ini. Begitu juga dengan perintah, setiap perintah pasti membawa manfaat baik kepada seseorang, jika saat ini kita tidak bisa mengambil hikmah baik dari perintah agama maka yakinlah bahwa karena keteratasan kemampuan akal manusia yang terbatas.

Semoga apa yang telah khotib sampaikan ini bernanfaat bagi kita semua, amin ya rabbal alamin.